
Malam ini malam minggu. Hana dan kak Ria duduk diteras Kosan Hana sambil ngemil dan bercengkerama. Setelah Magrhib tadi kak Ria sengaja datang kekosan Hana. Katanya mau curhat. Tentang permasalahan rumah tangganya.
Sebenarnya Hana tak ingin terlalu ikut campur dengan permasalahan rumah tangga orang lain, karena dia yakin dia tidak bakalan bisa memberi masukan ataupun nasehat yang berarti bagi orang tersebut. Ya… bagaimana dia bisa sok bijak menasihati tentang permasalahan rumah tangga orang lain sedangkan dia belum pernah sama sekali menikah ? dia merasa tak pantas saja, akan tetapi kalau untuk menjadi pendengar yang baik apa salahnya, dia siap mendengar curhatan kak Ria yang mengebu-gebu malam ini.
Kak Ria cerita kalau dia curiga suaminya selingkuh. Suami kak Ria yang bekerja di luar kota sangat jarang sekali pulang kerumah. Sudah berbulan-bulan tidak pulang, kalaupun pulang cuman beberapa hari dan itupun malah berkeliaran keluar dengan teman-temannya. Dia tidak betah dirumah, tidak perhatian lagi dengan dirinya termasuk juga dengan kedua anak kak Ria yang sudah berumur 7 tahun dan 5 tahun. Saat kak Ria bertanya kenapa dia berubah. Suaminya selalu membentak dan memarahinya lantas keluar pergi dari rumah. Sudah tak ada lagi rasa sayang yang terpancar dari wajah suaminya.
“Mungkin ini akibat kalau pernikahan tidak dari hati dulunya ya Han….” Ucap Kak Ria dengan lirih. Hana mengerutkan dahinya tanda bingung.
“maksudnya kak, bagaimana?”
“Iya.. kak dengan suami kak awalnya tidak saling cinta. Kami dijodohkan Hana… kedua orang tua kami kebetulan teman baik sejak mereka masih SMA. Jadi begitu lah mereka merencanakan menjodohkan kami untuk mempererat hubungan persahabatan mereka. Kami anaknya yang jadi tumbal. Padahal saat itu kami mempunyai pasangan masing-masing…” jelas Kak Ria dengan mata berkaca-kaca. Pandangannya lurus menatap keatas. Menatap langit malam yang gelap tanpa bintang.
“Awalnya kami sama-sama berontak, tapi samakin kuat kami bertahan dengan pasangan masing-masing, semakin kuat juga orang tua kami menyatukan kami… dan akhirnya… kami menikah… tanpa rasa cinta, tanpa ada rasa sayang… saling berbicara pun kami jarang sekali…”Lanjut kak Ria setelah itu berhenti untuk menarik napas panjang. Hana masih diam menyimak curhatan kak Ria.
“Setelah itu, kak berpikir mungkin ini takdir Allah. Ketentuan Allah untuk hidup kakak. Kak coba ikhlas menjalani rumah tangga dengan lelaki yang tak pernah kak harapkan. Kak mencoba untuk mencintainya meskipun sulit kak melupakan cowok kak yang dulu…”
“Tapi setelah menikah kak benar-benar bertekad untuk tidak berhubungan dengan mantan kakak itu, dia pun sama. Kami sama-sama saling menghormati pernikahan kami ini. Kami tak ingin menodainya. Dan beberapa hari setelah menikah, suami kakak bilang kalau dia akan belajar mencintai kakak.. dan melupakan mantannya. Kak menangkap sinar ketulusan dimatanya. Sejak itu kak pun memiliki tekad yang sama juga.. belajar untuk mencintainya… hingga akhirnya kami sama-sama bisa saling mencintai, setahun kemudian anak pertama kami lahir. Buah cinta pertama kami benar-benar membuat pernikahan kami semakin berarti, sampai anak keduapun begitu…” kenang Kak Ria yang masih dengan mata berkaca-kaca. Dia tampak menahan agar butiran bening di bola matanya itu tak jatuh kepipinya.
