Reminiscent

Reminiscent
TIDAK BISA DIHUBUNGI


__ADS_3

"Ly, Kenapa kamu suruh aku ngaku pacarnya Bang Andra sech sama cewek yang menelpon barusan?" Amira, teman dekatnya Sherly langsung bertanya setelah mengakhiri sambungan telpon dengan Hana.


"Sengaja..Mau bikin cewek itu kapok. Biar dia merasakan apa yang aku rasakan juga. Diputusin dan juga ditinggalin orang yang disayangi. Gimana rasanya." Jawab Sherly dengan senyum penuh kemenangan.


"Oo.. Jadi Bang Andra putusin dia karena cewek itu menjalin hubungan juga dengan Asran, mantan cowok kamu itu ya.. Kok bisa ya.. Jadi kebetulan begini" Kata Amira manggut-manggut. Sebelumnya Sherly sudah menceritakan perihal permasalahannya dengan Hana dan juga Asran.


"Tapi, apa memang benar Asran putuskan kamu gara-gara kakak itu. Kok bisa? Karena secara.. seperti yang kamu ceritakan tadi, umur cewek itukan lebih tua dari Kita-kita ne.." Ujar Amira dengan raut wajah bingung.


"Iya, aku juga heran tu cewek pakai pelet apa sech sampai Asran bisa suka dengan dia. Padahal dia gak cantik, penampilannya biasa aja gak seperti kita - kita ini.. Entahlah, Aku juga gak tahu. Yang jelas Asran benar-benar berubah setelah kenal dan dekat dengan cewek sialan itu." Ujar Sherly dengan menampakkan sinar kebencian yang terpancar dari matanya.


"Tapi, Respon Bang Andra bagaimana? Pasti dia patah hati banget ya menerima kenyataan itu.." Kata Amira.


"Awalnya sech iya, tapi.. karena hasutan aku yang terus menerus memberikan bukti tentang kelakuan si cewek itu.. Aku yakin perlahan-lahan bang Andra bisa move on dan melupakan cewek itu." Kata Sherly penuh keyakinan.


"Karena itu, aku punya rencana mau jodohkan kamu dengan bang Andra. Kamu dah lama suka kan dengan abang aku, Iya kan??" Tanya Sherly dengan tersenyum lebar sembari menaik turunkan kedua alisnya.


"Ih, Apaan sech Ly.. Kamu bikin aku malu aja. Lagi pula, Mana mau Bang Andra sama aku. Aku ini bukan tipenya." Kata Amira seakan merendahkan dirinya.


"Siapa bilang..?? Kamu aja yang kurang pede. Sudah... Kamu jangan khawatir, aku akan mencari cara agar Bang Andra bisa tertarik sama kamu. Kamu tenang aja ya!" Kata Sherly dengan yakin.


"Benar, Ly?" Amira bertanya seolah tak percaya dengan omongan sahabatnya itu.


"Benar Amira, Aku pastikan kalian bakalan jadian kalau bisa langsung tunangan dan menikah." Kata Sherly dengan tersenyum lebar.


"Waduhh.. Aku jadi deg-degan gini dengarnya. Terimakasih banyak ya, Ly. Kamu memang pengertian banget. Tahu aja aku yang sudah lama memendam rasa suka sama bang Andra" Kata Amira dengan penuh rasa syukur terhadap Sherly.


Sherly menganggukkan kepalanya. Didalam hati ia sedang menyusun rencana agar abangnya itu benar-benar bisa melupakan Hana, bahkan benci terhadap wanita itu..


***


Keesokan harinya, Asran pergi ke Puskesmas untuk mengganti perban pada luka dikakinya. Ia diantar oleh Reynald.

__ADS_1


Sebelum berangkat tadi, Asran sempat menghubungi Hana untuk sekedar mengingatkan Hana bahwa hari ini adalah hari kontrol lukanya. Namun, Nomor Hp Hana tidak aktif. Asran kirim pesan lewat Whatsapp pun sedari tadi masih ceklis satu. Karena hal itu, Asranpun berangkat dengan wajah yang kecewa.


Sesampainya di Puskesmas, Asran kembali mencoba menghubungi nomor Hana. Tetap sama, masih tidak aktif juga. Reynald yang sedari tadi memperhatikan Asran yang terlihat galau langsung menegurnya.


