
Selesai makan siang, Andra lalu mengantarkan Hana pulang kerumahnya. Sesampainya dirumah, Mama Hana menyambut kedatangan mereka dengan antusias. Mama Hana lalu menyuruh Andra untuk masuk dan mampir sebentar ke rumahnya. Andra tidak bisa menolak dan akhirnya ia masuk juga kedalam rumah Hana.
Hana pamit sebentar kedalam kamar untuk mengganti pakaian, Mama Hana lah yang menemani Andra mengobrol diruang tamu. Saat sudah didalam kamar, karena merasa gerah maka Hana memutuskan untuk mandi.
Setelah selsai mandi, Hana yang masih menggunakan handuk lalu duduk sebentar diatas tempat tidur. Ia lalu mengambil hp dari dalam tasnya. Hana membuka aplikasi Whatshappnya, terlihat ada beberapa pesan masuk disitu namun tidak satupun dari seseorang yang dia harapkan.
Hana menscroll kebawah, melihat siapa-siapa saja yang mengirimnya pesan. Yang banyak cuman dari group dan juga dari teman puskesmasnya. Dan pandangan Hana langsung tertegun sesaat melihat pesan dari seseorang yang sudah lama tidak kontak dengan dirinya. Disitu tertulis naman seorang wanita. Hana langsung saja membuka pesan darinya.
[Hai, Hana.. Kamu apa kabar?? Aku dengar kamu mau nikah ya dalam waktu dekat ini? Kok gak undang-undang aku sih?]
Lama Hana seakan terpana menatap pesan singkat dari seseorang tersebut, sampai akhirnya Hana memutuskan untuk membalasnya.
[Alhamdulillah, kabar aku baik. Iya, aku memang mau nikah. Maaf ya, aku gak ngabarin kamu. Tapi, kamu tahu dari mana?]
[Ya dari teman-teman yang lain. Gitu kamu ya Han, Gak ngasih tau aku sedangkan yang lain kamu kabarin. Apa kamu masih marah sama aku atas apa yang pernah terjadi diantara kita.]
Hana membaca pelan balasan dari teman lamanya itu, sebenarnya Hana bukan tidak mau mengabari dirinya. Hanya saja Hana yang memang tidak ingat untuk memberitahu wanita yang bernama Delfi itu.
[Maaf, Del. Aku sama sekali gak ingat. Bukan berarti aku masih marah sama kamu, sama sekali tidak kok. Lagi pula..Itu semua masa lalu yang sudah lama aku kubur, sedikitpun aku gak ingin mengingat-ingat hal itu lagi.]
Delfi masih membalas pesan dari Hana, mereka masih saling balas-balasan sampai Hana lupa untuk memakai bajunya.
Tok..
Tok..
__ADS_1
Tok..
"Hana.. Hana.. " Terdengar suara ketukan dari pintu luar kamar Hana yang diikuti suara jeritan Mamanya yang memanggil Hana. Hana langsung kaget dan berlari menuju pintu luar. Dengan membuka sedikit pintu, Hana menolehkan wajahnya.
"Ya ampun, Hana.. Kamu ngapain lama sekali didalam kamar? Andra sudah tungguin kamu diruang tamu tuh." Ucap Mama Hana sedikit histeris karena melihat Hana yang masih berhanduk.
"Ya Allah.. Iya Ma, Hana pakai baju dulu." Kata Hana lalu kembali menutup pintu kamar dan bergegas memakai bajunya. Hana memukul jidatnya beberapa kali, dalam hati ia pun tidak berhenti menggerutu karena bisa-bisanya lupa bahwa ada Andra yang sedang manunggunya diruang tamu. Semua ini gara-gara ia membalas chat dari teman lamanya itu.
***
Keesokan harinya, aktifitas dirumah Hana terlihat lumayan sibuk. Ramai orang berdatangan untuk mengangsur mendekor rumah Hana, memasang tenda ataupun mengurus hal-hal lainnya. Hana tidak terlalu ikut campur mengenai hal itu karena dari awal dia sudah mempercayai semuanya kepada Mama dan juga Tantenya dalam mengurus semuanya. Termasuk juga masalah pakaian yang akan dia pakai dihari H. Dan untung saja Tante Hana yang bernama Rika itu memiliki selera yang lumayan bagus dalam memilihkan pakaian untuk Hana. Hana menyukai pilihan dari tantenya itu.