“Tapi… semenjak 3 tahun belakangan ini, semenjak suami kak dipindahkan kerjakan ke luar kota, semenjak itu lah sikapnya berubah. Sikapnya sangat dingin, jarang berkomunikasi dengan kakak dan anak-anak. Alasannya sibuk, capek Karena pekerjaan yang banyak dan pokoknya kak merasa ada sesuatu yang disembunyikan Han…”
“Kak malah curiga kalau dia kembali berhubungan dengan mantan pacarnya itu Han… entah kenapa rasa curiga itu semakin dalam, dan kak merasa tidak siap kalau seandainya kecurigaan kakak itu benar…” jelas Kak Ria yang kali ini mengalihkan pandangannya ke Hana. Hana yang sedari tadi serius mendengarkan curhatan kak Ria, langsung terperanjat saat kak Ria memandangnya.
__ADS_1
“Ee… Kak, Hana rasa ada baiknya kak komunikasi kan dulu dengan suami kakak baik-baik. Jangan berprasangka buruk dulu kak, karena menurut Hana segala sesuatu itu harus dikomunikasikan dulu kak, biar ngak salah paham nantiknya….” Ucap Hana dengan hati-hati memilah kata yang dapat menenangkan kak Ria.
“Ya sudah lah Han, Kita ubah topic aja kali ya…” Kata kak Ria seraya tersenyum kecil lalu mengambil cemilan yang ada didepannya. Kak Ria yang Hana kenal adalah wanita yang supel dan ceria, tapi malam ini Hana seperti melihat sesuatu yang lain pada diri kak Ria. Sesuatu yang dapat disembunyikannya dari orang lain.
“Sekarang Gimana dengan kamu Han… dari tadi kak aja yang curhat… kamu ngak ada yang mau dicurhatin ya? Atau yang digalaukan gitu?” Tanya Kak Ria dengan pandangan penuh selidik. Dipandang seperti itu membuat Hana jadi salah tingkah.
“Pasti ada kann… hayoooo….cerita ajalah Han… jangan dipendam-pendam..” kata Kak Ria lagi yang melihat Hana masih diam sambil menunduk.
‘Ngak ada kak… Hana hepy-hepy aja kok…” Jawab Hana sambil senyum-senyum.
“Masak….???” Tanya Kak Ria lagi seakan tak percaya. Hana Mengangguk mantap. Meskipun bibirnya berkata iya tapi tidak dengan hatinya.
Untuk beberapa saat hening. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Kak Ria terlihat sedang memandang kearah langit. Katanya tadi dia akan duduk diteras kosan Hana sampai anaknya pulang mengaji di mesjid yang tak jauh dari daerah rumah mereka. Sedangkan Hana, entah kenapa karena curhatan kak Ria tadi mengenai dijodohkan membuat Hana jadi teringat akan kejadian 2 bulan yang lalu. Kejadian dimana kedua orang tuanya berniat untuk mencarikan calon suami untuk dirinya.
“Hana, apa salahnya ketemu dulu… masalah tertarik atau tidak yang penting ketemu dulu Hana…” Ucap Mama Hana melalui sambungan telpon saat itu. Dia menyuruh Hana untuk izin pulang beberapa hari dan berjumpa dengan lelaki yang ingin dijodohkannya dengan Hana.
“Tapi Ma, Hana ngak mau lah… ngapain juga repot-repot mencarikan jodoh untuk Hana ma. Yakin ajalah Ma, kalau sudah waktunya pasti nantik Allah akan mengirimkan jodoh yang terbaik untuk Hana…”
“Iya, Tapi nantiknya mau sampai kapan Hana? dari dulu itu-itu aja jawaban kamu. Kalau ngak ada usaha mana bisa Hana, malahan kamu selalu menghindar. Udah banyak yang datang melamar bukan? Tapi sebelum kamu mengenal mereka lebih dalam, kamu langusng menolak mentah-mentah… sebenarnya kamu mau cari yang seperti apa sech? Coba kasih tau mama… biar mama cariin untuk kamu..”Ucap Mama Hana yang kali ini dengan nada suara yang agak meninggi. Hana hanya menghela nafas panjang. pecuma saja dia menjawab mamanya yang sudah mulai emosi ini.
