Reminiscent

Reminiscent
BERTEMU SANDY


__ADS_3

2 Minggu kemudian...


Mama Hana baru saja selesai menelpon Hana. Ia mengabari tentang persiapan pernikahan Hana yang sudah hampir rampung. Undangan juga sudah selesai, hanya tinggal disebarkan saja.


Hana mempercayakan semuanya kepada Mamanya. Karena dia yang saat ini berbeda kota dengan tempat ia menikah nantik, tidak mungkin juga bolak balik untuk mengurusi semuanya.


Saat Di puskesmas, Pagi itu sebelum Hana menuju keruangannya, Hana bermaksud untuk ke bagian TU dulu. Ia akan mengajukan surat cuti menikah. Semua teman di Puskesmas sudah tahu akan rencana pernikahan Hana dengan Andra yang hanya tinggal hitungan hari saja.


Hana mendapatkan ucapan selamat dari teman-temannya dan juga dibanjiri doa untuk kelancaran acara pernikahannya nantik. Namun, ada juga beberapa diantara temannya yang iri dan tidak senang atas pernikahannya dengan Andra. Tapi, Hana cuek seakan tidak peduli. Saat ini dia lebih bisa menata hatinya dan tidak cepat terbawa perasaan. Lagi pula Hana pikir untuk apa sibuk memikirkan orang yang tidak suka dengan dirinya, karena itu akan merusak mental dan jiwa saja. Lebih baik ia fokus dengan orang yang benar-benar tulus kepadanya, orang yang bisa membuat hidupnya lebih berarti.


Ketika Hana akan pulang dan menuju ke parkiran, tiba-tiba Hana mendengar namanya dipanggil. Hana menoleh kebelakang dan mendapati Rini sudah ada dibelakangnya dengan sebuah senyuman manis menghiasi bibirnya.


"Kak Hana, aku boleh tanya gak?" Ujar Rini.


"Mau tanya apa?"


"Hhmm.. Kak Hana kan mau nikah dengan Dokter Andra nih, jadi.. Hubungan kakak dengan Polisi bernama Asran itu bagaimana??" Tanya Rini dengan hati-hati. Karena ia takut jika membuat Hana tersinggung ataupun marah akan pertanyaannya.


Hana tidak menyangka Rini menanyai hal itu. Padahal Hana sudah mulai membiasai diri dengan tidak lagi memikirkan Asran ataupun sekedar menyebut namanya. Entah apa kabar Asran saat ini, Hanapun tidak tahu.


"Ya ngak ada hubungan apa-apa lagi" Jawab Hana datar lalu membalikkan badannya hendak pergi. Namun, Rini malah menarik tangan Hana.


"Kalau gitu aku punya harapan donk kak untuk dekatin dia." Kata Rini dengan mata yang berbinar-binar. Dari dulu Hana yakin, wanita bertubuh mungil ini menyimpan rasa suka ke Asran.


"Iya, kamu masih punya harapan." Jawab Hana dengan cuek.


"Benarkah kak?? Kalau gitu, aku mintak nomor handphonenya donk kak.." Kata Rini setengah merengek.


"Kak sudah lama gak berkomunikasi dengan dia, Rini. Dia ganti nomor, kak gak tau nomornya yang baru. Sudah dulu ya, kak buru-buru.." Kata Hana berusaha mengakhiri pembicaraannya dengan Rini sore itu.

__ADS_1


Setelah itu, Hana bergegas menuju tempat dimana motornya diparkir. Dan kemudian.. Hana pun membawa motornya menuju ke polres. Ya..Sore itu dia berniat akan mengunjungi Sandy di polres. Sandy yang saat ini masih menjadi tahanan Polres. Ia belum dipindahkan ke lapas. Karena Hana yang memintanya, Hana sudah memutuskan untuk menarik semua laporannya. Ia akan melepaskan Sandy, tapi dengan syarat.


Sesampainya di polres...


Hana menunggu Sandy disebuah ruangan yang dijaga ketat oleh beberapa orang polisi. Beberapa saat kemudian, Sandy pun datang bersama polisi yang lainnya dengan tangan yang diborgol.


Setelah mengetahui orang yang mengunjunginya adalah Hana, Sandy terlihat senang. Wajahnya sedikit sumringah. Hana memperhatikan Sandy dari jauh yang kelihatan lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Matanya juga cekung dan adanya lingkaran hitam dibawah matanya.


