
Malam datang membawa kegelapan pekat. Lindu membakar daging Kerbau Besi Tanduk Intan yang sudah dipotong berkentuk kotak ukuran tiga jari. Daging Kerbau Besi Tanduk Intan sesudah dipotong potong, dicuci dan dibungkus daun Kaliki yang tumbuh dekat sungai. Lindu melakukan semua itu sebelum mandi. Agar daging menjadi empuk dan lebih gurih.
Daging potongan kotak itu ditusuk dengan sebatang bambu yang sudah dibersihkan dan diruncingkan ujungnya. Setiap batang berisi lima potong daging. Lindu membuat sepuluh tusukan daging.
Seriti Merah melumuri daging itu dengan bubuk bawang putih, garam dan sedikit lada bubuk. Wanita cantik itu selalu membawa bumbu lengkap dalam gelang ruang miliknya. Aroma khas daging bakar mulai tercium.
"Banyak banget bikinnya Uda." Nirmala duduk dekat Lindu didepan pondok kelana. Lindu tersenyum kecil menanggapi Nirmala sambil membalik balik daging yang sedang dibakar.
Daging Kerbau Besi Tanduk Intan ini mengandung energi spiritual yang sangat besar. Selain mampu menambah lingkaran tenaga mendalam sebanyak puluhan lingkaran bagi pendekar tingkat emas, juga meningkatkan kekuatan fondasi tubuh.
"Nanti malam setelah makan, Lala coba serap kristal spiritual yang Uda dapatkan tadi siang." Lindu memberikan kristal spiritual tingkat langit. Nirmala menerima kristal spiritual itu dari tangan Lindu.
"Uda Lindu memberikan kristal spiritual ini untuk Lala ? Beneran ini ??"
Nirmala menatap Lindu dengan mata berkelip penuh bintang. Lindu tersenyum sambil menatap mata Nirmala dan mengangguk kecil. Gadis cantik itu menyimpan kristal spiritual tingkat langit di gelang ruang miliknya.
"Bibi, sepertinya daging bakar ini sudah matang. Ayo kita makan." Lindu menyerahkan daging yang sudah matang untuk Seriti Merah dan Nirmala.
Ternyata daging Kerbau Besi Tanduk Intan sangat enak. Nirmala menghabiskan empat tusuk daging dan Seriti Merah menghabiskan tiga tusuk. Energi spiritual besar segera menuhi tubuh Nirmala dan Seriti Merah. Usai makan mereka langsung duduk bersila di dalam pondok kelana untuk menyerap esensi energi spiritual. Nirmala juga mengeluarkan kristal spiritual langit dan meletakkan dihadapannya. Lindu lalu membuat formasi pelindung untuk Nirmala, karena pemuda itu merasa Nirmala akan melakukan terobosan. Setelah melakukan semua itu, Lindu melanjutkan makan sisa dua tusukan daging yang masih tersisa.
Tengah malam, tiba-tiba petir menggelegar dan hujan turun dengan derasnya. Api sisa bakaran didepan pondok kelana langsung padam. Malam makin gelap dan sangat dingin. Sesekali kilat menyambar memberi sekilas penerangan kesekitar pondok kelana.
Lindu menyebarkan kekuatan jiwanya untuk mendeteksi keadaan. Kekuatan jiwa Lindu menyebar sangat luas. Dari arah hutan Rimbo Toboh Lindu merasakan dua energi bergerak cepat ke arah pondok kelana. Energi tingkat langit puncak dan tingkat emas tinggi. Namun energi itu tidak memancarkan aura kegelapan seperti mereka yang berasal dari golongan hitam.
"Pasti pendekar nekat yang kemalaman. Aku rasa mereka pasti lapar." pikir Lindu sambil tersenyum kecil.
Lindu membuat nyala api baru dalam pondok. Dengan cepat ia membuat tiga tusuk daging lagi. Membakar dan membalik balik daging bakar itu.
Daging sudah hampir matang ketika dua orang masuk dalam keadaan agak basah ke pondok kelana.