Beberapa saat kemudian, Hana yang lagi duduk diteras rumahnya, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang sudah memarkirkan motornya didepan rumah Hana.
Delfi melemparkan senyuman hangatnya kearah Hana, Hana lantas langsung membalas senyuman hangatnya tersebut. Hana lalu mempersilahkan wanita itu untuk masuk kedalam rumahnya.
"Maaf ya, aku datang gak ngabarin kamu dulu Hana," Lirih Delfi.
"Ya gak apa-apa del, kamu mau minum apa? Sebentar ya aku bikin kan minum dulu untuk kamu." Ujar Hana dan bersiap-siap akan ke dapur. Namun, Delfi malah menahan tangan Hana agar tidak beranjak dari sana.
"Gak usah lagi, Han. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Kata Delfi dengan wajah yang serius.
"Mau ngomong apa emangnya?" Hana bertanya dengan penasaran. Delfi tampak menundukkan kepalanya dan kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia bercerita.
"Hana, sebenarnya aku kesini ingin minta maaf sama kamu. Sudah sekian lama aku menyimpan semua ini Hana, sungguh hati aku diliputi ketidaktenangan sepanjang hari sebelum berterus terang sama kamu. Aku harap, setelah mendengar pengakuan dari aku ini. Kamu bisa memaafkan atas kesalahan aku Hana." Kata Delfi dan mulai terisak-isak. Hana semakin bingung dibuatnya.
__ADS_1
"Maksud kamu apa Delfi? Aku gak paham, memang apa yang sudah lama kamu simpan dan apa yang ingin kamu sampaikan??" Tanya Hana lagi.
Delfi kembali tertunduk dengan wajah yang pucat, Hana yang sudah duduk kembali kini menunggu Delfi membuka mulut.
"Hana, yang ingin aku bilang ini ada hubungannya dengan meninggalnya adik kamu, Reno." Ucap Delfi tanpa memandang Hana.
"Ada hubungan dengan Reno??" Hana mengulang perkataan dari Delfi tersebut.
"Ya sudah, cerita lah Delfi. Aku sangat penasaran jadinya." Lanjut Hana lagi.
Delfi membetulkan posisi duduknya, kemudian dengan mengumpulkan keberanian didalam dirinya, maka akhirnya diapun mulai bercerita.
"Hana, aku lihat semua. Semua kejadian saat Reno meninggal. Dan.. Selama ini, kamu dan orang-orang lain sudah salah menduga, bukan Sandy lah yang membunuh adik kamu itu Hana. Bukan Sandy. Sandy saat itu dijebak oleh seseorang yang memang berniat untuk membunuh Reno. Dan.. Aku, aku tau siapa orang itu, karena aku ada disana saat itu. Aku menyaksikannya bagaimana Reno dibunuh, orang itu menusuknya berkali-kali dengan menggunakan pisau. Tapi, maaf.. Karena rasa sakit hati aku terhadap kamu dan juga Sandy, karena aku yang iri dengan kebersamaan kalian yang harmonis itu. Maka, aku membiarkan Sandy menjadi tersangkanya. Dengan begitu, baik aku maupun kamu.. sama-sama tidak mendapatkan Sandy. Kamu tau bukan bagaimana aku sangat menyukai Sandy saat itu? Dan kamu juga pasti tau bagaimana cemburunya aku melihat hubungan kalian berdua? Aku pernah mengutarakan rasa suka aku ke dia, tapi dia malah memilih kamu, Hana." Jelas Delfi dengan panjang lebar.
Hana diam. Dia seakan mencerna semua penjelasan yang terdengar begitu cepat dari mulut Delfi. Akhirnya.. Semua tentang meninggal Reno terungkap. Bukan Sandylah yang membunuh adik Hana..
.
.
.
BERSAMBUNG..
.
__ADS_1