
Saat Hana membuka matanya. Dia sudah berada diruang IGD Puskesmas. Selang infus sudah terpasang ditangan kirinya. Hana mencoba mengingat-ingat kejadian terakhir yang membuat kepalanya sakit dan akhirnya tumbang. Dan ia ingat Terakhir kali dia sedang bersama Dokter Andra.
“Hana, sudah sadar…” Tanya Kak Imel yang bertugas di IGD pagi itu.
“Hana kenapa ya kak?” Tanya Hana bingung.
“Kamu pingsan! Dokter Andra yang membawa mu kesini dari ruangan mu…” Ujar Kak Imel.
“Dokter Andra….” Ucap Hana lirih. Hana seakan malu dan merasa tak enak hati saat membayangkan bagaimana Dokter itu mengangkat tubuhnya yang pingsan dan membawanya ke IGD. Jarak ruangannya ke IGD lumayan jauh, pasti capek dan belum lagi semua teman-temannya pasti melihat kejadian itu.
“Kamu istirahat aja dulu Han, jangan banyak pikir…” Ucap Kak Imel yang memeperhatikan Hana yang tampak seperti berfikir keras.
“Hana mau istirahat dirumah aja dech kak,” Ucap Hana.
“Boleh, tapi tunggu persetujuan Dokter Andra dulu ya….” Kata Kak Imel.
“iya kak…” Jawab Hana.
Beberapa menit kemudian, Tia datang dan disusul dengan beberapa orang temannya yang lain. Mendadak ruang IGDpun penuh sesak dengan kedatangan teman dan senior Hana yang melihat keadaan Hana.
“Dokter Andra so sweet banget tadi waktu Gendong kak Hana..” Ucap Tika dengan ekspresi centilnya.
“Iya, kok bisa Dokter Andra mendapati kakak pingsan diRuang KIA? Bukannya kak sendirian ya diruangan tadinya…” Tanya Lani dengan bingung.
“Kalian pakai tanya-tanya lagi, sudah jelas mereka itu sedang pacaran., hahaha…” Kali ini Kak Septi ikut berkomentar. Hana hanya diam, malas rasanya dia menanggapi pertanyaan dari teman-temannya itu.
“Aku mau pulang aja Tia, kamu bisa antar aku kan?” Tanya Hana setelah teman dan seniornya pergi meninggalkan Ruang IGD, saat itu Hana hanya tinggal berdua dengan Tia.
“Bukannya aku ngak mau Han, tapi kamu tau sendirikan hari ini jadwal aku vaksin di Desa, dan ini sebenarnya aku sempat-sempatkan lihatin kamu… atau kalau tidak kamu tunggu disini aja dulu sampai sore… nantik setelah selsai vaksin, aku antar kamu pulang. Gimana?”
“Sampai Sore…??” Tanya Hana sambil melihat jam ditangannya. Jam masih menunjukkan pukul 11.00 siang.
“Hhmm… kelamaan Tia, apa aku pulang sendiri aja kali ya….”
“Jangan…” Sebuah suara terdengar dari depan pintu IGD. Suara milik seorang lelaki yang telah menggendong Hana tadi.
“Maksud aku, kalau Kak Tia ngak bisa antar Kak Hana… biar aku saja yang antar Kak Hana…” Ucap Andra menawarkan dirinya.
“Ide yang bagus itu…” Jawab Tia langsung sambil senyum-senyum. Hana melotot kearah Tia tanda protes.
“Ya sudah, mana kak Imel… biar dilepas infusnya… Oya, perginya pakai motor Dokter Andra saja ya, nantik motor Hana biar aku urus, mintak tolong Bang Ferdi atau siapa gitu untuk antarkan kerumah mu Han,” Atur Tia.
“Tapi,..”
“Sudah ngak ada tapi-tapian Hana…” Kata Tia lagi setelah itu keluar mencari kak Imel.
“Gimana keadaannya Kak?” Tanya Andra tampak khawatir.
“Sudah agak mendingan, Dok…” Jawab Hana.
“Syukurlah, aku khawatir banget tadi Lo kak…”
“Apakah karena perkataan aku tadi yang membuat kakak pingsan?” Tanya Andra dengan hati-hati.
__ADS_1
“Ngak kok, Dok. Aku sebenarnya memang lagi ngak enak badan, sakit kepala juga sejak tadi malam” Jawab Hana dengan jujur.
“Kalau ngak enak badan, kenapa masuk kak? Istirahat aja dirumah…”
“Iya, tadi pagi sudah agak mendingan. Ngak nyangka aja siangnya kambuh lagi”.
“Ya sudah, aku antar pulang ya…” Hana hanya mengangguk. Setelah itu Tia datang bersama kak Imel. Kak imel lalu melepas infus Hana. sedangkan Dokter Andra meresepkan obat untuk Hana bawa pulang.