“Yang jelas minggu depan kamu pulang dulu, mintak izin 2 atau 3 hari. Mama akan atur pertemuan kamu dengan laki-laki pilihan mama, dengan orang tuanya sekalian kalau bisa.” Tegas Mama Hana mengakhiri hubungan telpon pagi itu. Hana kembali menarik nafas panjang. Bukan sekali ini mamanya melakukan hal ini, sudah 3 tahun belakangan ini malahan mamanya gencar mencarikan jodoh untuk dirinya. Sudah ada sekitar 3 atau 4 orang yang dikenalkannya dengan Hana, dan dari semua itu tak satupun yang singgah dihati Hana.
__ADS_1
Awalanya mereka mendekati Hana yang akhirnya menyerah karena ketidakpekaan dan sikap dingin Hana terhadap mereka. Dan kali ini siapa lagi yang bakalan bernasib sama dengan mereka ?
Dan Tibalah saat itu. Saat Hana dipertemukan dengan lelaki pilihan mama yang katanya Lulusan universitas terbaik, alumni pesantren yang terkenal dan kini bekerja sebagai seorang dosen Bahasa Arab di sebuah universitas ternama juga dikota itu.
“Kali ini calonmu nyaris sempurna Han, Sudah ganteng, Sholeh, Baik, Mapan, kurang apa lagi Han? Rugi kalo kamu ngak mau sama dia…” Ucap Mama Hana ketika mereka duduk diruang tamu menunggu kehadiran lelaki pilihan mamanya datang bersama kedua orang tuanya juga.
Hana tak berkomentar apapun, Karena percuma apa yang keluar dari mulutnya nantik pasti ditentang lagi oleh mamanya. Ada baiknya dia diam saja, mengikuti alur yang dibuat oleh Mamanya, dan setelah itu lelaki itu yang nantik dibuatnya untuk berhenti mengikuti alur tersebut.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil Avanza biru muda memasuki halaman rumah Hana yang luas. Hana yakin itu mereka yang datang. Mama Hana keluar rumah menyambut kedatangannya mereka, Hana hanya diam terpaku di ruang tamu tanpa berniat unuk keluar.
“Silahkan masuk, Buk Dewi… Pak Arya… Dan ini pasti Nak Amri kan…. Subhanallah…. Diluar dugaan, lebih cakepan yang asli dari pada di foto ya….” Mendengar kata-kata Mamanya barusan membuat Hana malu, Mamanya terlalu berlebihan. Memang seperti apa sech lelaki itu sampai mamanya bersikap berlebihan seperti itu?
Dan sesaat kemudian, tamu kehormatan itu pun masuk. Dua orang paruh baya berpakaian rapi masuk berbarengan dan disusul dengan seorang lelaki tinggi berkemeja Hitam dibelakangnya.
Dan… seketika Hana melihat lelaki dengan paras wajah tampan dan menawan itu dengan seksama. Seperti tidak asing. Lelaki itupun sama, melihat Hana dengan bingung sehingga membuat alis matanya itu beradu. Hana mencoba mengingat-ingat, pikirannya berpikir keras. Rasa-rasanya lelaki ini bukan orang asing, yang malahan masih ditahun yang sama dia pernah bertemu dengannya, tapi…. Dimana… oohh…. Hana seperti tersadarkan akan sesuatu. Terakhir bertemu saat reuni dengan teman SDnya beberapa bulan yang lalu… Yup!! Ternyata lelaki yang bernama Amri itu adalah teman SDnya dulu…
“Hana kan….??” Tanyanya agak ragu-ragu.
“Amri ya…?” Hana balik bertanya tanpa meengiyakan pertanyaan darinya
“Kalian sudah saling kenal ya?” Mama Hana bertanya bingung dengan situasi yang dia lihat barusan. Hana menganguk sambil cengar-cengir. Sama sekali tak ada yang istimewa pikirnya. Kali inipun akan tetap sama. Tak akan ada rasa yang bersemayam dihatinya…
__ADS_1
Bersambung..