Reminiscent

Reminiscent
KEKHAWATIRAN ANDRA


__ADS_3

"Oh, ya? Kak Hana sudah ada tunangan? Terus.. Kenapa dia mau ngomong sama saya?" Tanya Asran dengan heran.


"Iya, sudah.. dan akan menikah 1 minggu lagi" Jawab Hana datar.


"Ooh.." Kata Asran terdengar agak kecewa. Meskipun demikian, ia tetap mengambil handphone yang sejak tadi disodorkan oleh Hana.


Setelah Hp itu sudah ditangannya, Asran langsung menyapanya.


"Iya, Halo?" Sapa Asran kepada tunangan Hana.


"Asran, ini aku. Andra." Kata Andra. Asran langsung kaget seketika mendengar ia sedang berbicara dengan Andra yang ia kenali sebagai abang dari mantan pacarnya, Sherly.


"Ini.. Bang Andra abangnya Sherly bukan?" Asran bertanya dengan ragu. Dalam hati ia berfikir, Mana tahu saja salah orang dan kebetulan namanya saja yang mirip.


"Yup, benar sekali Asran." Jawab Andra dengan santainya.


"Oh, jadi.. Bang Andra ini.. Sama kak Hana..."


"Iya, Hana tunangan abang. Dan dalam hitungan hari lagi kami akan menikah." Potong Andra langsung.


"Gitu ya..." Desis Asran sembari melirik sekilas kearah Hana.


"Ya begitulah, jadi kamu gak perlu lagi penasaran Hana itu siapa, sampai-sampai kamu susul dia kerumah. Abang tau kamu kehilangan ingatan kamu sebagian, dan.. Kamu gak ingat Hana karena memang kamu kenal dia cuman baru sebentar." Jelas Andra.


"Ya. Maaf bang, aku benar-benar gak tau kalau kak Hana itu tunangan bang Andra, sekali lagi aku minta maaf.." Ucap Asran merasa tidak enak.


"Oke. Lain kali jangan diulangi lagi, kamu membuat Hana tidak nyaman. Sekarang kamu pulang dan minta maaf juga dengan Hana." Suruh Andra. Asran langsung mengiyakannya.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai Asran telponan dengan Andra..


"Nih, kak... Handphonennya," Kata Asran dengan menyodorkan hp Hana. Hana langsung mengambilnya.


"Maaf sudah salah mengira kak. Aku benar-benar gak ingat kalau kak ini ternyata tunangan bang Andra. Maaf sekali sudah menganggu" Kata Asran.


"Ya gak apa-apa." Sahut Hana.

__ADS_1


"Lagi pula, kak Hana kenapa gak bilang dari awal yang sebenarnya. Kalau tau gitu kan.. aku gak mungkin melakukan hal bodoh seperti ini. Tapi, ya sudah lah.. Mungkin memang akunya yang bodoh dan cepat terbawa perasaan aku yang aneh ini.." Kata Asran dengan merayau tidak jelas. Hana hanya diam mendengarkannya.


"Aku permisi dulu. Maaf sudah mengganggu" Pamit Asran. Ia langsung berdiri, tanpa menunggu jawaban Hana, Asran bergegas menuju ke motornya dan beberapa saat kemudian dia pergi meninggalkan rumah Hana.


Hana melihat kepergian Asran dengan hati dan perasaan yang sulit sekali diungkapkan saat ini. Meskipun ia lega Asran sudah pergi dan dapat dipastikan ia tidak akan lagi kembali mengganggunya. Namun, lagi-lagi.. Seperti ada kengiluan di relung jiwanya. Yang membuat dia tidak mampu untuk menghindari sebuah rasa yang kembali merasuki dirinya..


****


Andra menatap benda pipih yang baru ia letakkan diatas mejanya. Ia tampak seperti sedang berpikir keras hingga akhirnya ia kembali meraih handphonenya dan menghubungi nomor Hana.


"Sayang, bagaimana?? Asran sudah pergi dari rumah kamu?" Tanya Andra, setelah Hana mengangkat telpon darinya.


"Sudah, sekitar 15 menit yang lalu." Jawab Hana.


"Ooh.. Syukurlah, aku khawatir saja.." Kata Andra dengan lega.


"Khawatir kenapa ?" Tanya Wanita tersebut.


