Reminiscent

Reminiscent
KEMBALI LAGI


__ADS_3

Hana berlari kecil menuju kamarnya. Hpnya masih berdering - dering, akan tetapi Hana masih enggan untuk mengangkatnya. Ia masih membiarkan sebuah nama yang tertera di Hpnya itu menghubunginya lebih dari 3 kali panggilan tak terjawab.


Sesampainya dikamar, Hpnya berdering lagi. Masih nama yang sama. Hana masih menimbang-nimbang didalam hati. Haruskah dia mengangkat telponnya Asran? Kenapa dan untuk apa Asran menelponnya? Yang padahal Hana sudah mulai melupakan dan membiasakan diri tanpa kehadiran dirinya. Dan kini Hana merasa pertahanannya mulai goyah. Dorongan dan rasa penasaran menyelimuti hatinya yang akhirnya membuat ia mengangkat telpon Asran.


"Halo, Assalamu'alaikum.. Kak Hana?" Sebuah Sapaan lembut tertangkap oleh telinga Hana. Beberapa saat ia tertegun tanpa menjawab salam dari Asran.


"Kak Hana..?" Panggilan kedua menyadarkan Hana dari ketertegunannya.


"Iya, Walaikumusalam.." Jawab Hana dengan suara yang bergetar.


"Kakak.. Apa kabar?" Tanyanya dengan ramah.


"Baik.."


"Syukurlah.. Kak tidak tanya balik bagaimana kabar Asran?" Tanya Asran


"Kak Hana, Tidak merindukan Asran?" Tanyanya lagi. Yang ditanya masih diam. Yang Terdengar hanyalah hembusan nafas panjang Hana diseberang sana.


"Kak, Asran minta maaf karena baru menghubungi kakak hari ini." Lanjutnya lagi.


"Kak, Apakah Masih ada kesempatan untuk Asran Kak?"


Hana masih diam. Entah kenapa sulit rasanya bagi Hana untuk sekedar mengeluarkan suaranya dan menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari Asran.


"Kak Hana kok Ngak jawab pertanyaan Asran? Kenapa diam aja kak? Jawab lah pertanyaan Asran ini kak" Desak Asran. Didesak seperti itu akhirnya Hana menjawab pertanyaan Asran.


"Maaf Asran.. Kak Enggak tau harus jawab apa. Cuman kak mau tanya.. Kenapa kamu kembali menghubungi kakak?"


"Kenapa emangnya kak? Kak tidak senang Asran kembali lagi?" Ucapnya agak memelas.


"Bukan begitu.. kak merasa heran aja. Padahal kak pikir kamu ngak bakalan mau lagi menghubungi kakak setelah pertemuan kita di taman waktu itu.." Jawab Hana.


"Sebenarnya bukan ngak mau kak. Cuman Asran butuh waktu aja untuk berfikir."


"Berfikir tentang apa?" Tanya Hana penasaran.


" Ya tentang semua yang kak Hana bilang hari itu.


Termasuk kata-kata penolakan dari kak Hana"


"Oohh.."

__ADS_1


"Iya.. Asran sudah memutuskan kak.."


"Memutuskan apa?" Potong Hana langsung. Perasaannya mulai tidak enak.


"Asran ada sebuah penawaran untuk kakak.."


"Hah? Penawaran apa emangnya?" Lagi-lagi Hana dibuat penasaran dengan kalimat gantung yang diberikan oleh Asran.


"Kemaren kak Bilang kakak ingin segera menikah kan? Dan tidak mau berpacaran??" Tanyanya.


"Iya.." Jawab Hana dengan cepat. Ia mulai tidak sabar untuk mendengar kalimat dari Asran selanjutnya.


"Nah, Sama.. Sekarang Asran juga ingin segera menikah" Katanya dengan mantap.


Hana Terdiam. Ia mencoba kembali mencerna setiap kata yang terlontar dari lisannya Asran.


Ingin Segera Menikah?? Hana mengulang kata-kata itu didalam hatinya. Hana menghela nafasnya yang seakan terasa berat.


"Lalu, apa??" Tanya Hana yang mendapati Asran berhenti setelah kalimat terakhir tadi.


"Jadi.. Masih ada kesempatan kan untuk Asran Kak Hana?? Asran Mau serius sama kakak" Katanya dengan yakin sehingga membuat Hana yang sedari tadi berdiri dikamarnya langsung terduduk lemas dilantai.


"Maksud kamu??" Hana bertanya lagi.


"Jangan bercanda seperti ini Asran." Kata Hana yang mulai kesal.


