Reminiscent

Reminiscent
KEHILANGAN


__ADS_3

Asran masuk tergesa -gesa kedalam sebuah Asrama polisi yang ditempati olehnya dan juga 3 orang temannya.


Wajahnya tampak menahan amarah dan emosi yang tidak terbendungkan. Sesampainya didalam asrama, Ia meneriakkan nama seorang temannya.


"Reynald... Reynald... " Teriaknya dan mencari temannya tersebut ke semua ruangan yang ada di asrama.


Reynald yang saat itu tengah makan di dapur, langsung menyahut.


"Yup.. Hadir..!" Jawabnya dengan santai.


"Kenapa Kau Asran? Teriak-teriak tak jelas.." Tanyanya ketika Asran sudah berada tepat dihadapannya saat itu.


"Tadi aku lihat kau bicara sama Kak Hana kan dilapangan?" Selidik Asran dengan wajah yang tegang.


"Oo.. Ituu.. Iya.." Jawabnya lagi dengan santai dan meneruskan suapan terakhirnya.


"Kau bilang apa aja sama Kak Hana ha?" Tanya Asran setengah membentak.


"Santai Bro..! Tanya tanya aja tapi jangan bentak-bentak.." Protes Reynald.


"Jujur aja Reynald, Karena setelah aku lihat Kalian bicara berdua, Kak Hana langsung pergi..Dan.. dia marah besar sama aku! Apa yang kau katakan sama kak Hana sampai ia semarah itu sama aku?" Tanya Asran kepada teman satu kerjanya sekaligus sahabat dekatnya itu.


Reynald tidak langsung menjawab pertanyaan Asran. Ia tampak meneguk minumannya hingga habis. Terlihat sorot matanya yang tajam menatap kedepan.


"Kenapa emangnya? Kenapa kau merasa takut kalau si kakak itu marah?" Tanyanya.


"Karena aku sudah bersusah payah membujuk Kak Hana agar ia mau berkomunikasi lagi dengan aku setelah kejadian tempo hari, tapi.. kau malah menghancurkannya lagi. Emang apa yang kau katakan ke Kak Hana, Reynald?" Tanya Asran penasaran.


Reynald tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya mendengar penuturan Asran barusan. Dalam Hati ia merasa aneh juga Asran bisa jadi semarah gini terhadap dirinya cuman gara-gara seorang wanita.


"Aku cuman mau menyelesaikan misi awal kita dulu.. Kau tak ingat? Tujuan awal kau sebenarnya apa?" Tanyanya seakan mengingatkan Asran tentang sesuatu. Asran terdiam ditanya seperti itu.


"Asran.. Asran.. Kenapa jadi berbalik haluan gini? Kenapa GALAU dengan kemarahan Kakak itu? Bukankah ini semua rencana kita dulunya..?" Tanya Reynald sambil tertawa kecil.


"Sudahlah bro, Jangan Berlebihan! Jangan terbawa perasaan! Kita Cari mangsa yang lain lagi nantik, Oke? Hahaha.." Ucapnya setelah itu berlalu dari sana dan Meninggalkan Asran yang termenung dengan hati dan pikiran yang berkecamuk.

__ADS_1


***


Keesokkan harinya. Pagi sekali Asran dan juga ketiga teman polisinya sudah rapi dan siap-siap akan berangkat kerja. Setiap pagi senin biasanya mereka akan melaksanakan apel gabungan di Polres.


Ketika di Pertengahan perjalanan menuju Polres, Asran tidak henti-hentinya memikirkan Hana. Karena Ia masih belum bisa menghubungi Hana sejak tadi malam. Pesan Whatsapp yang Asran kirim masih ceklis satu, dan saat dihubungi nya nomor Hana tidak kunjung aktif sampai pagi ini.


Asran yang masih diselimuti rasa penasaran dan juga rasa bersalah yang semakin teramat dalam, akhirnya membuat dirinya berbalik arah dari tujuan awalnya ke tempat kerjanya kemudian menuju arah ke kosannya Hana.


Asran memberhentikan motornya di ujung jalan kawasan dekat kosan Hana. Dari kejauhan ia melihat rumah kosan Hana yang tertutup rapat. Motor Hanapun tidak tampak terparkir di teras kosannya.


"Apa kak Hana sudah berangkat kerja?" Asran berujar pada dirinya sendiri.


