Raja Pedang

Raja Pedang
#33. Menuju Pusara Abak jo Amak


__ADS_3

Rombongan yang terdiri dari enam orang meninggalkan gerbang menuju kediaman Patriak sekte Alang Barat. Tampak seorang pemuda sangat tampan berjalan disebelah Tuangkan Nan Sati.


Murid-murid sekte Alang Barat melihat dan bertanya tanya siapa pemuda tampan berjalan berdampingan dengan Patriak sekte. Murid murid wanita pada berbisik dengan teman disebelahnya. Tentu saja yang mereka bahas tentang Lindu. Tidak beda dengan murid wanita, murid pria pun menatap terpesona. Hanya objek nya berbeda. Mereka foku melihat Nirmala yang cantik jelita.


Cukup jauh jarak yang harus ditempuh dari gerbang sekte sampai kediaman Tuangku Nan Sati.


Kediaman Tuangku Nan Sati berada disebuah puncak guguak menhadap kelautan lepas. Dari depan rumah, bila melihat jauh ketengah laut, tampak sebuah pulau. Terlihat sangat kecil, mungkin kurang dari setengah ukuran telapak tangan. Itulah pulau Angso Duo, yang menjadi markas utama sekte Angso Duo.


Kediaman Tuangku Nan Sati tidak terlalu luas. Mereka semua duduk ngeleseh di langkan rumah. Dua orang murid perempuan datang mengantarkan minuman dan makanan kecil.


Tuangku Nan Sati merasa sangat berterimakasih pada Seriti Merah dan Nirmala yang telah membawa Lindu kembali ke sekte Alang Barat. Pria tua itu tampak lebih bersemangat dan seperti lebih muda sejak bertemu Lindu. Wajahnya tampak segar dan bahunya tidak lagi tampak jatuh.


"Seriti Merah, bagaimana ceritanya hingga kalian bisa datang bersama ke sini ?" Tuangku Nan Sati minta Seriti Merah untuk bercerita. Wanita yang selalu berpakaian serba merah itu tersenyum sedikit.


"Kami beberapa bulan lalu bertemu Lindu secara tidak sengaja disebuah rumah makan di koto Panjang. Kebetulan pula meja kami berdekatan. Ketika Arit Setan salah seorang pentolan sekte Iblis Tambun Tulang datang hendak mengganggu kami, Lindu membantu dengan membasmi mereka semua." Tuangku Nan Sati mendengar penuturannya Seriti Merah dengan seksama. Setelah meneguk minumannya dan sedikit menarik nafas Seriti Merah melanjutkan ceritanya.


"Kami baru berkenalan ketika bertemu lagi di Ustano Menara Gading di koto Panjang..." Seriti Merah bertutur secara detail tentang kebersamaan mereka bertiga. Sehingga Tuangku Nan Sati mendengar penjelasan itu seperti melihat langsung kejadiannya.


Terakhir Seriti Merah sempat menyampaikan kedekatan Lindu dan Nirmala. Wanita cantik perpakaian serba merah itu juga menyampaikan sebuah harapan.


"Meski ini sedikit berlebihan, tapi aku berharap dimasa depan Nirmala bisa menjadi pendamping hidup Lindu cucu mu Patriak." Patriak sekte Alang Barat tersenyum lebar. Lelaki tua itu melihat kearah Nirmala yang mukanya merah bagaikan tomat matang. Gadis cantik itu menundukkan mukanya dalam-dalam namun Tuangku Nan Sati melihat senyuman kebahagiaan terukir jelas diwajahnya.


"Aku tentu saja tidak keberatan. Tapi masalah itu nanti kita bisa bicarakan perlahan-lahan." Tuangku Nan Sati melihat kearah Lindu. Pemuda itu tetap tenang, tidak ada riak sedikipun di wajahnya. Lelaki tua itu tersenyum menatap Lindu cucunya dengan rasa sayang yang terpancar jelas dari matanya.


"Lindu... coba kamu ceritakan bagaimana kau bisa menghilang sampai sepuluh tahun lebih. Ungku terus mencari mu dan juga mengutus banyak murid untuk mendapatkan informasi tentang diri mu. Namun tidak satu petunjuk pun kami dapatkan."


Lindu menatap wajah Tuangku Nan Sati dalam dalam. Ia sekilas melirik Seriti Merah dan Nirmala.


"Setelah abak jo amak dibunuh oleh perampok di dekat air terjun di lembah Anai. Pemimpin perampok itu juga mencoba membunuh aku. Namun disaat kritis itu, guru datang menyelamatkan diriku. Sejak saat itu, aku ikut dan belajar berbagai ilmu dari guru. Baik itu ilmu silat, kebatinan, juga belajar tentang alkhemi dan lain-lain. Menjelang turun gunung guru menceritakan semua kejadian lalu pada ku. Juga tentang upaya yang Ungku telah lakukan untuk mencari cucumu yang buruk ini." Lindu menarik nafas dalam-dalam menenangkan hatinya.

__ADS_1


"Siapa nama guru mu. Sehingga secuil berita tentang engkau pun tidak bisa kami dapatkan." Tuangku Nan Sati kembali bertanya.


"Guru ku adalah Dewa Tanpa Bayangan." Ketika Lindu menyebutkan siapa adanya gurunya. Semua yang mendengar sangat terkejut alang kepalang. Seriti Merah mendusin dalam hatinya.


"Pantas kemampuan anak ini sangat luar biasa. Semoga Nirmala bisa menjadi pendampingnya."


