
Asran mengendari motornya dengan lumayan kencang. Ditengah guyuran hujan yang semakin lama semakin deras sehingga membuat seluruh tubuhnya menjadi basah kuyup.
Setelah pertemuan singkat dengan Andra tadi, mampu membuat perasaan Asran menjadi serba salah. Andra menodong dirinya dengan pertanyaan yang seakan menyudutkannya. Bertanya mengenai tentang perasaannya terhadap Hana. Di satu sisi ia tidak ingin membohongi perasaannya bahwa dia memiliki perasaan lebih terhadap wanita yang umurnya terpaut 7 tahun darinya. Namun, disisi lain Asran sudah terlanjur berjanji kepada Hana untuk menjaga rahasia itu agar hubungan Hana dan Andra tetap baik-baik saja.
Pertanyaan Andra tadi kembali terniang-niang di pikiran Asran.
"Kenapa diam? Kamu Memang Suka Kan sama Hana?" Todong Andra lagi dengan pertanyaan yang sama seraya masih menatap Asran dengan tatapan yang tajam.
"Kalau Masalah itu, Aku ngak bisa jawab, Bang. Maaf.." Jawab Asran.
"Oke. Dari sikap kamu, dari cara bicara kamu ini.. sudah mewakili atas jawaban yang aku tanyakan. Aku tahu.. Kamu dan Hana bukan hanya sekedar teman biasa. Ada sesuatu diantara kalian.. Aku yakin itu.." Ucap Andra.
Asran diam. Mungkin lisannya bisa menyangkal tapi tidak dengan wajahnya yang mungkin saja bisa terbaca oleh Andra.
Setelah mengatakan itu, Andra pamit pergi dan meninggalkan Asran yang masih terdiam dengan pikiran yang kacau.
Sesampainya di Asrama polisi, Dengan keadaan basah kuyup Asran masuk kedalam Asrama. Disitu sudah ada Reynald dan beberapa teman polisi lain yang sedang berkumpul.
"Woi, Asran.. Dari mana?" Reynald bertanya.
"Kuat Galau Asran, Wajahnya nampak kusut.." Celetuk temannya yang lain.
Asran tidak mempedulikan komentar dari teman-temannya. Ia langsung saja nyelonong dan masuk ke kamarnya.
Didalam kamar, setelah berganti pakaian Asran lalu menghubungi Hana.
"Asran, Bagaimana? Kamu jadi ketemu dengan Andra? Terus apa katanya?" Baru saja telponnya terhubung ke nomor Hana, Hana langsung saja menyodorkan pertanyaan yang bertubi-tubi ke Asran.
"Sabar Kak Hana.. Aku baru saja mau mengucapkan salam, hehe.." Kata Asran sambil tertawa kecil.
"Iya, maaf.. Kak ngak sabar nunggu kabar dari kamu, Asran. Kak merasa khawatir aja.." Kata Hana dengan khawatir.
"Kak Hana tenang saja, gak usah khawatir lagi. Semua berjalan seperti apa yang kakak harapkan kok. Aku sudah jelaskan semuanya ke Bang Andra, tentang kesalahpahamannya Sherly. Dan sudah aku tegaskan juga bahwa kita cuman teman biasa." Jelas Asran.
"Terus.. Andra bilang apa? Dia bisa menerima penjelasan dari kamu kan?"
"Ya seharusnya dia bisa menerima penjelasan dari aku lah kak.."
"Kamu yakin?"
__ADS_1
"Yakin kak. Kak Hana tenang aja, sebentar lagi dia pasti menghubungi kakak." Kata Asran menyakinkan Hana.
"Syukurlah, Asran. Tapi, dia kok belum ada nelpon kakak ya? Apa kakak aja yang hubungi dia duluan?"
"Ya udah, kakak telpon aja dia." Suruh Asran.
"Yadah, Kak telpon Andra dulu ya. Makasih ya Asran."
Klik. Telepon terputus.
Asran meletakkan Hpnya diatas kasur dengan kasar. Kemudian ia mendengus kesal. Seharusnya ia senang jika hubungan Hana dan Andra bisa berakhir karena masalah ini. Karena dengan begitu kesempatan Asran untuk kembali mengambil hati Hana akan terbuka lebar. Akan tetapi, terlepas dari itu semua.. Asran merasa tidak sampai hati juga melihat Hana diselimuti rasa takut dan khawatir akan berakhirnya hubungannya dengan Andra. Asran merasa Hana memang begitu menyayangi lelaki itu.
***
Sayup-sayup Hana mendengar suara ketukan dari pintu luar rumahnya. Hana yang saat itu masih berada di alam bawah sadarnya, lalu dengan perlahan - lahan membuka matanya.
