Reminiscent

Reminiscent
DICEGAT


__ADS_3

Hari ini Hana pulang sore, ada laporan bulanan yang harus diselesaikannya sebelum cuti. Puskesmas sudah sepi, semua sudah pada pulang yang tinggal hanya ada 4 orang anak shif yang berjaga diruang IGD. Karena memang Puskesmas tempat Hana bekerja saat ini merupakan Puskesmas Rawat Inap yang buka 24 jam.


Tepat pukul 5 sore Hana selesai, ia meletakkan laporan yang sudah selesai itu didalam laci meja nya dan besok Tika yang akan mengantar ke Dinas Kesehatan.


Hana menggeliatkan badannya sesaat, seolah meregangkan otot-ototnya yang agak tegang karena kelamaan didepan lapotopnya. Setelah itu, barulah dia bersiap - siap pulang.


Hana menuju keparkiran dengan langkah kakinya yang gontai. Dia juga sempat berpapasan dengan anak shif yang jaga sore itu. Mereka saling sapa dan saling melemparkan senyuman.


saat Hana sampai diparkiran motornya, disitulah tiba-tiba ia dikagetkan dengan sentuhan halus dipundaknya. Sontak saja Hana merasa kaget luar biasa karena perasaannya tadi dia tidak melihat siapa pun diparkiran tapi kenapa tiba-tiba ada yang menyentuh pundaknya. Setelah itu, dengan sedikit takut Hana membalikkan badannya. Dan.. Ternyata, sosok yang menyentuh pundaknya adalah..


"Asrann..??" Ucap Hana setengah menjerit. Didepannya kini ada sosok lelaki berwajah lembut lengkap dengan senyuman manis yang sudah tergambar dibibirnya. Raut wajahnya yang begitu tenang dan teduh menatap Hana dengan pandangan penuh arti. Cukup lama juga Hana seakan terpana melihat lelaki itu. Sampai akhirnya Asran menyadarkan Hana kkdari keterpanaannya dengan memanggil lembut namanya.


"Kak Hana.." Ucapnya.


"Kamu.. Ngapain ada disini?"Tanya Hana dengan kening yang berkerut.


"Mau ketemu Rini ya? Sudah pulang dia dari tadi lagi.." Lanjut Hana lalu memasang helmnya.


"Bukan, Asran mau ketemu kak Hana." Jawab lelaki itu dengan berjalan satu langkah mendekatinya.


Hana memandang Asran dengan sedikit melotot kaget, belum lagi ia teringat pesan singkat dari nomor yang tidak dikenal tadi. Hana menjadi semakin yakin bahwa pesan itu pasti Asran yang kirim. Apakah ia benar-benar sudah ingat?


"Mau ketemu saya? Hhmm.. Kenapa ya?" Tanya Hana berpura-pura bingung.

__ADS_1


"Sudahlah kak Hana, kakak gak usah bersandiwara seperti itu lagi. Kak itu gak biasa bohong. Jadi, kalau kak berbohong akan terbaca jelas dari sorot mata kakak itu." Kata Asran dengan tersenyum tipis.


Atas ucapan Asran barusan membuat Hana langsung menundukkan wajahnya lalu membalikkan badannya dan kemudian langsung naik keatas motornya. Melihat Hana naik keatas motor, Asran dengan gerak cepat malah menahan motor Hana.


"Kak Hana jangan menghindar lagi. Asran butuh penjelasan dari kakak." Kata Asran dengan menatap erat wajah Hana.


"Maaf, saya buru-buru. Ini sudah kesorean kali, saya mau pulang. Saya gak ada waktu untuk menjelaskan apapun itu sama kamu, Asran." Tolak Hana dengan halus.


"Asran gak akan membiarkan kak Hana pulang sebelum menjelaskan semuanya ke Asran." Tutur Asran dengan tersenyum lebar.


"Mau dijelaskan tentang apa lagi sih?" Tanya Hana dengan nada kesal. Padahal dia sudah berusaha menolak halus atas permintaan Asran, namun.. Lagi-lagi bukan Asran namanya jika ia tidak melakukan aksinya dengan memaksa Hana.


"Tentang hubungan Kita kak." Sahut Asran.


"Asran sudah ingat semuanya kak, Jadi kak Hana gak bisa mengelak lagi" Sambung Asran.


