
[Hana, sayang... Kamu lagi ngapain?]
Sebuah pesan singkat masuk ke Hp Hana. Hana yang tengah berberes kamarnya langsung saja meraih hpnya dan membuka pesan Whatsapp tersebut.
[Lagi bersih-bersih kamar aja, Andra..]
Hana memberhentikan sejenak rutinitas beberesnya dan kemudian duduk dikasur seraya membalas pesan dari Andra tersebut dengan hati yang girang.
Meskipun Andra tidak terlalu sering menelpon ataupun mengirim pesan ke Hana, namun Hana bisa menangkap perhatian yang lebih dari Andra kepadanya. Hana juga bisa merasakan bahwa kasih sayang Andra yang tulus, yang membuat Hana semakin yakin bahwa Andra lah lelaki yang tepat untuknya.
Terlepas dari itu semua, ada sesuatu yang sebenarnya masih mengganjal di hati Hana. Sesuatu yang masih ia sembunyikan dari Andra, yang terkadang membuat dirinya merasa bersalah. Karena ia belum bisa lepas dari Asran.
Yach. Walaupun antara Hana dan Asran tidak ada hubungan yang istimewa, tapi sebelumnya Asran pernah jujur ke Hana bahwa dia menyukai Hana. Hal itu lah yang sebenarnya membuat Hana menjadi tidak nyaman untuk terus berhubungan dengan Asran. Walaupun akhirnya Asran bisa menerima dan menganggap Hana sebagai kakaknya, tapi tetap saja Hati Hana belum bisa menerimanya.
Hana sungguh dilema. Dan lagi.. Entah kenapa semakin kuat dia mencoba menjauh dari Asran, semakin gencar pula lelaki itu mendekatinya.
Masih ada sisa maaf yang Hana berikan untuk Asran. Meskipun tujuan awal darinya tidaklah seindah yang Hana pikirkan malahan begitu menyakitkan hati, namun.. masih ada kesempatan yang masih terbuka lebar untuk memaafkannya.
Hana juga tidak mengerti akan ke plin-planannya ini. Ia merasa seakan lemah jika dihadapkan dengan segala permohonan yang dilontarkan lelaki berwajah tampan itu. Apakah karena ia mirip dengan Reno? Sehingga membuat Hana menjadi seakan menutup mata akan kesalahan-kesalahan yang berulang dia lakukan?
Entahlah... Hana belum bisa menjawabnya.
Kriiiingggg....
Nada dering dari hpnya membuyarkan lamunan Hana tentang Asran. Hana melihat nama seseorang yang tertera disana. Ternyata Andra yang menelpon.
"Assalamualaikum, Hana.."
"Walaikumusalam, Iya Andra.."
"Kok lama balasnya? Cuman diread doank chat Aku?" Tanya Andra.
"Eh, Iya.. Maaf.. Ini sudah mau balas kok.. cuman kamu keburu nelpon.." Jawab Hana sedikit gugup. Hana kembali merutuki dirinya yang bisa-bisanya melamun saat akan membalas chat dari Andra, dan yang lebih parahnya lagi ia malah melamunkan lelaki lain.
"Ooh.. Kalau gitu kita telponan aja lah ya, sudah lama juga aku tidak dengar suara kamu, Hana.." Kata Andra kemudian.
"Iya, Boleh.." Jawab Hana.
Agak lama juga mereka saling telponan sampai akhirnya Andra bertanya sesuatu yang membuat dada Hana bergetar.
"Hana, kamu.. tidak rindukah dengan aku?"
"Rindu ingin bertemu maksudnya.." Sambungnya lagi.
Cukup Lama Hana terdiam, tidak tahu harus jawab apa.
"Hhmm.. kalau diam berarti jawabannya iya kann..??" Katanya lagi seakan memancing Hana untuk mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Oke.. Aku anggap aja iya jawabannya. Dan.. Aku juga sangat-sangat merasa rindu Hana.. Rindu Sama Kamu.." Kata Andra yang kini terdengar lebih syahdu suaranya ditelinga Hana.
"Oiya, aku ada sebuah kejutan untuk kamu.."
"Oh ya? Apa itu?" Tanya Hana penasaran.
"Hhmm... Kejutan itu.. Ada diluar rumah kamu.."
"Maksudnya??"
"Iyaa.. Kejutannya ada diluar. Coba kamu keluar sebentar dan lihatlah 'sesuatu' itu.."
Dengan penasaran Hana langsung keluar dari kamar dan menuju teras rumahnya.
Ceklek..
Saat pintu bagian depan terbuka.. Mata Hana terbelalak kaget ketika mendapati sosok yang sedari tadi tengah berbicara dengannya lewat telpon, kini sudah ada dihadapannya dengan senyuman manis mengembang di bibirnya yang tipis.
