Reminiscent

Reminiscent
MEMINTA IZIN


__ADS_3

Andra terdiam dengan wajah yang sulit diartikan. Hana sampai tidak berani melihat perubahan diwajahnya Andra itu. Hana yakin, ia sudah membuat Andra kecewa dengan membicarakan Asran dimalam pertama mereka. Yang seharusnya mereka berbahagia, saling memadu kasih. Tapi, tidak seperti itulah kenyataannya.


"A-apa.. Kamu izinkan aku ketemu dengan dia??" Tanya Hana dengan tatapan takut-takut saat melihat lelaki itu masih diam. Andra masih belum menjawab, Hana hanya bisa pasrah dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh suaminya itu.


"Kamu yakin Asran benaran sakit? Bagaimana jika itu hanya akal-akalannya saja agar bisa bertemu dengan kamu? Kamu tau bagaimana Asran kan??" Kata Andra dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku yakin ini bukan akal-akalan Asran, Ndra. Gak mungkin juga temannya itu berbohong seperti itu." Kata Hana berusaha menyakinkan Andra.


"Emang dia sakit apa?" Andra bertanya lagi.


"Temannya gak ngasih tahu dia sakit apa, Ndra. dia cumab menyuruh aku untuk melihat keadaan Asran langsung. Katanya.. Keadaan Asran kritis." Ujar Hana.


Andra kembali diam, seakan berfikir keras.


"Andra, Tapi.. Jika kamu gak kasih izin, aku gak bakalan pergi kok, Ndra. Dan, Maaf sudah mengecewakan kamu karena di malam pernikahan kita malah membahas dia. Aku juga sebenarnya merasa gak enak sama kamu, Ndra. Maafkan aku." Kata Hana dengan menundukkan wajahnya.


"Hana, Ya sudah.. Aku temanin kamu kerumah sakit untuk menemui Asran." Kata Andra akhirnya. Hana mengangkat kepalanya dan melihat Andra dengan mata berbinar - binar.


"Benarkah??" Tanya Hana seakan tidak percaya.


"Ya, Jika memang itu permintaan terakhirnya. Aku tidak mungkin juga menjadi suami yang kejam dengan melarang kamu untuk bertemu dengan dia." Kata Andra sambil tersenyum tipis.


"Terimakasih banyak, Ndra. Atas pengertiannya." Ucap Hana kemudian memeluk Andra. Andra langsung kaget karena dipeluk tiba-tiba oleh Hana. Setelah itu, Hana pun tersadar dan melepaskan pelukannya itu. Andra menatap Hana dengan tatapan mautnya sehingga membuat Hana jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Kok dilepas pelukannya sayang?" Tanya Andra dengan senyuman menggoda. Hana yang masih salah tingkah, hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah merah merona.


"Sini donk sayang." Lalu Andra menarik tubuh Hana kedalam pelukannya. Mereka berpelukan cukup lama. Jantung Hana berdetak dengan kencang, begitu juga dengan Andra. Hana bisa mendengar bagaimana bunyi detakan jantung dari suaminya tersebut. Kehangatan dan kenyamanan begitu Hana rasakan saat berada didalam pelukannya. Rasanya Hana tidak ingin lepas dari pelukan suaminya itu.


"Ya, sudah. Yuklah kita kerumah sakit sekarang." Ajak Andra setengah berbisik tepat ditelinga Hana. Setelah itu, merekapun bersiap-siap.


Mereka berpamitan dengan orang tua Hana dengan alasan menjenguk seorang teman yang sedang sakit parah. Tapi, mereka tidak mengatakan bahwa teman yang mereka maksud itu adalah Asran.


Setelah itu, dengan mengendarai motor Andra mengantarkan Hana kerumah sakit yang tidak jauh dari kediaman Hana.


Sesampainya dirumah sakit, Perasaan Hana semakin tidak karuan.


"Hana, wajah kamu kok tegang gitu?" Tanya Andra. Mereka kini sudah berjalan dikoridor rumah sakit. Andra menggenggam tangan Hana dengan lembut.


