Reminiscent

Reminiscent
BERAKHIRNYA HUBUNGAN


__ADS_3

Hana sampai kerumahnya tepat saat suara adzan berkumandang dari Mesjid yang tidak begitu jauh dari rumahnya.


Baru saja Hana memarkirkan motor diteras rumahnya, tiba-tiba terdengar sebuah suara nyaring yang memanggil nama Hana. Hana langsung menoleh kebelakang dan mendapati kak Ria yang sudah berdiri dengan berdecak pinggang.


"Hai, Kak Ria..? Sudah balik kak?" Tanya Hana karena Hana memang sudah lama tidak berjumpa Kak Ria karena dia pulang ke kampungnya.


"Udah. Tadi siang kak sampainya." Jawab Kak Ria dengan ketus. Hana merasa heran dengan sikap kak Ria yang terlihat dingin dan juga tatapan mata yang tidak seperti biasanya.


"Hana, Kak Sudah tau semuanya. Jadi selama ini kamu sudah bohongi kakak ya. Ngak nyangka kakak. Kamu tega ya!" Ujar Kak Ria dengan marah.


"Maksudnya Kak?" Hana bertanya dengan bingung.


"Jangan pura-pura bodoh kamu Hana, Waktu itu Kamu bilang gak berhubungan lagi dengan Asran, tapi ternyata apa? Hampir setiap hari kalian selalu bertemu kan?" Ujarnya Gusar.


"Kak gak habis pikir sama kamu ini. Mau aja dimanfaatin cowok itu. Sudah tahu dia punya niat yang jahat sama kamu, lah kamu masih mau juga diajak-ajak dia pergi. Gimana lagi sech biar kamu itu sadar? Padahal kamu kan sudah ada tunangan juga" Kak Ria mengomeli Hana panjang lebar.


Hana sedikitpun tidak ingin berdebat dengan kak Ria saat ini, karena itu dia hanya diam dan tidak membela dirinya. Belum lagi kepalanya seakan mau pecah mendengar amarah 2 orang sekaligus hari ini tentang Asran.. Asran dan Asran..


Sejujurnya Hana juga muak. Dimarahin dan diomelin hal yang sama terus-terusan. Baru tadi Reynald, temannya Asran yang memarahinya dan sekarang Kak Ria juga ikut-ikutan memarahinya. Sungguh membuat Hana ingin memberontak.


"Maaf kak, Hana masuk dulu. Hana mau sholat!" Kata Hana akhirnya lalu masuk ke dalam rumah. Tidak dihiraukannya Kak Ria yang berteriak memanggilnya. Masa bodoh mau dianggap tidak sopan, Batin Hana dalam hatinya.


***


Setelah selesai mandi dan sholat maghrib, Hana membaringkan badannya sejenak diatas kasurnya. Ia merasa lelah. lelah fisik dan juga pikiran.


Belum lagi kakinya agak sakit karena terhimpit motornya tadi. Kemudian Hana memijit kepalanya yang mulai berdenyut. Denyutan yang semakin lama semakin bertambah kencang.


Hana berkali-kali menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Pikirannya kembali membawannya menerawang pada kejadian tadi sore. Tentang orang asing yang ingin mencelakainya. Ternyata benar dugaan Asran tentang itu semua. Mengingat hal itu membuat perasaan Hana menjadi takut. Bagaimana jika orang tersebut kembali mencelakainya? Dan siapa dia? Kenapa dia berniat untuk mencelakai Hana? Hana bertanya-tanya didalam hatinya.


Beberapa menit kemudian, baru saja Hana mulai memejamkan matanya, tiba-tiba hpnya berdering. Lalu Hana segera mengambil Hp yang masih terletak didalam tasnya.


Tak disangka ternyata Andra yang menelpon. Sudah 2 hari Hana tidak berkomunikasi dengan Andra, dan ketika mendapati Andra menelponnya mampu membuat perasaan Hana menjadi girang. Hana berharap Andra tidak lagi marah terhadapnya dan juga tidak lagi mencurigainya ada hubungan khusus dengan Asran.


"Assalamualaikum, Andra?" Ucap Hana dengan suara yang lembut. Andra tidak langsung menjawab salam dari Hana. Hanya helaan nafas berat yang tertangkap oleh telinga Hana.

__ADS_1


"Kamu lagi dimana ?" Tanya Andra. Tanpa menjawab salam dari Hana dan suaranya terdengar berat. Perasaan Hana jadi tidak karuan.


"Dirumah.." Jawab Hana langsung.


