
Hana dan Andra sudah sampai dikantin, mereka sarapan berdua saja karena kebetulan tidak terlihat teman Puskesmas lain yang sarapan disana. Hana bersyukur tidak ada yang lihat ia bersama Andra pagi ini, karena Hana malas saja saat ini meladeni kebingungan teman-teman nantinya jika melihat ia bersama Andra yang padahal baru 3 hari yang lalu ia bersama Asran makan disini.
"Sayang, masih sepi ya.." Celetuk Andra yang melihat parkiran hanya ada 3 motor yang terparkir disana.
"Iya, biasalah.. Banyak yang pada ngaret.." Jawab Hana dengan terus menikmati sarapannya pagi itu.
Sedang asyiknya mereka menikmati sarapan, tiba-tiba saja terdengar sebuah deringan yang berasal dari handphone Hana. Hana dengan gerak cepat langsung mengambil benda pipih itu dari dalam tas ranselnya. Andra menatap bingung ke Hana yang terkesan sedang menunggu atau tepatnya menanti sebuah panggilan penting.
Hana menatap layar hpnya dengan seksama. Lalu sedikit ragu ia menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya itu.
"Assalamualaikum...Halo?" Hana mengucap salam ke si penelpon.
"Tunggu pembalasan aku Hana. Sudah saatnya kamu merasakan penderitaan yg aku rasakan."
Ucap si penelpon tiba-tiba tanpa menjawab salam dari Hana.
Tut...Tut..Tut..
Panggilan terputus.
Hana termenung untuk sekian detik, seakan mencerna kalimat dari orang aneh tersebut.
"Siapa yang nelpon, Na?" Andra bertanya karena ia melihat ekspresi Hana langsung berubah setelah menerima telpon.
"Ee.. Entah, aku juga gak tau, Ndra. Langsung di mati aja nih.." Jawab Hana dengan berusaha bersikap biasa saja dihadapan Andra, karena ia tidak mau Andra tahu apa yang dikatakan si penelpon barusan.
"Tapi, aku dengar kok apa yang lelaki itu bilang.." Kata Andra dengan menaikkan alisnya.
"Oh.. Itu.." Hana terlihat salah tingkah.
"Kenapa harus bohong Hana..? Lelaki itu mengancam kamu kan? Siapa emangnya dia? Berani - beraninya dia bicara seperti itu ke kamu.." Kata Andra yang mulai terlihat emosi.
"Aku gak tau dan gak mau tau juga, Ndra. Orang iseng aja mungkin, Kemarin-kemarin juga pernah dia hubungi aku dan bilang seperti itu juga. Tapi, ya.. Aku cuekin aja." Jawab Hana.
__ADS_1
"Ya gak bisa gitu juga Hana, kalo cuman sekali mungkin memang iseng tapi kalaulah sudah berkali-kali berarti.. Dia punya niat yang tidak baik sama kamu sayang.." Jelas Andra merasa tidak senang.
"Apa jangan-jangan..." Andra seakan teringat sesuatu lalu mengeluarkan hpnya kemudian menghubungi nomor seseorang. Sedangkan Hana hanya diam menatap Andra dengan bingung.
"Halo, Ly.. Abang mau tanya sama kamu.." Kata Andra setelah orang tersebut mengangkat telpon darinya dan ternyata adalah Sherli.
"Iya, Tanya apa bang?" Jawab Sherly di seberang sana.
"Kamu masih membayar orang untuk mengintai dan menakuti-nakuti Hana ya?" Tuduh Asran langsung ke adiknya itu.
"Ngak bang, mana ada Lily nyuruh orang untuk melakukan itu lagi. Semenjak Lily ketahuan sama abang waktu itu, Lily sudah nyuruh tu orang untuk berhenti mengintai dan mengganggu kak Hana." Jelas Sherly dengan yakin.
"Kamu yakin orang itu mengikuti kata-kata kamu? Mana tau saja dia masih berbuat jahat dengan Hana." Selidik Andra.
"Ya yakin donk bang, jelas-jelas orang itu udah pergi dari sana. Dia kan bukan orang sana bang, dia sudah balik lagi ke kota." Jawab Sherly.
"Oh. Kamu yakin?" Tegas Andra lagi.
