Reminiscent

Reminiscent
KEGALAUAN HANA


__ADS_3

"Kamu kenapa murung, Na?" Tanya Andra yang sedari tadi melihat Hana yang diam dan tampak murung dengan mengaduk-aduk minuman yang ada didepannya. Saat itu mereka berdua ada disebuah pusat perbelanjaan dan sedang menikmati makan malam disana.


"Ngak ada.." Jawab Hana lalu tersenyum tipis.


"Ngak ada? Wajah kamu itu kalau lagi bohong terlihat lo Na, kamu lagi mikirin apa? Cerita sama aku, setidaknya bisa mengurangi sedikit beban yang kamu rasakan." Ucap Andra dengan tatapannya tidak lepas dari Hana yang sejak tadi selalu menundukkan wajahnya.


"Na, kamu.. Masih kepikiran Asran ya?" Tebak Andra. Mendengar nama Asran disebut, membuat Hana langsung mengangkat wajahnya.


"Benarkan begitu?" Andra mengulang pertanyaannya lagi. Hana akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Mana hp kamu?" Tanya Andra tiba-tiba.


Hana mengeryitkan dahinya tanda bingung dengan pertanyaan Andra barusan.


"Untuk apa?"


"Kamu Telpon Asran. Aku mau ngomong sama dia." Suruh Andra.


"Untuk apa, Ndra?" Hana semakin bingung kenapa Andra malah menyuruh dirinya menghubungi Asran.


"Kita clear kan sekarang Na. Aku gak mau kamu merasa terbebani karena perasaan bersalah dan tidak enak kamu terhadap Asran. Aku tau Asran suka dan mungkin juga cinta sama kamu. Tapi, saat ini keadaan sudah berbalik. Kamu sudah kembali lagi sama aku. Dan.. Dia harus bisa menerima kenyataan itu meskipun pahit." Jelas Andra.


Hana memjamkan matanya sesaat, seperti sedang berpikir keras. Sampai akhirnya ia memberikan hpnya ke Andra.


"Ya sudah, kamu hubungi aja dia, Ndra. Nih.." Kata Hana lalu menyodorkan Hpnya ke Andra.


Andra mengambil benda pipih itu lalu mencari nama Asran didalam kontak hp Hana. Setelah jumpa, Andra langsung memencet tombol panggilan.


'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif...'


Ternyata nomor Asran tidak aktif.


"Ya sudah, tunggu sebentar lagi aja, Na." Putus Andra akhirnya.


"Dimakan makanannya donk Hana, kok dari tadi dilihatin aja. Minumannya juga malah diaduk-aduk doank." Kata Andra dengan senyuman manisnya itu.

__ADS_1


"Iya.. Ini baru mau mulai dimakan kok." Jawab Hana dengan tersenyum juga.


Saat suapan pertama, pikiran Hana kembali melayang ke Asran. Nomor Hpnya gak aktif. Apa Asran sengaja tidak mengaktifkan handphonenya supaya Hana tidak lagi menghubunginya? Apa laki-laki itu benaran marah dan sakit hati terhadap dirinya kali ini? Buktinya Asran tidak lagi membujuknya ataupun mencarinya, yang mengakhiri panggilan mereka tadi adalah Asran. Setelah itu, Asran tidak lagi kembali menghubunginya seperti sebelum-sebelumnya.


Padahal Asran yang Hana kenal adalah lelaki yang tidak gampang menyerah untuk mendapatkan apa yang ia mau. Tapi, kini.. Apakah ia mulai lelah mengejar Hana dan akhirnya menyerah?


Hal ini membuat kegalauan tersendiri dihati Hana. Seharusnya Hana bisa bernapas lega, karena Asran tidak lagi mengejar dirinya, tapi.. kenapa ada perasaan tidak rela jika hal itu benar adanya. Hana merasa bingung dengan perasaannya sendiri.


"Hana..?? Hai.. Hana.. Sayang...??" Andra memanggil Hana. Tapi, Hana yang sedang melamun sama sekali tidak mendengar panggilan dari Andra. Raganya memang didekat Andra, namun hati dan pikirannya kini melayang ke Asran.


"Eh, Iya.. Maaf.. Kenapa, Ndra?" Tanya Hana setelah sadar dari lamunannya.


"Kamu melamun ya? Mikirin apa lagi Hana? Asran??" Tanya Andra dengan nada tidak senang.


"Maaf, Ndra." Lirih Hana karena merasa tidak enak dengan Andra yang sejak tadi dicuekkinnya.


