Reminiscent

Reminiscent
LAMARAN MENDADAK


__ADS_3

"Maaf, Na.. Aku gak sengaja." Kata Andra merasa tidak enak karena telah menyentuh pundak Hana.


"Kenapa kembali lagi?" Sodor Hana dengan tatapan tajamnya.


"Karena aku masih sayang kamu." Jawab Andra dengan wajah sayu.


"Kalau sayang kenapa pergi tanpa kabar?" Hana bertanya lagi.


"Maaf.. Aku memang salah, karena terlalu terburu-buru mengambil keputusan tanpa menyelidikinya dulu. Tapi, sekarang aku datang lagi untuk menebus kesalahan aku itu dengan langsung melamar kamu. Na." Kata Andra.


"Kalau aku gak mau bagaimana?"


"Aku yakin kamu pasti mau, Kamu masih sayang aku kan?"


"Aku juga gak tau. Entah masih sayang entah tidak." Jawab Hana dengan kesal.


"Kenapa kamu gak hubungi aku dulu sebelum membawa orang tuamu kesini?" Lanjut Hana lagi.


"Aku sudah hubungi kamu waktu itu, tapi.. Kamu langsung mematikan Handphone kamu kan tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut kamu." Jawab Andra seakan mengingatkan Hana saat Andra menelpon waktu itu ada Asran disampingnya dan Asran yang menyuruh Hana untuk mematikan handphonenya.


"Hana.. Kamu gak mau maafin aku? Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau maafin aku dan kembali lagi sama aku?"


"Aku bisa maafin kamu, tapi.. aku gak bisa kembali lagi sama kamu, Ndra." Jawab Hana setelah itu ia menundukkan kepalanya.


"Kenapa??"


Hana menarik nafas panjang. Seolah-olah ia sedang mengambil aba-aba sebelum mengatakan alasan yang sebenarnya.


"Kamu mau tau kenapa?" Tanya Hana seraya mengangkat kepalanya dan melirik ke Andra. Andra langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Karena.. Saat ini, bukan kamu saja yang ada didalam hati aku" Ujar Hana seraya memegang bagian dadanya.


"Ada lelaki lain, Ndra!! Ada lelaki lain yang juga aku sayangi." Kata Hana.

__ADS_1


Andra kaget dengan pengakuan Hana tersebut, namun.. ia mencoba untuk bersikap tenang.


"Siapa lelaki itu?" Tanya Andra penasaran.


"Asran!!" Hana langsung menjawabnya.


"Apa, Asran??" Tanyanya setengah berteriak seakan tidak percaya. Sedangkan Hana langsung menganggukkan kepalanya


"Ngak.. Ngak mungkin, aku yakin dia cuma sebagai tempat pelarian kamu saja kan setelah aku tinggal. Kamu tidak benar-benar serius dengan dia, Na. Aku yakin itu.." Ucap Andra dengan yakin.


"Kamu jangan sok tau, Ndra!" Kata Hana dengan tersenyum kecut.


"Hubungan kami sudah mendekati serius. Bahkan kami sudah berniat untuk segera menikah juga." Lanjut Hana lagi.


"Apa dia sudah melamar kamu? Apa orang tuanya sudah datang menemui orang tua kamu seperti yang aku lakukan saat ini??" Selidik Andra.


Hana terdiam, lalu mengalihkan pandangannya kedepan. Tanpa menjawab pertanyaan dari Andra tersebut.


"Dengan diamnya kamu ini, aku sudah tau jawabannya Na." Kata Andra dengan tersenyum tipis.


Hana masih diam. Dia tidak menyangka sama sekali bahwa Andra tau semuanya tentang keluarga Asran.


"Na.. Aku serius sama kamu. Menikahlah dengan aku, Na. Aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Aku janji.." Kata Andra lalu menyentuh tangan Hana dengan lembut.


"Aku sudah bawa orang tua aku langsung, Na. Aku benar-benar ingin melamar kamu. Hana.. Terimalah lamaran aku ini, aku mohon..!!" Ucap Andra dengan memohon.


