
Keesokan harinya, karena keadaan Hana sudah lumayan Fit, dia bermaksud untuk pergi kerja pagi itu. Karena kalau dikosan terus-terusan rasanya bosan juga, mending ia kerja. Pikirnya.
‘Assalamu’alaikum, Kak Hana.. Bagaimana keadaannya? Sudah sehat kah?’
WA dari Dokter Andra masuk sebelum Hana berangkat. Bukan baru pagi itu aja dia WA, Tadi malam sebelum Hana tidurpun di WAnya. Tapi Hana tak membalasnya. Yang pagi ini pun sepertinya tidak akan dia balas juga.
Diperjalanan menuju ke Puskesmas tempat dia bekerja, Hana melewati Polres. Disana ramai orang yang diberhentikan oleh Polisi dipinggir Jalan. Pasti Razia Vaksin ini. Pikir Hana dalam hati.
“Permisi mbak, Maaf menggangu perjalanan.. Sudah Vaksin belum ya ?” Tanya Polisi itu sesaat setelah Hana diberhentikan juga.
‘Sudah Pak.. Sudah yang ketiga malahan” jawab Hana dengan yakin. Mereka belum tahu Hana ini Nakes. Sudah jelas sudah divaksin lah.
“Oiya, Kerja dimana memangnya buk?” Tanya polisi itu lagi.
“Puskesmas Pak..”
“Ooh.. Bidan atau perawat?” Tanya lagi. Banyak Tanya juga Pak Polisi Ini.
“Bidan Pak…”
“Bisa saya lihat kartu vaksinnya buk… untuk dokumentasi…”
“Bisa pak, bentar ya…” Hana membuka tas ranselnya, mengambil kartu vaksinnya yang ada didalam dompet. Dosis 1,2 dan 3 sudah dicetaknya semua. Lalu polisi itu memanggil kawannya
Dan meminta agar memfotokan dia sama Hana dan juga kartu vaksin ini.
“Untuk dokumentasi ya buk….”ucapnya.
Hana hanya mengangguk sambil melihat kan kedua kartunya kearah kamera.
“oke terimakasih ya buk atas waktunya, silahkan melanjutkan perjalanannya…” kata polisi itu dengan ramah.
“sama-sama pak” Hana berlalu dari sana.
Sebelum berlalu dari sana, Hana sempat melihat kesamping. Kearah kantor Polres yang lumayan besar dan luas itu. Melihat polres ini mengingatkan dia dengan Asran. Katanya dia kerja di Polres dibagian Min. Apa itu bagian Min ya? Tak sempat dia menanyai secara detil kemaren, sebenarnya bukan karena tak sempat, tapi Hana seperti tak diberi ruang olehnya untuk bertanya lebih banyak lagi. Karena sampai saat ini WAnya saja tak kunjung dibukanya. Entah sudah dibaca atau belum Hana pun tak Tahu. Dia hanya bisa menebak-nebak… mungkin karena ini atau itu… entahlah…
__ADS_1
Sesampainya diPuskesmas, Hana langsung keruang KIA. Pasien sudah ramai ternyata. Karena itu lah ia tak sempat ber *say* *hello* dengan teman diruang yang lainnya.
“Dah sehat kak Han…?” Tanya Tika Saat Hana masuk ke Ruang.
“Alhamdulillah, sudah agak mendingan lah…” jawab Hana yang lansgung duduk dikursinya.
“jadi gimana kak,…” Tanya Tika sambil senyum-senyum tak jelas gitu. Didalam Ruang itu ada Tia dan Lani juga makanya Tika memberikan kode dengan memasang wajah seperti itu. Tapi Hana benar-benar tak paham maksud dia apa.
“ Gimana apanya Tika, Ngomong yang jelas donk…” Ucap Hana.
“Dokter Andra datang jenguk kakak kan??”
Tanya yang membuat Hana kaget. Begitu juga dengan Tia dan Lani.
“Hana pacaran ya dengan Dokter Andra…. Wauu… selamat ya Han.. akhirnya….” Tia langsung menghampiri Hana dan menyalaminya.
“Apa-apaan sech… jangan mengambil kesimpulan yang aneh-aneh dech…” ucap Hana agak kesal dengan perlakuan Tia.
“Kamu juga Tika, jangan nyebarkan gossip yang ngak-ngak lah… kakak ngak suka!!” kata Hana kali ini dengan suara yang agak keras, membuat Tika jadi merasa serba salah.
“Ngak ADA..”
“Sudah ada pasien ini, mulai aja yuk… Lani .. panggil aja pasiennya” Suruh Hana.
Lani berdiri dan lalu memanggil pasien antrian nomor satu. Kebetulan hari ini mereka berkumpul semua kecuali kak Meli yang masih cuti melahirkan. Hana dan Tia seumuran. Tapi Tia sudah menikah dan mempunyai 2 anak. Yang paling muda Tika, dan diapun belum lama bekerja di Puskesmas ini, belum ada setahun. Sedangkan Lani 2 tahun dibawah Hana dan Tia. Dia belum menikah. Tapi sudah bertunangan, dalam tahun ini akan menikah kabarnya.
Saat pasien sudah sepi, Hana sengaja tak keluar dari ruangnnya. Padahal Tia sudah mengajaknya untuk kekantin depan. Tapi ditolaknya dengan alasan mau menulis buku Register.Padahal bukan itu alasan sebenarnya, dia lagi menghindar untuk berjumpa dengan Dokter Andra. Malas saja nantik diintrogasi kenapa tak membalas WA dia, Hana tak tahu harus jawab apa. Belum lagi gosip-gosip yang tak mengenakkan sudah tersebar diluar sana. Sepertinya sampai pulang Hana diruangan saja, biar saja lah. Dia juga lagi malas.