"Kalau Tadi sore?" Andra bertanya lagi seakan menginterogasi Hana.


"Hhmm.. Tadi sore ada teman yang sakit, jadi aku jenguk dia ke rumahnya." Jawab Hana. Setidaknya Hana tidak bohong walaupun Hana tidak menyebut siapa nama temannya tersebut.


"Teman siapa ? Asran ? Iya kan?" Andra bertanya setengah membentak. Hana lalu menelan salivanya. Dari mana Andra Tahu? Apa dia cuman kebetulan menebak saja? Hana bertanya didalam hatinya.


"I-Iya.. Maaf, Tadi aku.."


"Bagus Hana, Hebat.. Mantap... Keren.." Andra langsung memotong kata-kata Hana.


"Oke.. Berarti sudah jelas semuanya kan? atas Kesepakatan kita kemaren." Kata Andra mengingatkan Hana.


"Andra, bentar dulu.. Kasih kesempatan aku untuk menjelaskannya sama kamu.. Sebenarnya.."


"Cukup Hana..!!" Andra kembali memotong perkataan Hana.


"Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan, aku punya alasan kenapa aku ke sana.."


"Oke. Tapi, terlambat Hana. Aku ngak mau mendengar alasan kamu, apapun itu. Dan.. Sekarang sudah jelas. Aku sudah memberi pilihan ke kamu kan? Menjauh dari dia atau.. Hubungan kita berakhir."


"Tapi, Ndra.." Hana berucap dengan nada setengah memohon.


"Sekarang aku sudah tahu yang mana pilihan kamu. Kamu yang memilih ini semua Hana. Bukan Aku. Kamu lebih memilih hubungan kita berakhir. Ya.. Hubungan kita mulai detik ini.. Berakhir..!!" Kata Andra berapi-api.


Tut... Tut... Tut...


Setelah mengatakan kalimat terakhir itu, Andra langsung memutuskan panggilannya.


Hana yang panik langsung menghubungi nomor Andra, tetapi ternyata nomor Andra tidak aktif. Andra sengaja mematikan Hpnya.


Hana terbaring lemas diatas kasurnya, meratapi hubungannya dengan Andra yang kandas...

__ADS_1


***


Dirumah Andra..


Setelah mematikan Hpnya, Andra lantas melempar benda pipih itu keatas kasurnya.


Rasanya saat ini seluruh badannya bergetar, bergetar menahan amarah yang sudah menggebu-gebu dan sebentar lagi seakan meledak.


Tidak pernah terbayangkan oleh Andra akan berakhirnya hubungan ia dengan Hana, Wanita yang begitu ia sayangi itu. Dan.. Awalnya Andra selalu berpikiran yang positif terhadap Hana. Ia yakin Hana tidak seperti yang adiknya katakan. Tapi, setelah melihat bermacam-macam bukti yang di tunjukkan Sherly, mampu membuat kepercayaan Andra terhadap Hana menjadi luntur.


Meski berat keputusan yang ia ambil malam ini, karena jika ditanya bagaimana perasaannya terhadap Hana, Andra berani bertaruh bahwa dia masih sangat mencintai Hana. Dan keinginan untuk menikahi Hana adalah sesuatu yang sudah di tunggu-tunggunya sejak dulu.


Namun, Andra juga tidak bisa menerima kenyataan bahwa Hana juga memiliki perasaan yang khusus terhadap Asran. Meskipun, dia terus menyangkal. Tapi, tetap saja Andra tidak rela melihat Hana terus-terusan berhubungan dengan lelaki yang sudah jelas ada hati dengan dirinya.


Tiba-tiba, timbul rasa geram dan marah Andra terhadap Asran. Laki-laki itu.. Bukan saja sudah Menyakiti sherly, tapi.. ia juga sudah merebut Hana darinya.


Rasa-rasanya Andra ingin sekali membuat perhitungan dengan Asran, setidaknya dengan memukul wajah anak itu sudah bisa sedikit membuat rasa geram dan marahnya terobati.


Akan tetapi, Andra berusaha untuk mengontrol dirinya, meredam emosinya dan juga menahan diri untuk tidak bersikap berlebihan. Karena percuma. Itu akan memperburuk keadaan. Dan tetap juga tidak akan mengembalikan seutuhnya Hati Hana terhadap dirinya..


.


.


.


Bersambung..


Mohon Dukungan Novel ini dengan Like dan Komentnya ya..


Terimakasih sudah membaca😊🙏🏻


.


.

__ADS_1


__ADS_2