
Keesokan harinya..
Pagi-pagi Andra sudah tiba dirumah Hana. Ia akan berpamitan ke Hana sebelum berangkat kembali ke kota. Jadwal keberangkatan kapalnya adalah jam 8.30 karena itu sebelum Hana berangkat kerja ia sempatkan untuk bertemu dengan Hana dulu.
Andra sengaja tidak memberitahu Hana akan kedatangannya pagi ini. Rencananya dia akan menghubungi Hana jika sudah dijalan. Namun, saat Andra hubungi Hana dijalan tadi, Hana tidak mengangkat telpon darinya. Berkali-kali Andra coba hubungi lagi tapi tetap tidak ada jawaban hingga akhirnya dia sampai didepan rumah Hana.
Andra mengetuk pintu rumah Hana sembari mengucapkan salam. Namun, beberapa kali pintu rumah itu diketuknya, tetap tidak ada jawaban. Tidak ada terdengar tanda-tanda keberadaan Hana didalam rumahnya.
"Apa Hana sudah berangkat ke Puskesmas Ya?" Andra bertanya pada dirinya sendiri.
"Sayang, kamu dimana? Kamu sudah berangkat kerja ya? Aku didepan rumah kamu nih."
Andra mengirim pesan Whatshapp ke Hana. Setelah itu, Andra duduk dikursi teras rumah Hana sembari menunggu balasan darinya.
Beberapa menit kemudian..
"Maaf Sayang.. Aku sudah berangkat jam 6 pagi tadi, ada kegiatan di desa seberang."
Balasan dari Hana akhirnya masuk juga. Andra termenung untuk sekian detik, sampai akhirnya ia lalu menekan tombol hijau pada layar Hpnya. Andra mencoba menghubungi Hana agar bisa berbicara secara langsung.
Akan tetapi, Hana malah menolak panggilan dari Andra sehingga membuat lelaki berkaca mata itu mengerutkan keningnya.
"Disini sinyalnya susah sayang.. Hilang-hilang timbul, nantik saja ya kita telponannya.."
"Oke. Tapi, aku mau pamit sama kamu. Kapal aku berangkat 1 jam lagi."
"Iya, gak apa-apa. Kamu berangkat aja. Hati-hati dijalan, I LoVe U.."
__ADS_1
Kening Andra semakin berkerut membaca balasan Whatshaap dari Hana. Tidak biasanya Hana mengucapkan kata-kata seperti itu padanya. Tidak pernah malahan ia mendengar Hana mengucapkan kata sayang apalagi cinta. Namun, Andra langsung menepis segala kecurigaannya dan berkesimpulan bahwa Hana mungkin ingin membiasakan diri untuk lebih terbuka terhadapnya.
Beberapa saat kemudian, Andrapun beranjak dari sana dan kembali kerumah Fajar untuk mengambil barangnya dan setelah itu langsung menuju kepalabuhan..
…........…..................
Perlahan-lahan Hana membuka matanya yang terasa berat. Setelah sedikit matanya terbuka, ia langsung melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Sontak saja membuat Hana kaget dengan apa yang ia lihat. Dia saat ini berada di sebuah tempat asing yang terlihat kotor juga berantakan.
Hana mencoba untuk bangkit, namun ia baru menyadari bahwa tangan dan kakinya ternyata diikat dengan menggunakan tali.
Hana mencoba mengingat apa yang ia alami tadi malam. Semua berawal dari nomor yang tidak dikenalnya mengirimnya pesan dengan mengatasnamakan Asran. Dan.. Hana dengan bodohnya malah percaya dengan orang itu yang ternyata bukan Asran. Ya. Orang itu bukan Asran. Tidak mungkin Asran yang melakukan ini. Orang itu pasti sengaja menyamar sebagai Asran untuk melancarkan niat jahatnya kepada Hana. Tapi, siapa orang itu? Kenapa ia menyekap Hana seperti ini? Dan.. dimana dia sekarang?
"Toloonggg... Tolonggg...." Hana berteriak dengan sekencang-kencangnya sampai kerongkongannya terasa kering. Dia tidak peduli. Ia berharap ada orang diluar sana yang mendengar teriakan mintak tolongnya ini. Supaya ia bisa lepas dari sekapan oleh orang yang telah berbuat jahat kepada dirinya.