Hana masih belum menjawabnya. Ia benar-benar dilanda kebingungan yang begitu dahsyatnya. Apa yang harus ia lakukan? Apakah Menerima lamaran Andra? Yang sudah jelas nyata didepan mata dan kedua orang tua merekapun sudah merestuinya. Lantas, bagaimana dengan Asran?? Apa yang akan Hana katakan ke lelaki berwajah lembut itu jika ia menerima lamaran Andra? Bukankah Hana juga menaruh harapan lebih ke Asran. Meskipun ibunya Asran tidak menyetujui hubungan mereka. Namun, Asran meminta waktu untuk ia membujuk ibunya. Tapi, Bagaimana jika ibunya bersikukuh tidak merestui juga hubungan mereka. Mau sampai kapan Hana menunggu, sedangkan Mamanya terus-terusan mendesaknya untuk segera menikah. Apa memang ini jalan takdirnya, menerima lamaran Andra dan menikah dengan Dokter itu???


***


Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 2 jam akhirnya Asran sampai dirumahnya. Sebenarnya kalau tidak macet, pasti tidak memakan waktu selama itu. Maklum dikota tempat mereka tinggal memang terkenal dengan macetnya apalagi di jam-jam kerja.


Asran yang merasa lelah kemudian langsung menuju kamarnya, ia berniat untuk mengistirahatkan matanya dengan tidur sejenak. Namun, sebelum itu ia melihat notifikasi di Hpnya. Ada 2 panggilan tidak terjawab dari Hana. Mungkin saat ia dijalan tadi Hana menelponnya dan Asran sama sekali tidak mendengar nada dering dari handphonenya. Kemudian Asran langsung menghubungi Hana kembali.

__ADS_1


Panggilan pertama, tidak dijawab oleh Hana. Asran mencoba mengulangi lagi sampai 3 kali tapi tetap tidak dijawabnya.


[Kak, tadi kenapa nelpon? Maaf gak Asran angkat, karena Asran masih di jalan tadi kak. Jadi gak kedengaran]


Asran mengirim pesan singkat tersebut. Cukup lama juga Asran menunggu namun tidak ada balasan dari Hana.


Asran menguap beberapa kali dan karena tidak tahan dengan rasa kantuk yang menguasai dirinya hingga akhirnya ia pun tertidur.


Beberapa jam kemudian...


Asran terbangun ketika mendengar handphonenya yang berdering kencang. Dengan kesadaran yang belum pulih ia kemudian meraih handphonenya dan langsung menerima panggilan tersebut tanpa melihat siapa yang menelpon.


"Halo, Asran.. Kamu dimana??" Tanya sebuah suara yang tidak asing baginya.


"Dirumah kak.." Asran langsung membuka mata. Ternyata Hana yang menelpon.


"Ohh.. Lagi ngapain?" Hana bertanya lagi.


"Lagi tidur siang kak, Ne terbangun karena kak Hana telpon. Padahal Asran lagi mimpi indah tadi ne kak, tanggung pulak mimpinya." Kata Asran dengan suara khas bangun tidurnya itu.


"Maaf kak ganggu tidur siang kamu." Kata Hana merasa tidak enak.


"Ya gak apa ka. Kak gak tanya Asran mimpi apa?"


"Ya, mimpi apa memangnya?" Tanya Hana akhirnya yang sebenarnya ia tidak begitu peduli Asran mau mimpi apa.


"Mimpiin kak Hana.." Jawab Asran dengan lembut dan disertai juga dengan tawa renyahnya itu.


Hana langsung terdiam. Hening untuk beberapa detik. Hanya helaan nafas yang keluar dari mulut Hana. Ia seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi merasa berat dan tidak sanggup.


"Kak Hana? Ada apa kak?" Tanya Asran yang mulai curiga. Saat itu Asran sudah mengubah posisinya dengan setengah duduk. Matanya pun sudah terbuka dengan sempurna dan siap mendengar apa yang akan dikatakan oleh Hana.


"Asran, kak mau mintak maaf sama kamu. Maafkan kakak ya..." Ucap Hana dengan suara yang tertahan. Asran bisa mendengar dan rasakan suara isakan Hana dari seberang sana. Asran yakin telah terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Maaf untuk apa kak? Dan.. Kak Hana kenapa menangis??" Tanya Asran dengan bingung. Namun, Hana tidak langsung menjawabnya. Hanya suara isakan yang semakin kuat yang Asran dengar..


Bersambung...


__ADS_2