Seorang lelaki setengah baya, rambutnya berwarna kelabu. Ikat kepala dari potongan kain putih seperti bekas disobek. Pria setengah baya itu membawa tongkat dari akar bahar dililit emas. Disampingnya berdiri seorang pemuda tampan dengan rambut panjang. Rambutnya diikat dengan secabik kain putih. Sama seperti ikatan yang ada pada kepala pria lebih tua.
"Kami ikut berteduh anak muda" lelaki yang lebih tua menyapa Lindu dengan suara ramah bersahabat.
__ADS_1
"Aku Datuak Batungkek Ameh, dan ini muridku Wisesa." Lelaki itu mengenalkan diri mereka. Lindu mengangguk
"Silahkan Datuak, aku Lindu dan disana Seriti Merah bersama muridnya Nirmala." Lindu mengenalkan dirinya dan Seriti Merah serta Nirmala yang sedang berkultivasi. Mata Datuak Batungkek Ameh berkilau sejenak ketika melihat kearah Seriti Merah.
"Datuak, Wisesa ini masih ada daging bakar. Kalian tentu lapar, makanlah." Lindu memberi mereka masing masing satu tusukan daging bakar. Lindu juga menyeduh teh daun munggai untuk minum mereka. Datuak Batungkek Ameh dan Wisesa masing masing menerima satu tusuk daging. Mereka makan daging bakar itu setelah mengucapkan terimakasih.
"Lindu, ini daging apa, enak sekali dan ada energi spiritual yang kuat berasa ketika daging sampai ke perut?"
"Itu daging Kerbau Besi Tanduk Intan, Datuak" Lindu memberikan tusukan daging terakhir pada Wisesa.
"Itu bagian mu saudara Lindu" tolak pemuda itu.
"Makanlah, aku sudah makan tadi. Daging bakar ini memang untuk kalian" Lindu menyerahkan tusukan daging terakhir pada Wisesa. Pemuda itu menerima dan memakannya sampai habis.
Setelah makan Wisesa buru duduk bersila dan melakukan kultivasi. Datuak Batungkek Ameh tersenyum kecil melihat Wisesa. Dia merasa muridnya akan bisa menerobos segera.
Datuak Batungkek Ameh melihat kearah Lindu. Perasaannya mengatakan bahwa pemuda tampan yang ramah didepannya bukanlah pemuda sembarangan. Datuak Batungkek Ameh tidak bisa mengukur sampai tingkatan Lindu.
"Saya hanya pengelana biasa Datuak. Kebetulan bertemu Seriti Merah dan Nirmala di koto panjang. Kebetulan juga arah dan tujuan kami sama, jadi saya yang belum tau banyak, ikut dengan mereka."
Datuak Batungkek Ameh merasa Lindu tidak mau menceritakan tentang dirinya. Lelaki setengah baya itu bisa memahaminya.
"Kalian mau kemana ? Kami sendiri mau ke Sunua, tepatnya sekte Alang Barat. Kebetulan Tuanku Nan Sati Patriak sekte Alang Barat adalah sahabat ku. Kami sudah sangat lama tidak pernah bersua." Datuak Batungkek Ameh menjelaskan tujuan perjalanannya panjang lebar. Lindu tersenyum ramah menanggapi Datuak Batungkek Ameh. Mereka ngobrol dengan dengan santai kian kemari. Lindu lebih banyak jadi pendengar. Memang dia tidak punya bahan untuk diobrolkan.
Pagi datang menjelang dunia Alam Persada. Seriti Merah membuka matanya. Ia merasa tubuhnya sangat segar. Seriti Merah melihat kedalam dirinya, dia melihat lingkaran energi mendalam miliknya hampir 7000 lingkar energi. Seriti Merah merasa sangat senang. Wajahnya tampak cerah. Ia menatap Lindu dan tersenyum manis. Ketika melihat lelaki setengah baya di samping Lindu, Seriti Merah buru buru menunduk dan menangkupkan dua tangan di depan dada.
