Reminiscent

Reminiscent
DI LABRAK


__ADS_3

Berkali-kali Hana me-reject nomor baru yang sedari tadi menelponnya. Meskipun Hana tidak menyimpan nomor itu, namun ia tahu itu nomor siapa. Hana malas sekali jika harus meladeni perempuan labil yang telah menuduhnya macam-macam.


Perempuan itu adalah Sherly, Pacarnya Asran. Walaupun dulu Asran pernah bilang bahwa Sherly sudah jadi mantannya, tapi.. Si Sherly mengaku bahwa dirinya masih berstatus pacarnya Asran.


Akan tetapi, Hana bersikap masa bodo. Mau pacar atau mantan sekalipun Hana tetap tidak peduli. Yang jelas saat ini ia sangat merasa terganggu sekali dengan panggilan telpon dan juga chat berkali-kali dari perempuan itu.


"Di blokir aja kali ya.." Kata Hana pada dirinya sendiri. Karena hampir setiap saat nomor itu selalu menghubunginya. Padahal Hana sudah menjelaskan panjang lebar lewat pesan Whatshap Bahwa dia tidak ada hubungan apa-apa dengan Asran. Dan malahan ia juga bilang bahwa telah memblokir nomornya Asran. Tapi, tetap si perempuan itu tidak percaya dan malahan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas ke Hana.


"Kenapa Han? Siapa sech yang nelpon? Dari tadi Hp mu berdering terus tapi kok gak diangkat?" Tanya Tia penasaran. Pagi itu mereka tengah sarapan di kantin depan Puskesmas.


"Yang nelpon pacarnya Asran." Jawab Hana dengan cemberut karena dirinya merasa telah diteror oleh perempuan itu.


"Hah? Jadi, Asran sudah ada pacarnya ya? Brengsek juga dia ya.. Sudah ada pacar tapi mendekati kamu juga" Kata Tia dengan kesal.


"Entahlah Tia.." Jawab Hana sambil mengangkat bahunya.


"Terus.. pacarnya itu nelpon kamu mau ngapain?" Tanya Tia lagi.


"Dia Gak percaya kalau aku ini gak ada hubungan spesial dengan Asran itu. Katanya.. Asran tinggalin dia gara-gara aku. Ya jadi dia mengingatkan aku terus untuk tinggalin Asran. Dan parahnya lagi kata-katanya itu gak sopan banget Tia, dia nuduh aku yang bukan-bukan. Makanya aku malas ngeladenin dia." Jawab Hana.


"Kamu blokir aja nomornya Hana." Perintah Tia yang mulai merasa geram apalagi saat membaca pesan Whatshapp dari perempuan itu yang disodorkan Hana ke dirinya.


"Memang dasar masih ABG banget dia ne.. kata-katanya terlalu berlebihan..Iih.." Komentar Tia masih melanjutkan membaca pesan masuk bertubi-tubi ke nomornya Hana.


"Aku harus ngapain ne Tia?" Tanya Hana bingung.


"Blokir aja nomornya Hana, Seperti yang kamu lakukan ke Asran." Saran Tia.

__ADS_1


"Hhhmmm.. Sebenarnya aku gak sampai hati juga sech harus blokir-blokir nomor kayak gini. Tapi, ya sudahlah.. dari pada aku pusing mikirin ini setiap hari" Putus Hana akhirnya.


Beberapa menit kemudian..


Tampak seorang wanita putih dan bertubuh langsing turun dari ojek yang ditumpanginya. Dan kini ia tengah berdiri didepan Puskesmas. Ia terlihat tengah celingak celinguk disekitaran situ sambil sesekali mencoba menghubungi nomor seseorang menggunakan Handphonenya


"Maaf kak, mau tanya boleh??" Kata wanita itu pada seseorang yang baru saja keluar dari Puskesmas.


"Boleh..mau tanya apa ya?"


"Kakak kenal dengan yang namanya Hana tidak? Dia bekerja di Puskesmas ini" Kata Wanita tersebut.


"Ooh.. Kak Hana.. Kenal Donk." Jawabnya.


