
Hana mengakhiri panggilan dari seseorang yang baru saja menuduh dirinya macam-macam. Tuduhan yang begitu menyakitkan bagi Hana. Dia dianggap sebagai wanita penggoda, sebagai wanita perusak hubungan orang lain. Hana sungguh tak habis pikir ini semua akan menimpa dirinya.
Seandainya bisa dibalikkan waktu, Ia tidak mau memulai berhubungan dengan Asran. Memang dia yang memulai, dan dia jugalah yang harus bisa mengakhiri ini semua. Hana sungguh-sungguh bertekad kali ini didalam hatinya.
"Telpon dari siapa Hana?Kok kamu matikan?" Tanya Tia. Saat itu Hanya ada Tia dan Hana di ruang KIA.
"Dari orang gak jelas." Jawab Hana dengan raut wajah yang malas-malasan untuk membahasnya lebih lanjut.
"Tapi, maaf tadi aku terdengar juga sikit, Si cewek yang nelpon itu marah-marah sama kamu dan bilang kamu wanita penggoda kalau gak salah tadi, kok bisa Hana?" Tanya Tia dengan bingung karena suara lengkingan pacar Asran itu begitu kuat terdengar.
"Hhmm.. Panjang ceritanya Tia" Jawab Hana sambil menghela nafas panjang.
"Dipendekkan aja Hana, aku penasaran ne.." Kata Tia yang langsung mendekatkan diri duduk didepan Hana.
"Sebenarnya aku malas ceritain ini Tia, tapi.. karena kamu sudah terlanjur dengar tadi ya sudah.. aku ceritain dech.."
Hana menceritakan semuanya ke Tia. Mulai dari pertama kali ia berjumpa dengan Asran, berkenalan dengannya, lalu hubungan mereka menjadi dekat hingga akhirnya Hana tahu bahwa Asran hanya memanfaatkan dia.
Tia mendengar semua yang Hana ceritakan dengan seksama dan serius. Ada juga beberapa kali dia menimpali sambil menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya dengan yang telah terjadi terhadap sahabat dekatnya itu.
***
Sore hari, sepulang dari kantornya Asran langsung menuju ketempat dimana Sherly menginap, karena dia sudah terlanjur janji untuk menemui wanita itu.
Sesampainya disana, Sherly yang sudah menunggu di depan hotel langsung bergegas menghampiri Asran. Ia tampak sudah tidak sabaran untuk berjumpa lelaki itu. Kemudian Asran mengajak Sherly menuju kafe yang kebetulan ada di depan Hotel.
"Kok lama sekali sech datangnya?" Tanya Sherly dengan nada kesal setelah mereka sampai dan duduk di kafe.
__ADS_1
"Maaf, aku baru pulang kerja. Aku lembur karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan dihari ini juga." Jawab Asran.
"Oh Ya? Jangan bohong kamu.. Kamu habis jumpa dengan wanita tua itu kan?" Tuduh Sherly.
"Kamu ini.. Ngak berubah, Selalu curiga dan berpikiran yang tidak-tidak tentang aku" Kata Asran mulai merasa marah.
"Dan, satu lagi.. Jangan kamu bilang Kak Hana dengan panggilan wanita tua.." Larang Asran.
Sherly tersenyum sinis seakan mengejek.
"Kan memang dia tua kan?? Masih aja kamu bela dia. Heran aku.. kenapa sech bisa suka dengan wanita TUA itu?" Tanya Sherly dengan sengaja menekankan kata Tua itu yang membuat wajah Asran semakin berubah.
Asran diam beberapa saat. Tidak berniat untuk menjawab pertanyaan sinis yang dikatakan Sherly barusan.
"Aku sudah telpon wanita tua itu dan beri peringatan ke dia biar dia gak kegatelan dengan dekatin kamu lagi Asran.." Ucap Sherly.
"Ya jelas adalah.. Semenjak kamu kenal wanita itu, kamu berubah Asran. Wanita itu membuat pengaruh buruk bagi kamu. Wanita itu telah merebut kamu dari aku. Entah jampi-jampi apa yang ia pakai sampai kamu jadi berubah seperti ini Asran." Ucap Sherly berapi-api.
