Reminiscent

Reminiscent
BERDEBAT


__ADS_3

"Asran, kak benar-benar mintak maaf. Kak gak pernah sedikitpun bermaksud untuk mempermainkan perasaan kamu. Bagaimana kak bisa mempermainkan perasaan kamu sedangkan perasaan kak sendiri juga terluka." Kata Hana.


"Jadi jika perasaan kak Hana juga terluka, mengapa kak tetap menjalaninya?" Todong Asran.


"Karena tidak ada pilihan lain lagi Asran. Kak harap kamu bisa paham dengan posisi kita masing-masing saat ini yang sangat sulit untuk terus bersama." Kata Hana. Sebenarnya ia sangat sulit untuk memilah kata-kata yang tepat agar lelaki dihadapannya ini bisa mengerti dengan keadaannya yang terjadi dan menerima segala halnya dengan lapang dada.


"Berarti kak Hana gak cinta kan sama bang Andra? Kak terpaksa menikah dengan dia karena paksaan dari Mama kakak kan?" Kata Asran menarik kesimpulan sendiri.


"Gak Asran, Kak gak terpaksa menikah dengan Andra. Gak ada paksaan sama sekali Asran." Jawab Hana dengan yakin.


"Lah.. Jadi gimana kak, kak setuju menikah dengan Bang Andra tanpa ada paksaan dari keluarga kakak sedikitpun, begitu? Jika memang begitu, mengapa tadi kak bilang hati kak juga terluka dengan perjodohan ini? Aku.. Aku benar-benar bingung dengan pola pikir kak Hana ini, jadi wajarlah jika aku anggap kak Hana inu telah mempermainkan aku kan?" Asran kembali menyudutkan Hana. Kali ini suaranya mulai meninggi. Hana melihat sekelilinginya yang kebetulan sepi. setidaknya ia berharap tidak ada orang lain yang mendengar perdebatan mereka ini.


"Sudah lah Asran, gak usah dibahas lagi ya? Kak Mohon.." Kata Hana dengan memelas. Karena Hana tau tipe seperti Asran ini jika dibawa berdebat tidak akan ada habisnya, pasti dia akan tetap teguh dengan pendiriannya itu.


"Ngak kak, ini harus kita bahas. Asran gak terima kak Hana meninggalkan Asran seperti ini. Sudah banyak hal yang Asran lakukan untuk kakak. Asran gak rela kak pergi begitu saja tanpa sedikitpun memandang apa yang sudah Asran perjuangkan untuk kak Hana."


Hana mengerutkan keningnya tanda tidak setuju dengan ucapan lelaki itu barusan. Dimana Dia mulai mengungkit suatu hal yang sudah ia lakukan untuk Hana.


"Oke, kak tau kak mungkin berhutang nyawa sama kamu Asran, itu maksud kamu kan? Karena kamu sudah tolongin kakak waktu itu jadi kamu merasa kak ini wajib mengikuti semua keinginan kamu, begitu?" Ketus Hana.

__ADS_1


"Ya.. Bukan begitu juga maksud Asran kak. Setidaknya.. Kak Hana bisa menghargai perjuangan Asran ini kak, jangan malah mengecewakan Asran seperti ini. Kak Hana gak tau gimana kalutnya Asran waktu itu kan? Setelah kita telponan waktu kak memutuskan hubungan kita sepihak itu, Asran merasa kecewa, sakit hati dan galau luar biasa kak. Sampai tanpa sadar Asran membanting handphone Asran sendiri sampai pecah tak berbentuk. Malam itu juga Asran kerumah kak Hana, berharap dengan bertemunya kita bisa menjernihkan pikiran kak Hana yang terlalu cepat berubah itu. Tapi, apa yang Asran dapat disana? Asran semakin dibuat sakit hati saat Mama kak Hana bilang kalau kak pergi jalan berduan dengan lelaki itu. Bisa-bisanya kak.. Tanpa memikirkan perasaan Asran, kak pergi malam itu juga dengan dia? Hancur kak hati ini rasanya. Asran benar-benar gak bisa terima kak Hana memperlakukan Asran seperti ini, Sama saja kak Hana mencampakkan Asran sesuka hati kakak. Seperti tak ada harganya lagi Asran ini bagi kak Hana.." Ucap Asran dengan panjang lebar.