Kemudian... Kilauan cahaya matahari dari balik jendela kamarnya langsung saja tertangkap oleh mata Hana sehingga membuat Hana memicingkan kembali matanya. Namun, setelah itu ia langsung tersentak dan terduduk.
Hana melirik jam dinding kamarnya. Jam telah menunjukkan pukul 07.00 pagi, dan Hana baru menyadari bahwa dia sudah kesiangan. Meskipun dia memang lagi berhalangan dan lagi tidak sholat, tapi.. Hana selalu bangun pagi.
"Ya, Allah.." Desis Hana yang kemudian buru-buru beranjak kekamar mandi.
Setelah mandi, Bunyi ketukan pintu kembali terdengar. Awalnya tadi Hana berpikir bunyi ketukan tadi cuman halusinasinya saja, Tapi.. sekarang ketukan dari pintu luar sangat jelas terdengar olehnya. Lantas Hana buru-buru memakai bajunya dan setelah itu bergegas keluar.
Ceklek...
Pintu terbuka. Seraut wajah lelaki tampan berkaca mata tanpa senyuman menyambutnya didepan pintu. Hana melotot kaget setelah menyadari Andra yang datang.
"Andra, K-kamu..? Kok tidak ngasih tau kalau mau datang?" Tanya Hana dengan suara yang bergetar.
"Aku sudah menelpon mu berkali - kali, Tapi nomormu ngak Aktif, Na." Jawab Andra dengan datar.
Hanapun teringat tadi malam setelah telponan dengan Asran, ia berniat untuk menghubungi Andra tapi.... beberapa kali Hana menghubungi Andra, lelaki itu tidak mengangkat telponnya sampai akhirnya karena sudah kemalaman, dan Hana juga sudah mengantuk, dia pun tertidur.
"Ooh.. Hp aku habis baterai mungkin.." Kata Hana.
"Pantasan.. Oya, tadi malam sorry Aku ngak angkat telpon kamu karena hp aku tinggal di rumah kawan dan aku tadi malam keluar sama Sherly.." Jelas Andra.
"Ya gak apa-apa" Kata Hana dan saat itu mereka sudah duduk dikursi teras.
__ADS_1
"Bentar.. aku bikin minum dulu ya.." Kata Hana kemudian dia berdiri dan hendak kedapur namun Andra mencegatnya.
"Gak usah, Na. Aku cuman sebentar aja karena aku mau berangkat."
"Berangkat? Berangkat kemana?" Tanya Hana bingung.
"Aku dan Sherly hari ini akan pulang ke kota. Jam setengah 9 nantik kapalnya berangkat, Na." Jelas Andra.
"A-apa? Kamu mau pulang? Kok mendadak? Kenapa baru kasih tau aku pagi ini?" Tanya Hana sedikit berteriak.
"Maaf.. Aku ngak sempat ngasih tau semalam" Jawab Andra cuek tanpa memandang Hana.
"Makanya pagi ini aku datang kesini untuk pamit langsung sama kamu.." Lanjut Andra lagi.
"Emangnya Urusan kamu sudah selesai semua?" Tanya Hana.
"Belum.. Tapi, ada kawan dokter lain yang akan menyelesaikannya."
Hana mulai merasa ada yang aneh dari diri Andra pagi ini. Sejak tadi dia berbicara tanpa memandang Hana sedikitpun. Nada bicaranya pun terdengar datar dan tidak ada sedikitpun senyuman yang terpancar dari wajahnya. Hal itu sungguh membuat hati Hana menjadi ngilu.
"Dan.. Masalah hubungan kita.." Ucap Andra kemudian berhenti dan menundukkan kepalanya. Hana menunggu lanjutan dari ucapan Andra dengan dada yang bergetar.
"Aku rasa... untuk sementara waktu kita break aja dulu. Kamu.. selesaikan permasalahan kamu dengan Asran, dan aku akan berusaha membujuk Sherly untuk bisa menerima kamu, Na." Ucap Andra lalu menatap Hana sekilas dan kemudian mengalihkan pandangannya kembali.
"A-apa? Masalah apa yang harus aku selesai kan dengan Asran? Aku sama sekali tidak merasa punya masalah dengan dia.." Kata Hana.
"Masalah Perasaan, Na. Perasaan dia ke kamu." Tegas Andra dengan kembali menatap Hana dengan sudut mata yang tajam.
.
.
.
.
Bersambung...
Terimakasih bagi pembaca yang sudah setia membaca sampai episode ini. Tetap tunggu kelanjutanya ya. Jangan lupa selalu dukung dengan like, komen, berinhadiah dan vote cerita ini ya..😊😃
__ADS_1
..
..