
Hujan masih juga belum berhenti. Hari sudah mendekati waktu magrib yang membuat suasana semakin gelap. Hati Hana menjadi was-was. Tidak mungkin dia terus-terusan berada disini. Sendirian tanpa adanya penerangan dari cahaya lampu di jalanan yang sepi ini.
Hana mengerahkan kekuatannya untuk mencoba bangkit, namun rasa sakit dilututnya membuat Hana kembali terduduk lemas di lantai. Hana menangis. Dalam hati berdoa semoga ada seseorang yang datang menolongnya. Siapapun itu..
Akhirnya doa Hana terkabul. Sayup-sayup bunyi sebuah motor terdengar oleh Hana. Yang semakin lama semakin mendekati arahnya. Hana menoleh kesamping kirinya untuk memastikan apa yang ia dengar barusan itu adalah benar.
Sebuah motor yang di kendarai oleh seseorang yang menggunakan jas hujan melintasi jalanan tepat didepan pondok dimana tempat Hana berteduh. Hana langsung berteriak memanggil orang tersebut yang membuat seketika orang itu berhenti dengan mengerem mendadak.
"Toolonngg... Tolong saya.." Teriak Hana ditengah guyuran hujan yang sangat lebat.
Orang itu menoleh sebentar ke Hana dan kemudian langsung memutarkan motornya menuju ke pondok itu. Hana tidak berhenti mengucap rasa syukur di dalam hatinya.
Orang tersebut memarkirkan motornya dan setelah itu berlari kearah Hana masih dengan menggunakan helm dan jas hujannya. Karena itulah Hana tidak dapat mengenali orang tersebut apakah perempuan atau laki-laki.
"Kak HANA..?!" Teriaknya sambil membuka kaca helmnya yang hitam itu.
Sesaat Hana tertegun. Suara teriakan milik orang yang berjas hujan dan memanggil namanya barusan membuat Hana tersentak. Apalagi sudah tertangkap oleh matanya bahwa manusia didepannya saat ini adalah Asran. Yah.. lelaki yang ia tinggalin dilapangan tadi. Lelaki yang lagi-lagi telah membuat Hana merasa sakit hati dan kecewa. Disaat dirinya butuh pertolongan, kenapa mesti Asran yang datang menolong?
"Kak Hana... Kakak.... Ngapain disini?" Tanya Asran masih dengan nada suara yang tinggi agar suaranya tetap terdengar jelas ditengah derasnya hujan.
"Ada apa kak??" Asran bertanya lagi. Tapi, belum sepatah katapun keluar dari mulut Hana. Hana merasa tidak mampu untuk mengeluarkan suaranya yang mungkin terasa berat. Hanya setetes air mata yang mengalir di pipinya dan membuat Hana seakan sesegukan dengan helaan nafas yang agak kencang.
Mata merah Hana menatap tajam keraah Asran yang juga memandang dirinya dengan bingung. Menunggu jawaban dari lisannya Hana yang tak kunjung mengeluarkan suaranya.
"Kak.. Jawablah.. Kenapa kak disini? Kenapa tiba-tiba menghilang dari lapangan? Ditelpon Ngak di angkat-angkat.. terus hp kak ngak aktif. Asran khawatir kak.. Asran Khawatir kak kenapa-napa.." Kata Asran setengah berteriak.
Hana memalingkan wajahnya sambil menghapus air mata yang kini mulai deras mengalir di pipinya. Hana tidak mengerti. Kenapa ia harus menangis didepan lelaki ini. Yang membuat Hana menjadi kesal terhadap dirinya sendiri.
"Kak, Nangis?" Asran menyadari Hana yang tengah menangis. Asran berjalan mendekati Hana dan lalu berjongkok di depannya. Jarak mereka begitu dekat yang membuat Hana menjadi risih.
"Asran ada salah kak?" Ucapnya dengan suara yang mulai mengecil. Asran menatap erat wajah Hana yang kini terlihat pucat dan tampak kedinginan.
"Sebentar.." Asran berdiri lalu setengah berlari menuju ke motornya dan mengambil sesuatu di dalam jok motornya setelah itu berlari lagi masuk ke pondok.
__ADS_1
"Pakai jaket Asran ini kak. Baju kakak hampir basah semua tu." Katanya seraya menyerahkan jaket hitam miliknya ke Hana.
Hana tidak langsung menerima tawaran Asran tersebut. Pandangannya masih kesamping seakan engan untuk melihat lelaki yang ada didepannya saat ini.
"Kak Hana pucat kali kak, Kak.. pasti kedinginan kan? Pakai jaket ini dulu kak.. Kalo sudah agak reda hujannya baru kita pergi kak.." Kata Asran lagi. Hana tidak menyahutnya. Lagi-lagi ia membuang muka.
