
Kapal yang membawa Andra baru saja melabuh ditempat tujuannya. Andra turun dari kapal dengan perasaan yang gelisah. Sedari tadi didalam kapal, ia terus-terusan menghubungi Hana namun wanita itu sekalipun tidak mengangkat telpon darinya, begitu juga chat dari dia yang tidak kunjung dibaca.
Sesampainya diluar pelabuhan, Andra kembali menghubungi Hana. Andra merasa aneh, nomor Hana aktif tetapi kenapa ia tidak mengangkat telpon darinya? Seandainya ia lagi sibuk karena banyak pasien, tapi.. Ini kan sudah jam 1 siang, tidak mungkin pasien masih ramai juga. Pikir Andra dalam hatinya seraya melirik jam ditangannya.
Beberapa saat kemudian, Andra masuk kedalam taksi dan sejurus kemudian taksi itu bergerak menuju rumahnya.
Andra sampai dirumah tepat jam 2 siang, perjalanan yang macet membuat ia lama diperjalanan. Andra lalu masuk kedalam rumah yang terlihat sepi. Tidak ada sesiapun dirumah, Ayahnya masih dikantor dan ibunya mungkin ada arisan diluar sedangkan Sherly pasti lagi kuliah.
Andra langsung saja menuju kamar. Setelah mengganti pakaiannya, Andra lalu menghempaskan tubuhnya keatas tempat tidur. Pikirannya saat ini lagi bercabang-cabang, Ia masih memikirkan Hana yang tidak kunjung menjawab telpon dan chat darinya. Andra mencoba lagi, namun nihil. Tetap sama.
Beberapa saat kemudian, Andra seakan mendapat ide yang bagus. Ia langsung menghubungi nomor seseorang.
"Assalamu'alikum, Fajar.. Kamu lagi dimana??" Tanya Andra setelah orang yang ia telpon mengangakat telpon darinya.
"Aku baru selesai dinas, ini mau pulang. Kamu sudah sampai??" Jawab Fajar.
"Alhamdulillah Aku sudah dirumah. Oya, Aku bisa mintak tolong??"
"Ya bisa donk, kamu mau mintak tolong apa??"
"Aku mintak tolong kamu kerumah Hana sekarang bisa tidak? nantik aku kirim kan alamatnya." Kata Andra.
Andra sudah banyak cerita tentang Hana ke Fajar, teman baiknya sejak masih kuliah dikedokteran. Mereka sebenarnya seangkatan, tapi karena Andra sempat tertunda masalah biaya makanya ia tidak barengan dengan Fajar lulusnya.
"Kerumah Hana? Ngapain??" Tanya Fajar merasa heran.
Lalu Andra menceritakan semuanya ke Fajar. Andra ingin Fajar memastikan bahwa Hana baik-baik saja karena tidak dipungkiri ada terbesit juga ketakutan dihatinya, ia takut Hana kenapa-napa sebab kemarin-kemarin Hana selalu diancam oleh seseorang melalui telpon.
"Oke. Kamu kirim alamatnya ya. Sebentar lagi aku langsung kesana." Ujar Fajar.
__ADS_1
**************************************************
"Nih, makanan untuk kamu.." Sandy meletakkan makanan didepan Hana yang masih duduk disudut ruangan tersebut.
Hana melirik Sandy dengan tatapan sinis. Sedangkan yang ditatap langsung duduk manis sambil kembali menghidupkan rokoknya.
"Kamu mikir gak sih? Bagaimana aku bisa makan kalau tangan aku diikat seperti ini?" Kata Hana dengan ekspresi marah.
"Ooo.. Aku lupa sayang kalau tangan kamu diikat, hahahah" Kata Sandy lalu ia mendekati Hana. Kemudian mengambil piring makanan Hana.
"Buka mulut kamu, biar aku suapin aja." Ucapnya seraya mengarahkan sendok berisi makanan kearah mulut Hana.
"Aku bisa makan sendiri. Aku gak mau disuap-suapin segala. Kamu lepaskan aja ikatan aku ini Sandy!" Perintah Hana.
"Aku gak bodoh Hana.. Kalo aku lepaskan ikatan kamu, terus kamu kabur bagaimana? Aku gak mau ambil resiko. Lagi pula.. Sudah lama juga kan kamu makan tidak disuapkan dengan aku, Apa kamu gak rindu??" Tanyanya dengan jelingan mata memandang Hana dengan genit. Hana langsung membuang muka.
