Reminiscent

Reminiscent
MEMBERI KESEMPATAN


__ADS_3

Hana menatap Asran dengan sudut matanya yang tajam. Lagi-lagi Asran membuat sebuah pengakuan yang sebenarnya sangat tidak Hana harapkan.


Gara-gara hal ini juga lah yang membuat hubungannya dengan Andra berakhir sudah, sampai ia sempat patah hati hingga akhirnya dirawat dirumah sakit ini.


Lalu sekarang.. Dengan percaya dirinya Asran kembali mengutarakan perasaannya, disaat hati Hana rapuh dan butuh sentuhan lagi. Sentuhan rasa cinta dan sayang yang baru saja hilang dari dirinya.


Disaat jiwa dan hatinya kosong dan haus akan kasih sayang, lalu Asran datang seakan mengisi jiwa dan hatinya yang kosong itu dengan kasih dan sayang yang ia lontarkan ke Hana.


Apakah yang harus ia perbuat lagi? Apakah dia harus marah kepada Asran atau membiarkan saja lelaki itu berbuat apa yang ia mau kali ini?


Mungkinkah kesempatan itu kini berlaku untuk Asran? Haruskah dia memberikannya kepada lelaki berwajah lembut itu?? Hana menimbang-nimbang hal tersebut didalam hatinya.


"Asran Serius kak!" Ucap lelaki itu lagi. Dan Hana masih bungkam dengan sorot mata yang tidak lepas dari Asran.


"Tidak adakah kesempatan untuk Asran kak??" Tanya Asran dengan nada suara yang mulai melemah.


Cukup lama juga Hana menatap Asran yang ada disampingnya, sampai akhirnya ia mengalihkan pandangannya dan kini menatap lurus kedepan. Tapi, ia belum juga mengeluarkan sepatah katapun.


Asran yang sepertinya tidak sabar menunggu jawaban Hana, lalu menyentuh halus bahu Hana sebagai kode bahwa dirinya masih setia menunggu jawaban dari Hana.


"Kak.. Kasih jawaban donk kak!" Kata Asran.


"Kamu mau kak jawab apa, Asran??" Tanya Hana.


"Yang sesuai hati kakak atau pikiran kakak??" Lanjut Hana lalu Kembali menatap Asran.


"Kedua-duanya aja kak. Yang penting ada jawaban kak." Jawab Asran pasrah.


"Oke." Kata Hana lalu menarik nafas panjang.


"Kalau.. Dari hati kak sekarang ini.. Jujur... Dalam Waktu dekat ini, kak sudah gak mau lagi membuka hati untuk menerima sebuah rasa dari seseorang...." Kata Hana.


"Kalau dari pikiran kakak?" Tanya Asran langsung seakan tidak sabar.

__ADS_1


"Kalo dari pikiran kakak berkata..." Hana berhenti sesaat lalu matanya tampak menatap kelangit.


"Pikiran kak Berkata apa kak??" Asran kembali bertanya.


"Kamu gak sabaran kali ya!" Protes Hana dengan nada kesal.


"Maaf kak.. Asran memang gak sabaran orangnya. Suka penasaran juga, hehe.." Katanya.


"Hhhmmmm..." Hana bergumam.


"Hmmm.... Aja kak? Gak ada lanjutan?"


"Ada... Sebentar donk!" Kata Hana kemudian membetulkan posisi duduknya.


Setelah itu Hana kembali menarik nafas panjang sampai akhirnya ia berkata..


"Kalau.. Pikiran kak berkata.. Gak ada salahnya kalau kak mencoba.." Ucap Hana lalu berhenti lagi.


"Mencoba apa kak??" Asran bertanya penasaran dengan kalimat gantung yang Hana ucapkan dari tadi. Belum lagi sedari tadi jantung Asran tidak berhenti berdetak kencang menunggu jawaban pasti dari Hana. Keringat dingipun juga mulai menjalari tubuhnya.


"B-benar kak?? Kak Hana serius kan??" Tanya Asran sedikit berteriak karena saking senangnya dengan jawaban yang ia dengar dari Hana.


"Asran.. Kak beri kesempatan bukan berarti kak bisa langsung menerima kamu.. Bukan! Kak.. cuman mau lihat dulu seberapa tulusnya perasaan kamu itu.. Dan.. biarlah nantik waktu yang akan menjawabnya. Akan seperti apa hubungan kita ini kedepannya..." Kata Hana kemudian seakan meluruskan kalimat yang dikatakannya barusan.


