Reminiscent

Reminiscent
ANCAMAN


__ADS_3

Setelah dari Kosan Hana dan bertemu dengan Kak Ria, lalu Asran bergegas pergi ke lapangan untuk pertandingannya sore itu. Ia seperti tidak perduli lagi akan terlambat yang jelas pikirannya saat ini terpaut pada Hana, wanita yang usianya 7 tahun lebih tua darinya.


Asran mengemudi motornya dengan lumayan kencang. Ponselnya berbunyi sedari tadi tapi tidak diangkatnya, dia yakin itu pasti Reynald yang menelpon. Pasti Reynald menanyai akan keberadaannya, sebab tadi dia bilang akan nyusul dan segera sampai tepat waktu.


Beberapa saat kemudian Asran pun sampai di lapangan voly. Dia berjalan cepat menuju ketengah lapangan, dan benar saja ternyata pertandingan sudah dimulai dan untuk sementara posisinya sebagai toser digantikan oleh pemain cadangan.


“HA.. Itu Asran….” Ucap salah satu temannya yang duduk dikursi cadangan juga.


“Maaf Telat, tadi ada masalah dengan motor aku…” Kata Asran dengan mengarang cerita.


“Ya sudah, setelah break.. kamu masuk…” Ucap Samuel, Seniornya sekaligus manager Tim Bayangkara


Saat break berlangsung, Reynald langsung menghampiri Asran.


“Kemana aja kau Asran? Aku telpon tak diangkat-angkat…” serbu Reynald dengan agak kesal.


“Lawan kita sekarang ini lumayan berat dari yang kemaren… Jadi kita harus lebih konsisten, terutama masalah waktu. Bagaiman mungkin mau bertanding dengan baik tanpa adanya pemanasan?” Ucap Aldi yang juga kecewa dengan keterlambatan Asran. Padahal Asran yang Aldi kenal sebelumnya adalah anak yang disiplin dan seklaipun tidak pernah terlambat untuk latihan apalagi saat bertanding.


“Maaf Bang, motor saya bermasalah tadi…” Kata Asran yang masih berbohong. Aldi tak menanggapi alasan Asran tersebut, sedangkan Reynald tampak sedang menyimpitkan matanya memandang Asran dengan penuh curiga. Reynald yang merupakan teman dekat nya Asran sejak pertama kali dia lulus polisi, menyakini pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Asran.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Peluit panjangpun berbunyi tanda waktu break sudah selesai. Dan mereka para kedua Tim kembali masuk kedalam lapangan. Asran berusaha untuk focus bertanding, dia berharap pikirannya dan rasa bersalahnya terhadap Hana bisa hilang sejenak, dia tidak ingin penampilannya akan kacau balau nantiknya gara-gara itu semua. Tapi, harapan tinggallah harapan. Yang ternyata dia belum bisa mengendalikan kefokusannya itu.


“Asran… Ambil…bola itu bola…” Teriak salah satu seniornya yang berbadan tinggi dan berkulit putih. Ia mengoper bola ke Asran, tapi dia malah mendapati Asran yang tengah termenung dan akhirnya bola itu tak berhasil di ambil Asran dengan baik. Nampak rasa kecewa yang tergambar dari wajah seniornya itu.


“Maaf.. maaf…” Kata Asran merasa bersalah langsung memintak maaf.


Tapi, bukan sekali atau dua kali dia melakukan kesalahan yang sama. Sudah banyak sekali Asran mengacaukan permainan yang mebuat score mereka ketinggalan jauh. Permainan Asran tidak seperti biasanya, Yang biasanya lincah dan agresif tapi kini seperti tak bertenaga.


Penempatan bolanya pun Nampak asal-asalan, yang mudah sekali tertebak oleh tim lawan. Sampai akhirnya, Samuel berinisiatif menggantikan Asran dengan pemain cadangan yang tadi. Dengan langkah gontai dan pasrah akhirnya Asran keluar lapangan dan duduk disamping Samuel.


***


Hana sampai kerumahnya tepat saat adzan maghrib berkumandang. Sebenarnya acara sudah selesai jam 4 sore tadi, akan tetapi karena saking asyiknya Hana mengobrol dengan Tia dan beberapa orang tua dari temannya Syafa sehingga mereka kebabalasn dan tidak sadar dengan waktu yang sudah semakin sore. Akhirnya mereka bubar dan pulang kerumah masing-masing.


Sesaat kemudian Hanapun menghidupkan Hpnya dan…. Ting… ting… ting… berturut-turut pesan WA dan beberapa panggilan tak terjawab masuk ke Hpnya. Ada berpuluh-puluh WA dan panggilan masuk yang berasal dari satu nama yaitu… Asran.


Hana menarik nafas panjang. Apa baiknya dia beritahu tahu saja ke Lelaki itu apa sebenarnya yang terjadi?


‘Kak Hana… Kak… tolong jawab WA ataupun jawab telpon Asran sekali saja kak…’

__ADS_1


‘Kak Hana, ada apa dengan kakak? Asran salah apa?’


'Bilang lah kak, jangan bikin Asran resah seperti ini…’


‘Kak… ASran kerumah ya…’


Dan Masih banyak lagi WA dari Asran yang masuk. Sebenarnya ada terbesit rasa tak tega dihati Hana kepada Asran, tapi segera Hana tepis.


‘Ingat Hana, dia cuman iseng-iseng dengan dirimu… dia cuman cari sensasi aja… tantangan dan entah apalah lagi namanya, yang jelas dia tidak tulus Hana…’ Hana berusaha menyakinkan dirinya sendiri, dia tidak boleh lemah.


Selang beberapa menit kemudian, ada sebuah panggilan masuk. Asran yang menelponya, ternyata lelaki berwajah lembut itu belum juga menyerah untuk menghubungi Hana. Lagi-lagi Hana tak mengangkat telpon tersebut.


‘Kak, Asran sudah tau apa penyebab kakak jadi seperti ini. Ini semua karena rekaman suara Asran yang di hp kak Ria kan??’


‘Itu tak seperti yang kakak pikirkan kak… kalau boleh aku diberikan izin untuk menjelaskan semuanya secara langsung dengan kakak,, aku mohon.. angkat telpon Asran..biar ASran jelaskan semuanya..’


Hana membaca kalimat itu dengan seksama. Ternyata Asran sudah tau penyebab Hana menjadi seperti ini, tapi tau dari mana dia ya? Hana bertanya dengan penasaran didalam hatinya.


‘Kalo kakak tidak juga mau mendengar penjelasan Asran, jangan salah kan Asran besok pagi… ASran akan nekat datang ke kosan kakak ataupun.. nyusul kakak ke Puskesmas….’

__ADS_1


Hana membaca seluruh WA Asran yang masuk bertubi-tubi itu. Hingga kata-kata terakhirnya yang bersifat mengancam membuat perasaan Hana jadi bimbang… benarkah dia akan senekat itu? Apakah itu hanya bualannya semata?


Bersambung..


__ADS_2