
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, Hana yang tengah tidur tiba-tiba saja langsung tersentak dan terduduk dengan nafas yang memburu. Hana baru saja bermimpi, mimpi buruk tentunya. Hal itu ditandai dengan ekspresi wajahnya yang pucat juga nafasnya yang naik turun.
Hana meraih minuman yang ada dimeja sebelah tempat tidurnya, lalu meminum air tersebut hingga setengah. Entah kenapa dia merasakan sangat haus, seperti habis berlarian mengelilingi lapangan.
Hana menarik nafas panjang dan kembali mencoba mengingat mimpi yang barusan ia alami. Didalam mimpinya Hana seperti berada disebuah tempat gurun pasir yang gersang, tidak ada apapun disana, baik itu pohon, rumah ataupun yang lainnya. Hanya ada dirinya seorang yang berdiri di bawah terik matahari.
Ketika itu Hana berjalan pelan, tanpa arah dan tujuan. Ia tidak tahu mau kemana dan mencari apa disana. Yang jelas, ia terus berjalan dan berjalan.. Sampai ia merasa sangat kelelahan dan juga dehidrasi.
Setelah beberapa lama ia berjalan, tiba-tiba saja didepannya kini ada sebuah jurang yang sangat dalam. Hana berhenti sejenak dan melihat ngeri dibagian bawah jurang tersebut. Jurang itu ternyata sangat dalam, saking dalamnya.. Hana tidak bisa melihat dasar dari jurang itu. Hana merasa takut dan tidak dapat membayangkan jika ia masuk kedalam sana.
Beberapa saat kemudian, dari arah belakang Hana, tanpa diduga muncul sesosok lelaki yang berbaju serba hitam. Ia menutupi wajahnya dengan masker yang juga berwarna hitam. Lelaki itu memukul pelan pundak Hana, Hana yang kaget langsung saja menoleh kebelakangnya.
Hana tidak dapat mengenali siapa lelaki itu karena ia menundukkan wajahnya. Baru saja Hana akan bertanya dia siapa, tanpa disangka lelaki misterius itu malah mendorongnya kebelakang. Dorongan pertama tidak begitu kuat, maka Hana bisa mengendalikan tubuhnya agar tidak terjatuh ke jurang dibelakangnya. Namun, lelaki itu kembali melakukan dorongan kedua yang membuat tubuh Hana menjadi tak seimbang dan siap-siap akan jatuh.
Hana yang sudah pasrah akan jatuh kedalam jurang itu hanya bisa menutup matanya dengan erat. Namun, ternyata.. Ada sebuah tangan yang kembali menarik tubuh Hana agar tidak jatuh kebawah jurang. Ia membawa tubuh Hana kedalam pelukannya. Hana yang lega karena tidak jadi jatuh, akhirnya melampiaskan rasa kelegaannya itu dengan memeluk erat tubuh si penolong. Matanya masih terpejam, namun hatinya tidak berhenti bergetar hebat.
Namun, pelukan dari seseorang itu semkin lama semakin melonggar dan sampai akhirnya ia melepaskan Hana dari tubuhnya. Hana yang merasa heran langsung mengangkat kepalanya dan memandang sosok yang telah menolongnya itu. Setelah melihat siapa sosok itu, mata Hana langsung terbelalak kaget karena ternyata dia adalah orang yang sama. Dia yang telah mendorong Hana, dan dia pula yang malah menarik Hana agar tidak terjatuh.
Hana bingung. Siapa orang dibalik masker hitam itu, mengapa dia mau mencelakai Hana namun setelah itu malah menolongnya? Tapi, sedikitpun bibir Hana tak mampu mengeluarkan suara untuk bertanya. Ia masih bungkam. Sedangkan si lelaki misterius tersebut lalu berjalan pelan menuju kedepan jurang, hingga akhirnya ia berada di bibir jurang. Hana perhatikan dari belakang punggung lelaki itu bagaimana ia mengayunkan kedua kakinya secara bergantian kearah jurang.