Dengan tangan dan kaki yang masih terikat dengan kuat, Hana mencoba sebisa mungkin untuk menggerakkan badannya lalu berdiri dan perlahan - lahan ia berjalan mendekati pintu. Hana mengetuk pintu itu dengan bersusah payah sambil kembali berteriak meminta tolong.
Beberapa saat kemudian, Hana kembali mengedor-ngedor pintu yang terkunci rapat itu. Tapi, sampai tenaganya habis pun pintu itu tidak juga terbuka. Hana mendengus kesal dengan air mata yang tidak tertahan lagi, yang akhirnya tumpah juga.
"Andra.. Tolong aku.." Desis Hana ketika ingatannya melayang ke Andra.
Hana menyesali apa yang telah terjadi, ini semua kesalahannya yang terlalu cepat percaya dan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Andai saja saat pesan masuk dari orang yang mengakui sebagai Asran itu, Hana langsung memberitahu Andra. Pasti tidak bakalan seperti ini jadinya. Coba Hana sedikit saja lebih terbuka dan berterus terang apa adanya terhadap Andra yang padahal tidak lama lagi akan menjadi suaminya. Pasti dia tidak akan mengalami nasib sial seperti ini.
Jika Andra tahu hal ini, pasti ia tidak akan membiarkan Hana pergi sendirian menemui Asran. Tentu Andra menemaninya. Tapi, semua telah terjadi. Hanya sebuah penyesalan yang bersemayam di hatinya saat ini.
"Toloonggg... Buka Pintunya.. Siapapun itu.. Tolong akuu..." Hana kembali lagi berteriak tapi kini suaranya sudah mulai melemah. Ia seakan tidak bertenaga, kerongkongannya kering. Hana merasa sangat haus dan dehidrasi.
Setelah itu, selang beberapa menit kemudian terdengar langkah kaki yang berjalan mendekati tempat dimana Hana disekap. Hana langsung berdiri dengan sekuat tenaga dan berharap orang yang datang itu adalah orang yang akan menolongnya.
__ADS_1
Langkah kaki itu berhenti tepat didepan pintu. Lalu ia membuka kunci pintu tersebut dari luar. Hana mundur beberapa langkah dan menunggu pintu itu dibuka dengan hati yang was-was.
Pintu itu akhirnya terbuka, lalu munculnya sosok dari balik pintu yang ternyata adalah seorang lelaki dengan berpakaian serba hitam. Hana semakin mundur menjauh dari lelaki yang belum begitu jelas wajahnya tertangkap oleh mata Hana.
lelaki bertubuh tegap itu menggunakan topi dan juga menutup wajahnya dengan masker. Hana sama sekali tidak mengenali siapa gerangan orang yang berdiri dihadapannya saat ini.
"K-Kamu siapa?? Kamu orang itu kan? Kamu yang menyekap saya disini??" Tanya Hana dengan suara yang bergetar.
Lelaki tersebut tidak menjawab pertanyaan Hana, ia tampak menutup kembali pintu dan lalu menguncinya. Setelah itu, ia berjalan perlahan mendekati Hana. Sedangkan Hana mundur menjauh darinya sampai mentok kedinding.
Kemudian si lelaki mengambil sebuah kursi dan duduk diatas kursi tersebut dengan mengangkat satu kakinya keatas.
Hana menatap erat sosok lelaki dihadapannya ini. Hana masih sangat penasaran dengan wajah yang tertutup masker hitam itu.
"Eh, kamu siapa? Mau kamu apa? Kenapa kamu menyekap saya seperti ini. Tolong jawab pertanyaan saya!! Buka masker kamu itu.." Ucap Hana dengan ekspresi marah.
"Hahahahahahahha.... Kamu sama sekali tidak mengenali aku Hana.. Sayangg???" AKhirnya lelaki itu mengeluarkan suaranya juga. Dan.. Mendengar suara itu.. Membuat darah Hana langsung berdesir.. Sebuah suara yang dulu pernah hadir mengisi hari-harinya..
.
.
.
Bersambung...
.
__ADS_1
.