"Hana, Aku senang kamu datang menjenguk aku. Aku.. Aku mau mau mintak maaf sama kamu Hana. Maaf.. Aku gak punya niat untuk menyakiti kamu. Kemarin itu, aku hanya ingin menakut-nakuti kamu saja Hana. Aku gak punya niat untuk membunuh kamu. Aku bukan pembunuh Hana, Kamu percaya aku kan??" Ucap Sandy dengan sungguh-sungguh. Hana bisa melihat itu dari sinar mata Sandy. Tidak ada tanda kebohongan disana.


"Iya, Aku tahu Sandy. Makanya aku kesini." Kata Hana dengan tersenyum kecil.


"Syukurlah jika kamu mempercayai aku, Hana. Hana.. Kamu bisa bantu aku keluar dari sini kan?? Aku mohon, bantu aku. Keluarga aku pasti sangat risau saat ini. Apalagi ibu aku Hana, ibu lagi sakit-sakitan saat ini. Aku gak ingin membuat ibu semakin sakit jika mengetahui aku masuk penjara lagi. Aku mohon Hana.." Kata Sandy memohon dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tanpa kamu memohon seperti inipun, aku akan tetap membantu kamu keluar dari sini, Sandy. Tapi, setelah kamu bebas... Aku minta kamu pergi jauh dari kehidupan Aku. Aku gak ingin melihat kamu menampakkan diri lagi ke Aku" Tegas Hana.


"Ya.. Oke.. Aku janji, meskipun sebenarnya aku masih.."


"Yang jelas, setelah ini kita jalani kehidupan kita masing-masing. Aku lupakan semua kesalahan kamu, dan kamu juga lupakan aku. Deal?" Sambung Hana.


"Oke, Deal.." Jawab Sandy akhirnya.


"Ya, sudah.. Aku pulang dulu. Ngak lama lagi kamu bebas kok" Kata Hana dengan yakin.


"Terimakasih banyak ya Hana..." Kata Sandy masih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sama-sama" Jawab Hana dengan tersenyum tipis dan kemudian iapun pergi meninggalkan Sandy.


Hana melangkah keluar dari ruangan tersebut. Saat ia sudah berada diluar ruangan, tanpa diduga ia malah berpapasan dengan Reynald.

__ADS_1


Tanpa sengaja pandangan mereka beradu, Reynald menatap Hana dengan tatapan dingin. Hana tidak heran, karena lelaki berbadan kekar itu tidak pernah sama sekali bersikap bersahabat dengan dirinya.


"Reynald..." Hana memanggil Reynald yang sudah bersiap-siap akan menjauh dari Hana.


"Kenapa?" Tanyanya.


"Ada perlu apa kesini?" Tanyanya lagi.


"Aku baru saja bertemu dengan Sandy"


"Oh, Kamu membuat jaminan untuk membebaskan dia ya??" Tebak Reynald. Hana hanya mengangguk.


"Ya sudah, itu urusan kamu. Aku gak mau ikut campur lagi." Katanya dan kemudian bersiap untuk pergi.


"Tunggu dulu, Rey.." Cegat Hana kembali memanggilnya.


Reynald mengangkat sebelah alisnya seakan memberikan kode dengan pertanyaan, 'Ada apa lagi memanggil aku?'


"Aku.. Aku mau bertanya tentang Asran." Wajah Reynald langsung berubah saat mendengar Hana menyebut nama Asran.


"Maaf, bukan maksud apa-apa. Aku cuman mau memastikan bagaimana keadaan Asran saja saat ini. Itupun kalau kamu mau memberitahunya."


"Dia baik. Sangat baik malahan." Jawab Reynald.


"Dan akan terus baik tanpa ada kehadiran kamu dihidupnya" Lanjut Reynald lagi dengan menekankan kata-katanya.


Setelah itu, dia pun pergi. Meskipun Sikap Reynald seperti itu, tidak mengapa bagi Hana.. yang penting ia sudah sedikit lega saat ini, karena mengetahui Asran dalam keadaan baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian, Hanapun berjalan keluar polres. Ia berjalan dengan menundukkan wajahnya, pikirannya saat ini melayang entah kemana-mana. Tanpa ia sadari, saat di pembelokan.. Tiba-tiba saja ia tidak sengaja menabrak seseorang. Hana mengangkat kepalanya dan siap-siap untuk meminta maaf. Namun, matanya sekaan terbelalak ketika tahu siapa manusia yang telah ia tabrak...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2