
Keesokan harinya, setelah Hana selesai melaksanakan rutinitas ibadah Maghribnya, Ia lalu segera bersiap-siap. Karena sedari tadi Mama Hana sudah bising dan menyuruh Hana untuk segera keluar dari kamarnya.
Dengan rasa malas akhirnya Hana keluar dari kamarnya dan dengan penampilan ala kadarnya saja yang sontak membuat Mama Hana geleng-geleng kepala.
"Hana, ini Acara Dinner Lo. Direstoran bagus Hana. Bukan di pinggir jalan." Sindir Mama Hana yang melihat penampilan Hana dari ujung kaki ke ujung kepala
"Emang kenapa sech Ma? Kan Hana memang biasa berpenampilan seperti ini" Ucap Hana dengan Bingung. Saat itu Hana menggunakan Gamis Hitam kesayangannya dan kerudung panjang berwarna coklat.
"Tidak cocok Hana! Kamu pakai gamis hitam lagi, Emang mau melayat?" Kata Mamanya.
"Ya.. mau gimana lagi Ma, Hana kan tidak banyak bawa baju kesini. Baju yang ada di lemaripun baju yang lama-lama semua. Gamis hitam inilah yang paling bagus menurut Hana" Bela Hana terhadap dirinya sendiri.
"Kamu pun sudah tau tidak ada baju yang pas bukannya dibeli dulu tadi di toko" Omel Mama Hana dengan kesal sambil berlalu dari sana dan menuju keteras Rumahnya. Sedangkan Hana mengikuti Mamanya dari belakang.
Sesampainya di Restoran..
"Yuk cepatan masuk Hana.... Mereka sudah menunggu didalam" Ajak Mama Hana sambil menarik tangan Hana yang awalnya Hana masih mematung diparkiran.
Hana merasa mamanya lah yang paling antusias dalam hal perjodohan ini. Begitu panikkah Mama Hana sehingga ia ngebet sekali menyuruh Hana untuk segera menikah? Dengan umur Hana yang mendekati kepala tiga ini, mungkin membuat Mamanya semakin merasa was-was.
"Itu mereka.." Tunjuk Mama Hana kearah Andra dan Mamanya. Mama Andra tampak melambaikan tangannya, dan kemudian Mama Hana langsung bergegas berjalan menghampiri mereka sedangkan Hana malah memperlambat langkah kakinya yang terasa begitu berat.
"Sudah Lama menunggu ya? Maaf ya.. Ini Hana dandannya lama sekali.. biasalah..hehe.." Ucap Mama Hana sambil kengengesan tidak jelas. Hana mendumel dalam hati. Kenapa dirinya yang jadi tumbal? Padahal dia hanya dandan ala kadarnya aja tadi Kok.
"Tidak apa-apa lah.. kami juga baru sampai, Mari duduk.." Ucap Mama Andra dengan Ramah.
Hana duduk berhadapan dengan Andra yang saat itu terlihat begitu tampan dengan kemeja berwarna tosca yang ia kenakan.
Andra tersenyum manis saat pandangan mereka beradu. Senyuman maut itu lagi.. yang membuat diri Hana seakan melayang. Hana hanya mampu menundukkan wajahnya yang mungkin saja bersemu merah..
"Sudah saatnya, Yuk...." Mama Andra berujar sambil memberi kode ke Mama Hana. Andra dan Hana menoleh barengan kearah Mama Andra dengan rasa bingung.
"Oke.. Baiklah anak-anak.. Kami tinggal dulu kalian berdua disini ya.." Kata Mama Hana lalu berdiri.
"Mama mau kemana?" Hana bertanya dengan risau.
"Kami sudah booking tempat duduk diatas Nak Hana.. Sengaja.. memberi kalian ruang untuk ngobrol lebih dalam.."Ucap Mama Andra dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya Hana sayang... Jangan lupa ya dibicarakan masalah tunangan kalian.." Katanya lagi sambil menepuk halus pundak Hana. Hana hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan Mamanya dan Mama Andra berlalu dari sana dan meninggalkan mereka berdua.
Untuk beberapa saat suasana terlihat hening. Mereka saling diam. Hana masih menunduk sambil berpura-pura mengalihkan perhatiannya pada Hpnya. Sedangkan Andra, menatap lurus dengan tajam kearah Hana yang didapatinya sedang salah tingkah.
