Reminiscent

Reminiscent
INGAT ASRAN


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam akhirnya Hana dan Andra sampai di kabupaten tempat Hana bekerja.


"Oya, nantik kamu nginap dimana, Ndra?" Tanya Hana saat mereka sudah keluar dari kapal dan kini sedang berjalan berbarengan menuju luar pelabuhan.


"Dirumah teman aku lah Hana. Masak dirumah kamu.. Kan belum halal.." Jawab Andra dengan bercanda.


"Hhmm.. Apaan sech, rumah teman kamu yang mana memangnya?"


"Kebetulan ada teman satu kuliah aku dulu yang asli orang sini, Na. Dia bertugas di RSUD di Kabupaten ini sekarang. Namanya dokter Fajar. Kamu kenal gak??"


"Dokter Fajar ya.. Sepertinya pernah dengar nama itu.." Kata Hana mencoba mengingat-ingat.


"Nantiklah kalo ada kesempatan aku kenalkan dia ke kamu." Janji Andra


Setelah itu, Andra dan Hana menaiki sebuah becak motor yang banyak mangkal didepan pelabuhan. Karena merupakan kabupaten yang tidak begitu luas maka didaerah itu tidak terdapat kendaraan umum seperti taksi dan sejenisnya.


"Aku antar kamu dulu kerumah setelah itu baru aku kerumah teman aku itu.." Kata Andra yang langsung paham dengan pandangan bingung Hana.


"Oke dech."


"Besok pagi aku antar jemput kamu ya?" Tawar Andra saat mereka sudah dalam perjalanan kerumah Hana.


Hana langsung menoleh ke Andra dengan ekspresi bingung.


"Maksudnya, kamu mau antar aku ke Puskesmas setelah itu jemput aku juga??" Hana memperjelaskannya lagi


"Yup. Benar"


"Gak Andra, gak perlu repot-repot. Aku bisa berangkat sendiri kok.." Tolah Hana dengan halus.


"Gak boleh nolak donk Hana. Mumpung aku ada disini 3 hari. Jadi, biarkan aku antar jemput calon istriku yang manis ini.." Katanya dengan tersenyum lebar.


"Andra.. Tapi, aku.."

__ADS_1


"Ngak ada tapi-tapian. Besok pagi aku jemput ya. Aku pinjam motornya Fajar." Putus Andra akhirnya. Hana hanya bisa pasrah 3 hari kedepan ia akan diantar jemput oleh Andra.


Beberapa menit kemudian, Merekapun sampai kerumah Hana. Setelah itu, Andra langsung aja pamit dan tidak singgah kerumah Hana karena becak yang mereka tumpangi tadi masih menunggu didepan rumah Hana.


"Besok malam kita jalan ya, malam ini kamu istirahat aja dirumah. Jangan kemana-mana, hehe.." Pesan Andra sebelum meninggalkan rumah Hana. Hana hanya menanggapinya dengan senyuman.


Saat Andra sudah hilang dari pandangannya, tanpa sengaja Hana melihat seseorang yang berdiri diseberang jalan rumahnya, orang itu tampak sedang melihat kearahnya. Sesaat Hana merasa tertegun dengan gerak-gerik orang yang mencurigainya itu. Ia menggunakan masker hitam dan juga topi sehingga Hana tidak bisa melihat wajahnya.


Namun, Hana tidak terlalu menghiraukannya. ia langsung saja masuk kedalam rumah. Saat Hana sudah masuk kedalam rumah, Orang yang mencurigai itu lalu membuka maskernya dan seraut senyuman sinis tergambar dari wajahnya itu.


***


Hana baru saja mengakhiri telponan dengan Andra malam itu dengan dalih ingin tidur. Ia merasa agak lelah karena menempuh perjalanan yang tidak dekat dalam waktu 3-4 hari ini.


Sebelum dia memejamkan matanya, kembali pikiran dan hati Hana membawanya untuk mengingat Asran. Empat hari sudah ia kehilangan kabar dari Asran. Entah dia sudah pulang atau masih di kota Hana pun tidak tahu.


Hana kemudian meraih handphonenya dan iseng mencoba menghubungi nomor Asran kembali. Tapi, masih sama dengan hari-hari sebelumnya. Nomor Asran tidak kunjung aktif yang membuat rasa penasaran didalam hati Hana semakin kuat.