"Datuak....!?"
"Sebuah kejutan bisa bertemu nona Seriti Merah dipinggir hutan ini." Datuak Batungkek Ameh menyapa balik Seriti Merah.
"Benar benar kejutan besar. Kejadian apa yang membuat Tetua agung sekte Secabik Kafan muncul di daerah pesisir ?" Seriti Merah bertanya heran. Tidak ada kejadian besar yang mengguncang rimba persilatan. Kalau kematian beberapa anggota penting sekte Iblis Tambun Tulang, mestinya tidak akan membuat penguasa daerah Lahat itu muncul.
"Aku hanya mau mengunjungi sahabat ku Alang Bangkeh di Sunua. Sekalian menambah wawasan muridku Wisesa.". Datuak Batungkek Ameh menjelaskan sambil menunjuk Wisesa yang tengah berkultivasi.
__ADS_1
"Tahun ini kegiatan latihan bersama yang akan diadakan sekte Alang Barat bakal lebih rame. Saya dengar sekte Secabik Kafan juga ikut. Apa Wisesa saja yang menjadi wakilnya ?" Seriti Merah tersenyum dan menjelaskan kalau dia bersama Nirmala dan Lindu juga menuju sekte Alang Barat di Sunua.
"Masih ada enam orang lagi, terdiri dari tiga wanita dan tiga pria. Mereka berangkat dengan pincalang angin didampingi tetua Upik Intani dan tetua Kundi."
Mengetahui tujuan mereka sama, akhirnya diputuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama sama ke sekte Alang Barat. Namun melihat Wisesa dan Nirmala masih melakukan kultivasi mereka menunda perjalanan beberapa hari.
Tiga hari berlalu. Tiba-tiba terdengar ledakan dari arah Nirmala dan bunyi kaca pecah dari arah Wisesa.
Bumm...!!
Prank...!!
Sesaat energi kuat menerjang keluar dari tubuh Nirmala namun tidak menyebar jauh. Karena sudah dibatasi dengan formasi. Energi yang keluar menyebar perlahan meresap masuk kembali tubuh Nirmala. Nirmala merasa energi mendalam yang besar dalam tubuhnya. Setelah menstabilkan fondasi tubuhnya, gadis cantik itu membuka matanya. Pertama yang ia cari adalah Lindu. Begitu melihat Lindu gadis itu memberikan senyuman yang paling indah yang dia punya.
"Uda.....?!"
"Hm... Kamu tambah cantik setelah menerobos Lala." Lindu tersenyum lebar. "Ayo sana, bersihkan dirimu dulu"
Lala buru buru pergi ke sungai kecil untuk membersihkan badan dari keringat bewarna hitam dan lengket.
Sesaat sesudah Nirmala pergi Wisesa juga membuka matanya. Kedua tangannya terkepal merasakan energi besar ditingkat emas puncak. Dia tersenyum pada Lindu
"Terimakasih saudara Lindu, daging bakar dari anda sungguh luar biasa."
Nirmala kembali dari sungai. Gadis cantik itu tampak lebih tinggi, dan bentuk tubuhnya juga terlihat lebih indah berisi. Lindu menatap Nirmala agak lama.
"Kenapa Uda, ada yang salah pada ku ?" Nirmala bertanya sambil mencari mungkin ada sesuatu yang salah pada tubuhnya. Lindu tergagap ditanya Nirmala. Pemuda itu tersenyum kecil dan menggeleng. Seriti Merah tersenyum dikulum penuh arti melihatnya.
Setelah Wisesa kembali dari membersihkan badan. Datuak Batungkek Ameh mengenalkan dengan Seriti Merah dan Nirmala. Ketika berkenalan dengan Nirmala, Wisesa sedikit salah tingkah. Pemuda delapan belas tahun itu terpesona dengan kecantikan Nirmala.
Karena tujuan yang sama, mereka akhirnya berjalan bersama menuju sekte Alang Barat.
\=\=\=***\=\=\=
__ADS_1