Asran berhenti sejenak, ia menarik nafas dengan kuat lalu menghembuskannya dengan kasar. Sedangkan Hana masih terdiam dengan hati dan pikiran yang saling berkecamuk. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Saat ini, memang dia berada diposisi yang salah. Dia yang sudah memutuskan Asran. Benar kata Asran, dia yang selalu cepat berubah dan tidak tetap pendirian. Andai saja waktu itu dia bisa sedikit tegas menolak lamaran dari keluarga Andra dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dimalam itu juga, pasti Asran tidak semarah ini. Dan tentunya lelaki itu pasti tidak mengalami kecelakaan.


Entahlah.. Hana tidak munkin bisa lagi membalikkan waktu. Semua sudah terjadi, pernikahannya sudah didepan mata. Hana tidak boleh berubah-rubah lagi. Dia harus tetap pendirian kali ini, sudah ada Andra juga disana menunggu dirinya.


"Asran, sudah berkali-kali kak minta maaf sama kamu kan. Kak akui kakak emang salah, kak memang plin-plan dan mungkin hati kak ini masih mudah berubah-ubah. Kak mintak maaf karena sudah membuat kamu kecewa, marah, sakit hati dan segala hal yang terjadi terhadap kamu.. Kak minta maaf dengan sepenuh jiwa dan raga kakak ini, kak mohon... Hanya kata maaf lah yang bisa kak ucapkan untuk kamu saat ini, Asran. Gak ada kata lain lagi, Asran.. Selain kata Maaf!!" Tutur Hana dengan suara yang lembut.


Kali ini Asran yang terdiam, namun sorot mata kecewanya itu tidak lepas memandang Hana dengan erat.


"Asran, sudah ya? Ini sudah mau maghrib. Biarkan kakak pulang ya.." Hana masih berusaha membujuk Asran. Tapi, lelaki itu belum juga beranjak dari depan motor Hana. Ia masih menahan bagian depan motor Hana menggunakan tangan dan kakinya.


"Dalam minggu ini, Asran. Hari jum'at akadnya, dan besok pagi.. Kak akan berangkat." Jelas Hana.


Asran menundukkan wajahnya dan sesat kemudian memejamkan matanya dengat erat seraya meletakkan kedua tanganya diatas kepalanya.


"Asran, kak sangat berharap kamu bisa menerima ini semua ya. Walaupun mungkin.. Sakit.. Tapi, inilah kenyataan yang harus kita terima. Jalan takdir yang harus kita jalani. Ikhlaskan kakak ya.. Kamu pasti bisa Asran, jalan hidup kamu masih panjang. Kamu masih muda dan kamu juga berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari kakak.." Nasihat Hana kepada Asran.


"Gak..Gak.." Tapi, Asran sama sekali tidak menerima nasihat dari Hana tersebut. Dia mengelengkan kepalanya dengan tersenyum kecut. Sorot matanya yang tajam itu masih dipenuhi ambisi untuk tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Asran gak akan membiarkan kak Hana Nikah!!" Tekannya seraya membesarkan kedua bola matanya itu dalam menatap Hana.


"Ya sudahlah Asran, capek aku lama-lama menjelaskan sama kamu ini." Ketus Hana dengan nada kesal.


"Minggir.. AKU MAU PULANG..!!" Kini giliran Hana yang melotot marah ke lelaki itu.


"Ngak kak Hana, kak Hana jangan pulang dulu.. Kita belum selesai ngomong.." Asran kembali mencegat Hana yang sudah memundurkan motornya lalu menghidupkan motornya. Dan detik kemudian tanpa basa-basi lagi Hana lalu meng-gas motornya dan pergi meninggalkan Asran.


Lelaki itu berlari mengejar Hana, berusaha menangkap bagian belakang motor Hana. Namun, belum sempat Asran menangkap bagian belakang motor Hana, lelaki itu malah jatuh tersungkur ketanah dengan kedua tangannya memegang erat bagian kepalanya...


.


.


.


BERSAMBUNG..


.

__ADS_1


__ADS_2