Raja Pedang

Raja Pedang
#51. Ide Menyerang Markas Rawa Hitam


__ADS_3

Panglima nagari Bunian itu melempar diri menjauh dan bergulingan. Cengkraman Datuk Hitam Parigi luput dan niat busuk mesumnya tidak kesampaian. Melihat itu, Lara segera maju membantu Andini yang mulai keteter. Dua larik angin tajam bercuitan menuju tengkuk dan punggung Datuk Hitam Parigi. Datuk Hitam Parigi berbalik menyambut kedatangan serangan Larasati.


Bam...!!


Dhuaarr...!!


Larasati terdorong lima tombak, sementara Datuk Hitam Parigi biasa saja. Arini datang menebas kencang ke leher Datuk Hitam Parigi. Lelaki itu hanya menarik sedikit kepalanya. Sabetan pedang Arini lolos kurang satu centimeter dari lehernya.


"Terlalu lambat..." Datuk Hitam Parigi kembali mengomentari serangan Andini.


Panglima nagari Bunian itu benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan Datuk Hitam Parigi. Sangat merendahkan harga dirinya selaku panglima nagari Bunian. Tapi Andini juga menyadari kemampuan yang dimilikinya masih jauh dibawah Datuk Hitam Parigi. Mungkin Ratu Shima dan Lara kemampuan mereka satu level dibawah Datuk Hitam Parigi.


Larasati mulai mengambil alih pertarungan dan Andini berperan sebagai pengganggu fokus Datuk Hitam Parigi. Setelah menyiapkan posisi menyerang, Larasati bergerak sangat cepat melakukan serangkaian serangan.


Bianglala membelah langit


Sebuah bayangan bianglala melesat kearah Datuk Hitam Parigi. Lelaki itu memasang kuda-kuda menyambut kedatangan bianglala yang meluncur membawa energi besar.


Rawa hitam menyerap aso


Datuk Hitam Parigi bersiap menyambut serangan Larasati. Sebelum serangan pertama sampai Larasati lagi melepaskan serangan baru.


Tinju bunian menembus gunung


Angin dingin dan sangat tajam berbentuk bayangan satu tinju seukuran biasa mencicit nyaring berkejaran dengan bianglala menuju sasaran. Datuk Hitam Parigi terkejut merasakan serangan kedua lebih berbahaya menuju ulu hatinya.


Belum hilang rasa kagetnya, serangan ketiga datang lagi menyusul.


Tapak suci panangka iblis


Sebuah bayangan telapak tangan bewarna keemasan datang sebagai serangan pamungkas. Datuk Hitam Parigi diam-diam merasa kagum dengan cara Larasati membuat serangkaian serangan sangat mematikan.


Blesss....!!


Bamm....!! Blaarrr....!!


Serangan pertama amblas tanpa jejak diserap ajian rawa hitam. Dua serangan lain ditahan dengan energi mendalam dilampiri zhenqi.


Larasati yang kalah kuat satu level terlempar cukup jauh. Wanita itu memuntahkan seteguk darah. Sedangkan Datuk Hitam Parigi terdorong mundur lima tombak. Darah tampak membasahi sela bibirnya.


Saat itu pula pedang Andini menyabet kearah lambung dan pangkal leher Datuk Hitam Parigi. Lelaki penguasa Rawa Hitam itu mulai merasa marah dengan serangkaian serangan Larasati sebelumnya. Dia langsung menyambut serangan Andini dengan serangan yang lebih cepat dan lebih kuat. Serangan balasan untuk menghadang serangan Andini melaju lebih cepat menuju kepala dan dada Andini. Larasati tidak mungkin lagi membantu Andini saat itu. Andini menambah kekuatan serangannya meski tak cukup berarti. Saat itulah Ratu Shima melenting cepat menahan serangan Datuk Hitam Parigi.

__ADS_1


Bamm...!!


Dhuaarr...!!


Benturan keras terjadi ketika Ratu Shima menahan kedua serangan Datuk Hitam Parigi. Andini lolos dari cengkraman maut.


Pertarungan tiga lawan satu terus berjalan dan semakin seru. Ratu Shima, Larasati dan Andini sudah banyak terluka. Kekuatan mereka makin melemah. Perlahan tapi pasti mereka mereka makin terdesak. Merasa tidak mungkin menang Larasati melirik Ratu Shima dan berkata.


"Yang Mulia, sebaiknya segera balik ke istana Bunian. Aku akan menahan dia bersama Andini."


"Betul Yang Mulia Ratu." Andini menimpali ucapan Larasati. Tapi dengan tegas Ratu Shima menolak.


"Kita akan menghadapinya bersama sampai akhir."


"Yang Mulia...!!" Larasati dan Andini serentak berteriak. Ada rasa hangat dan nyaman menjalar dihati mereka. Sikap solidaritas dan pengertian Ratu Shima seperti ini yang menjadikan mereka sangat menghargai dan mencintai Ratu Shima.


"Tenang saja kalian, kita terus berjuang dan langit akan buat keputusan terbaik untuk kita."


Mendengar perkataan Ratu Shima semangat untuk bisa menang kembali tumbuh di hati Larasati dan Andini. Mereka kembali menyerang Datuk Hitam Parigi secara bersamaan.


Bianglala meruntuhkan langit


Pedang hantu memotong gunung


Tiga serangan dahsyat meluncur kearah Datuk Hitam Parigi. Satu-satunya cara menghadapi semua serangan itu adalah dengan serangan balik yang lebih kuat. Datuk Hitam Parigi mengempos sebilan puluh persen kekuatan yang dimilikinya.


