
Lindu mejura dalam memberi penghormatan kepada Alang Bangkeh kakeknya. Kemudian dia menjura kepada Alang Babega dan Seriti Merah.
"Apa kabar bibi Seriti, bagai mana khabarnya Midun ? Sudah bisa apa dia sekarang ?" Alang Bangkeh menatap dalam kepada Lindu dan Mayang. Lalu dia melihat dengan tatapan penuh tanya kearah Sabai dan tetua Hampu.
"Kakek, paman Alang dan bibi Seriti. Terimalah salam Mayang." ucap Mayang sambil menjura dalam. Seriti Merah langsung memeluk Mayang. Dia masih melihat Sabak di wajah cantik Mayang.
Alang Babega dan Seriti Merah tersenyum lebar pada Lindu dan Mayang. Sama seperti Patriak sekte Alang Barat, Alang Babega dan Seriti Merah juga melihat penuh selidik kepada Sabai dan tetua Hampu.
"Oh iya, paman Alang. Gadis remaja yang cantik ini adalah Sabai. Putri dari Tuanku Labai Karat." Alang Babega kaget, mulutnya setengah terbuka dan bola matanya membulat. Seriti Merah langsung memeluk erat Sabai. Sabai balas memeluk Seriti Merah. Gadis remaja yang cantik itu belum pernah bertemu paman dan bibinya. Dia hanya mendengar tentang mereka berdua dari Lindu.
Tangan Seriti Merah yang satu membelai kepala Sabai. Mata Sabai memerah dan mulai berair. Gadis itu sudah sangat lama tidak merasakan pelukan sayang seorang ibu. Dia merasa nyaman dalam pelukan Seriti Merah.
"Bibi Seriti, paman Alang..." suara Sabai bergetar penuh rasa bahagia.
"Ayo, kita ngobrol di dalam." Alang Bangkeh mengajak semua masuk. Limin dan beberapa murid sekte Alang Barat yang melihat kejadian itu melihat kearah Raja Pedang dengan pikiran berkecamuk.
Mereka kemudian duduk bersimpuh dan baselo melingkar di pojok langkan yang luas.
Keluarga Patriak sekte Alang Barat saling bertukar cerita. Mereka terlihat sangat akrab dan saling mengerti. Sampai pada bagian tersulit bagi Lindu yang harus bertutur persoalan Nirmala.
Nirmala istri Raja Pedang, merupakan murid dan juga anak angkat Seriti Merah. Seriti Merah adalah orang yang mengurus segala hal untuk Nirmala sejak berumur tiga hari. Sampai Nirmala menikah dengan Lindu. Dia yang berusaha untuk menyatukan kedua orang itu.
"Bibi Seriti, aku mohon maaf. Aku gagal menjaga Nirmala." Suara Lindu tergetar hebat. Dia sangat terluka dan merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi pada Nirmala. Dhamma Mayang bersimpuh menundukkan wajahnya dalam-dalam di sebelah Lindu.
"Mayang juga mohon maaf bibi Seriti. Harusnya..."
"Sudahlah Lindu, Mayang. Memang sudah begitu yang tersurat dilangit. Kita tidak bisa menentang kehendak langit.
Jika kalian berdua terus bersedih, bibi pikir Nirmala akan lebih sedih dari pada kalian. Apapun dan bagaimanapun kita berdoa bersama untuk Nirmala." Suara Seriti Merah terdengar tenang dan lembut. Sebenarnya dia lebih terluka dari pada siapapun dengan kepergian Nirmala untuk selamanya.
Sorenya, ketika mereka berkumpul kembali sambil menikmati kopi teh pucuk marunggai.
__ADS_1
"Apa rencana kalian kedepannya ?" Alang Bangkeh bertanya kepada Lindu dan Mayang.
"Kami berdua akan lebih dulu pergi ke Tano Niha." Lindu menjawab pendek. Dhamma Mayang lalu menambahkan, setelah melihat wajah Alang Bangkeh dan Alang Babega sedikit berubah.
"Kami tadi pagi sudah bilang kepada Jendral Nala Punta. Awalnya kami mau berangkat besok, tapi menurut Jendral masih ada hal yang harus dibicarakan besok. Karena itu diputuskan untuk berangkat lusa."
"Apakah ini terkait dengan kejadian pada Nirmala. Sehingga kalian mendahului kami ?" Alang Babega ikut bertanya. Lindu dan Mayang sama-sama menghela nafas panjang.
