Reminiscent

Reminiscent
MERASA TERSUDUTKAN


__ADS_3

Keesokan harinya, Hana yang sudah siap-siap hendak berangkat kerja tiba-tiba ia dikagetkan dengan kedatangan Andra.


Andra memarkirkan motornya tepat didepan rumah Hana. Hana yang saat itu sudah berada diatas motornya langsung turun dari motornya lalu berjalan menuju kedepan pagar kosan nya.


"Loh, Andra? Ada apa, kok ngak bilang kalau mau kesini?" Tanya Hana dengan wajah yang bingung.


Andra lalu melepaskan helm yang masih melekat dikepalanya.


"Sengaja.. Mau bikin kejutan aja..hehe.." Jawab Andra setelah itu langsung tertawa kecil.


"Hhhmmm... Iyalah.. Terus-terusan aja bikin kejutan untuk aku..." Kata Hana.


"Iya Donk.. Ya udah, Yuk naik.." Ucap Andra dengan sedikit menggerakkan kepalanya kebagian belakang motor seperti memberi kode agar Hana segera naik kemotornya.


"Maksudnya..?" Hana bertanya dengan bingung.


"Kamu mau ke tempat kerja kan? Pergi bareng sama aku aja, kebetulan hari ini aku mau ke Puskesmas juga menyelesaikan urusan aku yang belum selesai.." Jawab Andra.


"Hah..?" Hana terkejut dengan jawaban Andra barusan.


"Kenapa terkejut?" Tanya Andra yang melihat Hana sedikit melongo dengan kedua alisnya hampir beradu itu.


"Kan salah satu tujuan aku datang kesini ya itu sayang.. Mau ketemu Sama kepala Puskesmas, ada beberapa berkas kami yang belum ditanda tangani.." Jelas Andra.


"Iya, Aku tahu.. Cuman, Kenapa harus barengan kita perginya..?" Tanya Hana dengan suara yang pelan. Andra yang paham dengan situasi yang Hana rasakan langsung senyum-senyum sendiri.


"Kenapa emangnya?? Kamu takut teman-teman kamu tahu ya kalo aku ini tunangan kamu? Kamu belum cerita ya sama kawan-kawan Puskesmas tentang kita?" Tanya Andra. Hana menggelengkan kepalanya.


"Ya Sudah, biar aku aja yang jelasin ke mereka semua nanti. Sekarang ayok naik, sudah jam berapa ini? Nantik kamu terlambat."

__ADS_1


"Iya, Tapi.."


"Ngak ada tapi-tapian lagi Hana.. Yuklah berangkat.." Potong Andra yang membuat Hana akhirnya menurut dan lalu naik keatas motornya Andra.


Sepanjang perjalanan menuju ketempat kerjanya, Hana hanya diam. Ia sibuk dengan pikirannya yang sudah menerawang kemana-mana. Hana merasa belum siap saja jika nanti semua Teman Puskesmasnya tahu tentang hubungannya dengan Andra. Pasti hal ini akan menjadi perbincangan hangat di antara mereka semua.


Dimana, Hana yang terkenal dingin dan terkesan kaku terhadap lelaki akhirnya bisa juga mendapatkan sosok lelaki humoris seperti Andra, yang mungkin saja banyak di antara teman Puskesmas yang masih single menginginkan Andra juga.


"Aku paham kamu belum siap Hana, cuman.. Mau tidak mau suatu saat nanti pasti mereka semua bakalan tahu juga kan? Jadi, ya menurut aku ngak ada bedanya mereka tahu sekarang atau nantik.." Kata Andra.


"Seharusnya kamu merasa bangga dan beruntung donk karena bisa mendapatkan lelaki yang tampan seperti aku ini, hahaha.." Kata Andra dengan sedikit membesarkan suaranya agar terdengar oleh Hana.


"Kok kamu jadi kepedean gitu ya??" Cibir Hana.


"Tidaklah Sayang, cuman bercanda aja.. Malahan aku yang merasa beruntung karena bisa mendapatkan hati kamu.." Ujarnya dengan tersenyum.


Hana bisa melihat senyumannya manis dan tulus yang menghiasi bibir Andra dari balik kaca spion motor milik Andra.


Mendadak keringat dingin mulai menjalari tubuh Hana. Dadanya pun berdebar semakin kencang saat semua mata tertuju pada Hana yang baru saja sampai di parkiran. Andra yang melihat perubahan pada wajah Hana, lantas tersenyum lalu berkata..