"Siapa yang bercanda?? Asran serius.. Sangat-sangat serius kakak Hana yang maniss..." Ucapnya yang lagi-lagi diakhiri dengan suara tawa yang membuat Hana merasa dipermainkan.


"Kakak Ngak yakin dengan kamu, Asran. Sudah ya Kak matikan telponnya" Ujar Hana dengan sedikit mengancam.


"Tunggu... tunggu.. Kak Hana.. Jangan dimatikan dulu.. Maaflah.. Asran ketawa bukan berarti main-main kak..Tapi untuk mencairkan suasana aja biar ngak terlalu tegang kak.." Kata Asran.


"Hhmmm.."


"Oke.. Jadi Gini penawarannya.. Kakak mau kan menungggu sampai akhir tahun ini? Ada sesuatu hal yang harus Asran selesaikan dulu kak, setelah itu barulah Asran melamar kakak.."


"Kamu ini ngomong apa sech Asran?!" Hana langsung memotong pembicaraan Asran.


"Lah.. memang ada yang salah ya kak? Asran kan mengikuti maunya kakak.." Jawab Asran.


"Maunya kakak? Kamu ini.. berarti ngak paham ya maksud kakak waktu itu.." Hana Mulai kesal.

__ADS_1


"Paham kak... Makanya beberapa hari kemaren Asran mencoba merenung, berfikir dan akhirnya menemukan titik terangnya. Asran sudah memutuskan untuk mau menikah muda kak. Karena setelah dipikir-pikir bakalan seru juga nantinya.. banyak juga keuntungannya nikah muda itu seperti.."


"Sudah.. sudah.. Stop..!!" Hana memotong pembicaraan Asran yang ia rasa sudah semakin ngawur dan tidak jelas.


"Kenapa kak? Asran salah lagi ya?"


"Iya. Salah besar." Jawab Hana dengan ketus.


"Maaflah kalau gitu kak. Jadi bagaimana penawaran Asran tadi? Bisa diterima kan??"


Hana memijit-mijit keningnya yang mulai terasa nyut-nyutan karena mendengar semua perkataan Asran itu. Dan rasanya ingin segera ia akhiri hubungan via telponnya saat ini. Hana merasa Asran sedang mengerjai dirinya. Sedikitpun tidak ada keyakinan didalam hati Hana terhadap semua hal yang diucapkan Asran barusan. Semua terasa hambar dan tidak masuk akal bagi Hana.


"Kak.." Asran memanggil Hana yang kembali terdiam.


"Apa..?"


"Jadi, bagaimana kak? Apakah kakak bersedia? Apa kak mau menunggu Asran?" Tanya Asran dengan suara yang kembali agak memelas.


"Ngak." Hana langsung menjawab dengan cepat.


"Lah kenapa kak?"


"Kak sudah bertunangan dan akan segera menikah!" Jawab Hana dengan mantap.


"Apaaa??" Asran bertanya seakan tidak percaya.


Dan bersamaan dengan itu Mama Hana tiba-tiba muncul dan masuk kedalam kamarnya Hana.


"Kamu telponan sama siapa Hana? Kok lama sekali.. sudah ditungguin dari tadi.." Ucap Mama Hana dengan kesal.


"Iya maaf ma.."


"Sudah matikan telponnya dulu. Nantik dilanjutkan lagi. Andra dan orangtua sudah tungguin kamu di ruang makan"


"Iya Ma.." Jawab Hana. Tanpa berpamitan dengan Asran, Hana langsung mematikan telponnya. Ia Memutuskan sepihak hubungan via telponnya dengan Asran.


Kemudian Hana meletakkan Hp diatas meja riasnya. Ia merasa enggan untuk membawa hpnya ke ruang makan. Karena Ia yakin Asran pasti akan kembali menghubungi dirinya lagi.


Sesampainya diruang makan, Hana disambut dengan senyuman hangat dari kedua orang tua Andra dan juga.. Andra.. Dokter berkaca mata itu menatap Hana dengan pandangan penuh arti, dan juga senyumannya tulus nan menawan itu selalu ia sematkan dan berikan kepada Hana.


Hana hanya bisa menundukkan pandangannya, tanpa bisa membalas senyuman yang serupa ke Andra. Dalam benaknya Hana masih bertanya-tanya. Keraguan mendadak muncul menyelimuti kalbunya. Apakah Ia benar-benar mampu membuka hatinya untuk Andra? Terlepas dari apa yang telah diungkapkan oleh Asran melalui telpon tadi?? Hana mulai merasa bimbang dengan perasaannya yang belum bisa menetap..

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2