"Sherly, sudah lah.. Aku ngak mau dengar lagi kamu menjelek - jelek kan kak Hana. Aku ngak suka. Kak Hana tidak seperti yang kamu pikirkan. Kak Hana orangnya baik" Kata Asran.
"Kenapa emangnya? Kenapa kamu begitu membela wanita yang baru beberapa bulan kamu kenal itu? Demi dia ... kamu tega tinggalin aku. Seistimewa apa sech si wanita tua itu sampai kamu bisa berubah seperti ini Asran. Apa bagusnya dia ha?" Tanya Sherly setengah membentak.
"Pelankan suara kamu Sherly, kontrol emosi kamu. Ini tempat umum." Kata Asran berusaha mengingatkan Sherly yang mulai tidak terkontrol.
"Biarin aja! Aku ngak rela kamu direbut olehnya Asran, kamu ngak boleh tinggalin aku pokoknya!!" Katanya lagi masih dengan nada suara yang meninggi.
"Maaf, Sherly.. Keputusan aku sudah bulat. Kita Ngak bisa bersama-sama lagi. Hubungan kita cukup sampai di sini saja. Aku harap kamu bisa mengerti dan memahaminya. Aku hanya ingin sendiri saat ini. Aku.. aku merasa memang kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini lagi." Jelas Asran dengan hati-hati. Karena ia tau konsekuensi apa yang akan dia terima dan Asranpun sebenarnya tahu bahwa Sherly tidak begitu mudah saja melepaskan dirinya.
__ADS_1
"Dan.. aku mohon, Lebih baik kamu besok pulang dan kembali ke kota, Sherly. Lupakan aku!" Kata Asran lalu berdiri dan pergi meninggalkan Sherly yang sudah berlinangan air mata mendengar penuturan Asran.
"Asran... Asran..." Teriak Sherly memanggil Asran yang sedikitpun tidak menoleh kebelakang.
***
Keesokan harinya Sherly yang belum pulang kekota nekat untuk kembali menemui Asran. Ia kesal karena Asran sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Tidak mengangkat telponnya dan juga tidak membalas chatnya sehingga membuat Sherly semakin sakit hati.
Sherly sengaja menunggu didepan pagar polres. Berharap Asran datang kembali menemuinya.
'Aku Sekarang didepan Polres Asran, Plis.. Kamu keluar. Temui aku!'
Hampir sejam Sherly menunggu disana tapi Asran sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya.
Hati Sherly sungguh sakit menerima kenyataan pahit ini. Lelaki yang sudah hampir 7 tahun mengisi hari-harinya dengan limpahan kasih sayang itu malah tega menyakitinya seperti ini. Sherly merasa Asran benar-benar sudah berubah, sangat berubah.
"Ini semua gara-gara wanita tua itu. Yang sudah mempengaruhi Asran. Apa yang sudah dilakukannya sampai Asran berubah seperti ini? Dasar wanita jahat" Teriak Sherly didalam hatinya yang penuh sesak dengan rasa sakit hati.
Sherly mengahapus air matanya yang terus mengalir tiada henti di pipinya. Tidak peduli baginya sedari tadi beberapa pasang mata memandangnya dengan pandangan aneh dan penuh tanda tanya.
Didalam hati Sherly masih mengutuk-ngutuk dan menyalahkan Hana atas perubahan sikap Asran terhadap dirinya. Yang akhirnya rasa sakit di hatinya berubah menjadi dendam yang tidak terbendung kepada Hana, Wanita yang dia anggap sudah memberi pengaruh buruk terhadap Asran.
"Aku harus buat perhitungan dengan wanita itu!" Kata Sherly dengan dirinya sendiri sambil menggepal kedua tangannya dan juga terlihat sinar kebencian dari matanya dan dendam yang terpancar dari raut wajahnya.
Bersambung...
.
__ADS_1