Setelah itu, Kak Imel dan Tia mengantarkan Hana sampai keparkiran. Dokter Andra sudah menunggu mereka disana. Ia sudah standbay diatas motornya.
“Yuk Kak, Naik…” Ajaknya ketika melihat Hana yang masih terpaku diam, kelihatan ragu-ragu untuk naik ke bangku bagian belakang motornya.
Hana menatap sekilas ke Tia, Tia hanya tersenyum menenangkan Hana.
Sampai akhirnya Hana naik juga, Hana duduk menyamping karena dia saat itu bergamis.
“Hati-hati ya…” Teriak Kak Imel sebelum mereka berlalu dari sana.
Ini untuk kedua kalinya Hana berboncengan dengan Dokter Andra. Tapi, kali ini Hana merasa agak berbeda dengan yang dulu. Dulu dia selalu mengutuk dan kesal, tapi tidak kali ini. Malah sebaliknya, ada sebuah rasa nyaman yang tiba-tiba muncul dihatinya. Meskipun sepanjang perjalanan mereka saling diam, beda dengan waktu dulu Andra selalu memancing pembicaraan tapi kini dia hanya diam.
Akhirnya mereka sampai didepan kosan Hana. Andra memberhentikan motornya lalu Hanapun turun.
“Terimakasih banyak Ya, Dokter Andra” Ucap Hana.
“Sama-sama kak,” Jawabnya.
“Ya sudah aku balik lagi ke Puskesmas ya kak. Kakak istirahat ya, kalo ada perlu apa-apa jangan sungkan hubungi aku…” Tawarnya. Hana hanya mengangguk.
“Aku pamit dulu kak, Assalamu’alaikum…”
“Iya. Hati-hati ya.. Wa’alaikumusalam…”
Lalu Andra beralu dari sana. Hana memperhatikan Andra sampai hilang dari pandangannya. Setelah itu, barulah ia masuk kedalam kosannya.
***
Hana tidak masuk kerja selama 3 hari. Dia demam. Dan dihari ketiga keadaan Hana mulai pulih. Tapi, Hana tidak langsung masuk kerja.
Sebelum Hana sakit dia sudah mengajukan untuk cuti alasan penting. Hana Ingin pulang kerumah orang tuanya. Sudah berbulan-bulan ia tidak pulang dan menemui orang tuanya.
Dan akhirnya hari itu tiba, hari dimna Hana akan berangkat ke Kota kelahirannya. Pagi itu Hana telah rapi dan siap untuk diantar kak Ria ke pelabuhan.
“Terimakasih ya ka,” Ucap Hana saat mereka sudah sampai di pelabuhan.
“Sama-Sama, Na… oya kamu ngak lama kan disana?”
“Sekitar 7 hari lah kak…” Jawab Hana.
“Oh.. syukurlah, Ngak lama. Oiya, salam ya sama orang tua mu…”
“Oke kak..” Jawab Hana sambil tersenyum.
Setelah itu kak Ria pamit pergi duluan karena mau mengantar anaknya sekolah.
__ADS_1
Hana masuk kedalam pelabuhan. Dan kemudian langsung menuju ke kapal yang akan membawanya ke kota. Hana duduk dibagian paling depan, orang yang berangkat saat itu tidak begitu ramai karena bukan dihari libur jadi masih banyak kursi kosong dibelakang.
Hana mengambil Hp dari dalam tasnya. Ia mengecek pesan WA yang masuk.
“Hati-hati dijalan ya Han,” Ada WA dari Tia. Hana Langsung membalasnya.
Beberapa saat kemudian, ada seseorang yang masuk dan langsung duduk disamping kursi kosong yang ada disebelah Hana. Karena memang penumpang tersebut duduk berdasarkan nomor tiket. Hana menduga lelaki berjaket coklat itu yang memiliki nomor tiket sebelah Hana. Sekilas Hana melihat kearahnya, Meskipun lelaki itu berjaket, tapi tetap masih terlihat baju ********** yaitu berkostum polisi.
Tiba-tiba Hana teringat Asran. Sejak pertemuan terakhir mereka ditaman, Hana tak pernah lagi mendengar kabar darinya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Sebenarnya tangan Hana gatal ingin men-Chat dia duluan, untuk sekedar menanyakan kabar. Tapi diurungkan niatnya itu. Karena Hana merasa ini adalah jalan terbaik bagi dia dan Asran. Dia tak ingin memancing dan memulai untuk memunculkan kenekatan yang pernah Asran lakukan terhadapnya. Dan juga pengakuan rasa suka yang pernah dilontarkan lelaki itu… Dia tak boleh mengharap lebih kepada Asran!!
***
Akhirnya Hana sampai ke Kota dengan menempuh perjalanan laut selama 4 jam. Hana lalu memesan Taksi Online dan langsung menuju rumahnya yang terletak lumayan jauh dari pelabuhan.
