Raja Pedang

Raja Pedang
#39. Meningkatkan Kemampuan Berpedang


__ADS_3

Lindu bersama dua gadis cantik jelita berjalan beriringan menuju arah tebing cula menjerit. Dijalanan yang sepi, Lindu berhenti. Kedua gadis cantik jelita itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Aku akan membawa kalian dengan cara terbang" Lindu menatap kedua gadisnya dengan tatapan sayang.


Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala tersenyum manis. Mereka dengan cepat merapat dan merangkul Lindu. Lindu tersenyum lebar melihat kelakuan kedua gadis cantik itu.


"Ayo kita berangkat" ucap Lindu sambil merangkul pinggang ramping Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi.


Lindu terbang melayang dengan santai. Dia ingin kedua gadis cantik itu bisa menikmati keindahan alam yang terbentang luas. Setelah merasa cukup, Lindu meluncur cepat menuju lereng kupu-kupu.


Mereka turun di dekat bangku bangku batu di tengah taman aneka bunga dan tanaman spiritual. Setelah duduk santai beberapa waktu, Lindu mulai menjelaskan apa yang akan di pelajari, kepada Nirmala dan Dhamma Mayang.


"Kita akan memulai latihan kalian menggunakan pedang. Dalam waktu sepuluh hari kedepan, kalian berdua harus sudah dapat memahami dan menguasai niat pedang."


Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala mendengar ucapan Lindu merubah sikap santai dan manja mereka menjadi serius.


"Apa maksudnya dengan niat pedang Uda ?" Bidadari Suvarnabhumi bertanya pada Lindu. Nirmala mengangguk menyetujui pertanyaan yang dilontarkan sahabatnya.


"Baik, aku akan menjelaskan tentang niat pedang. Biar lebih mudah untuk memahami kalian bergantian memainkan satu jurus dari ilmu pedang kalian" Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi menyetujui perintah Lindu.


"Biar aku duluan ya..." Bidadari Suvarnabhumi mencelat cepat dan mendarat halus di dataran karang.


"Lala, coba kamu perhatikan dengan seksama semua gerakan pedangnya Mayang" Lindu mengingatkan Nirmala.


"Yayang, ayo mulai !!" Lindu berseru kearah Dhamma Mayang. Gadis cantik jelita itu tergugu ketika mendengar seruan dari Lindu. Ia sejenak menatap Lindu dengan mesra. Nama panggilan dari Lindu terdengar seperti nyanyian surgawi ditelinga Dhamma Mayang. Pipi gadis cantik itu tiba-tiba merona merah.


Dhamma Mayang memainkan ilmu pedang Tarian Bidadari. Dia memilih jurus Menebar kasih menumpas iblis


Bidadari Suvarnabhumi membentuk mudra dengan tangan kiri didepan dada. Pedangnya menunjuk lurus kedepan, namun tangan yang menggenggam pedang posisi jari menghadap keluar.


Pedang mulai bergerak turun meliuk membetuk setengah lingkaran, terus naik setinggi leher orang dewasa bergerak seperti memotong dan tiga putaran. Gerakan yang sangat indah, gemulai namun tajam mematikan. Cuitan nyaring suara pedang melintasi udara yang terdengar tajam.


Bidadari Suvarnabhumi melenting tinggi dan berputar seperti gasing. Tangan kirinya masih membentuk mudra mengarah ke langit. Pedang ditangan kanan bergerak sangat cepat dengan gaya menebas, menusuk dan membelah. Dhamma Mayang terlihat seperti bidadari turun dari langit melayang layang di udara. Sungguh jurus yang sangat mematikan namun dibungkus dengan keindahan.

__ADS_1


Sesaat kemudian gadis cantik jelita itu kembali kesamping Lindu.


"Jurus pedang mu sangat indah kak Mayang" Nirmala memberi pujian tulus untuk Bidadari Suvarnabhumi. Mendengar pujian tulus dari Nirmala, Dhamma Mayang tersenyum manis.