"Kenapa kau Asran? Wajah kau macam lain gitu." Kata Reynald.


"Ini.. Dari tadi aku hubungi nomor kak Hana tapi kok gak aktif-aktif ya. Aku WA pun masih ceklis Satu.." Jawab Asran dengan nada kecewa.


"Alamak.. Hana lagi Hana lagi.. Sampai kapan kau kayak gini terus Asran? Setiap hari aku perhatikan galau terus wajah kau itu.." Kata Reynald dengan kesal. Asran tidak menanggapi kekesalan temannya itu, ia masih sibuk mencoba menghubungi nomor Hana.


"Mau masuk atau tetap di parkiran aja nech?" Tegur Reynald yang mendapati Asran belum juga berjalan masuk kedalam.


"Bentar, Aku hubungi kak Hana dulu. Soalnya kak Hana sudah janji kalau dia yang akan gantikan perban aku." Kata Asran.


"Apaa??" Reynald sedikit berteriak sambil menggeleng-geleng kepalanya karena melihat kelakuan sahabatnya itu.


Tiba-tiba sebuah suara sapaan halus terdengar dari arah belakang mereka. Asran dan Reynald langsung menoleh dengan berbarengan kebelakang mereka.


"Hai juga.." Reynald membalas sapaan Rini dengan ujung matanya yang tak lepas memandang Rini yang begitu menarik.


"Asran, Kakinya kenapa?" Tanya Rini ketika melihat kaki Asran yang diperban.


"Oh.. Ini kemarin tertabrak motor." Jawab Asran singkat dengan memandang Rini sebentar setelah itu kembali berkutat pada Hpnya.


"Jadi kalian susah saling kenal ya?" Reynald bertanya.


"Iya, sudah.. Kamu Temannya Asran ya? Kenalkan saya Rini. Saya kerja di Puskesmas ini." Kata Rini memperkenalkan dirinya dengan centil seraya mengulurkan tangannya. Dan Reynald langsung menyambut uluran tangan Rini dengan antusias.


"Oya, ada perlu apa ya? Kok diparkiran aja gak masuk kedalam?" Rini bertanya.


"Ini mau temanin Asran ganti perban" Reynald yang menjawab.

__ADS_1


"Oohh.. Ya sudah langsung aja masuk ke IGD. Jadi, gak perlu lagi antri-antri. Nantik aku bilangin sama petugas IGDnya."


"Ide bagus juga tu. Yuk lah Asran.." Kata Reynald yang kemudian menarik tangan Asran.


"Bentar... bentar, Rey. Oya.. Rini, Bisa tolong panggilkan Kak Hana? Aku hubungi nomornya tidak aktif.."


Mendengar nama Hana yang disebut, membuat wajah Rini langsung berubah menjadi cemberut.


"Kak Hana ya, Dia gak masuk." Jawab Rini dengan cuek.


"Ngak masuk? Kenapa?" Asran bertanya.


"Kau ngapain juga cari-cari Hana lagi Asran, sudah ada cewek cantik didepan kau Sekarang ini malah cari si Hana itu pulak" Kata Reynald dengan berbisik ketelingannya Asran. Namun, Asran tidak mempedulikan perkataan Reynald tersebut.


"Kak Hana kenapa gak masuk Rini?" Asran mengulangi pertanyaannya lagi.


"Tadi aku lihat di absen keterangannya sakit." Jawab Rini.


"Sakit? Sakit apa??" Asran kembali bertanya.


"Aku ngak tau!" Kata Rini terdengar kesal lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Hai.. Hai.. Rini, tunggu.." Reynald berteriak memanggil Rini. Namun, Rini tidak menggubrisnya dan tetap berjalan masuk kedalam Puskesmas.


"Cepatlah Asran! Apa lagi yang kau tunggu? Kan sudah jelas si Hana itu gak masuk hari ini." Kata Reynald lalu menarik tangan Asran menuju ke IGD.


Asran hanya pasrah dan mengikuti Reynald dari belakang. Meskipun didalam hatinya muncul kekhawatiran yang amat dalam terhadap Hana.


'Sakit apa kak Hana? Kenapa nomornya gak bisa dihubungi sejak tadi? Apa jangan-jangan orang yang kemarin itu..' Dada Asran bergetar hebat ketika pikiran buruk tentang Hana mulai menguasai dirinya...


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2