Reminiscent

Reminiscent
KEKHAWATIRAN


__ADS_3

Arman dan juga 2 orang perawat IGD yang bertugas siang hari itu sudah selesai menjahit dan memperban luka di kaki serta dibagian kening Asran.


Hana yang sedari tadi masih setia disamping Asran merasa cukup lega karena luka Asran tidak begitu parah. Namun, tidak dipungkiri Hana merasa begitu bersalah karena gara-gara untuk menyelamatkan dia, Asran yang jadi korbannya.


Sebenarnya Hana tidak begitu yakin dengan apa yang Asran bilang tentang orang yang mau menabrak dirinya. Tidak mungkin bagi Hana, Tapi jika dipikir-pikir.. Sebelum dia menyebrang tadi Hana sama sekali tidak melihat ada motor disebelah kanannya, lalu mengapa ketika dia sudah sampai ditengah jalan motor itu tiba-tiba muncul. Bersembunyi dimanakah motor itu sebelumnya?


"Asran, ini minum dulu.." Hana menyodorkan sebuah minuman mineral yang memang ada didalam tasnya dan belum dibuka.


"Makasih ya kak.." Jawab Asran lalu meminum air mineral tersebut.


"Asran, Apa yang kamu rasa sekarang ini?" Tanya Hana dengan menatap erat wajah Asran.


Asran membalas tatapan Hana dengan wajah yang bingung.


"Yang Asran Rasa kak? Hhmm.. Rasa apa ya? Rasa.. Sayang mungkin.." Jawab Asran lalu tersenyum dengan begitu manis.


Hana yang sadar akan candaan Asran, reflek saja langsung memukul bagian bahunya.


"Aduh kak, kok dipukul?" Tanya Asran dengan wajah yang tak bersalah.


"Kamu ltu jawabannya gak nyambung. Maksud kak luka kamu yang dijahit itu, masih terasa sakit atau tidak ?" Tanya Hana dengan kesal.


"Ooo.. itu maksudnya, Makanya yang jelas donk kak tanyanya, Biar gak salah tanggap Asran jadinya, haha.." Kata Asran setelah itu tertawa.


"Agak terasa nyut-nyutan di jahitannya ne kak.. Apa efek biusnya sudah mulai habis ya?" Lanjut Asran lagi dengan bertanya ke Hana.


"Iya, mungkin. Oya, kamu kan belum minum obat. Bentar ya kak ambilkan.." Lalu Hana beranjak dari sana dan mengambil obat untuk Asran di lemari obat.


"Ini kamu makan obat anti nyeri dan antibiotik nya.." Hana menyodorkan 2 macam obat tersebut.


"Makasih ya kak.." Ucap Asran dan setelah itu menelan obatnya.


Beberapa saat kemudian..


"Kak.." Asran memanggil Hana dengan wajah yang serius. Hana menoleh ke Asran.


"Iya.. Kenapa?"

__ADS_1


"Aku khawatir aja kak.. Kalau seandainya memang ada orang yang berniat tidak baik sama kak Hana. Takutnya.. Nantik dia nekat mengulang lagi perbuat buruknya itu kak.." Kata Asran dengan raut wajah yang terlihat risau.


"Lain kali kak akan lebih berhati-hati lagi Asran. Tapi, mudah-mudahan saja kekhawatiran kamu itu tidak benar.." Ujar Hana.


"Hhhmmm... Ya mudahan-mudahan aja kak, Cuman.. Asran akan tetap menyelidikinya kak. Untung tadi Asran sempat menghafal nomor Plat motornya. Nantik Asran selidiki pokoknya. Siapa orang itu.." Ucap Asran dengan geram.


"Ya.. Terserah kamu ajs Asran. Oya, Kak belum ngucapin terimakasih sama kamu. Makasih Ya Asran.." Ucap Hana seraya tersenyum.


"Makasih untuk apa kak?" Tanya Asran dengan menaikkan alisnya.


"Ya terimakasih karena sudah nolong kakak. Karena kalo gak ada kamu.. Pasti kak yang tertabrak tadi. Tapi, kak merasa gak enak juga sama kamu. Gara-gara tolongin kakak malah kamu yang jadi cedera seperti ini. Maaf ya Asran.." Kata Hana dengan perasaan yang tidak enak terhadap Asran.


"Gak Masalah kakak ku.. Kan tadi sudah Asran bilang. Asran gk apa-apa. Yang penting keselamatan kak Hana." Kata Asran dengan senyuman khasnya itu. Lagi-lagi Hana merasa tersentuh dengan kata-kata Asran barusan. Kata darinya yang mampu menyejukkan hati Hana.