"Yang jelas kak tidak bisa memberikan kepastian ke kamu. Kak gak bisa menjanjikan apa-apa ke kamu. Biarlah untuk sementara semuanya mengalir seperti ini. Apa adanya. Kamu paham kan maksud kakak??" Tanya Hana.


"Iya. Asran Paham kak. Sangat-sangat Paham. Gak apa kak Hana. Dengan kak memberi kesempatan seperti ini saja sudah mampu membuat hati Asran begitu bahagia kak. Bahagia yang tak terhingga. Terimakasih ya kak atas kesempatan yang kak berikan ini. Asran akan gunakan kesempatan ini sebaik mungkin kak. Asran gak akan mengecewakan kak Hana. Asran janji..." Jelas Asran yang tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu gak usah berjanji apa-apa Asran. Kak gak menuntut kamu harus gimana-gimana kok. Kakak pun tidak akan mengikat kamu." Kata Hana.


"Diikat pun juga gak apa-apa kok Kak. Malahan Asran senang dengan kak Hana mengikat Asran, berarti kak Hana ada rasa ingin memiliki terhadap Asran. Benarkan??" Tanya Asran dengan percaya dirinya.


"Apaan sech kamu, Asran. Kepedean kali.." Kata Hana sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Asran lantas tertawa lepas menanggapi jawaban protes dari Hana..


***


Setelah itu, Asran pamit pulang dan membiarkan Hana kembali kekamar rawatannya untuk beristirahat sampai nantik siang dijemput oleh Tia.


Asran melajukan motornya ke arah Asrama polisi. Disepanjang perjalanan, Asran tidak henti-hentinya tersenyum sendiri membayangkan kenyataan yang baru saja ia terima. Sebuah kenyataan yang sesuai dengan harapannya dan keinginannya selama ini.


Asran merasa bahagia bukan kepalang karena telah berhasil mengambil hati Hana. Walaupun Hana belum memberikan kepastian yang jelas, tapi tak mengapa bagi Asran. Karena ia yakin dengan berjalannya waktu.. Hati Hana seutuhnya akan jadi miliknya. Semuanya butuh waktu dan proses. Dan Asran akan berjuang untuk mendapatkan itu semua.


Sesampainya diasrama, Asran dengan semangatnya langsung berlari kecil masuk kedalam asramanya dan lalu menuju kekamar. Disana sudah ada Reynald yang tengah bermain gitar. Melihat kedatangan Asran dengan senyuman sumringahnya membuat Reynald berhenti bermain dan meletakkan gitarnya dikasur.


"Kenapa kau Asran? Senyum-senyum tak jelas? Kesambet dimana?" Tegur Reynald saat melihat teman dekatnya itu masuk dengan senyum-senyum sendiri.


Asran tidak menjawab pertanyaan dari Reynald, tapi ia langsung mendekati Reynald dan detik kemudian iapun berusaha merangkul Reynald.


"Woi.. Kenapa kau Asran?" Sontak saja Reynald langsung menghindar dari rangkulan Asran yang dianggapnya begitu aneh.


"Berikan aku kata selamat, Rey!" Pinta Asran.


"Selamat kenapa?? Kau menang apa emangnya?" Tanya Reynald bertubi-tubi.


"Beri aku selamat karena sudah berhasil mendapatkan hati kak Hana, Rey.." Kata Asran dengan bahagia.


"Ha?? Maksudnya apa, Asran?" Reynald bertanya bingung.


"Kak Hana menerima perasaan aku, Rey. Kak Hana beri aku kesempatan." Jawab Asran dengan antusias.


"Kesempatan? Kesempatan untuk apa emangnya??" Reynald kembali bertanya.


"Kesempatan untuk mengisi hatinya dengan cinta dan sayang dari aku" Jawab Asran dengan mata yang berbinar-binar.


"Omong kosong!" Kata Reynald dengan nada mencemooh.

__ADS_1


Asran tidak mempedulikan kata cemoohan dari Reynald barusan. Yang jelas hatinya saat ini sedang berbunga-bunga dan sungguh merasa bahagia tiada taranya. Sedangkan Reynald yang sejak tadi duduk di tempat tidurnya, hanya bisa memasangkan wajah tidak suka dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh Asran..


Bersambung..


__ADS_2