Hana berdelik ngeri dengan perbuatan aneh si lelaki. Ia seakan sedang mengantarkan nyawanya dengan mendekati jurang itu. Dan benar saja.. Seperkian detik kemudian, si lelaki malah melompat kedalam jurang itu. Hana menjerit histeris melihat pemandangan ngeri didepan matanya. Tanpa bisa berbuat apapun, Hana seakan pasrah melihat si lelaki hilang didasar jurang. Setelah itu, ia pun terjaga dari tidurnya.
"Semoga cuman bunga tidur saja" Desis Hana terhadap dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah itu, Hana memutuskan untuk kembali tidur. Namun, baru saja ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi dari handphonenya. Pertanda ada pesan Whatshaap yang masuk.
"Siapa yang nge-chat malam-malam ini?" Pikir Hana didalam hati. Karena penasaran Hana lalu meraih handphonenya dan kemudian memeriksa pesan Whatsaap yang masuk. Ada sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Hana langsung membukanya.
"Kak.." Hanya Satu kata singkat itu yang di kirim oleh nomor yang tidak dikenalnya. Hana menelan salivanya. Membaca pesan tersebut, membuat pikiran Hana langsung tertuju ke Asran.
*************************************************
Pukul 8 lewat 10 menit Hana baru sampai di Puskesmas. Ia telat karena bangun kesiangan, akibat dari mimpi buruk dimalam itu membuat Hana sulit untuk tidur lagi. Matanya masih tetap terjaga hingga sampai waktu subuh. Setelah sholat subuh, barulah Hana merasakan kantuk yang tak terbendungkan lagi hingga akhirnya iapun tertidur.
Hana masuk ke ruangannya dengan langkah kaki yang lesu. Tika dan Tia yang sudah ada didalam ruangannya tersebut, langsung menegur Hana.
"Hana.. Tumben terlambat, terus.. Kok wajah kamu seperti Gak semangat gitu??" Tanya Tika.
"Gak kok, bukan gak semangat. Cuman lagi ngantuk aja." Jawab Hana seadanya.
"Ngantuk..? Bergadang kamu emang nya Han?" Tia kembali bertanya.
"Ya bisa dibilang gitulah, hehe.." Sahut Hana dengan tersenyum tipis.
"Bergadang karena apa kak? Apa jangan-jangan.. bergadangnya karena telponan dengan Dokter Andra kan?Hihihi..." Tebak Tika dengan tersenyum lebar. Hana tidak menjawabnya, hanya seulas senyuman tipis yang tergambar dibibirnya.
Setelah itu, Hana iseng membuka pesan whatshapp tadi malam dari nomor yang tidak dikenal itu. Sebuah kata 'Kak' Yang ia kirim itu sempat membawa pikiran Hana ke Asran.
__ADS_1
'Apakah benar ini Asran yang mengirimkan?' Batin Hana.
'Tidaklah, tidak mungkin Asran. Asran sudah bersama Rini saat ini, dia gak akan lagi kembali mengganggu aku. Lagi pula ingatan dia tentang aku belum muncul. Biarlah.. Biarlah seperti ini..' Kata hati Hana.
Hana terus-terusan menyemangati dirinya agar bisa move on dari Asran. Merelakan lelaki itu bersama wanita pilihannya saat ini, yaitu Si Rini. Yah.. Rini selalu berbagi cerita ke Hana tentang semua yang ia lakukan bersama Asran. Dari antar jemput, jalan bareng dan lain sebagainya.
Hana tidak butuh itu sebenarnya, malahan mendengar semua cerita Rini tentang Asran seakan membuat hatinya semakin ngilu tak tertahankan. Namun, demi menjaga perasaan wanita bertubuh mungil itu Hanapun rela menjadi pendengar yang baik meski ia tidak banyak memberi komentar apapun. Yang terkadang hanya diam ataupun tersenyum tipis.
Kemudian Sebuah bunyi notifikasi dari hp Hana membuyarkan lamunannya. Hana lalu membuka dan membaca pesan dari nomor yang tidak dikenalnya lagi.
'Kak..Aku sudah ingat semuanya!!'
Hana membaca pesan singkat itu dengan suara yang bergetar.
.
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA..🤗🤗