"Ya tetap aja kakak merasa gak enak Asran.."


"Udah Donk Kak Hana Sayang.. Dari tadi merasa gak enak terus, dienak-enak kan aja kak, hehe.." Kata Asran dengan lembut.


Hati Hana seakan bergetar ketika Asran menambah kata Sayang setelah memanggil namanya. Tapi, Hana berusaha menepisnya dan berpura-pura tidak mendengarnya.


"Terus nantik kamu pulangnya gimana ya? Pasti belum bisa bawa motor kan, apa mau diantar pakai ambulan aja? Kalau iya, Nantik kak bilangin sama supir ambulannya dulu.." Ujar Hana seakan menemukan ide yang bagus.


"Aduh.. aduh.." Kemudian Asran berhenti tertawa saat merasa nyeri pada bagian kakinya yang di jahit tadi.


"Makanya jangan terlalu lasak dulu, Asran. Jahitannya masih basah juga.." Omel Hana.


"Ya, kak.." Ucapnya.


"Asran telpon Reynald dulu ya kak. Biar Reynald saja yang jemput Asran.." Lanjut Asran dan setelah itu ia langsung menelpon Reynald, temannya.


Beberapa menit kemudian 2 orang polisi tampak datang dan masuk ke ruang IGD. Hana mengenali salah satu dari mereka, wajahnya tidak asing. Hana pun teringat bahwa dialah teman Asran yang waktu itu memberitahu Hana tentang Asran yang telah menjadikannya bahan taruhan.


"Kenapa kau, Asran? Siapa yang nabrak Kau?" Serbu Reynald dengan pertanyaan ke Asran.


Asran menceritakan apa yang dialaminya kepada kedua orang temannya tersebut. Hana sedikit menjauh dari sana dan duduk di samping Arman yang tengah mencatat status pasien.


"Siapanya kak Hana cowok yang ditabrak itu kak?" Tanya Arman penasaran.

__ADS_1


"Teman kakak.." Jawab Hana.


"Polisi Ya?" Tanya Arman lagi. Hana hanya menganggukkan kepalanya.


"Kak Hana.." Tiba-tiba Asran memanggil Hana.


Hana langsung berdiri dan berjalan ketempat tidur Asran.


"Iya, Kenapa Asran?" Tanya Hana. Reynald yang seperti baru sadar akan keberadaan Hana langsung tersenyum tipis.


"Kak.. Kak Hana nantik pulang bareng sama kami aja ya.. Kami antar kak Hana sampai kerumah. Karena takutnya orang itu nantik balik lagi mau mencelakai kak Hana.." Kata Asran dengan nada khawatir.


"Oh.. Iya.. Boleh lah.. " Jawab Hana.


Beberapa saat kemudian, mereka pun beranjak pergi. Asran di boncengan oleh Reynald menggunakan motornya, sedangkan kawan Asran yang satu lagi membawa motor Asran begitu juga dengan Hana.


Hana mengendarai motornya paling depan dan diikuti oleh Asran dan juga temannya sampai akhirnya mereka tiba didepan rumah Hana.


"Kak Hana.. Asran pulang dulu ya, Kalo ada apa-apa kak cepat kabarin Asran ya kak.." Kata Asran sebelum pergi dari rumah Hana. Masih terdengar jelas nada kekhawatiran dari perkataan Asran tersebut.


Hana hanya menganggukkan kepalanya, ia tidak banyak mengeluarkan suara karena sebenarnya ia agak merasa segan dengan kedua teman Asran apalagi Reynald yang selalu menatap dingin kearah Hana.


Sepeninggalan Asran, Hana kembali teringat akan tekadnya tadi sebelum kejadian ia hampir ditabrak. Tekad dan keyakinan untuk tidak lagi berhubungan dengan Asran dan membuat lelaki itu menjadi benci padanya. Namun, kini apa yang terjadi? Hana malah merasa bersalah yang teramat dalam pada Asran. Bagaimana mungkin dia bisa menjauh dari lelaki yang sudah menyelamatkannya ? Dan juga rela cedera karena untuk menolong dirinya ?


Hana jadi ragu dan tidak tahu harus berbuat apa..


.


.


.


Bersambung..


Jangan Lupa Tinggalkan Like dan Komentnya ya.. Terimakasih...


.

__ADS_1


.


__ADS_2