
Hana menyaksikan bagaimana nafas Asran yang sudah mulai tersendat-sendat, nafasnya tinggal satu-satu namun ia masih bisa memegang tangan Hana dengan erat. Hana mengelus-elus dahi Asran dan air matanyapun tidak berhenti mengalir. Ia dekatkan wajahnya ke Asran untuk membisikkan sesuatu di telinganya Asran. Meskipun demikian, ia masih berharap Asran bisa tetap bertahan.
"Dokter.. Dok, Reynald..." Teriak Hana dari dalam ruangan yang pintunya tertutup rapat. Hana tidak tahu apakah suaranya sampai menembus keluar. Tapi, tetap saja ia berteriak dan berharap siapapun diluar sana mendengar suaranya dan segera masuk. Seperti yang Asran katakan tadi, ia tidak ingin Hana pergi. Dia ingin Hana tetap berada di sampingnya. Dan Hana akan menuruti keinginan terakhir Asran tersebut.
Asran melirik Hana dengan sudut matanya, itu adalah pandangan terakhir yang diberikannya untuk Hana. disudut matanya itulah Hana melihat ada setetes air mata yang mengalir disana. Lalu Asran tersenyum tipis, bibir pucatnya itu hendak mengeluarkan sebuah kata namun tidak terucapkan. Sampai akhirnya, Mata Asran terpejam dan.. Pegangannya pada tangan Hana perlahan - lahan merenggang hingga akhirnya terlepas.
Hana langsung saja merasa syok dan panik, Hana memegang tangan dan wajah Asran yang sudah mulai mendingin.
"Asran.. Asran.. Bangun Asran, kamu jangan pergi, Asran.. Asran.." Kata Hana dengan histeris. Namun, Asran sama sekali tidak bergeming. Tubuhnya sudah kaku dan tak bergerak lagi.
"Asran...HiKs.. Hiks..." Hana menangis terisak - isak sambil memeluk tubuh Asran dengan erat. Kemudian ia Meletakkan kepalanya di dada Asran. Hana sama sekali tidak mendengar detak jantung lelaki itu, dan dapat dipastikan bahwa Asran benar-benar sudah pergi meninggalkannya. Hana kembali histeris dengan kenyataan tersebut.
"Asran.. Maafkan kakak.. Maaf.." Lirih Hana dengan tersedu-sedu. Dan detik kemudian, Hana mendekatkan wajahnya ke wajah Asran. Ia lalu mengecup kening Asran dengan lembut.
"Berisitirahlah dengan tenang, Asran.. Kamu gak merasakan sakit lagi.." Lirih Hana masih dengan air mata yang tidak berhenti mengalir...
***
Hana membuka matanya perlahan - lahan, saat telah terbuka matanya langsung menyelusuri disekelilingnya. Hana langsung terduduk seketika menyadari bahwa dirinya ada di kamarnya yang sudah dihias dengan indah.
Hana memegang kepalanya yang tiba-tiba berdenyut, ia lalu mencoba memulihkan ingatannya tentang hari kemarin. Ya.. Kemarin dia baru saja menikah, dirinya sudah sah menjadi seorang istri dan Andra lah suaminya. Selepas itu.. Tiba-tiba mata Hana langsung terbelalak kaget. Ia baru ingat bahwa tadi malam dia berada dirumah sakit, menemani Asran disaat terakhirnya. Yang terakhir Hana ingat adalah Ia memeluk erat tubuh lelaki itu, lelaki yang sudah tidak bernyawa lagi. Setelah itu, Hana tidak ingat apa-apa lagi.
"Sayang.. Kamu sudah sadar??" Andra masuk kekamar Hana dan mendapati Hana sudah terduduk diatas ranjangnya. Andra lalu mendekati Hana dan memegang tangan wanita itu.
__ADS_1
"Gimana keadaan kamu sayang?" Tanya Andra seraya membelai lembut rambut Hana.
"Ini jam berapa?" Hana balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Andra barusan. Andra lalu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Jam 7 pagi." Jawab Andra.
"Asran, Bagaimana dengan Asran??" Tanya Hana lalu menatap Andra dengan erat. Ditatap seperti itu, membuat Andra langsung menundukkan wajahnya.
