
Tangan dan Hati Hana seakan bergetar saat membaca pesan singkat yang ternyata dari Asran.
"Asran, Kamu dari mana saja? Kenapa baru beri kabar? Kamu ganti nomor ya? Kenapa gak kasih tau kakak? Kamu baik-baik aja kan??"
Hana melemparkan pertanyaan bertubi-tubi ke Asran. Matanya masih menatap erat kelayar handphonenya menunggu balasan dari Asran.
"Iya, maaf kak. Ada masalah dengan hp Asran dan sekarang masih di bengkel. Ini Asran pinjam hp kawan kak.."
Hana membaca balasan dari Asran dengan dada yang tidak berhenti bergetar hebat. Akhirnya yang ia tunggu-tunggu datang juga, kabar dari Asran yang sudah beberapa hari ini menghilang.
"Asran mau ketemu kak Hana, malam ini juga. Ada yang mau Asran sampaikan kak. Penting!"
Hana tersentak dengan permintaan aneh Asran yang tiba-tiba itu. Tidak mungkin ia memenuhi permintaan Asran sedangkan ia saat ini sedang bersama Andra. Walaupun sebenarnya ada juga terbesit keinginan Hana untuk jumpa dengan Asran. Tapi, sekarang bukanlah waktu yang tepat.
Beberapa saat kemudian Andra yang dari toilet pun datang dan kembali duduk dikursinya.
"Hai Sayang, kenapa wajah kamu tegang gitu?" Tanya Andra ketika melihat wajah Hana berubah, tidak seperti tadi. Hana juga terlihat agak pucat dengan sinar mata yang tampak gelisah.
"Ngak kenapa-kenapa kok, Ndra." Jawab Hana seadanya dengan memijit-mijit keningnya yang mulai berdenyut.
"Kenapa Hana? Kepala kamu sakit ya?" Tanya Andra khawatir. Hana hanya menganggukkan kepalanya. Setidaknya dia tidak berbohong, karena kepalanya beneran mendadak sakit saat ini.
Hana sebenarnya merasa bahagia akhirnya Asran kembali menghubunginya dan dari pesan Asran yang ia tangkap, lelaki itu tidak lagi marah kepadanya. Cuman yang membuat Hana bingung adalah permintaan Asran yang ingin ketemu dirinya malam ini juga. Rasa ingin ketemu itu pasti ada terlintas dihati dan pikiran Hana, akan tetapi..Sekarang keadaan sudah berubah. Sudah Ada penghalang yang menjadikan dia dan Asran tidak bisa bertemu bebas seperti dulu lagi. Sudah ada Andra, calon suaminya diantara mereka.
"Apa kita pulang aja sayang? Wajah kamu pucat juga tuh, aku antar kamu pulang ya? Kamu istirahat aja dirumah" Kata Andra yang membuyarkan pikiran Hana tentang Asran.
"Tapi, kamu gak apa-apa? Kita gak jadi jalan-jalan habis ini, padahal besok kamu kan sudah berangkat" Ujar Hana merasa gak enak hati, Ia takut sikapnya malah membuat Andra kecewa.
"Jalan-jalannya bisa lain kali, yang penting kesehatan kamu Hana.." Jawab Andra seraya tersenyum manis. Hana merasa lega, apalagi sikap Andra yang sangat perhatian tehadap dirinya.
Beberapa saat kemudian, Merekapun pergi meninggalkan tempat tersebut dan Andra langsung mengantarkan Hana pulang ke rumahnya.
Sesampainya dirumah Hana..
__ADS_1
"Kamu istirahat ya, jangan lupa minum obat dan vitaminnya.. Kalau ada apa-apa cepat kabari aku ya?" Pesan Andra sebelum ia pulang.
"Iya, makasih banyak ya, Ndra. Kamu juga hati-hati dijalan ya.." Kata Hana.
"Oke. Siap. Aku pamit ya. Assalamu'alaikum," Pamit Andra setelah itu membawa motornya meninggalkan rumah Hana.
"Wa'alaikumussalam.."
Setelah Andra pulang, Hana langsung bergegas masuk kedalam rumahnya. Pesan terakhir dari Asran tadi belum dibalasnya.
"Asran, maaf kak gak bisa ketemu kamu malam ini. Gak apa-apa kan?"