Asran yang tidak sabaran langsung saja mendekati Hana dan memasangkan jaket miliknya ketubuh Hana. Reflek Hana merasa kaget dengan perlakuan Asran yang tiba-tiba itu.
"Tidak usah sok baik lah Asran! Kalo ujung-ujungnya menusuk!" Ucap Hana dengan nada yang sinis sambil membuka jaket Asran lalu melemparnya kearah Asran.
Asran yang tidak sempat menghindar, hanya pasrah saat jaket dirinya melayang tepat kewajahnya.
"Apa maksud kak Hana?" Tanya Asran bingung.
"Ngak usah pura-pura bodoh lah. Kak sudah tahu semuanya!" Ucap Hana.
"Tahu apa kak?"
"Pikir aja sendiri!!" Jawab Hana dengan ketus.
Hana diam. Tidak lagi menjawab pertanyaan yang di todong Asran untuk dirinya.
"Kak..?" Panggil Asran lagi yang semakin mendekati dirinya ke samping Hana. Menyadari itu Hana langsung menghindar dan menjauhi dirinya dari Asran.
"Kak Hana, Benar-benar bikin Asran bingung! Marah-marah tanpa sebab.. Seharusnya Asran yang marah sama kakak! Menghilang tiba-tiba, tidak dapat dihubungi. Kak Hana buat Asran risau tau tidak kak? Asran yang bawa kakak kesini.. dan Asran bertanggung jawab penuh atas keselamatan kakak. Kalo terjadi sesuatu sama kakak gimana? Ini kampung orang Kak, kita gak tau bagaimana kehidupan disini. Apalagi tempat sepi seperti ini, malah hujan lagi.." Omelan Asran terhadap Hana.
Mendengar penuturan Asran barusan membuat Hana tersenyum kecut.
"Bagus sekali akting kamu ya, Sok-sok merasa khawatir.." Kata Hana.
"Maksud Kakak?"
"Kak Sudah tau semua niat busuk dan akal bulus mu itu Asran."
__ADS_1
"Apa lagi ini kak? Asran ngak ngerti!"
"Lebih baik kamu tanyakan saja sama teman kamu itu."
"Teman Asran,? Siapa kak? Dan dia bilang apa?"
"Ngak sempat tanya siapa namanya. Karena sudah terlanjur sakit hati duluan.." Jawab Hana ketus.
Asran menghela nafas panjang. Asran yang kini sedang duduk tepat dihadapan Hana lalu menatap tajam kearah Hana.
"Kak.. Siapapun orang itu.. Dan apapun yang dikatakannya sama kakak tentang Asran.. Asran mohon.. Kakak jangan cepat percaya dengan omongan dia yang belum tentu benar!" Tegas Asran.
"Oh ya, Jadi kak harus percaya kata-kata kamu gitu??" Tanya Hana sambil ketawa meledek.
"Mungkin benar katanya.. Kak mungkin begitu lugu, polos atau pun bodoh karena bisa tertipu lagi dengan semua kata-katamu"
"Seharusnya kak ngak memberi kesempatan untuk kamu Asran dan percaya begitu saja dengan permohonan maafmu itu yang semata - mata cuman bohongan belaka." Lanjut Hana lagi.
Setelah mengucapkan kalimat terakhir tersebut, lalu Hana berdiri. Ia bermaksud ingin pergi dari sana dan meninggalkan Asran. Tidak peduli hujan yang masih deras dan suasana sore yang semakin mencekam.
Hana berjalan menjauhi Asran dengan langkah kaki yang gontai sambil menahan rasa perih dilututnya saat dibawa berjalan.
"Kak..Kak.. Kak Hana..Masih hujan lebat kak..Kakak mau kemana?" Asran mengikuti Hana dari belakang.
"Kak Hana, Stop Kak!" Katanya ketika Hana nekat menembus derasnya hujan keluar dari pondok tersebut. Hana tidak mempedulikannya, Ia tetap berjalan.
"Kak Hana.." Teriak Asran yang kini sambil menarik tangan Hana dari belakang agar berhenti berjalan.
"Lepas Asran!!" Hana memberontak saat Asran memegang erat tangannya.
"Kita balik dulu kepondok.. pliss.. Nantik kak Hana sakit!" Kata Asran. Hana hanya diam.
Tiba-tiba Sesaat kemudian Hana merasa tubuhnya seakan melayang. Pandangannya pun mulai buram. Belum lagi rasa perih dikedua lututnya semakin menyiksanya. Badannya terasa lemah dan kakinya juga tidak kuat lagi untuk menopang badannya. Yang akhirnya kemudian Hana terjatuh.. Jatuh pingsan tepat di depan Asran..
__ADS_1
Bersambung..