Reminiscent

Reminiscent
KEHUJANAN


__ADS_3

Hana berjalan jauh meninggalkan lapangan voly. Rasa sakit dihatinya membuat akalnya pun menjadi nekat untuk pergi tanpa memberitahu Asran. Meskipun ia tidak terlalu ingat jalan yang ia tempuh bersama Asran tadi, ia hanya mengikuti kata hatinya saja. Hana berjalan entah kemana, kearah yang benar ataukah tidak. Ia pun tidak tahu.


Beberapa menit kemudian, Hana memberhentikan langkah kakinya. Kakinya terasa begitu pegal. Hana menoleh kebelakang dan melihat ternyata sudah begitu jauh ia berjalan.


"Ya Allah... Tidak mungkin aku pulang jalan kaki.. perjalanan pakai motor saja memakan waktu 1,5 jam.. Apalagi kalau jalan kaki?" Hana berkata kepada dirinya sendiri didalam hatinya.


Lalu Hana memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah warung yang ada pinggir jalan tersebut.


"Dari mana Nak?" Sapa si pemilik warung yang sudah berumur kira-kira 50 keatas ketika melihat Hana langsung duduk di kursi warung itu dengan wajah kelelahan.


"Ee.. dari.. itu.. nonton pertandingan.." Jawab Hana agak ragu-ragu.


"Oo... Dari lapangan ya nonton final voly.." Kata Bapak tersebut. Hana hanya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Kemudian Hana membeli sebuah minuman mineral diwarung bapak tersebut lalu meneguknya dengan sekali tegukan sampai minuman itupun tinggal setengah.


Saat itu juga Hana bertanya kepada bapak si pemilik warung apakah benar jalan yang ia lalui ini adalah jalan menuju kerumahnya. Dan ternyata memang benar. Akhirnya Hana bisa sedikit bernafas lega dan kembali melanjutkan perjalanannya lagi.


Hana memang bertekad tidak akan kembali lagi kebelakang untuk pulang bersama Asran. Tapi, Hana tidak juga sepenuhnya jalan kaki sampai kerumahnya. Dia tidak mungkin sebodoh itu. Hana berniat nantik dipertengahan jalan ia akan menelpon kak Ria dan meminta kak Ria untuk menjemputnya.


Beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja cuaca yang tadinya cerah mendadak menjadi mendung dan semakin lama langit semakin gelap. Hana merasa khawatir bagaimana kalau tiba-tiba hujan turun sedangkan dia saat ini berada dijalan yang sepi dan sudah jauh meninggalkan rumah penduduk. Yang ada disekelilingnya saat ini hanyalah kebun warga setempat dan juga semak belukar.


Dengan perasaan gelisah Hana langsung mengeluarkan Hp dari tas ransel kecilnya. Ia harus menelpon kak Ria sekarang juga. Kak Rialah satu-satunya harapannya saat ini. Pikir Hana didalam Hatinya.


Lebih dari 3 kali Asran mencoba menghubungi Hana. Dengan sigap Hana langsung menolak panggilan itu. Dan Ia pun jadi tidak sempat untuk menelpon kak Ria karena Asran yang sedari tadi tidak berhenti untuk menelponnya. Namun.. Naas.. Ketika Hana baru saja menekan tombol memanggil ke nomor Kak Ria, Tiba-tiba saja ada pemberitahuan di layar Hpnya bahwa Baterai handphonenya lemah.


Hana menepuk jidatnya yang seakan menyalahkan dirinya karena tidak mengisi daya Hpnya saat dirumah tadi. Meskipun begitu, Hana tetap menghubungi kak Ria.

__ADS_1


Tuuuutt...... Belum diangkat. Hana ulangi sekali lagi. Tetapi juga tidak diangkat. Hana mulai merasa gelisah dan saat panggilan ke tiga kali akhirnya Hp Hanapun mati total. Hana hanya bisa tertunduk lesu sambil menahan segala rasa di dalam hatinya.


Rintik-rintik hujan perlahan lahan mulai turun membasahi bumi. Awan hitam di langit terlihat semakin mencekam dan menakutkan saat kilat mulai silih berganti datang menyambar.


Hujan semakin lama semakin lebat. Hana yang masih berdiri di sana langsung berlari mencari perlindungan. Dari kejauhan ia melihat ada sebuah pondok kecil didepan sana. Hana lalu bergegas menuju kesana untuk berteduh.


Hana berlari menuju pondok itu. Jalanan yang tidak datar membuatnya susah untuk berlari dengan sempurna yang akhirnya Hana terjatuh karena tersandung sebuah batu yang lumayan besar.


Hana meringis kesakitan seraya memegang lututnya yang terluka. Semua bajunya sudah basah kuyup dan juga kotor. Kemudian dengan kekuatan penuh, Hana berdiri dan Dengan tertatih-tatih lalu berjalan menuju pondok tersebut.


Akhirnya Hana sampai dipondok kecil itu. Ia kemudian duduk disudut pondok tersebut dengan memegang kedua kakinya yang terluka. Petir dan kilat tidak hentinya menyambar, Yang membuat Hana menjadi takut luar biasa. Hujan semakin lebat dan langit mulai gelap.


Tidak ada satupun orang yang lewat dijalanan yang sepi ini. Hati Hana sungguh gelisah. Perasaan takut mulai menguasai dirinya. Dilihatnya sekelilingnya yang ada hanya semak belukar. Ingin rasanya ia pergi dari pondok ini dan berlari menembus lebatnya air hujan. Namun, fisiknya tidak mampu untuk melakukan itu. Kakinya seakan lemah tak berdaya untuk digerakkan. Jangankan untuk berlari berjalan saja ia merasa tidak sanggup. Belum lagi tubuhnya yang menggigil luar biasa karena kedinginan.

__ADS_1


Hana hanya bisa menangis dan berdoa di dalam hati. Berharap ada seseorang yang datang menolongnya. Karena dia sungguh tidak sanggup lagi menahan rasa sakit dikakinya dan juga rasa kedinginan di badannya.


Bersambung...


__ADS_2