Sesampainya dirumah, Hana disambut girang oleh kedua orang tuanya. Mama dan Papa Hana sangat antusias menyambut kedatangan Hana. Karena setelah kepergian Reno, Hanalah yang menjadi tumpuan hidup mereka, semua harapan terletak pada Hana.
Hana menghabiskan siang itu untuk bercengkerama dengan kedua orang tuanya. Setelah puas mereka saling bercerita, lalu Hana pamit kekamar hendak mandi dan mengganti pakaiannya. Kemudian Hana membawa kopornya kekamarnya. Setelah mandi dan menyusun pakaiannya kedalam lemari, Hana langsung keluar kamar dan bertujuan hendak kedapur, perutnya sudah keroncongan. Tapi, niatnya itu ditunda dulu saat Hana menatap kamar Reno yang terletak tepat disebelah kamarnya. Hana memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya Reno.
Sesampainya didalam kamar Reno, Hana lalu melihat sekeliling kamar yang terlihat rapi meskipun banyak debu dimana-mana dan juga sarang laba-laba di plavon kamarnya. Lalu Hana duduk dipinggir ranjang Reno sambil memegang dan memandang photo Reno. Tanpa dipinta, air mata Hana sudah mengenang dipelupuk matanya. Dan detik kemudian, air mata itupun tumpah. Dia begitu sangat merindukan Reno, adik kesayangannya.
Hana masih sibuk meratapi kerinduannya terhadap Reno, sampai ia tidak menyadari ternyata Mama Hana sudah berdiri tepat didepannya.
“Kenapa Hana?” Tanya Mamanya. Hana mengangkat kepalanya yang tertunduk lalu mengusap air matanya.
“Ngak Ma, Cuma keingat Reno aja” Jawab Hana.
“Reno sudah tenang disana Hana, jangan berlarut-larut meratapinya, cukup kamu doakan aja dia…” Ujar Mama Hana sambil mengusap punggung Hana.
“Iya Ma,” Jawab Hana masih terisak-isak.
“Oiya, berhubung kamu disini. Lusa Mama mau ngajak kamu ketemuan dengan teman Mama dan juga dengan anaknya..” Ucap Mama Hana mengalihkan pembicaraan. Mama Hana tampak antusias sambil tersenyum penuh arti ke Hana.
Hana hapal sekali gelagat Mamanya itu, dan Hana yakin untuk sekian kalinya Mamanya akan menjodohkan dirnya lagi dengan lelaki pilihannya. Hana hanya bisa menarik nafas panjang.
***
Dua hari kemudian, seperti yang sudah direncanakan Mama Hana, bahwa hari ini dia akan mengenalkan Hana dengan anak dari temannya. Mereka akan datang kerumah Hana tepat pada saat jam makan siang nantik. Hana tak banyak berkomentar, kali ini Hana hanya ingin menjadi anak penurut saja. Lagi pula kan masih sekadar kenalan saja, pikir Hana.
Akhirnya tamu yang ditunggu-tunggu oleh Mama dan Papanya Hana itu datang. Mama Hana langsung bergegas menuju ke halaman rumahnya untuk menyambut kedatanganya mereka. Sedangkan Hana saat ini hanya duduk termenung didapur dengan tatapan kosong. Ia tampak sangat tidak bersemangat.
Tamu kehormatan itu sudah duduk dikursi Tamu. Sayup-sayup terdengar suara mereka ke arah dapur. Hana belum juga beranjak dari sana. Sampai akhirnya Mama Hana memanggilnya.
“Hana… Hana… Kesini sayang…” Panggil Mamanya dengan sedikit berteriak. Hana yang masih uring-uringan didapur langsung berdiri dan beranjak dari kesana.
“Iya, Ma….” Jawab Hana sambil berjalan menuju ruang tamu.
Sesaat langkah kaki Hana terhenti ketika matanya menangkap sebuah wajah tak asing tengah duduk manis di kursi tamunya. Hana mengucek-ucek matanya dan berharap dia salah melihat, tapi.. sampai matanya perihpun tetap sosok itu nyata. Dan, Hana semakin tidak bisa menguasai dirinya ketika wajah tak asing itu memandang kearahnya sambil tersenyum manis. Sangat Manis. Lelaki berkacamata itu menganggukkan kepalanya kearah Hana dan melambaikan tangannya ke Hana.
“Hai, kak Hana..” Ucapnya dengan sangat lembut.
Mendengar sapaan darinya sontak membuat perasaan Hana menjadi tak karuan. Jantung Hanapun berdetak dengan kencang. Hingga akhirnya Hanapun sadar bahwa jika memang benar lelaki dihadapannya saat ini adalah jodohnya dari Allah, untuk kali ini Hana akan membuka hatinya selebar-lebarnya…. untuk menerima…. Dokter Andra sebagai calonnya… Hana menyakinkan dirinya dalam hati…
Bersambung..
__ADS_1