"Sekarang giliran Lala" Lindu menyuruh Nirmala untuk menunjukkan satu jurus pedangnya. Nirmala berdiri di tengah dataran batu karang.


"Yayang... perhatikan semua gerakan pedang Lala" Lindu mengingatkan Mayang. Gadis itu mengangguk kecil. Tangan kirinya menggenggam tangan Lindu. Pemuda itu tersenyum kecil dan membiarkannya.


"Ayo, mulai Lala..." Lindu berseru kepada gadis dengan lesung pipit itu.


Nirmala mulai membuat gerakan pembuka ilmu pedang Tarian Angin Barat. Tangan yang memegang pedang tersembunyi di punggungnya. Tangan lainnya setengah terbuka berada setengah lengan didepan dada. Nirmala melompat sangat tinggi. Gadis cantik itu berputar dan menukik sambil memberi ratusan tusukan dan tebasan. Tangan yang bebas berada diatas dalam posisi setengah terbuka. Tampak sewaktu waktu akan berobah menjadi pukulan mematikan. Gadis cantik dengan lesung pipi itu terlihat seperti burung walet lila yang melayang meliuk liuk. Pedang Bintang bergerak cepat mebagi rata tebasan dan tusukan.


Setelah menyelesaikan satu jurus Nirmala kembali duduk dekat Lindu dan Mayang.


"Sekarang coba Yayang jelaskan apa yang kamu lihat dari permainan pedang Lala barusan" Lindu menatap Bidadari Suvarnabhumi. Gadis cantik jelita itu menarik nafas lalu menjelaskan,


"Gerakan yang diperagakan Lala sangat luwes, dan mengalir cepat. Dari kesiutan udara yang dilalui, dengungan yang muncul saat pedang menusuk cepat jelas sekali serangan itu sangat efektif dan mematikan." Gadis cantik itu menjawab panjang lebar, apa yang dia pahami kepada Lindu.


"Sekarang Lala, jelaskan apa yang kamu lihat dari semua permainan pedang Mayang"


Lindu mengeluarkan sebuah pedang. Hanya sebuah pedang biasa, tapi dibuat dari baja pilihan. Pedang itu Lindu temukan dalam salah satu cincin ruang yang dia sita. Dia tidak tau itu cincin ruang milik siapa.


"Lala, Yayang,... coba lihat dan pahami gerakan pedang ini" Lindu mengingatkan Nirmala dan Mayang.


Lindu memperlihatkan jurus dasar berpedang. Pemuda itu melakukan gerakan menebas, menusuk dan membelah beberapa kali. Gerakan dasar itu ditujukan Lindu pada sebuah batu besar yang ada di pinggir dataran karang. Itu hanya gerakan pedang umum. Gerakan biasa dilakukan setiap orang yang belajar ilmu pedang. Yang berbeda adalah, ketika Lindu baru melakukan setengah gerakan, bayangan pedang sudah lebih dahulu mencapai sasaran. Apakah itu gerakan menusuk, memotong ataupun gerakan membelah. Gerakan itu sama sekali tidak dilampiri energi mendalam maupun zhenqi.


Lindu menyimpan pedang dan kembali duduk dihadapan kedua gadis cantik jelita itu.


"Apakah kalian melihat apa perbedaan dari penampilan jurus pedang yang barusan ?"


Lindu menatap Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi lebih serius. Kedua gadis cantik itu mengangguk.


"Tapi bagaimana mungkin kami bisa melakukan hal itu, dengan tingkatan seperti sekarang ?" Nirmala bertanya dan Bidadari Suvarnabhumi menggangguk setuju dengan pertanyaan Nirmala. Lindu mulai menjelaskan...

__ADS_1


"Niat pedang adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki setiap pendekar yang menggunakan pedang sebagai senjata mereka. Ketika mereka mampu untuk memahami dan menguasai niat pedang, maka benda apa pun ditangan mereka akan beralih fungsi seperti sebuah pedang."