"Uda Lindu, kak tangah Mayang. Apakah Sabai boleh bergabung bersama kalian ?
Sabai berfikir akan lebih baik jika pergi duluan bersama Uda dan kak Tangah. Mungkin Sabai dan bisa membantu mengumpulkan informasi yang diperlukan oleh Jendral Nala Punta dan Laskar Gabungan." Sabai mengajukan diri untuk ikut. Lindu dan Mayang tidak langsung setuju, mereka menunggu hasil pertemuan malam nanti. Pertemuan dengan Jendral Nala Punta dan para Patriak serta Tetua sekte dan klan nanti malam akan sangat menentukan arah.
Malamnya.
"Pengiran Lindu, apakah memungkinkan bagimu untuk sekalian mengumpulkan data di Tano Niha. Aku berfikir akan sangat penting semua informasi tentang Tano Niha ada. Sehingga kita bisa mengatur strategi yang lebih baik."
Jendral Nala Punta bertanya kepada Lindu. Pertemuan malam itu dihadiri oleh semua Patriak dan Tetua sekte serta klan. Semua orang menatap kearah Raja Pedang dan Bidadari Suvarnabhumi.
"Aku juga ikut...!!" Rao Mudo juga mengangkat tangan berdiri diikuti oleh Lenggo, Nuri dan Malin.
Lindu dan Mayang saling pandang melihat rekan-rekan pendekar muda semua ingin ikut duluan ke Tano Niha.
"Rekan-rekan pendekar muda. Kalian mau bergabung pergi duluan ke Tano Niha untuk apa ?" Raja Pedang bertanya dengan alis nyaris bertaut. Bidadari Suvarnabhumi juga menatap semua yang berteriak mau ikut.
"Aku ingin memahami situasi dan kondisi markas Tengkorak Merah di Tano Niha. Setelah itu secara gerilya aku akan membunuh semua personil Tengkorak Merah. Tentu saja mereka yang terpisah dari kelompok mereka.
Intinya aku akan mengurangi kekuatan mereka sebelum penyerangan besar besaran dilakukan. Itu semua kulakukan untuk kak Nirmala." suara Lenggo terdengar tegas dan penuh tekad.
"Tepat...!! Aku setuju dengan apa yang dikatakan rekan pendekar wanita itu." Terdengar suara melengking tajam seorang gadis remaja yang cantik. Gadis remaja itu sudah pasti Sabai. Lindu dan Mayang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Sabai.
"Hai gadis kecil. Apakah kau yakin ?? Apakah kemampuan dirimu memenuhi syarat untuk ikut team kecil yang pertama pergi ke Tano Niha ?" seorang pemuda dari klan Mangaraja bertanya sambil tersenyum lucu. Sabai tersenyum lebar kearah pemuda itu.
__ADS_1
"Tentu saja aku sanggup !" jawab Sabai sambil mencoba mengeluarkan aura energi tempurnya.
Semua orang merasakan ada energi yang sangat besar menimpa semua orang. Pemuda yang tadi nyelutuk terdiam dan meringis menahan tekanan aura tempur Sabai.
"Sabai jangan begitu. Tarik aura tempur mu." Raja Pedang mengingatkan gadis itu. Sabai segera menarik kembali auranya. Dia tersenyum manja dan sedikit merajuk kepada Lindu.
"Uda Lindu... aku cuma mau..."
"Maaf saudara semua. Sabai, gadis kecil itu adalah adik seperguruan ku. Dia memang dekat sekali dengan Nirmala.
Tolong jangan diambil hati dengan apa yang baru saja dia lakukan." Raja Pedang merangkapkan kedua tangannya didepan dada dan menjura kepada semua.
Bisik bisik terdengar dari hampir semua orang membicarakan tentang Sabai.
"Pantas saja sangat kuat, ternyata dia adik seperguruan Raja Pedang."
"Waaah... ternyata adiknya Raja Pedang..."
Diam-diam Binu dan Wisesa menatap Sabai dengan tatapan kagum dan penuh harapan. Sabai sama sekali tidak menyadarinya.
Lenggo mendekati Sabai, dia langsung mengenalkan diri.
"Senang punya teman sepaham. Kenalkan, aku Lenggo. Putri Datuk Rao Api dan juga teman kak Nirmala." Lenggo mengulurkan tangan dan tersenyum kepada Sabai.
\=\=\=\=\=***
#sabak \= guratan kesedihan yang dalam.
#baselo \= bersila
#pengiran \= pangeran
__ADS_1