Siapa pendekar didunia ini yang tidak tau dengan nama Dewa Tanpa Bayangan. Seorang pendekar terkuat di benua Emas, bahkan mungkin terkuat di dunia. Nirmala menatap Lindu dengan tatapan penuh kekaguman. Dia pernah mendengar cerita tentang Dewa Tanpa Bayangan dari gurunya. Dewa Tanpa Bayangan adalah seorang legenda dihati setiap pendekar benua Emas. Hati Nirmala sangat senang karena gurunya telah meminta Lindu untuk jadi pendamping dirinya.


Waktu terus bergulir, tidak terasa malam telah membungkus Alam Persada dengan selimut kegelapan.


"Jadi apa rencana mu setelah ini ?" Tuangku Nan Sati bertanya Lindu. Pemuda itu menatap kakeknya menjawab dengan pasti.


"Aku akan mencari pusara abak jo amak."


"Ungku telah menemukan jasad abak jo amak mu dan mengubur mereka di lereng kupu kupu. Besok Ungku akan mengantar mu kesana."


"Aku ikut ya Uda, Kakek..." Nirmala menimpali. Seriti Merah kemudian mohon izin untuk istirahat di bungalow yang disiapkan untuk sekte Angso Duo. Dengan berat hati Nirmala mengikuti gurunya menuju bungalow yang disiapkan untuk sekte Angso Duo dengan diantar seorang murid Alang Barat.


Lindu menyesap tegukan terakhir kopinya.


"Ungku... setelah acara kompetisi besok ini. Apakah ada tempat khusus yang bisa aku pakai untuk berkultivasi ?"


"Kau bisa berkultivasi di goa dekat kuburan orang tua mu. Goa itu dulunya biasa dipakai mereka untuk berkultivasi dan bermalam. Nanti sekalian kita kesana. Bersihkan dulu dirimu di pancuran di belakang rumah."


Tuangku Nan Sati berdiri masuk kedalam kamarnya. Lindu menuju pancuran untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu menuju kamar yang disiapkan untuknya.


Pagi sekali Nirmala menjemput Bidadari Suvarnabhumi. Gadis itu keluar menemui Nirmala. Ketika bertemu Nirmala terpesona melihat kecantikan Bidadari Suvarnabhumi.


"Waaah kak Mayang. Kamu cantik sekali... Kalaulah aku seorang pria, pasti aku langsung jatuh cinta padamu."

__ADS_1


Nirmala memuji sekaligus bercanda melihat kecantikan Bidadari Suvarnabhumi yang begitu sempurna.


"Kau juga sangat cantik sekali adik Nirmala. Belum pernah aku melihat kecantikan sempurna seperti dirimu." Bidadari Suvarnabhumi balas memuji kecantikan Nirmala yang tidak kalah dengan dirinya. Ya... kedua gadis itu memang sangat cantik jelita. Kecantikan Nirmala dibalut oleh keceriaan dan sedikit gaya menantang. Sedangkan kecantikan Bidadari Suvarnabhumi dibalut oleh kelembutan yang begitu menenangkan dan menghanyutkan.


"Ada apa Nirmala, pagi sekali kamu sudah muncul ?"


"Aku mau mengajak kak Mayang menemani uda Lindu mengunjungi pusara orang tuanya. Semalam aku dengar uda Lindu mau ke pusara orang tuanya dengan kakek Tuangku."


"Ya aku ikut, sebentar aku izin guru ku dulu." Bidadari Suvarnabhumi masuk menemui gurunya setelah lebih dulu minta Nirmala menuggu.


Tak lama kemudian kedua gadis cantik jelita itu berjalan menuju kediaman Patriak sekte Alang Barat. Murid murid pria baik dari sekte Alang Barat maupun dari sekte sekte undangan, semua menatap terpesona melihat kecantikan kedua gadis muda itu. Bahkan ada yang menelan ludahnya sendiri tanpa sadar. Mereka begitu terpesona melihat dua kecantikan sempurna melangkah gemulai melewati mereka. Sesekali terdengar suitan nyaring. Bidadari Suvarnabhumi dan Nirmala terus berjalan tanpa menanggapi.


Dua kecantikan sempurna itu sampai didepan kediaman Tuangku Nan Sati, tampak Tuangku Nan Sati baru melangkah keluar bersama Lindu.


"Kakek udah mau jalan bareng uda Lindu ?" Nirmala bertanya pada Patriak sekte Alang Barat.


"Ya sambil nunggu kamu yang katanya mau ikut." Tuangku Nan Sati menjawab sambil tersenyum sedikit menggoda. Pipi Nirmala merona merah, dia jadi ingat dengan permintaan gurunya semalam. Tuangku Nan Sati melihat kearah Bidadari Suvarnabhumi.


"Eh ini teman Nirmala, siapa namamu ? Mau ikut juga ??"


"Saya Dhamma Mayang Kek, saya dari sekte Tapak Dewa." Bidadari Suvarnabhumi menjawab dengan suaranya yang lembut serta mengangguk. Tuangku Nan Sati tersenyum kecil dan melirik cucunya sekilas. Dia menemukan satu pemahaman baru.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang." Tuangku Nan Sati langsung jalan diikuti Nirmala dan Bidadari Suvarnabhumi serta Lindu.


Patriak sekte Alang Barat bergerak dengan langkah besar kearah tenggara menuju lereng kupu-kupu.


\=\=\=***\=\=\=


note:

__ADS_1


Guguak adalah sebuah bukit atau gunung kecil yang berdiri sendiri.


__ADS_2