"Pas sekali momen nya, Na. Lagi pada ngumpul semua.." Ujar Andra yang membuat wajah Hana semakin tegang. Lalu mereka berjalan bersamaan menuju keteras Puskesmas.


"Wow... Hana...?? Kok bisa bareng sama Dokter Andra ya?" Sebuah suara melengking milik kak Septi mulai memecahkan raut kebingungan yang terpancar dari wajah temannya yang lain.


"Iya nech, Mesra pulak nampaknya.." Sahut suara yang lain.


"Dokter Andra, masih lanjut lagi disini ya? Bukannya kemaren katanya sudah selesai?" Tanya temannya yang lain ke Andra.


"Oh, Tidak kak.. memang sudah selesai. Ini ada keperluan aja mau ketemu sama kepala Puskesmas." Jawab Andra.

__ADS_1


"Terus, jumpa Hana dimana? Kok bisa datang bareng Hana?" Kak Septi yang tukang heboh itu bertanya lagi sedangkan Hana yang masih berdiri disamping Andra lalu pamit mau masuk kedalam namun baru saja Hana melangkahkan kakinya hendak masuk kedalam Puskesmas, Dokter Andra malah menahan lengan Hana, yang membuat Hana tidak jadi pergi.


"Hhhmm... Seperti ada sesuatu aja nech.. Jadi curiga kami.." Kata Kak Imel dengan senyumnya yang menggoda.


"Memang ada sesuatu kok kak.. diantara kami..." Jawab Andra. Dan kemudian Andra malah semakin menarik lengan Hana agar lebih mendekat dengannya. Hana benar-benar menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Saya dan Hana memang ada hubungan spesial. Dan InshaAllah kalau tidak ada halangan bulan depan kami akan bertunangan.." Jelas Andra dengan antusias yang disambut dengan sorakan dan pandangannya tidak percaya dari semuanya.


"Benaran, Han?" Tanya Tia yang langsung mendekati Hana. Hana yang sedari tadi menunduk hanya menganggukkan kepalanya.


"Waauuu... Keren Hana, diam-diam menghanyutkan.." Kak Septi berujar lagi dengan tertawa lepas. Hana sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataannya barusan. Belum lagi saat pandangan Hana tertuju pada Rini. Hana menangkap sinar ketidaksukaan yang terpancar dari bola matanya.


"Akhirnya laku juga kamu ya, Hana..." Lagi-lagi mulut tajam milik Kak Septi itu mengeluarkan kata yang menyudutkan Hana yang membuat Hana benar-benar merasa geram, namun dia seakan tidak bisa berkutik ketika mendapati kawan yang lainpun sama, kecuali Tia tentunya.


"Alhamdulillah.. Meskipun aku kesal juga karena kamu ngak cerita tentang ini. Tapi, selamat ya Hana.. semoga acara tunangannya bulan depan lancar.." Ucap Tia sambil menyalami tangan Hana.


"Iya, Tia.. Terimakasih.." Jawab Hana.


"Kalau gitu, selamat juga lah ya Hana.. Semoga Dokter Andra tidak berubah pikiran ya, hahaha..." Kata Kak Septi yang disambut dengan gelak tawa teman Hana yang lain.


"Maaff.. bercanda kok.." Kata Kak Septi lagi yang melihat wajah Hana dan Andra langsung berubah.


"Kak Septi ini lucu ya, Ngak mungkinlah saya berubah pikiran kak.. Karena saya sudah sangat yakin dengan pilihan saya.." Jawab Andra seraya memandang Hana dengan senyuman yang menenangkan.


"Yaa.. Mudah-mudahan saja ya Dok, asal jangan menyesal aja jika akhirnya tahu Hana itu.."


"Sudah... sudah... Yuk kita apel lagi, itu kepala Puskesmas sudah datang..." Tiba-tiba Tia memotong perkataan Kak Septi yang masih menggantung. Karena Tia yang tahu arah pembicaraan kak Septi kemana, pasti dia ingin mengungkit mengenai Hana yang pernah dituduh sebagai wanita penggoda. Pikir Tia didalam hatinya.


Saat ini memang Hana merasa terselamatkan oleh Tia, Namun ia tidak dapat memastikan apakah dilain kesempatan Kak Septi ataupun temannya yang lain akan membeberkan kejadian saat dia dilabrak oleh Sherly kemaren itu kepada Andra? Entahlah...

__ADS_1


***


__ADS_2