Reminiscent

Reminiscent
BERHARAP


__ADS_3

Setelah puas berjalan ditaman, akhirnya mereka kembali kerumah Hana.


"Kak.. Mama kakak ada dirumah kan?" Tanya Asran ketika mereka hampir sampai di rumah Hana.


"Ada.. Kenapa?" Tanya Hana.


"Ya seperti yang Asran katakan tadi, kak. Asran akan menjelaskan ke Mama kak Hana mengenai yang tadi.." Ucapnya.


Tiba-tiba Hana menghentikan langkahnya sesaat dan lalu menoleh ke Asran dengan wajah yang serius.


"Asran.. Biar kakak aja yang jelaskan ke Mama kakak ya.." Kata Hana yang membuat Asran langsung mengerutkan keningnya tanda bingung.


"Lah.. Kenapa kak?" Tanya Asrab dengan gurat kebingungan.


"Ya gak kenapa-napa. Biar kakak aja yang bicara sama Mama nantik. Jangan kamu!" Tegas Hana.


"Hhmm... Padahal Asran sudah nyusun kata-kata yang bagus Lo kak untuk disampaikan ke Mama kak Hana." Kata Saran.


"Ya.. kamu simpan aja dulu kata-kata itu. Yang jelas untuk tahap awal ini biar kakak saja yang bicara sama Mama" Putus Hana.


Asran mengiyakannya hingga akhirnya mereka sampai didepan rumah Hana.


"Kamu pulang aja Asran. Selagi Mama kak masih didalam. Jangan sampai Mama kak lihat kamu ada di sini." Kata Hana setengah mengusir.


"Waduh.. Asran diusir ne kak??" Asran bertanya bingung.


"Iyaa Asran.. Kamu ini Gak paham ya! Kalau Mama kak lihat kamu datang kesini tanpa membawa orang tua kamu, pasti dia akan langsung bertanya ke kamu. Dan.. Mau gak mau kamu nantik yang harus menjelaskannya. Tapi, kak gak mau itu!" Jelas Hana.


"Iya Kak Hana... Yang paling bijak.. Jangan mengerutu terus donk kak, Asran kan cuman bercanda. Kak Hana ini serius amat ya..hahah" Kata Asran sembari tertawa.


"Iihh.. Kamu ini, ya udah sana pulang!" Usir Hana untuk sekian kalinya. Dan akhirnya Asranpun pulang.


Beberapa saat kemudian, Mama Hanapun keluar dari dalam rumah.


"Hana, ngobrol dengan siapa tadi?" Tanya Mama Hana yang ternyata mendengar Hana berbicara dengan Asran.


"Asran, Ma.." Jawab Hana dengan datar.

__ADS_1


"Oya? Mana dia? Dia datang sama orang tuanya kan??" Serbu Mama Hana dengan antusias.


Ditanya seperti itu, wajah Hana langsung berubah. Namun, didalam hati ia membulatkan tekad untuk menjelaskan semuanya saat itu juga.


"Tidak Ma, Orang tua Asran tidak jadi datang."


"Loh, Kenapa??" Tanyanya dengan mengeluarkan suara yang melengking.


Hana menarik nafas panjang seolah-olah sedang mengambil aba-aba untuk menceritakan semua ke Mamanya. Hana juga sudah menyiapkan mental atas respon yang akan ia terima dari Mamanya nantik.


"Ma, Orang tua Asran belum setuju kami menikah dalam waktu dekat ini, bahkan dalam tahun ini. Jadi, Hana harap Mama bisa memakluminya ya.." Ucap Hana dengan hati-hati.


"Hah?? Kamu bilang apa tadi? Orang tua Asran tidak setuju??"


"Bukan tidak setuju Ma.. Tapi, belum setuju.." Kata Hana meluruskan perkataan Mamanya.


"Ya sama aja Hana. Belum setuju itu berarti tidak setuju!" Kata Mama Hana.


"Kan.. Benar dugaan Mama. Kamu sech bandel dibilangin. Pasti mereka tidak setuju karena perbedaan umur kalian kan??" Tebak Mama Hana dengan yakin. Hana hanya diam.


"Hana.. Hana.. Makanya kamu sebelum dekat dengan cowok itu dilihat dulu donk umurnya. Jangan main dekat aja. Sekarang ini kamu itu mencari cowok bukan untuk dijadikan pacar lagi Hana, melainkan untuk dijadikan suami." Tutur Mama Hana. Tergambar jelas gurat kekecewaan yang terlihat dari wajahnya.