Hana benar-benar merasa terperanjat dan tidak percaya. Kok bisa Andra tiba-tiba sudah ada di depan rumahnya?
"Kaget ya, Sayang.." Ujar lelaki berkaca mata tersebut.
"K-kamu..Kapan sampai dari Kota? Kok ngak kabari aku sih?" Tanya Hana.
"Sengaja dirahasiain.. Kan mau ngasih kejutan.." Jawabnya.
"Ya Ampuun.. Andra, Ngak mesti kayak gini lah seharusnya.. Tapi, kamu memang benar-benar bikin aku terkejut.." Kata Hana akhirnya. Andra hanya terkekeh.
Beberapa menit kemudian, Hanapun datang lagi dengan minuman dan cemilan yang ia bawa.
"Jadi, dalam rangka apa ini kok tiba-tiba datang ke sini ? Bukannya kamu bilang lagi sibuk mengurus administrasi kamu di kota?" Tanya Hana.
"Memang iya.. Tapi, aku sempatin datang.. karena aku... Rindu kamu..." Jawabnya yang mampu membuat Hana menjadi tersipu malu.
"Apaan sech, pasti bukan itu alasan utamanya. Kamu cuma mau bikin aku kegeeran aja kan??"
Tanya Hana curiga. Andra hanya senyum - senyum mendengar perkataan Hana itu.
"Hehe..Tidaklah Hana, memang benar ada alasan lain. Cuman alasan yang paling utama ya itu tadi. Aku Rindu ingin bertemu sama kamu.. Memang gak boleh ya kalau rindu dengan tunangannya sendiri?" Tanya Andra.
"Hhmm.. Iyalah kalau gitu..."
"Apanya yang Iya, Na?"
"Ya.. Iya aja.."
"Kamu rindu juga gak?"
__ADS_1
"Sama siapa?"
"Sama aku donk...Emang sama siapa lagi?"
"Hhmm... entah ya..."
"Loh, Kok entah?? Bilang iya aja kok susah sech sayang..."
Hana hanya tersenyum, karena menurutnya tidak harus dijawab iya. Dari raut wajahnya pasti sudah tergambar bahwa dia juga merindukan lelaki yang ada di sampingnya saat ini. Cuman ia hanya merasa malu untuk mengutarakannya.
"Selain ingin ketemu kamu.. Yang kedua... Aku ada keperluan juga ke Puskesmas.. Ada beberapa berkas kami yang terlupa belum ditandatangani oleh Kepala Puskesmas, jadi.. Besok aku mau ke Puskesmas dan meminta tanda tangan beliau.." Cerita Andra akhirnya.
"Kan benar... Alasannya aja bilang rindu, padahal ada keperluan lain.." Cibir Hana.
"Aiiii.... Kan sudah aku bilang tadi itu alasan kedua, Hana sayang... Alasan pertamanya kan tetap ingin ketemu sama kamu.."
"Terus, alasan yang selanjutnya apa?" Tanya Hana.
Belum sempat Andra menjawab pertanyaan Hana, Tiba-tiba saja Hp Andra berdering. Raut wajah Andrapun berubah seketika setelah melihat siapa yang menelponnya.
"Sebentar, aku angkat telpon dulu ya Na.." Ucapnya kemudian beranjak agak jauh dari Hana.
Hana memperhatikan Andra yang tampak serius berbicara dengan orang yang telah menelponnya.
Cukup lama juga Andra berbicara dengan orang yang menelponnya, setelah selesai kemudian ia kembali duduk dikursi dengan wajahnya yang sulit dimengerti.
"Andra.." Hana memanggil Andra yang belum mengeluarkan suara.
"Eh, Iya Na.. Sorry, Kelamaan ya aku nerima telponnya.." Jawab Andra terlihat agak salah tingkah.
"Emang.. siapa yang nelpon?" Tanya Hana dengan curiga. Pikiran buruk mulai merayapi dirinya, menebak kemungkinan yang menelpon Andra adalah.. Perempuan lain? Entah dari mana hal itu yang malah terlintas di pikiran Hana.
"Nah, Ini lah alasan ketiga kenapa aku kesini Hana.." Kata Andra dengan kesal. Hana masih menunggu jawaban Andra dengan penasaran.
"Aku mencari Lili..." Lanjut Andra, tapi setelah itu berhenti agak lama...
"Lili..? Lili Siapa??" Tanya Hana akhirnya yang seakan tidak sabar dengan kalimat gantung Andra barusan. Yang ditanya masih diam membisu..
.
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
Terimakasih Bagi Pembaca yang sudah setia mengikuti cerita saya sampai episode ini... InshaAllah untuk selanjutnya bakal Up setiap hari..
Mohon dukungannya dengan like dan koment ya.. 😊😉