"Aku tau kamu lapar Hana, ayo.. Buka mulut kamu!" Suruh Sandy. Namun Hana tetap tidak membuka mulutnya, ia langsung memasang wajah masam.
"Aku mau makan sendiri..!!" Tegas Hana lagi.
"Oke. Aku akan lepaskan ikatan tangan kamu. Tapi, aku kasih waktu cuman 10 menit. Dalam 10 menit kamu harus sudah selesai makan." Katanya dengan licik.
"Terserah kamu lah Sandy, Yang penting aku bisa makan." Jawab Hana akhirnya.
Setelah itu, Sandy melepaskan ikatan pada tangan Hana. Kemudian Hana memakan makanannya dengan pelan, sedangkan Sandy duduk didepan Hana dengan pandangan tidak lepas ke Hana sehingga membuat Hana merasa risih karena terus diperhatikan.
"Bisa gak sih kamu melihat kearah lain. Aku gak suka dilihatin seperti ini. Bikin selera makan aku hilang saja" Gerutu Hana.
Sandy sama sekali tidak menggubris perkataan dari Hana barusan, buktinya ia masih memperhatikan Hana sampai wanita itu selesai menghabiskan semua makanannya.
__ADS_1
"Wau.. Licin ya, kamu kelaparan sekali tampaknya.." Ucap Sandy.
"Mana minumnya?" Tanya Hana karena ia tidak melihat ada minuman disana.
"Oya, aku lupa.. Masih di motor, bentar.. Aku ambilkan dulu.." Kata Sandy lalu beranjak keluar.
Setelah Sandy keluar, Hana langsung mencari celah untuk kabur. Ini adalah kesempatan baginya untuk kabur, pikir Hana dalam hatinya. Lalu Ia membuka ikatan pada kakinya dan setelah terbuka, Hana lalu bergegas menuju kepintu keluar.
Bangunan tua ini memiliki banyak sekat dan ruangan kecil yang membuat Hana sedikit kesulitan untuk mencari pintu keluar.
"Lewat mana ya.. Belok kanan atau kiri.." Hana bertanya kepada dirinya sendiri, sampai akhirnya Hana memutuskan untuk belok kekiri. Dan ternyata pilihan Hana salah, ia malah mentok dijalan yang buntu. Hana mnggerutu didalam hatinya. Bangunan tua ini ternyata luas juga dan terdapat banyak ruangan-ruangan, entah tempat apa ini sebelumnya Hanapun tidak tahu.
Hana berbalik arah dan berjalan menuju ketempat awal dia disekap tadi, namun naas.. tiba-tiba saja dihadapannya kini sudah ada Sandy. Lelaki itu menatap Hana dengan tatapan sangar dan Hana juga melihat sebuah benda yang ada ditangannya. Sebuah pisau. Kilatan pisau itu begitu silau, Hana yakin pisau itu sangat tajam. Hana menelan salivanya, pikiran burukpun menghantui dirinya tentang apa yang akan dilakukan oleh Sandy dengan pisau itu.
Sandy berjalan perlahan-lahan mendekati Hana dengan pisau masih diarahkannya kedepan. Didekati seperti itu, membuat Hana berjalan mundur sampai dirinya mentok didinding.
"K-kamu... Mau ngapain dengan pisau itu Sandy?" Tanya Hana dengan suara dan badan yang sudah gemetaran. Sandy tidak menjawab, dia malah langsung mengarahkan mata pisau itu kearah Hana.
"Kamu jangan main-main dengan benda tajam itu Sandy. Kamu mau melukai aku???" Tanya Hana dengan suara yang tertahan. Perasaannya mulai tidak karuan, jantungnya berdebar kencang, apalagi melihat tatapan Sandy yang menakutkan itu. Hana benar-benar takut Sandy melakukan sesuatu diluar kendalinya. Wajahnya berubah, matanya melotot, seperti orang kesurupan.
Sandy mengarahkan pisau tajam itu kearah wajah Hana. Hana langsung memejamkan matanya karena saking ketakutannya. Dalam hati ia berdoa semoga ada seseorang yang menolong dirinya, jangan sampai Sandy melukainya apalagi sampai membunuhnya juga..
"Woi... Jatuhkan benda tajam itu, kalau tidak aku tembak kau!!" Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari belakang mereka. Hana membuka matanya dan melihat seseorang telah berdiri disana dengan mengarahkan pistol kearah Sandy...
.
.
.
__ADS_1
Bersambung..
.