"Oke. Ngak masalah.." Kata Andra seakan memakluminya.


"Jadi kapan kamu balik lagi ketempat kerja, Na?"


"Hhmm.. Sebentarnya kamu disini ya.." Terdengar nada kecewa dari Andra.


"Aku cuman dapat izin 3 hari, Ndra. Ya kamu tau sendiri kan peraturan di Puskesmas bagaimana, izin gak boleh lama.." Jelas Hana.


"Ya aku tau. Berarti bulan depan ambil cuti panjang ya.." Kata Andra lagi-lagi dengan dibarengi senyuman khasnya itu.


"Biar lama aja rasanya. Setelah nikah kita bisa langsung bulan madu.."Lanjut Andra lagi.


Hana tersenyum getir mendengar penuturan Andra barusan. Bulan depan.. Ya, bulan depan mereka akan menikah. Kedua keluarga mereka sudah menetapkan tanggal pernikahan mereka di bulan depan. Dan.. Besok Mama Hana akan mulai mempersiapkan segala hal untuk pernikahan Hana. Dari undangan, pelaminan dan lain sebagainya Mama dan tantenya yang akan mengurus itu semua. Hana hanya tinggal bersih saja, itu yang mereka katakan ke Hana kemarin.


"Cuti biasanya berapa hari dari Puskesmas, Na?" Andra masih terus mengajak Hana mengobrol sedangkan fokus Hana entah kemana saat ini.


"Kira-kira sampai 2 mingguan gak ya??" Tanya Andra lagi.


"Hanaa...???" Andra memanggil Hana yang hanya diam sejak tadi.

__ADS_1


"Ee.. Iya, Maaf.. Kamu tanya apa tadi?" Kata Hana merasa salah tingkah.


"Melamun lagi ya..? Aku tanya..Kalau cuti nikah biasa dapat berapa hari??" Andra mengulang pertanyaannya lagi.


"Oohh.. Itu.. 14 hari biasanya."


"Oke. Pas itu. Kamu mau kita bulan madu kemana setelah menikah??"


"Bulan madu??" Hana mengulang pertanyaan Andra.


"Iya.. Mau kemana, hayo??"


"Kemana aja,hehe..Aku juga ngak tau Ndra. Yang penting tempat yang bagus, indah dan.. belum pernah aku kunjungi.." Jawab Hana.


"Oke. Bisa diatur. Nantik kita pikirkan lagi ya. Ya sudah lanjut makannya.." Ucap Andra. Hana melanjutkan makannya meskipun saat ini ia sangat tidak berselera untuk makan.


Hana masih kepikiran Asran. Apa yang dilakukan Asran saat ini? Chat terakhir dari Hana tadi saja masih ceklis satu. Sungguh hati Hana merasa risau dan Khawatir Asran berbuat sesuatu diluar nalarnya. Namun, Hana berusaha menepis itu semua dan berdoa semoga Asran baik-baik saja..


***


Setelah dari rumah Hana tadi, Asran langsung melajukan motornya disepanjang jalanan yang terlihat sepi. Ia tidak tahu mau kemana, yang jelas saat ia membawa motornya dengan kecepatan yang kencang tanpa arah dan tujuan.


Jalanan yang ia lalui terlihat licin karena Hujan baru saja mengguyur daerah tersebut, namun Asran seakan tidak peduli, malahan ia semakin menambah laju kendaraannya.


Pikirannya saat ini lagi kacau balau. Hatinya hancur, perasaannya sakit. Belum pernah ia merasakan kekecewaan yang amat dalam seperti ini. Apalagi karena seorang wanita yang mampu membuat dia hampir gila dan kehabisan akal sehatnya.


Sepanjang jalan Asran tidak berhenti mengumpat dan berteriak mengeluarkan kata yang tidak sepantasnya ia keluarkan. Ia marah. Tapi tidak tahu harus marah dengan siapa. Asran menangis. Ya.. menangis tanpa air mata.


Motor Asran semakin melaju kencang diluar kendalinya sampai akhirnya.. Asran tidak menyadari ada sebuah mobil yang melaju kencang berlawanan arah dengannya. Dan.. Dengan begitu cepatnya motor Asran malah beradu dengan mobil tersebut...


BRrrruuuukkkk.....


Bunyi hentaman kuat terdengar. Asran terpelanting jauh dari motornya. Dan.. belum ada satu orangpun yang menolongnya..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2