"Kok Canggung gini ya,..?" Akhirnya Andra mengeluarkan suaranya. Suara Andra yang tiba-tiba itu sedikit mengagetkan Hana.
"Ee.. Iyaa.. Tidak tau mau ngomong apa" Jawab Hana seadanya.
"Okey.. Ada baiknya kita makan dulu aja kali ya, Hana sudah lapar kan? Mau pesan apa?" Tanyanya lagi. Lalu Hana menyebutkan makanan apa yang mau dia pesan.
Setelah mereka selesai makan..
"Na, 2 hari lagi selesai kan cutinya?" Tanya Andra. Hana Hanya Mengganguk.
"Jadi.. Kita bakalan LDR-an donk.." Ucapnya sambil tertawa kecil.
"Tapi, Tidak masalah sech.. asalkan saling percaya dan setia aja.. benar kan??" Ujarnya lagi yang membuat Hana sedikit tersentak.
"Oiya..Saat ini.. Hana anggap aku ini sebagai apa kalau boleh tau?" Tanya Andra lagi.
"Kok belum tau? Berarti Hati Hana belum terbuka donk untuk aku." Katanya sedikit Kecewa.
"Bukan begitu.. Cuman masih bingung aja, Maaf ya.. mungkin saya masih butuh waktu.."
"Berapa lama?"
"Tidak lama kok... kasih saya waktu 1 malam ini lagi sebelum saya berangkat.."
"Woww.. Cepat.. syukurlah.. besok pagi sudah ada jawabannya berarti kan?"
"InshaAllah.."
"Semoga jawabannya sesuai dengan yang aku dan keluarga kita harapkan ya.."
"Iyaa.."
Hening untuk beberapa detik sampai akhirnya Andra memanggil nama Hana lagi.
__ADS_1
"Na.." Panggil Andra dengan lembut.
"Iya..?" Jawab Hana.
Andra tampak mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Ia lalu membuka kotak itu dan menyodorkannya kearah Hana. Sebuah Cincin permata nan indah langsung tertangkap oleh matanya.
"Apa ini?"
"Cincin.."
"Iya, Saya tahu itu cincin.. Tapi, itu.. Untuk siapa?" Tanya Hana bingung.
"Untuk wanita cantik yang ada dihadapan aku saat ini.." Katanya dengan lembut sambil tersenyum manis.
Hana semakin salah tingkah dibuatnya saat mendengar kata-kata itu, belum lagi senyuman khas yang Andra berikan ke Hana yang selalu saja membius dirinya.
"Hana simpan saja dulu cincinnya ya. Besok pagi kalau Hana sudah ada jawabannya dan... jika jawabannya adalag Iya.. Hana pakai cincinnya. Itu sebagai tanda Hana menerima lamaran aku.." Jelas Andra.
Hana memandang benda berkilau yang ada dihadapannya itu. Dengan agak ragu-ragu Hana lalu mengambilnya.
"Jadi tidak sabar menunggu hari esok..." Gumam Andra sambil tertawa kecil. Lalu menatap Hana yang terlihat agak gugup dan gelisah.
"Hana.. jangan tegang gitu donk mukanya.." Tegur Andra yang menangkap jelas raut wajah Hana yang begitu serius. Ditegur seperti itu, Hana Langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya. Betapa malunya dirinya yang terlalu terbawa suasana..
"Kenapa ditutupi mukanya Na?? Malu ya, hehe.."
Katanya yang malah meledek Hana.
Hana tidak mampu berkata dan berbuat apa-apa lagi. Yang jelas baginya Dinnernya ini benar-benar kacau baginya. Hana tidak bisa mengendalikan kecanggungan dan tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang mungkin sudah terbaca oleh Andra.
Sepertinya... Tidak harus menunggu besok pagi Hana untuk mengatakan semuanya ke Andra... Karena sesungguhnya sudah ada jawaban itu kini dibenaknya. Akan tetapi, dia tidak tahu dan tidak berani untuk mengungkapkannya.
Hana kembali menyembunyikan wajahnya yang iya yakini pasti terlihat pucat. Duduk Berhadapan dengan Andra lama-lama membuat perasaannya berkecamuk. Irama jantungnyapun terasa seakan tak beraturan. Apa kah ini? Apa hatinya memang sudah terbuka lebar untuk Andra??
Bersambung..
"
__ADS_1