Lindu berhenti sejenak. Terlihat keseriusan dan kesungguhan dimata Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi. Pemuda itu menghela nafas dan melanjutkan...


"Untuk mengerti dengan niat pedang, kita harus paham kenapa sebuah pedang bisa tercipta. Untuk apa sebuah pedang dibuat. Kenapa ada gerakan menebas, memotong, membelah, menusuk ataupun menikam dibuat. Dalam suatu bentuk gerakan pedang, bisa saja terkandung banyak sekali tujuan.


Ketika kalian memahami niat pedang, serangan tusukan bisa saja dihentikan pada saat ujung pedang menyentuh sasaran tanpa menggoresnya sedikit pun. Meski serangan yang dilakukan itu dengan kecepatan sangat tinggi"


Lindu kembali diam untuk menarik nafas. Ada sedikit riak diwajah gadis cantik yang ada didepannya. Cukup sulit bagi mereka membayangkan satu serangan dengan kecepatan tinggi berhenti begitu saja saat menyentuh sasaran. Bagaimana cara menghilangkan daya dorong dari energi yang disalurkan ?


Jika tidak dilampiri dengan energi mendalam, maka pedang akan kehilangan kecepatan dan kekuatannya.


"Ya... Kecepatan dan kekuatan dari serangan pedang tidak lagi dipengaruhi oleh berapa besar energi mendalam atau zhenqi yang kita salurkan ke pedang. Kekuatan dan kecepatan pedang ditentukan oleh hati dan pikiran yang telah menyatu.


Itulah kenapa kalian harus memahami lebih dulu tujuan gerak pedang dalam satu jurus."


"Apakah itu mungkin untuk dilakukan Uda ? Meski tanpa dilampiri energi mendalam tetap ada daya luncur yang akan terus mendorong pedang bukan ?" Bidadari Suvarnabhumi mengeluarkan pendapatnya.


"Tentu !" Lindu tersenyum menatap pada keduanya.


"Pedang hanyalah sebuah alat. Bukan sesuatu yang menentukan. Kitalah sebagai pemakai yang menentukan, bukan diatur tanpa sadar oleh pedang. Karena itu ketika kita mampu menyatukan kekuatan hati dan pikiran, maka apa itu niat pedang akan bisa kita pahami. Pada kondisi seperti itulah, ketika kalian baru saja menggerakan sedikit pedang. Maka niat pedang sudah lebih dulu mengenai sasaran. Tentu saja lawan yang kalian hadapi akan terluka meski pedang kalian tidak menyentuhnya secara langsung.


Satu hal lagi, jangan pernah menggenggam erat sebuah pedang. Tapi peganglah dengan lembut. Sehingga dengan mudah merobah posisi pedang yang kalian gunakan. Bahkan jika terjadi benturan keras dan kalian kalah dalam hal kekuatan sekalipum, pedang tidak akan pernah bisa terlepas dari tangan."


Suatu pengertian baru muncul di kepala dan jiwa kedua gadis cantik itu. Mereka merasa tercerahkan dengan penjelasan dari Lindu.


"Baiklah, sekarang coba kalian praktekan pemahaman baru ini dengan ilmu pedang kalian dan lakukan pengulangan sepuluh kali dari setiap jurus."


Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala mengambil posisi masing-masing di dataran karang. Mereka mulai memainkan ilmu pedang mereka. Lindu mengawasi dengan cermat dan memberi masukan agar gerakan pedang mereka menjadi lebih baik.


Tidak terasa hari telah beranjak sore. Kedua gadis cantik itu sudah kucup oleh keringat. Nafas mereka juga terdengar tidak teratur. Lindu kemudian menyuruh Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi berhenti. Lindu memberikan kelapa muda masing-masing satu butir. Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi menerima dan langsung meneguknya dengan rakus.


Senja datang perlahan. Lindu menyuruh Nirmala dan Mayang untuk membersihkan diri di kolam kecil dalam goa rembulan ganda.

__ADS_1


\=\=\=***\=\=\=


__ADS_2