
Hana benar-benar terkejut melihat isi didalam plastik itu yang ternyata adalah sebuah boneka kecil yang menyeramkan dan juga berlumuran darah segar.
Kemudian dengan merasa takut juga geli Hana mengambil kembali plastik itu. Lalu ia langsung membuangnya ke dalam tempat sampah.
Setelah itu, Hana masuk kedalam rumah dengan hati dan perasaan yang tidak enak.
Saat ia sampai dikamar, Hana duduk sejenak dipinggir ranjangnya. Hana masih berusaha menetralkan irama Jantungnya yang tadi sempat berdesir dengan hebatnya.
Hana tidak habis pikir apa maksud dari orang yang mengirimnya benda menjijikkan itu, Hana merasa kali ini perbuatan orang tersebut sudah diluar batas. Sekarang dia bukan hanya meneror Hana lewat telepon saja, tapi juga mengiriminya benda-benda yang mengerikan seperti itu.
Beberapa saat kemudian, handphone Hana berdering. Ada sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Hana ragu untuk mengangkatnya, karena ia yakin kalau yang nelpon dirinya adalah si penelpon misterius itu.
Namun, karena rasa penasaran akhirnya Hana menerima panggilan tersebut.
"Halo Hana sayang.. Bagaimana dengan hadiah kejutan dari aku. Kamu suka...???"
Terdengar suara seorang lelaki dari seberang sana.
"Kamu siapa? Dan.. Apa maksud kamu mengirimi aku benda itu??" Tanya Hana dengan emosi.
Si lelaki misterius tersebut tidak langsung menjawab pertanyaan dari Hana, hanya terdengar suara tawanya yang menggelegar.
"Hei.. Kamu pikir aku takut dengan teror yang kamu lakukan ini ha? Sekali lagi kamu meneror aku, Aku gak akan segan-segan melaporkan kamu ke kantor polisi." Kata Hana setengah mengancam.
"Wah.. Wah.. Wah.. Manisnya mulut kamu itu Hana.. Aku jadi terkesan, hahaha..." Ujarnya yang membuat Hana semakin kesal lalu memutuskan panggilannya.
Nomor itu kembali menghubungi Hana, tapi Hana tidak mengangkatnya malahan ia langsung menonaktifkan handphonenya.
***
Malam Hari...
.
Jam 7 malam Andra datang menjemput Hana, karena seperti yang dibilang Andra tadi siang bahwa dia akan membawa Hana jalan.
"Kita mau kemana?" Hana bertanya saat motor Andra baru saja bergerak meninggalkan rumahnya.
"Aku mau ngajak kamu makan malam disuatu tempat. Aku yakin pasti kamu suka dengan tempatnya."
"Oya? Makan dimana emangnya?" Tanya Hana penasaran.
__ADS_1
"Hhmm.. Ada dech, Rahasia.. Hehe.." Jawab Andra dengan terkekeh.
"Ya dech pakai rahasia segala..."
"Sabar ya sayang.. Sebentar lagi kamu bakalan tau kok aku bawa kemana.."
"Iya.. Iya.."
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka sampai disebuah tempat makan yang bagus dan sepertinya baru beberapa hari dibuka yang terlihat dari papan bunga yang berjejer disana berisi ucapan grand opening.
"Bagus tempatnya, aku baru tau Lo disini ada yang seperti ini.." Komentar Hana dengan mata yang berbinar-binar.
"Iya Hana, tempatnya baru buka 2 hari. Aku juga baru tau, Dokter Fajar yang ngasih tau tadi, katanya ada tempat makan yang bernuansa romantis. Makanya aku penasaran dan ngajak kamu kesini." Jelas Andra.
Lalu mereka masuk kedalam dengan berjalan
beriringan. Saat langkah pertama masuk kedalam, Hana merasakan sensasi yang berbeda, tempatnya begitu indah dan memang terkesan romantis dengan penataan tempat dan juga sinar lampunya yang berkelap kelip.
"Kita duduk disana yuk.." Ajak Andra dengan menunjuk sebuah tempat didekat kolam. Lalu Andra menggandeng tangan Hana menuju ketempat tersebut.
"Oke. Silahkan duduk Tuan Putri nan Cantik jelita.." Kata Andra seraya menarik kursi untuk Hana duduk dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Terimakasih.." Ucap Hana merasa terkesan dengan perlakuan lembut dari Andra.
