Reminiscent

Reminiscent
MAKAN SIANG


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Andra memberhentikan motornya disebuah mesjid.


"Ada baiknya kita sholat dulu yuk sayang, setelah itu baru kita bisa makan dengan tenang. Gak apa-apakan?" Kata Andra meminta persetujuan dari Hana.


"Iya, gak apa-apa. Tapi, aku telpon mama dulu ya. Mau kabari kalau aku sudah sampai dan agak telat pulangnya, entar Mama risau nungguin aku gak sampai-sampai." Kata Hana lalu mengeluarkan handphone dari tas ranselnya


"Oya, betul juga itu. Kamu kabarin Mama dulu.." Suruh Andra.


Setelah menelpon Mamanya, Hana dan Andra masuk kedalam mesjid melalui pintu yang berbeda. Mereka melaksanakan sholat dzuhur didalam Mesjid yang tidak begitu ramai lagi orang yang ada didalamnya.


Selang beberapa menit kemudian, Andra yang sudah selesai duluan Langsung saja keluar dari mesjid dan menunggu diparkiran depan mesjid.


Andra tampak mengetik sesuatu dari handphonenya dengan wajah yang serius. Sampai ia tidak menyadari Hana yang sudah datang dan berdiri disampingnya.


"Serius kali, Ndra. Lagi chat-an sama siapa sih?" Tanya Hana penasaran dengan sedikit melirik ke sebelah Andra.


Andra yang terkejut dengan kedatangan Hana, langsung gelagapan dan kemudian menurunkan handphonenya.


"Hhmm.. Sudah selesai, Na? Yuk kita langsung saja kerumah makan. Sudah lapar kali aku, hehe.." Kata Andra tanpa menjawab pertanyaan dari Hana.


"Yuklah.." Jawab Hana. Kendatipun demikian tidak dipungkiri Hana sedikit penasaran dengan sikap Andra yang tiba-tiba gelagapan saat Hana bertanya dia Chat dengan siapa.


Beberapa menit kemudian, Mereka sudah sampai di rumah makan padang yang terkenal dengan masakannya yang enak.


"Bismillah.. Yuk dimakan sayang, jangan dilihatin aja.." Kata Andra ketika melihat Hana yang tidak langsung melahap makanan yang sudah dihidangkan didepan mereka.


"Iya, ini juga mau dimakan.." Ujar Hana dengan tersenyum tipis.


Setelah itu, Mereka menikmati makan siang tersebut tanpa berbicara. Hana melihat sekilas kearah Andra yang tampak makan dengan lahap. Sebenarnya Hana masih penasaran dengan gelagat aneh Andra tadi, ingin rasanya ia bertanya tapi entah kenapa rasanya ia tidak pantas terlalu ingin tahu urusan lelaki itu.


Meskipun demikian, tanpa dipinta pikiran-pikiran buruk pun tiba-tiba merasuki dirinya, pikiran buruk yang membuat dirinya takut. Yah.. Hana takut Andra memiliki hubungan dengan wanita lain. Menyadari akan hal itu, Hana langsung saja membuang jauh-jauh pikiran buruk yang tiba-tiba muncul dibenaknya.


'Ngak mungkin Hana, buang jauh-jauh pikiran aneh kamu itu tentang Andra..' Nasihat Hana terhadap dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sayang, kok melamun? Gak enak ya makanannya?" Tegur Andra yang melihat Hana melamun dengan pandangan kosong.


"Ee.. Gak.. Makanannya enak kok, enak kali malahan.." Jawab Hana seadanya.


"Jadi kamu mikirin apa?" Tanya Andra dengan menatap erat wajah Hana.


"Hhmm.. Aku, aku.. Gak mikir apa-apa kok.." Sahut Hana lalu tersenyum tipis.


"Yadah, lanjutin makannya. Makan yang banyak ya, biar tambah berisi.." Kata Andra lalu tersenyum simpul. Hana mengerutkan keningnya bingung dengan kalimat Andra barusan itu.


"Berisi?? Maksudnya, kamu mau kalau aku gendut ya?" Kata Hana merasa tidak terima.


"Bukan gendut sayang, tapi sedikit lebih berisi gitu dari yang sekarang ini kan badan kamu agak kurus. Jadi nantik setelah menikah sama aku, berat badan kamu ditambahin lah sekitar 3-4 kg gitu.." Jelas Andra.


