Reminiscent

Reminiscent
SEBATAS KAKAK ADIK


__ADS_3

Hana berjalan menuju ruang rapat yang ada dibagian belakang puskesmas. Hari ini semua staf dikumpulkan, ada sesuatu hal yang akan disampaikan oleh kepala Puskesmas.


Sesampainya diruang rapat, Hana tidak langsung berbaur dengan kawannya yang lain, tapi dia sengaja memilih duduk dibagian sudut ruangan itu sendirian.


Hana mengambil Hp yang ada dalam saku roknya. Sesaat kemudian dia pun tersenyum ketika matanya memandang layar hp tersebut. Sebuah pesan melalui WA masuk. Dari Asran.



Hampir setiap hari Hana berkomunikasi dengan Asran melalui WA. Sebenarnya tidak ada hal penting yang mereka obrolkan. Palingan sebatas sapa, menanyai kabar ataupun cerita mengenai kegiatan mereka masing-masing. Seperti pagi ini, Asran cerita bahwa dirinya telat masuk kantor dan akhirnya mendapatkan hukuman dari seniornya.


‘oh ya, kenapa bisa telat? pasti kesiangan bangunnya ya.. pasti bergadang ya tadi malam…’


Kata Hana mencoba menerka-nerka.


‘iya kak, Asran kesiangan… dan memang karena bergadang, tapi tepatnya bukan bergadang kak…. Ngak bisa tidur, Magh Asran kambuh tadi malam…’


Membaca kalimat terakhir Asran itu membuat naluri kekhawatiran Hana terhadapnya muncul.


‘Asran ada Magh ya…’ Hana bertanya menyakinkan.


‘Iya kak,,’


‘Kok bisa kambuh? Pasti telat makan ya…’


‘Iya tadi malam kami lembur kak, ada kerjaan yang harus diselesaikan malam itu juga, makanya makan malam jadi tertunda…karena tanggung aja kak… Dah selesai semuanya barulah kami makan…’


Setelah membaca kalimat WA terakhir dari Asran itu, Hanapun tertegun untuk beberapa saat. Kalimat itu pernah juga terdengar olehnya dari seseorang. Seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Tetiba saja pikiran Hana melayang ke adiknya, Reno.

__ADS_1



Hana jadi ingat bagaimana dirinya selalu menasihati Reno untuk tidak telat makan. Karena sama, Reno juga punya riwayat Magh. Reno yang masih SMA Kala itu memang terkenal sebagai anak yang rajin dan aktif disekolahnya. Semua kegiatan disekolah dia ikuti. Dan Alhasil karena sibukya dia, dia jadi suka menunda-nunda makannya. Hanalah yang selalu cerewet untuk mengingatkan dia. Dan Kini, disaat Asran cerita hal yang serupa membuat Hana ingin juga memberikan nasihat yang berarti untuk Asran.


Hana lantas berpikir sejenak, apakah perasaan yang beberapa hari ini sempat dirasakannya terhadap Asran… adalah hanya sebatas rasa seorang kakak terhadap adiknya? Entahlah… Hana belum bisa menjawabnya…


‘Lain kali.. sesibuk apapun, jangan sampai telat makan ya Asran, apalagi kalau sudah ada riwayat Magh sebelumnya… kalaupun memang tak sempat makan nasi, setidaknya sediakan roti untuk mengganjal perut sementara.. jangan biarkan perut kosong terlalu lama.. bisa berbahaya Lo…’ Nasihat Hana dengan penuh rasa perhatian.


‘Baik kak, terimakasih ya kak atas nasihat dan perhatiannya…’


‘Iya, sama-sama… tapi sudah makan obat kan?”


‘sudah kakak.’


‘Syukurlah…’


‘Oiya, kemaren kenapa minta disuntikkan sama kakak? Kak kan merasa ngak enak dengan senior kakak….’


Tanya Hana saat ia teringat kejadian 2 hari yang lalu saat ia Vaksin di Polres.


‘Kenapa ya.. mungkin karena ASran yakin aja kalo kak yang nyuntik pasti ngak sakit.. Dan ternyata benar… ngak kerasa sama sekali…’


‘Masa’ sech?’


‘Iya, mungkin benar kata senior kakak itu. Kak nyuntiknya pakai hati dan perasaan makanya ngak kerasa… hahha..’


Hana senyum-senyum sendiri membaca kalimat itu. Kata-kata kak Julia saat itu malah dibenarkan juga oleh Asran.

__ADS_1


‘Mana bisa nyuntik pakai hati Asran, nyuntik itu ya pakai jarum donk…’ Kata Hana meluruskan tanggapan Asran.


‘Terus kenapa lagi pakai tunjuk-tunjuk kekakak sambil bilang kak manis segala….’ Tanya Hana lagi.


‘Lah, kan memang kenyataannya… memang kakak manis….’


Hati Hana agak bergetar membaca kalimat pujian dari Asran. Padahal maksud Hana tadi tidak seperti itu, dia hanya merasa ngak enak saja dengan kak Julia bahkan dengan Rini yang Hana yakin Rini pasti ada rasa tertarik dengan Asran. Hana bisa lihat dari sudut mata Rini yang memandangnya agak berbeda.



Hana masih lanjut membalas chat Asran. Tanpa ia sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang tengah memperhatikannya dari kejauahan. Sepasang mata milik lelaki yang selalu berusaha mencari celah untuk mendekati Hana, tapi hingga saat ini belum menemukan titik terang.



Lelaki berbaju putih itu berjalan menuju ketempat dimana Hana duduk menyendiri. Hana masih sibuk dengan Hpnya dan dengan kepala yang agak menunduk. Ia tak sadar lelaki berkaca mata itu sudah ada tepat didepannya dan detik kemudian ia duduk dikursi yang ada disamping Hana.


“Hai kak… kok sendirian?” Sapaan ramah dari lelaki yang bukan lain adalah Dokter Andra itu lantas membuat Hana kaget. Hp yang ada digenggamannya pun terlepas dan jatuh ke lantai karena saking kagetnya.


“eh, kak… Maaf, aku bikin kaget ya?” Kata Andra sambil menunduk dan mengambil Hp Hana yang sudah mendarat manis dilantai.


“Ini kak Hpnya” Katanya sambil menyerahkan Hp Hana. Hana mengambil Hpnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


“Kak ngapain disini ? Kok ngak gabung dengan yang lain?” Tanyanya lagi. Hana tidak langsung menjawab pertanyaan Dokter Andra, ia mengalihkan pandangannya sebentar kearah Andra yang juga sedang menatapnya. Tatapan mereka beradu tuk beberapa saat. Sampai akhirnya sebuah suara nyaring muncul dari arah berlawanan.


“Eheemmmm…. Ada yang lagi pandang-pandangan nie…. Cie… cie… Sudah Jadian kan kalian? Akhirnya Hana menemukan tambatan hatinya kawan-kawan…..”


Spontan saja semua orang yang ada dalam ruangan itu langsung memandang serentak kearah Hana dan Dokter Andra. Hana mengehembuskan nafas dengan kuat saking kesalnya. Kali ini perbuatan Kak Septi benar-benar membuat dia marah dan geram.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2