"Gak.. Gak ada. Yadah nantik kita sambung lagi ya." Andra langsung mematikan telponnya.
"Andra, maksudnya apa tadi itu?" Tanya Hana semakin bingung mendengar percakapan Andra dengan Sherly melalui telpon.
"Maaf sayang.. Aku lupa ngasih tau kamu kalau sebenarnya Lily pernah membayar orang untuk menguntit dan menakut-nakuti kamu waktu itu, dan karena kamu barusan dapat teror melalui telpon jadi aku pikir orang suruhan Lily yang melakukannya. Tapi, kata Lily bukan orang suruhannya karena katanya Orang itu sudah gak disini lagi.." Jelas Andra panjang lebar.
"Jadi, yang dulu itu orang suruhan Lily ya?" Tanya Hana dengan ekspresi kaget
"Dia hampir mencelakai aku lo, Ndra. Dia 2 kali mau menabrak aku pakai motornya dan untung saja..." Hana berhenti sejenak saat teringat bahwa Asran lah yang menolong saat itu sehingga laki-laki itu yang jadi korbannya.
"Iya, aku tahu perbuatan Lily itu sudah diluar batas Han, makanya sampai sekarang aku masih marah besar dengannya. Tapi, balik lagi.. Dia adik aku, bagaimana pun aku berusaha untuk buat dia berubah dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Aku harap.. Kamu bisa memaafkannya ya Sayang?" Ucap Andra dengan wajah memelas.
Hana diam. Dalam hati ia mendumel juga, bagaimana bisa ia dengan mudah memaafkan perbuatan Sherly yang begitu jahat itu terhadapnya. Gara-gara dia Asran jadi terluka. Dan.. Bicara tentang Asran, dimanakah ia sekarang ini??
"Sayang..?? Kamu masih marah? Kamu gak mau memaafkan perbuatan Lily ya?" Tanya Andra yang memperhatikan Hana dari tadi hanya diam.
__ADS_1
"Ya sudah lah..Kita bahas yang lain aja. Nantik dengan berjalannya waktu, mudah-mudahan saja aku bisa memaafkan perbuatannya dia dengan sendirinya kok.." Jawab Hana akhirnya.
Andra mengaminkan jawaban dari Hana barusan. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan sarapannya sambil saling berbincang mengenai topik yang lain.
***
"Oke, Terimakasih ya.. Sudah antar jemput aku hari ini" Ucap Hana setelah mereka sampai dirumah Hana.
"Sama-sama Hana sayang. Oya, nantik malam kita jalan ya??" Ajak Andra dengan senyuman manis yang telah mengembang di bibirnya.
"Oke, boleh lah.." Jawab Hana sambil mengangguk.
"Oya, kamu gak mau mampir dulu? Biar aku bikin kan teh.." Tawar Hana.
"Hhmmm.. Sepertinya tidak lah Na, Aku sudah janji sama Fajar mau menemani dia ke suatu tempat. Lagi pula kan entar malam aku kesini lagi."
"Oo.. Yadah, kalau gitu kamu hati-hati dijalan ya."
"Oke, siap.. Kamu juga ya, kalau ada apa-apa langsung kabari aku."
"Iyaa.."
Setelah Andra pergi, lalu Hanapun masuk kedalam rumahnya dan kemudian kekamar. Baru saja ia hendak mengganti pakaiannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Hana mengurungkan niatnya untuk mengganti baju lalu kembali berjalan ke pintu luar.
Ceklek.. Pintu dibukanya.. Tapi, tidak ada siapapun didepan rumahnya.
"Kok gak ada orang ya.." Hana bertanya bingung pada dirinya sendiri. Dan.. Sejurus kemudian matanya langsung menangkap ke sebuah benda yang terbungkus plastik hitam diatas meja teras rumahnya. Hana menatap bingung melihat benda tersebut.
"Plastik apa itu, perasaan tadi gak ada.." Gumam Hana. Karena penasaran Hana langsung saja mengambilnya dan membuka plastik itu...
Setelah plastik itu dibukanya, Tiba - tiba saja Hana langsung berteriak kaget sembari membuang jauh plastik itu kesembarang tempat..
Bersambung..
__ADS_1