"Ooh.. Memang kenapa begitu??" Hana kembali bertanya.


"Perlu juga nih aku jelaskan alasannya??" Kata Andra dengan tersenyum menggoda, Hana yang mulai paham kemana maksud omongan Andra langsung saja menunduk dengan menggelengkan kepalanya.


"Nantik aja kalau sudah menikah aku jelaskan ya, sedetil-detilnya.." Ucap Andra dengan setengah berbisik. Hana hanya diam dengan wajah yang mulai memanas karena menahan malu.


"Hana.. Mengenai Asran, aku sudah nyuruh orang untuk mengawasi dia.." Kata Andra tiba-tiba. Hana langsung menatap Andra dengan bingung.


"Maksud kamu apa?" Tanya Hana.


"Iya, aku gak mau aja nantik Asran tiba-tiba datang pas hari H kita. Kemungkinan buruk itu bisa saja terjadi Hana, jadi sebelum terlambat dan menyesal nantiknya.. Makanya aku berinisiatif untuk wanti-wanti dari sekarang.." Jelas Andra.


"Emang apa yang kamu lakukan?" Hana bertanya kembali.


"Itu tadi, mengawasi gerak-gerik dia. Aku suruh orang untuk memantau dia dan jika terlihat ada yang mencurigai dimana dia yang mungkin tiba-tiba berangkat maka aku dan kamu disini bisa lebih wasapda lagi." Kata Andra.


"Ohh.. Begitu.." Lirih Hana seraya mengaduk-aduk minumannya.


"Bagaimana menurut kamu, Na?" Andra bertanya.

__ADS_1


Hana yang tadi sedikit menunduk, lalu mengangkat kepalanya dan memandang Andra dengan erat.


"Hhhmmm... Entahlah, Ndra. Aku gak tau harus ngomong apa. Cuman harapan aku, Asran tidak melakukan hal itu. Buktinya sampai detik ini dia belum ada menghubungi aku atau gimana-gimana.." Ujar Hana.


"Ya mana tau saja dia lagi merencanakan sesuatu, Na." Ketus Andra dengan nada curiga.


"Andra, jangan selalu berpikiran buruk. Pikirkan yang baik-baik sajalah." Nasihat Hana akhirnya karena entah mengapa Hana kurang menyetujui rencana Andra untuk mengawasi Asran.


"Bukan berpikiran buruk Hana, ini namanya berjaga-jaga. Kita wajib donk untuk selalu berwaspada. Emang kamu mau pernikahan kita terganggu dengan kedatangan dia yang tiba-tiba nantinya. Kamu sudah tahu kan bagaimana sifat dia yang tidak mudah menyerah itu? Aku rasa kamu sudah hafal sekali, Hana. Jadi kamu bisa pikirkan kedepannya bagaimana. Jangan sampai hal yang tidak kita inginkan itu terjadi." Jelas Andra panjang lebar.


"Iya, Iya Andra.. Aku paham, Ya sudah.. Terserah kamu aja lagi mau seperti apa, karena kamu lebih tahu yang terbaik untuk hubungan kita. Aku menurut - menurut saja kok." Jawab Hana akhirnya.


"Memang harus nurut donk sayang, istri itu memang harus nurut dengam suaminya." Kata Andra dengam tersenyum lebar.


"Kan belum jadi istri.." Kata Hana dengan menyangkal.


"Kan.. Gak lama lagi, tinggal.. Hhhmm.. 3 hari lagi Sayang. Ya ampun.. Gak sabar rasanya.." Kata Andra dengan mata yang berbinar-binar. Hana hanya tersenyum menanggapinya.


"Kamu sendiri bagaimana sayang? Gak sabar juga kan ingin menikah dengan lelaki setampan aku ini??" Kata Andra dengan percaya dirinya.


"Apaan sih.. Kamunya itu yang gak sabaran, aku biasa aja kok." Kata Hana dengan senyum meledek.


"Ya.. aku memang sudah gak sabar nih, aku akui. Kamu tu yang gak sesuai dengan lisan dan hati kamu, Na. Biarpun bibir kamu berkata tidak, tapi aku tau hati kamu berkata lain. Benarkan??" Tutur Andra.


Hana diam, tidak sedikitpun ia berniat menanggapi perkataan dari Andar tersebut..


.


.


.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


.


.


__ADS_2