
"Apa...?? Siapa yang mau menyakiti kamu Hana? Kamu dimana emangnya?" Tanya Andra dengan nada khawatir.
Hana diam beberapa detik seraya menatap tajam kearah Asran yang memasang wajah memelasnya.
"Ee.. Ini..Maksudnya aku tadi lagi dijalan.. Seperti ada yang ngikutin aku dari belakang. Tapi, sudah tidak ada lagi kok orangnya...." Kata Hana berbohong.
"Oo.. Syukurlah.. Aku risau juga jadinya mendengar kamu seperti ketakutan gitu. Yadah sekarang kamu dimana?" Tanya Andra lagi.
"Masih dijalan Ndra, didekat jembatan.."
"Baru pulang dari Puskesmas? Kenapa baru Pulang Na, Sudah sore begini?" Tanya Andra.
Hana tidak langsung menjawab pertanyaan Andra, ia kembali melihat kearah Asran yang masih diam mendengar percakapan Hana dan Andra melalui telpon.
"Hana?" Panggil Andra.
"Iya Ndra, Maaf.. Aku lanjut pulang dulu ya. Nantik kalo sudah di kos-an aku hubungi kamu ya.." Ujar Hana tanpa menjawab pertanyaan Andra tadi. Karena ia merasa tidak enak jika harus membuat kebohongan baru lagi untuk tidak menceritakan tentang Asran kepada Andra.
"Oke. Kamu hati-hati ya dijalan. Kalau ada apa-apa cepat hubungi aku ya.."
"Iya, Andra.."
Klik. Hana mengakhiri telponnya dengan Andra.
"Bawa sini kunci motor kakak, Asran." Kata Hana yang kemudian mengeserkan badannya agar dapat meraih kunci motornya yang masih ada di tangan Asran.
Asran menghindar dan menyembunyikan tangannya kebelakang punggungnya. Yang membuat Hana semakin kesal.
__ADS_1
"Mau kamu apa sech?" Tanya Hana dengan nada suara yang mulai meninggi.
"Asran mau kak Hana dengar dulu penjelasan Asran kak. Kak Hana jangan mendengar dari salah satu pihak aja kak. Ngak semua yang kak dengar dari Reynald itu benar kak.." Kata Asran.
"Kak ngak mau dengar apa-apa lagi Asran. Sudahlah.. kamu ngak usah repot-repot lagi menjelaskan ke kakak. Karena percuma Asran, kak sudah terlanjur sakit hati. Anggaplah sekarang kak maafkan kamu, tapi tetap tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Anggap saja kita tidak pernah kenal sebelumnya. Kamu hapus nomor kakak. Kak pun sudah blokir nomor kamu. Sudah. Selesai. Kak juga ngak mau lagi dituduh yang macam-macam sama Si Sherly, pacarmu itu." Jelas Hana panjang lebar.
"Sherly bukan pacar aku lagi kak!" Tegas Asran ke Hana.
"Terserahlah Asran. Mau Pacar atau siapa nya kamu, yang jelas kak ngak mau lagi lah berurusan dengan dia itu. Perempuan labil itu." Kata Hana.
"Sini kunci kakak.." Hana kembali meminta kunci motornya. Tapi, Asran masih menyembunyikan kunci motor tersebut dibelakang punggungnya.
"Bentar kak.. Ngak enak dilihatin orang kalau kita ngobrolnya dijalan.. Kita ke taman dekat polres yuk kak.." Ajak Asran tiba-tiba. Hana mengerutkan Keningnya. Merasa heran dengan ajakan Asran barusan.
"Ngak.." Jawab Hana.
"Kamu ini ya.." Kata Hana yang tidak mampu berkata-kata lagi.
"Maaf kak, Asran cuman ngak mau aja kak Hana salah paham dengan Asran. Makanya, sekaliii.. ini aja kak.. Kasih Asran kesempatan untuk menjelaskan semuanya ke kak Hana.." Ucap Asran setengah memohon.
Hana menghela nafas panjang. Tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mengelak permohonan dari Asran.
Hana merasa pertahanannya kembali lemah. dan sepertinya dirinya pun mulai merasa luluh oleh bujukkan dari Asran.
"Oke.. Tapi, kak ngak bisa lama-lama. Ini sudah sore.. 15 menit aja, Oke?" Kata Hana.