Pukulan inti rawa hitam


Menggunakan jurus paling dahsyat dari Kekuatan Rawa Hitam, Datuk Hitam Parigi memapak ketiga serangan yang datang datang. Benturan sangat keras mengguncang dan menghancurkan hutan di kaki Bukit Gunuang Ledang.


Blaarr.....!!


Trang.....!!


Baamm...!!


Datuk Hitam Parigi terlempar lebih dari lima tombak dan memuntahkan beberapa teguk darah. Kondisi Ratu Shima, Larasati dan Andini lebih buruk lagi. Mereka terlempar cukup jauh dan terluka dalam. Andini lebih buruk lagi kondisinya. Panglima nagari Bunian itu terbanting dan memuntahkan banyak darah.


Meskipun sadar dalam beberapa waktu pertarungan lagi kematian pasti akan menjemput mereka. Larasati dan Ratu Shima tetap berupaya untuk bangkit kembali. Andini sudah terlalu lemah untuk bangun. Pada saat itulah berkelebat sebuah bayangan dan muncul tepat dihadapan Ratu Shima.


Bayangan itu ternyata seorang lelaki gagah dengan kepala ditutupi sortali khas milik penguasa dari wilayah utara benua Emas. Setelah melihat kondisi Ratu Shima dan rekan nya masih bisa bertahan, lelaki itu berbalik menghadap Datuk Hitam Parigi.

__ADS_1


Melihat sosok yang baru datang adalah orang asing tak dikenal. Datuk Hitam Parigi membentak dengan keras.


"Hoi baruak gadang minggat dari sini, atau nyawa busukmu yang akan ku kirim ke Rawa Hitam !!" Mendengar teriakkan Datuk Hitam Parigi, lelaki gagah itu tersenyum sinis.


"Sudah aku duga, kau jadi bodat resehnya. Sekarang minggatlah menjuah juah."


Lelaki itu langsung menyerang dengan cepat, sangat sangat cepat.


Buaghhh....!! Uugh !


Datuk Hitam Parigi mengaduh ketika sebuah tinju keras menghantam lambungnya. Dia terlempar tinggi, saat itu juga serangan susulan berupa tendangan piso kaki menapak dadanya dengan kuat. Datuk Hitam Parigi terlempar jauh memuntahkan banyak darah. Penguasa Rawa Hitam itu mengalami luka dalam parah. Datuk Hitam Parigi berdiri dan berbalik melarikan diri menuju hutan bambu dekat rawa hitam.


"Aku akan membalas kalian !" masih tertinggal ancaman dari Datuk Hitam Parigi meski orangnya sudah tidak kelihatan.


Lelaki gagah itu menghampiri Ratu Shima serta menolong Ratu Bunian itu dengan kedua orangnya.


"Aku Shima dan dua temanku mengucapkan terima kasih." Ratu Shima bersama Larasati dan Andini menjura hormat.


"Jangan sungkan Nona. Aku Mangaraja Tohir hanya lewat sini secara kebetulan dan datang karena mendengar pertarungan kalian.


---***


"Naaah... begitulah ceritanya Nirmala. Ayahmu kemudian kembali ke negerinya. Namun agak jarang ayahmu bisa datang mengunjungi Bunda sekarang. Karena tugasnya sebagai Ketua klan Mangaraja dan pelindung kekaisaran Madania. Selain itu juga munculnya kekuatan sangat besar dari golongan hitam gerombolan Tengkorak Merah."


Ratu Shima mengakhiri ceritanya. Nirmala mendengar kisah bundanya dan bertekad suatu hari nanti akan menemui ayahnya. Lindu memiliki pemikiran yang sama dalam hal itu dengan Nirmala.


"Bunda Ratu, mengingat apa yang dikatakan terakhir oleh Datuk Hitam Parigi. Apa tidak sebaiknya kita menyerang markas Rawa Hitam agar tidak ada lagi duri dalam daging ?" Lindu memberi masukan kepada Ratu Shima. Ratu nagari Bunian itu termangu mendengar ide dari Lindu. Tiba-tiba seorang prajurit berpangkat bekel minta izin menghadap.


"Ada apa mengganggu waktu pribadiku Marata ?" Ratu Shima bertanya pada bekel prajurit itu. Marata bekel prajurit itu buru-buru menyembah.


"Ampun Yang Mulia Ratu, kami berhasil mengkap seorang penyusup dari Rawa Hitam." Ratu Shima menatap Lindu, lalu bertukar pandang dengan Larasati.


"Ayo kita lihat dan cari tau sesuatu." Ratu Shima berdiri dan menyuruh Marata memimpin jalan.


Begitu sampai diruang interogasi, mereka melihat seorang tawanan yang kondisinya sudah cukup babak belur. Andini tampak berdiri ditengah ruangan. Dia kaget ketika melihat Ratu Shima masuk.


"Informasi apa saja yang kau dapatkan Andini ?" Ratu Shima menatap Andini, tawanan itu menatap sekilas pada rombongan yang baru datang, lalu berseru.


"Aku bukan penyusup. Tolong bebaskan aku." pintanya pada Ratu Shima. Ratu Shima diam tidak menanggapi melihat lurus kepada tawanan. Lindu mendekati tawanan tersebut, membuka mulutnya sedikit paksa dan memasukkan satu pil kejujuran setengah menyentil.


"Apa yang kau lakukan, apa yang masukan ke mulut ku ?" tawanan itu bertanya dengan gusar pada Lindu. Lindu diam dan tersenyum kecil.

__ADS_1


"Sudah waktunya..." Lindu memberi tau Andini.


\=\=\=***


__ADS_2