Sekitar 10 menitan Asran berada disana. Berharap melihat Hana keluar dari kosannya. Tapi, Nihil. Asran tidak melihat tanda-tanda keberadaan Hana disana. Sesaat kemudian Asran beranjak dari sana dan melajukan motornya ke tempat kerjanya Hana.


Sesampainya di Puskesmas, tempat kerja Hana, Lalu Asran memikirkan motornya tepat didepan warung yang berada didepan Puskesmas.


Matanya tidak berhenti menelusuri orang-orang yang silih berganti datang dan memarkikan motor mereka di depan Puskesmas. Namun, Asran belum melihat sosok Hana.


"Apakah Kak Hana sudah didalam Puskesmas?" Tanya Asran dalam hatinya.


"Maaf Kak, Boleh tanya?" Ujar Asran kepada wanita yang ia yakini temannya Hana.


"Iya, mau tanya apa ya?" Jawab wanita tersebut.


"Kenal kak Hana?" Tanya Asran.


"Kenal.." Jawabnya dengan cepat.


"Apa kak Hana ada didalam Puskesmas?" Tanya Asran lagi dengan antusias. Wanita itu mengerutkan keningnya dan menatap Asran dengan bingung.


"Kak Hana ya.. belum ada nampak sech" Jawabnya ragu-ragu.


"Oo.. Oke, Terimakasih.." Ucap Asran sambil tersenyum.


"Iya, Sama-sama. Tapi, kalau boleh tau.. Siapanya kak Hana ya?" Tanya wanita bertubuh mungil itu dengan tatapan matanya yang tajam.

__ADS_1


"Ee..Ngak.. Cuman ada keperluan saja.." Jawab Asran merasa salah tingkah mau menjawab apa. Wanita itu tampak terkekeh sambil mencelikkan matanya yang bulat itu kearah Asran.


"Sepertinya saya pernah lihat kamu... Wajahnya seperti ngak asing.." Kata Wanita itu dengan menyipitkan matanya sambil mencoba mengingat-ingat sesuatu.


"Oh, Iya.. Kamu ini Polisi yang waktu itu kan.. Yang mintak di suntikkan sama kak Hana waktu vaksin di Polres dulu??" Tanyanya. Ditanya seperti itu, Asran hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu.


Asran seperti ingin mengakhiri obrolan dengan wanita itu, tapi si wanita malah mengulurkan tangannya kearah Asran.


"Kenalkan nama saya Rini.." Katanya dengan senyumannya yang centil. Mau tidak mau Asran meraih uluran tangannya.


"Asran.."


"Cari kak Hana kan? Kenapa ngak ditelpon aja." Ucap Rini mencoba mencari celah untuk melanjutkan obrolannya dengan Asran.


"Sudah, tapi nomornya gak aktif" Jawab Asran.


"Setahu saya kak Hana kemaren cuti, tapi.. seharusnya hari ini dia sudah masuk.." Ujar Rini.


"Tapi, Saya belum ada lihat kak Hana datang..." Lanjutnya lagi.


"Oo.. Iya terimakasih infonya ya. Saya permisi dulu" Kata Asran.


"Kenapa terburu-buru? Ngak mau sarapan dulu dikantin sambil menunggu kak Hana datang?" Tawar Rini sambil tersenyum manis.


"Tidak, Terimakasih" Jawab Asran sambil tersenyum juga. Lalu pergi meninggalkan Rini yang menatap kepergian Asran dengan mata yang berbinar-binar.


Sambil mengendarai motornya, Asran kembali mencoba menghubungi Hana. Masih tetap sama. Nomor Hana tidak kunjung aktif. Asran semakin merasa galau dengan kehilangan kabar dari Hana. Perasaannya mulai terasa lain, apakah ini akhir dari perjalanan hubungannya dengan Hana? Apakah kali ini Hana benar-benar tidak mau lagi berhubungan dengan dirinya? Asran bertanya-tanya di dalam hatinya yang semakin lama semakin terasa ngilu akan kehilangan sosok Hana.


Beberapa saat kemudian, Hp Asran berdering. Dengan cepat ia mengambil Hp disakunya, Ia berharap Hana yang menghubunginya.


"Asran, dimana Kau? Kenapa gak ikut apel senin? Kapolres mencari kau.. Marah besarnya nampaknya Dia karena kau gak ikut apel tanpa beri kabar!" Kata Reynald dari ujung telpon. Ternyata Reynald yang menelpon.


Asran terdiam. Hanya helaan nafas berat yang terdengar darinya..


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2