"Hhmm.. Entahlah Hana, perasaan aku gak enak aja setelah tau Asran nekat mengikuti kamu hingga kerumah tadi"


"Ya, Mudah-mudahan saja."


"Na, Sayang.." Panggil Andra lagi dengan suara yang lembut.


"Iya," Sahut Hana.


"Kamu lagi ngapain?"


"Aku.. Gak lagi ngapain-ngapain kok. Lagi baring-baring aja. Kalau kamu lagi ngapain?" Hana balik bertanya.


"Lagi mikirin kamu.." Gombal Andra dengan diselingi tawa kecilnya.


"Hhhmmm..." Hana tidak menjawab hanya sebuah gumaman yang didengar oleh Andra.


"Tapi, serius.. Aku memang lagi mikir kok. Jujur.. Aku masih kepikiran tentang masalah yang tadi. Rasanya belum puas aja jika aku tidak memastikannya sendiri." Kata Andra lagi.

__ADS_1


"Ini.. Tentang Asran?" Tanya Hana dengan ragu-ragu.


"Yah, Memang benar. Ini tentang Asran. Aku rasa cepat atau lambat pasti dia akan ingat kamu, Hana. Dan... Aku sebenarnya tidak takut jika ingatan dia kembali, dia akan gencar lagi mendekati kamu. Sebenarnya hal itu gak masalah bagi aku jika kamu bisa menjauh darinya dan benar-benar bjsa menjaga hati kamu. Cuman.. Yang aku takuti malah sebaliknya, Na. Aku takut.. Hati kamu malah berpaling dan kembali terpaut kepadanya. Kalau sudah hati yang berubah, aku gak bisa berbuat banyak lagi Hana.. Selain mengalah dan merelekan kamu.." Kata Andra mengutarakan apa yang ia rasakan saat ini.


Begitulah Andra, lelaki berwajah manis itu tidak suka memendam segala hal yang berkecamuk di pikiran nya, pasti.. Ia akan langsung mengutarakan kepada yang bersangkutan. Seperti saat ini, dia yang merasa takut jika perasaan Hana akan berubah jika Asran kembali mendekatinya. Meskipun tanggal pernikahan mereka sudah semakin dekat, tidak menutup kemungkinan juga hal yang ditakutinya itu akan terjadi. Maka dari itulah, Andra mengungkapkan apa yang ia rasakan ke Hana saat ini. Kekhawatirannya yang begitu besar dan juga rasa takut yang semakin dalam menghantuinya.


"Andra, kamu kenapa bahas ini lagi sih?" Tanya Hana merasa tidak senang. Karena bukan sekali dua kali lelaki itu berkata seperti ini kepadanya yang seolah-olah ia meragukan akan kesetiaan Hana terhadap dirinya.


"Maaf Hana... Tapi, aku pikir ini memang harus kita bahas. Sebelum apa yang aku takutkan itu benar-benar terjadi. Aku cuman mau lebih menekankan ke kamu saja..."


"Kamu berkata seperti itu seakan menyudutkan Aku, Andra. Seolah-olah aku inilah yang gak bisa menjaga hati aku" Potong Hana dengan sedikit menaikkan nada bicarannya.


"Aku gak suka selalu ditekan-tekan seperti ini. Dicurigai bahkan dituduh yang macam-macam. Aku gak suka" Sambung Hana lagi dengan emosi.


"Hai.. Hai.. Kamu kok jadi emosi gitu? Aku gak ada mencurigai kamu sayang.. Apalagi menuduh kamu.." Kata Andra dengan suara yang lembut.


"Ya sudah lah, aku capek.. Mau istirahat dulu. Nantik aja kita sambung lagi,"


Klik. Telepon terputus.


Tanpa menunggu jawaban dari Andra dan juga tanpa mengucapkan salam, Hana memutuskan hubungan via telepon mereka sore itu.


Andra duduk termangu diatas tempat tidurnya.


Andra yakin Hana pasti merasa marah dan mungkin juga tersinggung atas ucapannya. Padahal Andra tidak bermaksud membuat wanita itu tersinggung, entah kenapa Andra merasa Hana agak sensitif kali ini. Biasanya Hana yang selalu sabar dan tidak gampang tersulut emosi. Hal inilah yang semakin membuat rasa kekhawatiran didalam hati Andra semakin besar dan memuncak...


.


.


.


.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2