"Sayang, Asran sudah meninggal dunia. Dia sudah kembali KepadaNya." Lirih Andra kemudian dengan wajah yang sedih.
"Apa?? Jadi.. Asran benar - benar sudah meninggal, Ndra??" Tanya Hana dengan suara yang parau. Andra hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Hana kembali menangis. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya didepan Andra, bahwa dia merasa rapuh dan begitu sangat kehilangan Asran. Andra yang paham akan kesedihan Hana, hanya bisa memeluk tubuh istrinya itu dan berusaha menenangkannya.
"Ini salah aku Ndra, gara-gara kecelakaan itu yang menyebabkan Asran mengalami perdarahan otak. Aku merasa sangat bersalah padanya.." Kata Hana dengan terisak-isak.
"Tapi, Aku.. Aku tetap saja merasa bersalah, Ndra." Dengan suara yang panik.
"Sudahlah sayang.. Kamu tenangkan diri kamu dulu ya." Kata Andra lalu kembali membawa istrinya itu didalam pelukannya. Hana menangis didalam pelukan suaminya.
"Ndra, kamu mau temanin aku melayat kerumahnya Asran?" Tanya Hana setelah dirinya agak tenang.
"Tentu sayang, aku akan temanin kamu kesana sampai pemakamannya pun akan aku temanin." Ujar Andra.
__ADS_1
"Tapi, sekarang kamu mandi dulu setelah itu makan. Sejak tadi malam kamu gak ada makan apapun sayang, makanya kamu pingsan." Lanjut Andra. Hana mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya yang masih berada didalam pelukan suaminya itu.
Setelah mandi dan makan Hana dan juga Andra berangkat kerumah Asran. Butuh waktu hampir 1 jam perjalanan menuju kerumah Asran karena jalanan pagi itu memang lumayan macet.
Sesampainya dirumah Asran, Hana melihat begitu ramainya orang-orang yang datang melayat kerumah Asran. Sampai Hana tidak bisa masuk kedalam rumahnya karena saking padatnya. Andra mengajak Hana duduk dibawah tenda. Badan Hana masih lemas, kepalanya pun masih terasa pusing namun ia berusaha menguatkan diri untuk melihat Asran sampai dikuburkan. Hana masih merasa tidak percaya dan semuanya seakan mimpi bahwa Asran sudah meninggal. Hana kembali meneteskan air mata. Hatinya sungguh pedih, belum rela melepaskan kepergian Asran.
Beberapa saat kemudian, Jenazah Asran dibawa keluar untuk disholatkan dan kemudian langsung dikuburkan. Mereka semua menuju mesjid yang terletak tidak jauh dari rumah Asran. Setelah selesai disholatkan, lalu mereka menuju ke pemakaman untuk mengantarkan Asran ketempat perisitirahatan terakhirnya.
Sesampainya dipemakaman, Hana dan Andra berdiri diantara kerumunan orang - orang yang ikut mengantarkan jenazah Asran. Dari kejauhan ia melihat ibu dan adik Asran berdiri disamping kuburan Asran. Mereka tidak berhenti untuk menangis dan tampak saling menguatkan. Hana juga melihat Reynald dibelakang mereka. Lelaki berbadan kekar itu terlihat kusut dengan tatapan mata yang kosong. Meskipun dia tidak menangis, akan tetapi Hana tau bagaimana hancur hatinya melihat kepergian sahabat baiknya itu. Seperti itu jugalah yang Hana rasakan saat ini.
Rasa kehilangan akan terus menyelimuti hatinya. Kepergian Asran meninggalkan dunia ini membuat separuh jiwa Hana ikut bersamanya. Sama dengan kejadian 7 tahun yang lalu, saat ia ditinggal oleh Reno. Hana seakan mengulang kembali kejadian saat ia kehilangan Reno, dan sekarang ia ditinggal oleh Asran.
Hana menghapus air mata yang tidak berhenti mengalir diwajahnya. Ia lalu menarik nafas panjang. Meninggalnya Asran bertepatan dihari pernikahannya dengan Andra. Hana tidak tahu ia harus apa setelah ini? Yang jelas.. Saat ini ia Merasa kebahagiaan sekaligus kesedihan dihari yang sama...
.
.
.
.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
.
.