"Ya sayang, aku paham. Bagaimanapun Asran pernah dekat sama kamu, yang penting sekarang kamu banyak berdoa saja untuk dia. Semoga saja keadaannya segera membaik." Kata Andra berusaha menenangkan hati Hana yang gelisah.


beberapa saat kemudian, mereka akhir nya sampai diruang ICU tempat Asran dirawat. Kaki Hana seakan bergetar ketika melihat Ibu Asran, adik Asran dan juga Reynald berdiri didepan pintu dengan menangis terisak-isak.


Mereka semua menoleh serentak saat melihat kedatangan Hana dan Andra. Reynald berjalan mendekati Hana. Wajah lelaki yang selalu dingin dan cuek itu kini terlihat kusut dan galau.


"Hana, untung kamu cepat datang. Asran memanggil-manggil kamu sejak tadi. Masuklah kedalam dan temui Asran." Kata Reynald yang langsung menyuruh Hana untuk masuk kedalam ruangan Asran.


Hana langsung menoleh ke Andra, seolah meminta izin dari suaminya itu. Bagaimana pun saat ini dia sudah menjadi seorang istri yang butuh izin dari suami untuk melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Maaf, apa boleh Hana menemui Asran?" Reynald bertanya kepada Andra yang masih bungkam. Sedangkan Andra sama sekali belum melepas genggamannya pada tangan Hana.


"Oke, Tapi aku juga ikut kedalam" Kata Andra akhirnya.


"Maaf.. Tidak bisa, yang boleh masuk hanya satu orang" Kata Reynald.


"Kalau begitu Hana tidak aku izinin masuk kedalam kecuali jika aku ikut masuk juga." Kata Andra dengan tegas.


"Rey, Asran emangnya sakit apa?" Hana bertanya ke Reynald.


"Asran mengalami perdarahan otak bagian dalam akibat benturan kuat pada saat ia kecelakaan waktu itu, selama ini dia sudah mengeluhkan gejalanya, dia sering sakit kepala yg hebat dan sampai tidak sadarkan diri tapi selalu diabaikannya. Seharusnya dengan kondisinya seperti itu, dia membutuhkan penanganan medis segera untuk meminimal tingkat kerusakan otak yang lebih parah lagi. Makanya kata dokter sudah terlambat untuk diobati lagi. Perdarahan otaknya sudah perdarahan hebat. Kecil kemungkinan dia bisa bertahan hidup lebih lama lagi, Hana.." Jelas Reynald panjang lebar.


Mendengar penjelasan dari Reynald barusan membuat Hana benar-benar merasa terpukul. Bagaimana tidak, kecelakaan Asran setelah dari rumah Hana waktu itu malah berakibat fatal yang membuat dirinya tidak memiliki harapan hidup lebih lama. Hana merasa ia lah yang harus bertanggung jawab dengan apa yang menimpa Asran. Hana teramat merasa bersalah. Tanpa bisa ditahan lagi, air matanyapun menetes lagi.


"Maaf buk, apakah yang namanya Hana sudah datang? Pasien menanyainya terus-terusan. Jika sudah datang, silahkan masuk dan temui pasiennya. Tapi, hanya sendiri saja ya." Tiba-tiba seorang perawat keluar dan berbicara kepada Ibunya Asran. Ibu Asran langsung menoleh ke Hana dengan wajah sendu dan penuh harap.


"Hana, masuklah kedalam. Temui lah Asran untuk yang terakhir kalinya, Nak. Dia sangat menyayangimu, dia ingin sekali bertemu dengan kamu. Temui lah dia, kasihanilah Asran.." Pinta Ibu Asran dengan berlinangan air mata.


Hana langsung saja menoleh ke Andra. Meminta persetujuan dari suaminya itu untuk masuk seorang diri kedalam sana.


"Ndra.." Lirih Hana dengan memegang lembut lengan suaminya itu. Andra masih diam, seakan tidak rela membiarkan istrinya masuk seorang diri kedalam sana, menemui lelaki yang begitu amat mencintainya. Sampai diakhir hidupnya pun, di masa-masa kritisnya, Hanya Hana lah yang ia ingat. Apakah memang begitu besarnya rasa cinta Asran terhadap Hana? Terhadap wanita yang sudah menjadi istrinya ini??


***

__ADS_1


__ADS_2