"Ngak.. Ngak.. Ngak Ada cerita Hana. Mama gak mau menunggu sesuatu yang tidak pasti. Lagi pula.." Mamanya berhenti sejenak berkata namun pandangannya tidak lepas dari Hana.


"Lagi pula apa, Ma?" Tanya Hana dengan rasa penasaran.


"Lagi pula.. kalau ada yang pasti didepan mata kenapa malah menunggu sesuatu yang masih lama dan kita pun tidak tahu apakah bisa jadi ataupun tidak.."


"Maksud Mama apa dengan 'Yang pasti didepan mata' itu?" Tanya Hana yang bingung dengan kalimat Mamanya barusan.


"Hana.. Sebentar lagi ada yang datang untuk melamar kamu. Dan.. Bukan hanya melamar saja tapi langsung mengikat kamu hari ini juga dengan pertunangan. Jadi, lupakan Asran!" Tegasnya.


Hana langsung membelalakkan matanya karena saking terkejut mendengar ucapan Mamanya itu. Dan.. Jantungnya kembali dibuat seakan copot ketika sebuah nama keluar dari lisan Mamanya.


"Andra dan orang tuanya sebentar lagi akan datang kesini."


***

__ADS_1


"Bagaimana, Ma? Apa Kata Mama Hana?" Tanya Andra dengan raut wajah yang risau.


"Alhamdulillah.. Ibu Dewi mau menerima permohonan maaf kita, Dan masih mau juga menerima kamu, Ndra." Jawab Aryani, Mamanya Andra.


"Alhamdulillah, Syukurlah.." Jawab Andra dengan rasa syukur.


"Tapi, Kamu juga tetap harus minta maaf secara langsung ke mereka. Terutama kamu.. Lily!" Kata Aryani sambil melotot kearah Sherly yang sejak tadi berdiri terpaku diruangan itu.


Andra juga memandang sejenak ke Sherly yang menunduk dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.


"Nantik siang kita kesana. Kamu juga harus ikut Ly, Minta maaf dengan Hana secara langsung." Tegas Aryani lagi.


"Iya, Ma." Jawab Sherly.


Andra sudah menceritakan semua kesalahpahamannya selama ini terhadap Hana ke orang tuanya, dan Sherlypun sudah mengakui semua kejahatan yang ia lakukan.


Aryani begitu kaget mendengar pengakuan dari anak gadisnya itu, ia tidak menyangka Sherly berani melakukan perbuatan jahat terhadap Hana. Dan.. Dengan menyuruh orang untuk mencelakai Hana merupakan perbuatan kriminal baginya. Aryani memarahi Sherly habis-habisan. Sherly yang tahu akan kesalahannya, hanya diam tak berkutik.


Tapi, syukurlah orang tua Hana masih mau menerima mereka. Karena memang mereka sudah lama bersahabat baik, jadi masih banyak kesempatan yanh diberikan oleh Dewi kepada sahabat lamanya itu.


Andra merasa bersyukur masih diterima oleh orang tua Hana, tapi.. Andra kembali ragu apakah Hana bisa menerimannya lagi? Apakah wanita itu mau memaafkannya setelah dia pergi begitu saja tanpa kabar?


Sedangkan kemarin Andra mencoba menghubunginya, namun.. Hana langsung memutuskan panggilannya tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Hal itu membuat Andra menjadi ragu dan juga takut. Takut jika perasaan Hana berubah terhadapnya.


Namun, Andra berusaha sekuat mungkin mengusir pikiran buruk itu dari kepalanya. Seandainya jika hal itu terjadi, ia harus bisa mengambil hati Hana kembali. Ya.. Andra benar-benar bertekad kali ini, karena sejujurnya dirinya masih sangat menyayangi wanita itu. Masih sangat-sangat mengharapkan Hana untuk menjadi istrinya..


Bersambung...


Terimakasih sudah membaca..


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA YA..


Oya, Sembari menunggu lanjutannya, yuk mampir juga KE Novel ke dua saya yang berjudul...


"BERTAHAN DALAM PERNIKAHAN"


*SELAMAT MEMBACA, SEMOGA SUKA"

__ADS_1


😊😊😊


__ADS_2