"Oke Siip. Di taman Ya?" Ujarnya seraya mengembalikan kunci motor Hana. Hana mengangguk mengiyakan
__ADS_1
Sesampainya di taman..
"Ayo, cepatan ngomongnya..Waktu terus berjalan ne" Ujar Hana karena melihat Asran tidak langsung berbicara.
"Sabar donk kak Hana, baru juga sampai..hehe" Kata Asran lalu melepaskan Helm yg digunakannya.
"Ngak mau duduk dikursi taman sana kak?" Tunjuk Asran kearah kursi taman.
"Disini aja lah.." Jawab Hana.
"Hhmm..Oke..."
"Ya sudah, cepat ngomong. Mau jelasin apa?" Kata Hana lagi seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
"Iya.. Iya, kak Hana maniss..Hhmmm... Gini kak, Asran akui awalnya memang Asran pernah membuat sebuah taruhan bersama kawan-kawan Asran, Taruhan itu memang melibatkan kakak. Dulu.. Awal pertama kita jumpa di lapangan, saat kak Ria perkenalkan kak Hana ke kami semua. Disitulah Taruhan itu dimulai kak. Salah satu kawan Asran menantang Asran agar bisa mendekati kak Hana bahkan mereka meminta untuk membuat Kak Hana suka ke Asran. Entah kenapa Asran terima-terima aja ajakan taruhan dari mereka. Dan sebagai gantinya mereka akan melakukan apapun yang Asran mintak sebagai imbalannya." Jelas Asran. Kemudian berhenti sesaat untuk mengambil nafas. Hana masih mendengarnya dengan seksama.
"Lalu Asran pun membalas chat kak Hana, yang mana sebelumnya Asran cuek dan sengaja saja tidak menanggapi chat kakak, waktu kakak beberapa kali Chat Asran...Tapi, setelah menerima taruhan itu lah sikap Asran jadi berubah ke kakak.. Itu semua awalnya cuman karena taruhan aja kak.. Seberapa bisa Asran membuat kak Hana jadi suka ke Asran..."
"Tapi, setelah itu.. lama kelamaan entah kenapa muncul aja rasa nyaman dihati Asran kak. Asran merasa agak beda aja dari niatnya cuman main-main menjadi suatu hal yang bagaimana ya.. sulit lah dijelaskan dengan kata-kata kak. Yang jelas... Sampai detik ini Asran merasa nyaman berkomunikasi dengan kak Hana. Bahkan Asran seakan jadi kenak batunya. Bukannya Kak Hana yang jadi suka ke Asran, malah sebaliknya... Asran yang jadi suka ke kak Hana. Tapi, waktu kak Hana bilang bahwa kakak sudah bertunangan, jujur Asran merasa kecewa kak.. Namun, apa mau dikatakan itu sudah menjadi pilihan kak Hana. Asran ngak bisa memaksa kakak.. cuman Asran berharap setidaknya kita masih bisa saling berkomunikasi seperti dulu lagi.. Entah itu sebagai teman, sahabat bahkan sebagai adik sekalipun kak Hana anggap Asran ini juga gak apa-apa... Bukannya dulu kak pernah bilang bahwa Asran ini mengingatkan kakak dengan adik kak yang sudah meninggal ituu.. Jadi, Asran berharap kak Hana buka lagi nomor Asran yang sudah kak blokir itu kak.. Dan.. Maafkan Asran.. Asran benar-benar mintak Maaf kak.." Jelas Asran dengan sinaran matanya yang terlihat sendu.
Hana menatap Asran untuk beberapa saat setelah itu ia kembali memandang lurus kedepan dengan helaan nafas yang panjang dan terasa berat.
"Sudah penjelasannya ?" Tanya Hana kembali melihat ke Asran sambil menaikkan alisnya.
"Hhmm... ada satu lagi kak. Mengenai apa yang dikatakan Reynald kemaren sama kakak saat dilapangan. Reynald sudah salah paham. Dia pikir Asran membawa kak Hana kemarin itu adalah salah satu rencana untuk taruhan, padahal sama sekali tidak kak. Karena salah Asran juga tidak jujur ke kawan-kawan yang lain bahwa Asran saat ini mendekati kak Hana bukan karena taruhan lagi, tapi.. benar-benar tulus ingin berhubungan baik dengan kak Hana.. Sudah itu aja kak.." Kata Asran seraya tersenyum manis ke Hana dengan tatapannya yang penuh arti..
Bersambung..
__ADS_1