'Kalau gitu, kak Hana janji dengan Asran.. Apapun yang terjadi, Kak Hana tidak bakalan meninggalkan Asran dan kembali lagi ke dia.. Gimana?'


'Kamu gak percaya dengan kakak ya..'


'Bilang janji dulu kak, biar lebih menyakinkan Asran.'


'Iya, Janji..' Ujar Hana.


"Syukurlah. Asran harap bukan janji di mulut saja ya kak, tapi.. Janji yang benar-benar dari sini.." Kata Asran seraya meletakkan tangan Hana ke


dadanya.


Seketika itu juga Hana langsung terduduk dengan nafas yang naik turun. Hana baru teringat akan janji yang pernah ia lontarkan ke Asran. Janji bahwa apapun yang terjadi ia tidak akan meninggalkan Asran dan kembali lagi ke Andra.


Namun, janji tinggallah janji. Hana sudah mengingkarinya. Ia seakan telah menelan ludahnya sendiri. Jadi, wajar saja Asran saat ini terluka oleh perbuatannya.

__ADS_1


"Asran.. Maafkan kakak.." Rintih Hana dengan air mata yang sudah mengalir deras dipipinya.


***


Keesokkan harinya Hana sudah siap dan menunggu kedatangan Andra diteras rumahnya. Sembari menunggu, Hana iseng kembali mencoba menghubungi nomor Asran. Lagi dan lagi.. Nomornya masih tidak bisa dihubungi. Hanapun yakin, Asran pasti telah mengganti nomornya. Jika seperti itu berarti Asran sudah tidak lagi berusaha untuk mendapatkan Hana kembali, entah karena sakit hati ataukah memang ia sudah menyerah, Hanapun tidak tahu. Ia hanya bisa menebak-nebak didalam hatiknya. Yang jelas dalam beberapa hari ini pikirannya selalu dihantui rasa bersalah teramat dalam terhadap Asran. Hana merasa belum puas sebelum ia bisa betatap muka langsung dengan Asran dan menyampaikan permohonan maafnya. Padahal Hana sudah berniat juga untuk bertemu dia setelah itu, Hana berharap Asran datang mencarinya dirumah kemarin itu tapi.. Hingga malampun Arsan tidak muncul juga.


Beberapa menit kemudian, Andrapun muncul sehingga membuat pikiran Hana yang melayang ke Asran tadi langsung buyar seketika.


Andra yang sudah memarkirkan motornya didepan rumah Hana langsung saja melemparkan senyuman hangatnya ke Hana sembari berjalan mendekatinya.


"Sudah lama ya nunggunya?" Tanyanya dengan lembut.


"Ngak kok, baru juga selesai siap-siap." Jawab Hana dengan tersenyum juga.


"Ya Sudah, yuk.. Berangkat.." Ajak Andra. Hana mengiyakannya.


"Sayang, sudah sarapan belum??" Tanya Andra saat mereka sudah diperjalanan.


"Hhmm.. Tadi cuma makan roti sama teh aja sih." Jawab Hana.


"Kebetulan aku belum sarapan, kalau kita sarapan dulu bagaimana??"


"Boleh. Mau sarapan dimana emangnya?"


"Dimana ya bagusnya.. Apa dikantin depan Puskesmas aja, atau.. menurut sayang bagaimana, ada rekomendasi tempat lain gak?"


Hana diam seakan berpikir sejenak. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk sarapan di kantin depan Puskesmas saja karena lebih dekat dan ia pun sebenarnya ada kegiatan penting di Puskesmas pagi itu, makanya ia gak mau datang telat.


Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanannya sampai akhirnya mereka melewati kantor Polres.


Saat melewati kantor polres itulah tiba-tiba jantung Hana seakan berdesir. Ia kembali teringat Asran. Ia melihat beberapa orang polisi berseragam seperti Asran tengah berbaris dihalaman polres tersebut. Mata Hana langsung menyelusuri kelompok polisi yang tengah berbaris itu. Hana mencari-cari sosok Asran diantara mereka semua. Namun, meskipun mereka semua baris membelakangi.. Hana sama sekali tidak melihat Asran diantara mereka semua. Hana hapal sekali bagaiman bentuk Asran dari belakang. Bentuk rambutnya dan lain sebagainya. Sama sekali tidak ada Asran disana. Dimanakah Asran? Apakah ia belum pulang ??


***

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2