"Oke. Kalau kamu sudah ingat semuanya.." Kata Hana akhirnya.


"Tapi, kak rasa Asran.. gak ada yang perlu diperjelaskan lagi. Semuanya sudah jelas kok Asran. Kak akan menikah. Dan.. Besok kakak akan berangkat ke kota. Jadi, maaf.. Beribu-ribu kali maaf kak katakan sama kamu bahwa hubungan kita ini memang sudah berakhir, jauh sebelum kamu kecelakaan itu.."Jelas Hana dengan mata yang berkaca-kaca. Entah kenapa dada Hana seakan sesak mengatakan ini kepada Asran, ada rasa ketidaktegaan dihatinya karena mungkin sudah menyakiti perasaan Asran. Namun demikian.. Hal ini harus tetap ditegaskannya juga. Dia tidak boleh lemah. Hana sudah benar-benar bertekad sebelumnya.


"Ngak kak, Asran gak bisa terima. Asran gak akan melepaskan kak Hana begitu saja." Tegas Asran.


"Selagi masih ada Asran didalam hati kak Hana, Asran tidak akan membiarkan kak Hana menikah dengan siapapun." Tekan Asran dengan suara yang tegas.

__ADS_1


Hana kembali menatap lelaki yang ada disampingnya ini, Asran juga melihat Hana dengan sorot mata yang tajam.


"Asran.. Sudah ya, kak mau pulang. Gak enak dilihatin orang kita ngobrol disini." Kata Hana mengalihkan pembicaraan. Dalam hati ia juga tidak berhenti mencari cara bagaimana melunakkan hati Asran, Agar lelaki itu mau menerima semua jalan takdir yang sudah terjadi diantara mereka.


"Kak.. Kak Hana masih sayang kan sama Asran? Bahkan masih cinta kan sama Asran?" Todong Asran tiba-tiba. Ditanya seperti itu membuat Hana langsung menggelengkan kepalanya.


"Gak Asran, kak gak ada perasaan apapun lagi ke kamu. Maaf!!" Kata Hana lalu menggeserkan tangan Asran dari motornya. Dia memang harus segera pergi dari sini. Tidak bisa lagi ia membiarkan dirinya berlama-lama berada didekat Asran. Hana takut ia akan lemah lagi karena Hana hapal sekali bagaimana tabiat Asran yang selalu memaksakan kehendaknya itu.


"Kak Hana gak boleh pergi." Asran kembali mencegah Hana untuk pergi. Bahkan kini dia berdiri didepan motor Hana dengan memegang bagian depan motor itu.


"Asran.. Kamu memang gak berubah ya! Sejak dulu lagi, sangat keras kepala." Umpat Hana.


"Kak Hana juga gak berubah, selalu plin-plan." Balas Asran.


Hana sedikit tersentak dengan pernyataan Asran barusan, yang membuat ia langsung terdiam. Hana Tidak tahu harus menjawab apa lagi, karena mungkin memang benar apa yang dikatakan Asran tentang dirinya. Hana yang plin - plan, terutama mengenai masalah hati dan perasaan yang mudah berubah-ubah.


"Kak, kenapa kak Hana cepat sekali berpalingnya? Kenapa kak Hana gak mau berjuang dulu, sama-sama kita hadapi ini semua. Kita cari solusinya gimana. Kenapa kak Hana begitu cepat menyerah dan bahkan langsung menerima lamaran dari lelaki itu?? Dan.. Yang paling menyakitkan, kak Hana malahmenerimanya langsung tanpa membicarakan dulu sama Asran. Bisa-bisanya setelah kak terima lamaran dari dia, baru kak kasih tau Asran. Asran seperti gak dianggap kak. Dengan seenaknya saja kak Hana mencampakkan Asran begitu saja, berarti selama ini kak Hana gak tulus dengan Asran. Benar begitu kak?? Kak Hana cuman memberikan harapan palsu setelah itu kak hempaskan harapan itu ke wajah Asran. Kak tinggalin Asran! Kak tega ya??" Ucap Asran panjang lebar.


Hana masih diam. Ia bisa merasakan bagaimana rasa sakit yang dirasakan Asran saat ini. Tapi, saat ini dia bisa apa? Semuanya sudah terlambat..


.


.

__ADS_1


.


Bersambung..


__ADS_2