Raja Pedang

Raja Pedang
#93. Ular Emas


__ADS_3

Tidak terasa empat hari lewat begitu saja. Kokok panjang ayam hutan terdengar menyambut pagi.


"Kopi ini terasa lebih nikmat ditemani talas bakar" Lindu berkata sambil menyodorkan piring tembikar berisi talas bakar kepada Mayang dan Nirmala.


"Hm... aku mau cari sarapan yang lain." Nirmala tersenyum sambil berdiri. Wanita cantik itu pergi mencari Lenggo putri Datuk Rao Api. Lindu dan Mayang hanya tersenyum melihat tingkah Nirmala.


Nirmala dan Lenggo melenggang meninggalkan perkampungan klan Manusia Harimau. Mereka berdua melangkah kearah barat menuju Lubuak Batu untuk menangkap limbek Putiah dan burung punai kepala biru.


Nirmala memang sudah janji dengan Lenggo untuk berburu limbek putiah dan punai kepala biru. Keduanya adalah bintang spiritual khusus. Kedua hewan itu mampu menaikkan tingkat seorang pendekar satu tingkat penuh bahkan lebih. Karena itulah diam-diam Nirmala janjian dengan Lenggo. Dia berniat memberi kejutan untuk Lindu dan Mayang.


Lubuak Batu berjarak tiga kilo lebih dari perkampungan klan Manusia Harimau. Lenggo merubah dirinya menjadi harimau muda dengan warna keemasan dan sedikit loreng hitam dekat tengkuknya. Mereka berlari cepat menuju Lubuak Batu. Setelah berlari dengan kecepatan sedang hampir setengah jam. Kedua gadis cantik itu tiba disebuah aliran sungai yang cukup deras.


"Kita sudah sampai Nirmala."


"Dimana Lubuak nya ? Emang dialiran sungai sederas ini ada lubuk nya ? " Nirmala hanya melihat sebuah sungai dangkal yang lebar dan berair deras.


Lenggo tersenyum, dia sudah menduga pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulut Nirmala. Dia kemudian melangkah dengan cara melompati batu batu besar mengarah ke hilir sungai.


"Ayo ikuti aku" katanya dan terus melompat dari batu ke batu menuju hilir.


Setelah melompati bebatuan sekitar seratus meter. Mereka sampai ketempat yang aliran sungainya ada menyimpang membentuk ceruk. Ceruk itu membentuk sebuah kolam besar dengan diameter lebih dari tiga puluh meter. Dibagian tengah ceruk kolam itu ada sebuah batu besar dengan diameter sekitar lima meter yang dikelilingi oleh pasir hitam. Air sungai diceruk itu juga bewarna agak hitam.


Keliling ceruk ditumbuhi oleh beberapa pohon sukun besar.


Nirmala merasakan aura esensi energi langit dan bumi yang padat diarea lubuk itu. Dia segera melesat dan berdiri di batu besar yang ada ditengah lubuak. Dia menatap kearah pohon sukun emas dan bertanya kepada Lenggo.


"Itu pohon apa Lenggo ?"


"Oh... itu pohon sukun emas. Buahnya sangat enak jika dibakar. Buah sukun emas termasuk tanaman spiritual yang sangat baik. Tapi sayang nya tanaman ini sangat jarang berbuah."


"Apakah buahnya yang bulat dengan duri kecil bewarna kuning emas itu ?" Nirmala bertanya sambil menunjuk ke buah yang tergantung diujung batang yang sangat tinggi. Ada tiga buah bewarna emas tampak pada ujung ranting yang paling tinggi


"Betul, itu betul buahnya Nirmala." Lenggo berkata dengan suara takjub. Dia tidak pernah mengira akan melihat buah sukun emas.

__ADS_1


"Kamu tunggu disini, aku akan memetik buah sukun emas itu. Sepertinya buah itu sudah cukup tua untuk dipetik."


"Bagaimana kamu memetik buah sukun itu."


Nirmala tidak menjawab. Tentu saja tidak sulit baginya karena gadis itu bisa terbang. Namun dia tidak mau Lenggo tau kalau dia bisa terbang. Jadi melesat dengan sangat cepat seakan menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.


Hanya dalam waktu sekejap, Nirmala sudah berdiri di ranting kecil dipuncak pohon sukun emas itu. Lenggo terkejut dengan mulut menganga melihat kecepatan kemampuan ilmu meringankan tubuh Nirmala.