"Oya, Sayang.. Maaf aku besok harus berangkat. Karena mendadak panggilan kontrak di Rumah Sakit dimajukan jadi lusa" Kata Andra dengan nada sedih.
"Oya? Bagus donk kalau dipercepat."
"Kok malah bagus, Na? Kamu ini gak peka dengan perasaan aku ya, padahal aku masih rindu dan pengen lama-lama disini dulu bersama kamu.." Kata Andra.
"Maaf, Ndra. Aku bercanda kok.. Hehehe" Kata Hana dengan tersenyum.
"Ya, Tapi.. Mau gimana lagi? Kamu memang harus berangkat. Sayang lo disia-siakan kesempatan seperti itu.." Tambah Hana lagi.
"Iya, Aku memang pasti akan berangkat. Tapi, jujur aku masih khawatir sama kamu sayang. Oya, Orang itu masih ada ganggu kamu lagi gak?" Tanya Andra tiba-tiba.
Untuk beberapa saat Hana terdiam. Dia memang belum menceritakan bahwa tadi siang ia dikirimi sebuah benda menyeramkan yang dipenuhi darah segar. Hana menimbang - nimbang didalam hatinya, apakah perlu ia menceritakan hal itu kepada Andra? Bagaimana jika Andra tahu masalah itu, ia malahan tidak jadi berangkat. Sungguh Hana tidak ingin membuat Andra khawatir. Maka ia memutuskan untuk tidak memberitahu dia dahulu.
"Ada.. Cuman gak aku angkat." Jawab Hana datar.
"Hhmm.. Siapa ya dia? Aku jadi penasaran, Apa perlu kita buat laporan ke polisi? Biar nantik polisi yang melacak nomornya." Andra berpendapat.
__ADS_1
"Aku rasa gak perlu, Ndra. Untuk sementara ini aku cuekkan aja jika ada panggilan dari nomor baru. Aku yakin lama-kelamaan orang iseng itu pasti menyerah dan gak ganggu aku lagi." Kata Hana dengan yakin.
"Baiklah kalau begitu, Tapi.. Kamu janji sama aku ya.." Ujar Andra lalu memegang kedua tangan Hana dengan lembut.
"Janji apa?"
"Janji jika sesuatu hal terjadi terhadap kamu, kamu segera beritahu aku. Meskipun aku gak bisa datang saat itu juga, setidaknya disini aku punya banyak teman. Jadi aku bisa meminta bantuan keteman-teman aku itu.."
"Iya, Janji.." Jawab Hana.
Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan pun sampai. Mereka lalu menikmati makan malam mereka dengan sekali-sekali berbincang hangat.
"Makanannya enak lo sayang.."Komentar Andra.
"Iya, tempatnya sudah bagus dan makanannya pun enak.." Puji Hana.
"Habis ini kita kemana lagi?" Tanya Hana.
"Hhmm.. Kita mutar-mutar aja kali ya, aku juga gaak begitu banyak tahu daerah sini, Na."
"Ya sama donk. Aku memang sudah lama kerja disini, tapi aku jarang banget keluar kalau gak penting-penting amat." Cerita Hana.
"Hhmmm.. Besok kalau kita sudah nikah, kamu pindah ke kota aja ya, Biar semua urusan kepindahan kamu aku yang urus. Kebetulan ada teman aku yang biasa mengurus hal itu.." Kata Andra yang membuat Hana langsung termenung.
Hana tidak terpikir sampai kesana. Jika ia sudah menikah dengan Andra, mau tidak mau diantara mereka pasti ada yang harus mengalah Dan.. Kemungkinan terbesar untuk mengalah dan pindah tempat kerja adalah dirinya. Meskipun Hana masih berat meninggalkan tempat kerjanya karena ia yang sangat teramat nyaman disini, tapi.. Tidak mungkin juga ia dan Andra terus-terusan LDR-an.
"Bagaimana Sayang??" Andra bertanya karena mendapati Hana diam.
"Oke.. Kamu atur saja.." Ucap Hana seraya tersenyum simpul.
Beberapa saat kemudian, Andra izin ke toilet. Sepeninggalan Andra, tiba-tiba saja ada notifikasi pesan Whatshapp dari Handphone Hana. Hana langsung saja membuka pesan dari nomor yang tidak dikenal..
"Hai, Kak Hana.. Kak Apa kabar?? Ini Asran kak.."
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
.
.