"Yang mana orangnya kalau boleh tau kak" Tanya wanita itu.


Sesampainya dikantin...


"Nah, itu kak Hananya.." Katanya sambil menunjuk kearah Hana yang Tengah mengobrol dengan Tia. Mendengar namanya disebut Hana langsung menoleh kesamping dan mendapati Rini ada disana bersama dengan seorang perempuan yang tidak Hana kenal.


Raut wajah perempuan disebelah Rini itu langsung berubah ketika pandangan matanya beradu dengan pandangan mata Hana.


"Jadi, dia yang namanya Hana?" Tanya wanita itu ke Rini untuk memastikan sekali lagi.


"Iyaa itu kak Hana. Kak Hana, ada yang nyariin ne.." Ucap Rini setengah berteriak.


Hana memandang kearah perempuan muda dan cantik yang ada disamping Rini dan kini ia malah memandang Hana dengan tatapannya yang tajam.

__ADS_1


"Akhirnya aku ketemu juga dengan kak Hana" Katanya dengan tersenyum kecut. Ia berjalan mendekat kearah meja tempat Hana dan Tia makan. Hana dan Tia saling berpandangan karena bingung dan tidak kenal dengan perempuan tersebut.


"Kak, Sekali lagi aku tegaskan kek kak Hana ya. Aku ngak main-main kak. Aku serius! Mungkin kak bisa tidak mengangkat telpon aku dan juga tidak membalas chat aku. Tapi, aku ngak akan tinggal diam gitu aja melihat kakak terus-terusan berhubungan dengan Asran, Pacar AKU..!" Katanya dengan nada suara yang mulai meninggi.


Hana tersentak ketika nama Asran yang disebut oleh wanita itu. Dan sudah dapat dipastikan bahwa wanita yang datang bersama Rini itu adalah Sherly. Sungguh Hana tidak pernah menyangka wanita itu akan nekat mencarinya sampai ketempat kerjanya Hana.


Semua orang memandang Hana dengan pandangan bingung, penasaran dan penuh dengan tanda tanya. Dikantin itu ada beberapa teman Puskesmas Hana dan juga beberapa lelaki berseragam polisi.


"Dulu aku pernah ingatkan kakak juga kan kalau Asran itu pacar aku. Tapi, kenapa sech kak Hana masih menggoda Asran dan malahan ngotot ikut bersama dia untuk menonton pertandingan volynya dia, Ha?" Tanyanya lagi dengan semakin membesarkan suaranya.


Hana masih diam. Ia merasa lidahnya seakan kaku sehingga tidak bisa mengeluarkan suara untuk sekedar menyanggah semua ucapan yang keluar dari mulutnya Sherly.


Sejujurnya Hana masih merasa tidak siap dengan kejadian yang tiba-tiba ini. Dilabrak oleh seseorang dan orang tersebut malah menuduh sesuatu hal yang sama sekali tidak ia lakukan.


"Aku mintak sama kak Hana. Mulai detik ini tolong jauhi Asran!" Tegasnya lagi.


"Jangan hubungi Asran. Jangan Menggoda dia lagi. Seharusnya kak sadar diri donk. Kak dengan Asran itu beda jauh umurnya kok malah suka dengan yang lebih muda sech!" Lanjutnya lagi dengan sinis.


Hana yang masih diam malah merasa semakin tersudutkan.Sherly berkata-kata seolah-olah Hanalah yang paling bersalah. Semua mata memandang Hana dengan pandangan aneh.


Hana merasa dipermalukan.


"Saya tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Asran." Jawab Hana. Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Lalu Hana bergegas pergi dari sana diikuti oleh Tia dibelakangnya.


Teman Hana yang lain termasuk Rini dan beberapa orang polisi yang kebetulan ada di kantin itu sibuk berbisik-bisik membicarakan Hana. Sedangkan Sherli tampak tersenyum puas karena telah berhasil mempermalukan Hana didepan orang banyak. Setidaknya rasa sakit hati karena ditinggalkan Asran sedikit terobati dengan mempermalukan wanita yang sudah merebut hati Asran darinya..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2