‘Kak Hana hari ini masuk…?’ entah kebetulan entah apa namanya ini, baru saja Hana memikirkan Dokter Andra, malah ada WA masuk dari dirinya. Balas Ngak ya? Tanya Hana dalam hati.
‘iya sudah masuk Dok…’ Balas Hana akhirnya.
‘syukurlah… tapi sayang aku lagi off ne kak, jadi belum bisa ketemu kakak pagi ini….’
Rasanya perut Hana mendadak mual membacanya, siapa juga yang berharap mau ketemu anda Dokter Andra yang … apa ya… baguslah dia tidak ada hari ini. Berarti tak ada alasan lagi untuk Hana keluar ruangan.
__ADS_1
Hana langsung bergegas keluar dan menuju kantin depan menyusul Tia.
***
Sore harinya Hana memutuskan untuk ikut kak Ria nonton pertandingan final voly antara Bayangkara berhadapan dengan SRC. Sesampainya disana, seperti biasa ramai dan bising. Tapi kali ini Hana tak terlalu memperdulikan itu. Dia lebih bersemangat karena ingin melihat Asran. Mungkin ya… walaupun anak itu mencuekkan dia, tapi tetap rasa penasaran Hana masih belum hilang. Dan sebenarnya harapan itu masih membuncah didadanya… Ughh…
“Ayooo… Ayooo Semangat…. Bayangkara… Ayyoooo…..” Suara teriakan supporter semakin kuat menggelegar. Apalagi saat semua pemain memasuki lapangan.
Sesaat Hana terpana. Pandangannya tak lepas kearah Asran. Seperti biasa, penampilannya tak ada yang beda dari sejak awal Hana melihatnya, masih sama seperti Reno. Cuman rambutnya saja yang agak dipotong pendek pinggir-pinggirnya, selepas itu.. semuanya sama. Pertandinganpun dimulai. Performa kedua Tim memang sama-sama bagus, score selalu imbang ataupun selisih cuman 1 atau paling banyak 2 angka. Mereka main dengan skill yang bagus, gerakan tipu-tipu dari Asranpun banyak dipuji orang, dia mampu menempatkan bola dengan cerdik sehingga mati di kandang lawan.
Dan akhirnya tibalah dibabak terakhir, yaitu di game kelima. Game penentu siapa yang bakal jadi juaranya. Score cuman sampai angka ke 15. Masih sama seperti di game 1-4 tadi, score masih kejar-kejaran. Belum bisa tertebak kalau gini terus. Nasiblah yang membuat salah satu dari mereka akan menang. Semua penonton seakan terbius menyaksikan pertandingan yang spektakuler ini. Hana pun begitu, dia berharap Tim bayangkara yang menang. Dilihatnya bagaimana lihai dan Lincahnya Asran dilapangan. Memang Bintang lapangan dia ternyata. Luar biasa. Hana hanya bisa memuji dalam hati. Karena dia takut kalau salah berkomentar, nantik Kak Ria malah curiga lagi dengannya.
“Yeyeeeee… Huuuu…. Akhirnya ….. menang…. Yessss…..” Kak Ria teriak saat score terakhir menunjukkan 15-13 yang dimenangkan oleh Tim Bayangkara. Hanapun bersorak juga sebenarnya didalam hati. Tapi berusaha ditahannya.
“Han.. kedalam yuk….”
“kedalam mana kak?” Tanya Hana bingung.
“Kedalam lapangan… kak mau ngucapin selamat langsung sama mereka…”
“eh.. tapi kak….” Belum sempat Hana menolak, kak Ria sudah menarik tangannya. Karena kak Ria salah satu pemain dan kenal juga dengan Panitia, makanya dia dengan mudah memperoleh izin untuk masuk kelapangan.
Sesampainya didalam lapangan, entah kenapa jantung Hana jadi berdebar tak karuan, apa mungkin jaraknya dengan Asran begitu dekat sehingga membuatnya begitu deg-degan, tapi kenapa emangnya. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, toh Asran juga tidak bakalan tahu dia siapa.. Hana berusaha menenangkan hatinya yang bergetar.
“Haaiii… SElamat ya….” Kak Ria menyalami mereka satu persatu. Mereka menyambut uluran tangan kak Ria sambil tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Kemudian entah apa yang mereka bicarakan lagi, Hana tak begitu menyimaknya. Karena jujur debaran didada Hana semkain kencang, apalagi tak sengaja matanya beradu pandang dengan Asran yang tepat didepannya.
“Han…. Sini…” Kak Ria memanggil Hana agar lebih mendekat ke tempat mereka. Hana melangkah kan kakinya agak lebih dekat ke mereka semua.
“Ini… kenalkan teman aku, Hana namanya….”
Entah apa maksud kak Ria, tapi dia malah mengenalkan Hana ke Tim Bayangkara itu. Mereka mengangguk kearah Hana sambil tersenyum. Hana hanya tersenyum tipis, tanpa bersuara. Cuman tadi dia sempat melirik ke Asran, saat kak Ria menyebut namanya Hana. Asran yang tengah minum langsung agak tersedak, tapi tak begitu diperhatikan oleh kawan-kawannya. Dan sedetik kemudian Hana melihat Asran yang memandang agak lain kearah dia. Apa jangan-jangan dia tahu siapa Hana sebenarnya…???
Bersambung..
__ADS_1