
Beberapa saat kemudian, Hanapun berjalan keluar polres. Ia berjalan dengan menundukkan wajahnya, pikirannya saat ini melayang entah kemana-mana. Tanpa ia sadari, saat di pembelokan.. Tiba-tiba saja ia tidak sengaja menabrak seseorang. Hana mengangkat kepalanya dan siap-siap untuk meminta maaf. Namun, matanya sekaan terbelalak kaget ketika tahu siapa manusia yang telah ia tabrak.
Hana terpana melihat sosok yang ia tabrak barusan. Wajah yang sudah lama ini dia rindukan, kini berada tepat dihadapannya. Jantung Hana berdebar semakin kencang melihat kedua bola mata itu menatapnya dengan erat.
"Eh, Maaf.. maaf.. Saya gak lihat." Katanya mengeluarkan suara untuk meminta maaf yang padahal bukan salahnya, Hanalah yang salah karena tidak fokus dalam berjalan sehingga menabrakkan dirinya ke lelaki tersebut.
Dan, Suara itu... Hana belum sadar sepenuhnya. Ia merasa seakan melayang mendengar suara yang sudah lama tidak hadir ditelinganya. Suara lembut milik dia, yang membuat Hana seakan terbang, terbuai dan hanyut dalam getaran aneh yang merasuki dirinya. Entahlah.. Hana tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun dan matanya sedari tadi tak berkedip melihat sosok nyata yang ada dihadapannya saat ini.
"Asran..??" Akhirnya nama itu keluar juga dari lisan Hana, meskipun pelan namun tetap terdengar oleh si lelaki yang Hana tabrak itu.
Asran mengerutkan keningnya tanda bingung. Ia heran ternyata wanita yang menabraknya itu mengenalinya yang padahal Asran sama sekali tidak mengenal wanita tersebut
"Maaf, kamu kenal saya ya?" Tanya Asran dengan ekspresi bingung.
Ditanya seperti itu akhirnya membuat Hana seakan tersadar bahwa ia memang Asran tapi dia tidak ingat Hana. Hati Hana tiba-tiba terasa ngilu.
"Ngak.. Ngak kenal" Setelah agak lama Hana diam, lalu ia menjawabnya.
"Tapi, tadi.. Kok tau nama saya Asran??" Kata Asran yang mulai curiga.
"Itu.. Saya baca di bed name kamu. Asran Ravendi kan namanya??" Kata Hana seraya menunjuk bed name yang terpasang didada sebelah kiri Asran.
"Ooo..Lihat disini ternyata. Ya, benar.. Nama Saya Asran Ravendi. Oya, sekali lagi Saya mintak maaf ya.. Ngak lihat tadi." Ucap Asran merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Iya, Gak apa-apa. Tapi, seharusnya saya yang mintak maaf karena kan saya yang menabrak kamu, bukan kamu. Jadi, maaf ya saya kurang fokus tadi..." Ujar Hana merasa bersalah.
"Oo.. Iya ya.. Dimaafin kok. Yadah, saya permisi dulu ya..!" Pamit Asran kemudian melangkah pergi meninggalkan Hana dengan sebelumnya melemparkan senyuman manisnya ke Hana.
Hana membalas senyuman itu, senyuman dari Hana yang berbalut kesedihan. Hana melihat Asran menaiki tangga ke ruangan atas, Hana perhatikan terus sampai akhirnya lelaki itu hilang dari pandangannya.
Sesampainya Hana diluar halaman Polres, ia tidak langsung menuju keparkiran. Entah kenapa Hana ingin rasanya singgah sebentar dikantin Polres untuk sekedar membeli minuman disana. Maka akhirnya Hana memutuskan untuk kekantin juga. Dorongan dari dalam hatinya yang membuat Hana kini sudah berada dikantin.
Hana memesan minuman lalu duduk dikursi. Saat itu pengunjung tidak terlalu ramai, cuman ada beberapa polisi dan karyawan lainnya yang mengisi bangku kantin tersebut.
Sembari menunggu pesanannya sampai, pikiran Hana membawanya kembali mengingat pertemuan singkatnya dengan Asran beberapa menit yang lalu. Hana merasa lega dan bersyukur melihat kondisi Asran yang sudah sembuh dan sehat bugar. Melihat ia sudah beraktifitas kembali membuat kebahagiaan tersendiri bagi Hana. Meskipun, Asran kehilangan beberapa ingatannya termasuk ingatan tentang diri Hana.
