Reminiscent

Reminiscent
MEMAKSA UNTUK MENGINGAT


__ADS_3

"Kamu.. Kok tau nama saya??" Hana bertanya heran. Dalam hati tidak dipungkiri ia merasa was-was juga. Apa Asran sudah ingat dirinya??


"Lah, tadi kan kakak itu manggil nama kakak, kak Hana kan??" Kata Asran. Hana langsung menghembuskan nafas lega.


"Oooh, iya benar. Yadah lukanya jangan kenak air dulu ya, tiga hari lagi ganti perban" Jelas Hana tanpa melihat Asran, ia berpura - pura sibuk membereskan alat-alat.


"Oke, terimakasih.. Tapi, seingat aku.. Kita pernah bertemu sebelumnya kan?" Tanya Asran mencoba memulai pembicaraan dengan Hana.


Hana yang lagi membereskan alat, lalu berhenti sejenak mendengar pertanyaan dari Asran.


"Oya.. Kemarin pernah ke Polres kan? Kita gak sengaja tabrakan waktu itu.." Kata Asran.


"Iya, memang benar. Yadah, Permisi dulu ya," Jawab Hana dengan tersenyum tipis lalu buru-buru pergi meninggalkan Asran.


"Hana, terimakasih ya.." Ucap kak Imel sebelum Hana pergi dari ruang IGD.


Setelah keluar dari ruang IGd, Hana langsung menuju kekantin untuk kembali ketujuan awalnya yaitu ingin membeli minuman. Setelah selesai membeli minuman, Hana kembali berjalan menuju ke Puskesmas. Namun, tiba-tiba saja ada Rini dibelakangnya. Entah sejak kapan ia ada disana, Rini menepuk halus pundak Hana. Hana menoleh dan mendapati Rini yang lagi cengar-cengir. Kening Hana berkerut, dalam hati ia berceletuk.. Kesambet dimana anak ini kok senyum-senyum gak jelas?


"Kak, Tadi aku lihat Asran ada di IGD. Mau nyamperin tapi malu.." Kata Rini. Mendengar penuturan dari Rini membuat Hana terkesiap sesaat. Hana pun tersadar bahwa Rini belum tau mengenai Asran yang hilang ingatan. Bagaimana jika tiba-tiba ia menghampiri Asran dan berbicara yang tidak-tidak.


"Ee.. Rin, Kamu keruangan kakak sekarang yuk. Ada yang mau kak tunjukkan sama kamu" Kata Hana berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Tunjukkan apa kak?" Usaha Hana akhirnya berhasil membuat Rini penasaran, tanpa menjawabnya Hana langsung saja menarik tangan Rini agar lebih cepat jalannya. Jangan sampai Asran keluar dari IGD saat mereka masih diluar.


Namun, Naas.. Asran dan temannya yang lain keluar dari IGD sebelum Hana dan Rini sampai ke pintu masuk PUskesmas.


"Bentar kak, aku mau bertemu dengan Asran dulu ya. Sebentar aja" Ucap RIni dengan centil lalu melepaskan tangan Hana yang memegang tangannya. Hana tidak bisa mencegah RIni yang sudah berlari kecil menuju kearah Asran. Hana hanya bisa menunggu disana dengan perasaan yang tidak menentu.


Rini sudah berada didepan Asran dan ia tampak sedang berbicara dengan Asran. Entah apa yang ia bicarakan dengan Asran, karena jarak yang agak jauh membuat Hana tidak bisa mendengar pembicaraan mereka. Namun, Hana bisa melihat Wajah Asran yang terlihat bingung dan sekali-sekali melihat kearah Hana yang memang ada beberapa kali RIni menunjuk kearah Hana. Hana hanya bisa mengalihkan wajahnya saat Asran melihat kearahnya. Hana sebisa mungkin bersikap biasa saja atau pura-pura tidak Tahu.

__ADS_1


Tapi, Hana tidak bisa lagi bersikap biasa saja saat melihat Asran dan RIni malah berjalan mendekatinya. Perasaan Hana semakin tidak enak, apalagi melihat raut wajah Asran yang agak lain. Mereka semkain dekat, Hana yang panik lalu langsung saja berlari dari tempatnya berdiri tadi menuju kedalam PUskesmas, tanpa menoleh sedikitpun kebelakang. Tidak peduli beberapa pasang mata yang memperhatikannya dengan heran karena berlari kencang seperti itu.