Beberapa menit kemudian Asran membalasnya.
"Kak Hana bisa tolong jemput Asran kak. Nanti Asran share alamatnya.."
Hana mengerutkan keningnya, ia merasa heran dan juga aneh.. Mengapa Asran tiba-tiba mintak dijemput? Karena tidak leluasa bertanya lewat Whatshapp, Hana langsung menelpon Asran. Tapi, panggilan dari Hana malah ditolaknya.
"Maaf kak Asran tolak. Hp kawan Asran ini gak bisa menerima panggilan, lagi heng kak. Kita Chat-an saja ya."
"Jadi, bagaimana kak? Bisa kan jemput Asran? Itu alamatnya sudah Asran kirim.."
Hana membuka alamat yang Asran sharekan itu yang ternyata tidak begitu jauh dari rumahnya.
"Kamu ngapain disana? Dan.. Kamu gak bawa motor?"
"Nantik aja Asran ceritakan kak. Ceritanya panjang. Kak Hana langsung kesini ya, Asran tunggu. Gak pakai lama kak,"
Tanpa menunggu lama dan rasa curiga, Hana langsung saja bergegas mengeluarkan motornya dan kemudian mengarahkan motornya kealamat yang Asran kirim tadi. Hana ikuti dari GPS yang Asran kirim.
Beberapa menit kemudian Hana berhenti disebuah bangunan tua yang sepertinya tidak berpenghuni namun lampu didalamnya ada yang terlihat hidup. Hana merasa heran, alamat yang dikirim Asran melalui GPS tadi tepat berhenti disini.
"Ngapain Asran ada disini? Aneh.. Apa GPS yang dikirim Asran error ya?" Gumam Hana pada dirinya sendiri. Lalu ia kembali mengirim pesan ke Asran.
__ADS_1
"Asran, kak sudah sampai. Tapi, benar gak tempatnya ini.. Kak ada dibangunan tua ini. Kok kelihatannya sepi ya tempatnya, seperti gak ada orang.."
Hana mengirim pesan tersebut lengkap dengan foto bangunan tua tersebut.
Beberapa menit kemudian Asran membalasnya.
"Benar kak. Asran ada didalam, sebentar ya.. Asran keluar.."
Lumayan lama juga Hana menunggu Asran keluar dari bangunan tua itu, tapi.. Yang ditunggu tidak muncul juga. Dengan kesal Hana kembali mengirim pesan ke Asran.
"Kamu kok lama sekali sih Asran? Ini sudah jam berapa, kak mau pulang. Dingin tau tunggu diluar ini, hari juga sudah semakin malam. Kamu cepatan sikit ya!"
Hana mengirim pesan tersebut. Tapi, malah ceklis satu.
"Kok malah ceklis satu? Asran kemana sih.." Hana menggerutu dengan hati yang mulai gelisah.
Setelah itu, entah dorongan dari mana sehingga membuat Hana turun dari motornya dan kemudian ia berjalan menuju bangunan tua itu. Hanya ada satu keinginan dihatinya saat ini, ia ingin bertemu dengan Asran secara langsung dan memberi penjelasan juga pengertian akan hubungan mereka yang tidak bisa dilanjutkan lagi. Hana berharap Asran bisa mengerti dan mengikhlaskan dirinya. Hana tidak ingin hal ini malah membuat pertemanannya dengan Asran akan jadi berakhir juga. Setidaknya mereka masih bisa tetap berteman baik sampai kapanpun.
Oleh karena itu, Hana nekat masuk kedalam. Lagi pula hari sudah semakin malam dan ditambah angin yang mulai berhembus dengan kencang, sepertinya akan turun hujan.
Baru beberapa langkah Hana berjalan menuju ke bangunan tua itu, tiba-tiba saja dari belakangnya muncul seseorang berbaju serba hitam serta memakai topi, dan orang itu dengan gerakan cepat langsung saja membekap mulut Hana dengan menggunakan sapu tangan yang sudah diolesinya dengan obat bius.
Dalam hitungan detik Hana langsung jatuh pingsan. Orang itu lalu menggendong tubuh Hana dan membawanya masuk kedalam bangunan tua tersebut.
.
.
.
Bersambung..
.
__ADS_1
.