Hana menarik nafas panjang. Hana akui ia merasa sedih juga tidak bisa seakrab dulu lagi dengan Asran. Jangankan bisa akrab, kenal dirinya saja tidak. Ingin rasanya Hana memberitahu Asran, mengingatkannya dan bahkan memulihkan ingatan Asran tentang dirinya Tapi, balik lagi... Jika ingatan Asran pulih, apakah yang akan terjadi?? Apakah Asran akan membiarkan dirinya tetap menikah dengan Andra? Atau... Asran malah berbuat sesuatu diluar kendalinya supaya pernikahan antara Hana dan Andra tidak terjadi? Entahlah.. Hana tidak mampu untuk menjawab semuanya.
Hana mencuri-curi pandang kearah Asran yang sedang memesan makanan ke ibu kantin, Hana perhatikan juga bagaimana Asran berbicara dengan teman sebelahnya dan sekali-sekali diikuti oleh gelak tawanya. Asran tampak bahagia dengan tertawa lepas seperti itu, seperti tanpa beban. Hanapun membenarkan akhirnya apa yang dikatakan Reynald waktu itu bahwa Asran akan terus baik tanpa ada Hana disisinya. Ya.. Jika memang begitu jalannya, Saat ini Hana juga harus bisa melupakannya.
Hana masih terus memperhatikan Asran hingga lelaki itu selesai memesan dan membalikkan badannya. Disaat itu lah tiba-tiba Asran seperti menyadari bahwa sedang diperhatikan oleh Hana dan pandangan mereka sempat beradu untuk beberapa detik sampai akhirnya Hana menundukkan pandangannya.
Asran lalu berjalan melewati Hana dengan ekspresi bingung, dan ia juga sempat melirik Hana sekilas saat lewat tepat disebelah gadis yang lagi menunduk itu. Hana yang tahu Asran meliriknya, hanya diam tak berkutik dengan debaran yang semakin kencang di dadanya. Hana yakin pasti saat ini timbul pertanyaan besar dibenak Asran. Karena Hana akui ia melihat Asran bukan dengan tatapan biasa melainkan tatapan yang masih adanya sebuah rasa.
Kemudian Asran duduk tepat dibelakang Hana. Mereka duduk saling membelakangi yang membuat perasaan Hana semakin tidak karuan. Hana menghabiskan minuman yang ia pesan dengan cepat-cepat dan setelah itu bergegas meninggalkan kantin Polres.
Setelah ia keluar dari kantin, ada sebuah suara yang memanggil dirinya. Hana langsung menoleh dan mendapati Asran sudah berdiri dibelakangnya.
__ADS_1
"Ini punya kamu bukan yang ketinggalan" Kata Asran dengan mengangkat sebuah jaket biru miliknya.
"Oh, Iya.." Kata Hana lalu mengambil jaketnya yang memang tertinggal dikantin tadi.
"Terimakasih ya," Ucap Hana dengan tersenyum tipis. Asran membalas senyuman Hana dengan pandangan tak lepas dari wanita dihadapannya ini.
Lalu Hana bersiap-siap akan pergi dari sana dengan berbalik arah, akan tetapi Asran malah kembali memanggilnya.
"Hai, Tunggu sebentar.." Panggil Asran ke Hana.
"Iya, kenapa?" Hana bertanya dengan bingung.
"Apakah.. Kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Asran dengan tatapan yang sulit diungkapkan. Hana terdiam tuk sekian detik.
"Iya, Pernah.." Jawab Hana akhirnya.
"Oh Ya??" Asran terlihat kaget.
"Ya.. iya, maksud saya kita kan bertemu pas tak sengaja tabrakan tadi." Kata Hana mengingatkan Asran kejadian saat mereka tabrakan.
"Oo.. Iya ya, kamu benar juga." Kata Asran manggut-manggut.
"Ya sudah, saya permisi dulu ya.." Ucap Hana lalu bergegas meninggalkan Asran. Asran mengiyakannya dan melihat kepergian Hana dengan tatapan penuh arti..
__ADS_1
Bersambung..