Nirmala menjangkau buah sukun emas. Sesaat sebelum meraih buah sukun emas, dia menarik tangannya kembali. Seekor ular kecil menyambar, dan hampir menggigit tangan Nirmala.


Zzzssstt...!!


Ular itu hanya lebih besar sedikit dari jempol kaki, dan panjang tubuhnya lebih dari dua meter. Ular bewarna kuning emas dan berkilauan terkena sinar matahari pagi.


"Hm... dimana ular emas ini sebelumnya, kenapa aku tidak melihatnya...? Padahal ular ini memancarkan aura kekuatan tingkat langit. Ini berarti ular ini adalah bintang spiritual tingkat tinggi." Nirmala berkata-kata dalam hati sendiri.


Ular emas itu kembali bersiap untuk menyerang Nirmala. Dia merasa sangat marah, setelah menunggu tiga bulan untuk bisa mengambil buah sukun emas yang matang. Eh saat waktu memanennya tiba, muncul orang asing mau memetik lebih dahulu. Tentu saja ular emas menjadi sangat marah.


Plak...!!


Tamparan yang sangat cepat dan keras itu mendorong kepala ular emas kesamping. Namun ekor ular emas meliuk menghantam pinggang Nirmala.


Buughh...!! Aaachhhh...!!


Nirmala berteriak kaget tidak mengira akan mendapat serangan balasan yang tidak terdeteksi dari ular emas. Sementara ular emas kembali menempel di ranting pohon sukun emas.


Dia menatap tajam kepada Nirmala yang sempat goyah terkena sabetan ekornya. Ular emas mendesis seolah mengatakan, pergilah nona kau bukan lawan ku.


Melihat sikap ular emas itu, Nirmala menjadi sangat kesal.


"Hai ular emas...! Jangan kau pikir sempat menyabet ku pakai ekormu, kau sudah menang.


Kau akan segera tahu dengan siapa kau berhadapan."

__ADS_1


Ular emas menggerakkan tubuhnya kedepan belakang dan samping. Jika ular emas itu bisa bicara Nirmala akan bisa mendengar kata-katanya yang kurang lebih begini...


"He hehe hehehe... Gadis bodoh, tadi itu baru sebuah peringatan untuk mu..."


Nirmala membuat posisi menyerang. Lalu melesat sangat cepat menyerang ular emas. Ular emas menarik tubuhnya kebelakang dan kepala menukik berupaya mematuk punggung tangan Nirmala yang menyabetnya.


Nirmala segera melapisi tangannya dan energi mendalam tingkat suci dan...


Duughhh...!!


Tangan Nirmala tiba-tiba menekuk menghantam kepala ular emas. Ular emas itu tersentak dan terlempar ke belakang. Namun ekornya menukil dahan dan berputar menyerang lebih ganas.


Nirmala menunggu kepala ular emas datang. Namun ular emas itu sangat pintar. Ular emas mengerakkan kepalanya dengan gerakan zig zag yang kacau untuk mengacaukan Nirmala.


Gadis cantik jelita itu menatap lebih serius. Tiba-tiba kakinya mencuat menendang pangkal kepala ular emas dengan telak.


Duughhh...!!


Kali ini ular emas terlempar keatas dan Nirmala bergerak sangat cepat menampar kepala ular emas.


Plaakk...!!


Kepala ular emas terlempar kuat. Dalam keadaan pusing ular emas meregang tubuhnya bagaikan tombak mengikuti energi kuat melempar tubuhnya dan masih berusaha menyerang dengan tusukan ekornya kearah leher.


Nirmala menyambut ekor ular itu dengan tebasan pisau tangan.


Pletaaakk...!!


Terjadi benturan sangat keras, ular emas mendesis keras. Dua sisik didekat ekornya terlepas dari tubuhnya.


Ular emas berhenti sejenak, dia melilikan tubuhnya ke cabang kecil pohon sukun emas. Dia menatap tajam kepada Nirmala. Namun ada secuil bimbang dimatanya. Ular emas mendesis pelan dan dalam. Dia mengamati Nirmala dengan sengit dan menunggu peluang yang muncul agar bisa melakukan serangan mematikan.


\=\=\=\=\=***

__ADS_1


__ADS_2