***


Asran membaringkan badannya diatas kasur. Dengan posisi telentang, ia lalu menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya menerawang, dan membawa dirinya untuk kembali mengingat pertemuan beberapa kali dengan seorang wanita yang bernama Hana.


"Hana... Hana...Hana.." Desis Asran dengan mengucapkan nama itu sebanyak tiga kali. Setiap nama itu keluar dari mulutnya, entah kenapa hatinya seakan ngilu dan seperti ada sesuatu yang membuat Asran ingin tahu lebih banyak tentang wanita berwajah manis itu.


Dorongan dan desakan itu semakin dalam ia rasakan, seakan tidak bisa dibendung lagi. Dan.. ditambah lagi, seorang wanita bertubuh mungil datang tiba-tiba dengan gaya sok akrab dan ternyata mengenalinya. Wanita itu meminta nomor Handphonenya dan sempat juga ia mengatakan tentang Hana.


"Kata kak Hana nomor kamu ganti ya? Aku boleh minta nomor kamu yang baru?" Kata si wanita bertubuh mungil itu.


Tentu saja mendengar itu semua membuat Asran merasa heran, bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Dia lihat kearah wanita yang bernama Hana itu yang langsung memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak menyadari bahwa Asran dan Rini melihat serentak kearahnya.


Asran menyimpulkan bahwa wanita yang bernama Hana itu pasti mengenal dirinya. Tapi, seandainya dia memang kenal dengan dirinya, mengapa ia harus berpura-pura tidak kenal? Itulah yang membuat Asran merasa heran dan juga yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikannya.


Lalu Asran dan RIni bermaksud untuk menuju ketempat Hana berdiri namun.. baru selangkah mereka berjalan, Wanita bernama Hana itu malah langsung berlari dari sana dan masuk kedalam Puskesmas. Asran dan Rini saat itu hanya bisa terpana dan saling bengong melihat gelagat aneh dari Hana.


"Aduuh.." Rintihan Asran semakin kuat terdengar, sehingga Reynald yang sedari tadi ada juga dikamar tengah tidur, langsung saja terbangun dan melihat sahabatnya itu sedang meringis kesakitan.


"Kenapa kau Asran??" Tanya Reynald yang langsung saja bangkit dari tidurnya karena melihat Asran yang sudah pucat dengan memegang bagian kepalanya.


"Kepala kau sakit, Asran? Kita kerumah sakit sekarang ya!" Kata Reynald dengan nada suara yang cemas.


"Ngak Rey.. Gak usah, aku gak mau kerumah sakit." Tolak Asran.


"Tapi, kau kesakitan kali nampaknya Asran. Kita kerumah sakit aja, biar diperiksa kenapa kepala kamu itu tiba-tiba sakit." Kata Reynald.


Namun, Asran bersikeras juga tidak mau kerumah sakit.

__ADS_1


"Ayolah Asran.. Wajah kau pun pucat kali tuh. Jangan keras kepala, Asran!" Kata Reynald mulai meninggikan suaranya.


"Ngak Rey, aku cuman perlu makan obat ini aja. Nantik hilang sendiri setelah makan obat." Kata Asran lalu mengambil obat dan langsung meminumnya.


"Kau yakin?" Tanya Reynald.


Asran mengangguk dengan mantap.


"Biasa kok ini, karena.. aku tadi sedang memaksa kan diri untuk mengingat akan sesuatu." Kata Asran dengan tersenyum kecut.


"Ha?? Emang kau mau mengingat apa tadi?" Tanya Reynald penasaran.


"Aku.. Mencoba mengingat wanita yang bernama Hana. Karena aku tahu dia sebenarnya kenal sama aku cuman dia berpura - pura gak kenal. Tapi, sia-sia.. Aku belum ingat apa-apa tentang dia..." Kata Asran dengan wajah yang sedih.


Mendengar hal itu, membuat Reynald langsung tersulut emosi.


"Sudah aku bilang Asran, jangan paksakan diri untuk ingat hal-hal yang tidak penting, Apalagi ingat tentang wanita itu, malah akan membuat kau menjadi sakit hati lagi .." Ucap Reynald dengan marah. Asran terdiam dengan rasa penasaran yang semakin dalam..


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


💞💞💞💞💞💞


__ADS_2