Reminiscent

Reminiscent
DI POLRES


__ADS_3

Sinar matahari pagi menyapa Hana yang sudah siap untuk berangkat kerja. Ia telah duduk diatas motor sembari memanaskan motornya untuk beberapa menit. Cahaya matahari pagi ini begitu silau tertangkap oleh matanya, karena itu ia berinisiatif untuk memakai kacamata dan mengambilnya didalam tas birunya.


Seperti yang sudah dijadwalkan kemaren, hari ini adalah jadwal Vaksinisasi di Polres. Vaksin Dosis ke 3 untuk para Polisi. Dan dialah salah satu petugasnya. Tidak seperti biasanya tadi Hana terlihat sedikit ragu dengan kostum yang akan dia pakai pada hari ini. Padahal biasanya dia tidak begitu mempedulikan penampilannya, biasanya dia cuek dengan hanya menggunakan baju kaos dan rok hitamnya, serta kerudung segiempat bermotif atau kadang polos yang penting masih terlihat maching dengan bajunya. Tapi, tadi berulang kali dia bolak balik mengambil beberapa baju didalam lemari, mencoba memilah – milah yang mana kiranya bagus untuk dipakai disana. Tapi sayang koleksi bajunya tidak begitu banyak. Hingga akhirnya sebuah Gamis Polos bewarna hijau Tosca dipilihnya.


“Lumayanlah ini…” ucap Hana pada dirinya sendiri.


“Tapi, Kerudung .. Yang mana bagus ya…?” dan kini Hana bergeser kelemari khusus kerudung. Kembali memilah-milah warna apa yang kiranya cocok dengan gamis toscanya.


“ini aja kali ya…” Ucap Hana mengambil kerudung motif bunga dengan perpaduan warna putih dan ada hijau tosca-toscanya juga.


Hana melirik jam ditangannya. Sudah menunjuk angka 07.45. Dengan menarik nafas panjang, Hana pun langsung menggaskan motornya. Hana berusaha mengatur debaran jantungnya yang semakin lama semakin kencang. Dia pun tidak paham, mengapa dan kenapa hatinya pagi ini seperti tak bisa diajak kompromi. Berdetak tak tentu arah, dengan Desiran yang semakin kencang. Apakah karena hari ini dia akan ketempat dimana Asran kerja? Yang kemungkinan akan bertemu dengan lelaki berwajah lembut itu.


Tapi sebenarnya Hana tidak begitu berharap akan berjumpa dengannya, bagi Hana cukup mengenal lewat WA saja, dan itu sudah cukup membuat dirinya nyaman. Karena itu Hana sengaja tidak memberitahu Asran bahwa pagi ini dialah salah satu petugas Vaksin disana. Karena lagi-lagi Hana merasa tidak percaya diri untuk berhadapan langsung dengan Asran.


Akhirnya 10 menit kemudian Hana pun sampai didepan Polres. Tapi Hana tak langsung memasuki halaman polres tersebut, dia berhenti didepan gerbang kemudian mengeluarkan Hp dari tasnya. Ia bermaksud untuk menelpon kak Julia.


“Assalamu’alaikum, kak… dimana?” Tanya Hana setelah kak Julia mengangkat telponnya.


“Kak sudah di Polres Han, kamu dimana?” Tanyanya.


“Oh, Hana diluar gerbang Polres ini kak…”


“Ya sudah masuk kedalam aja langsung ya Han…” suruh Kak Julia.


Perasaan Hana semakin tidak karuan, rasa segan plus malu menyelimuti hatinya ketika melihat segerombolan laki-laki berbaju putih, celana hitam dan ada juga yang berseragam polisi lengkap berkumpul di tengah halaman polres dengan membentuk barisan. Dan jalan itu lah yang harus dilaluinya, kalau beramai-ramai sech tidak begitu segan, tapi jika dia sendiri yang lewat situ apakah tidak menjadi pusat perhatian nantinya? Kendatipun demikian Hana tak punya pilihan yang lain, karena salah dia juga datang agak terlambat dari tim lainnya yang pastinya sudah ada didalam.


Setelah masuk melewati gerbang, Hana memarkikan motornya ditempat parkiran yang sudah disediakan. Setelah itu, Dengan langkah yang agak berat Hana berjalan menelusuri halaman Polres dan menuju kepintu utama. Hana mempercepat langkah kakinya, pandangannya lurus kedepan dan sekali-sekali dia menunduk. Dia berharap tidak jadi pusat perhatian meskipun dia tahu hampir semua orang yang berbaris itu memperhatikan dirinya, tapi tetap Hana tak memiliki nyali untuk menoleh kesamping.


Sayup-sayup Hana mendengar instruksi yang diberikan oleh seorang polisi yang berdiri didepan mengenai kegiatan vaksinisasi pada pagi itu. Mungkin itu kapolresnya tebak Hana dalam hati.


Akhirnya Hana sampai juga dipintu utama, Hana menghela nafas lega. Sebelum masuk Hana sempat menoleh juga kebelakang, melihat perkumpulan para lelaki yang tengah berbaris dihalaman Polres tersebut. Pandangannya seperti mencari-cari…. Ya… karena ramainya dan dengan jarak yang agak jauh Hana tak dapat mengenali Asran, entah dimana dia? Apakah memang ada dalam barisan itu? Hana bertanya Dalam hati.


Setelah Hana berada Didalam Polres, tiba-tiba saja sebuah suara menyapanya dari belakang.


“Hai…” katanya yang sontak membuat Hana kaget.


“eeh.. bikin kaget saja kalian” ucap Hana setelah menyadari mereka adalah temannya.


“Dimana yang lain?”Tanya Hana


“Didalam situ…”ucapnya sambil menunjuk kearah depan tepatnya disebuah ruangan yang tertutup dari luar. Mereka bersamaan menuju kesana.


Sesampainya didalam, ternyata teman-temannya yang lain sudah sibuk menyiapkan segala hal untuk kegiatan pagi itu, Hana langsung bergegas membantu dan menyiapkan perlengkapannya di meja 4 nantiknya. Ia bertugas di meja 4 bersama Rini yang berprofesi sebagai penyuluh kesehatan di Puskesmas.


Dan setengah jam kemudian, pendaftran pun dibuka. Polisi-polisi yang tadi berbaris dihalaman polres tadi masuk kedalam menuju kemeja pendaftran dengan tertib. Dari kejauhan mata Hana tak berhenti mencari-cari keberadaan Asran di segerombolan polisi yang tengah daftar itu. Tapi dia tidak menemukannya. Dilihatnya sekeliling ruangan itu. Keujung pintu masukpun tak tertinggal dia lirik juga, tapi tetap tidak ada.


“Cari apa kak Hana?” Tanya Rini yang ternyata memperhatikan Hana sejak tadi, gelagat Hana yang sedang mencari seseorang sangat mudah sekali terbaca oleh Rini yang duduk disampingnya.


“ee… ngak…” Hana bingung mau cari alasan apa. Lalu dia pura-pura sibuk dengan laptop yang ada didepannya.


Beberapa menit kemudian, Hana sudah tidak lagi mencari-cari keberadaan Asran. Kini dia di sibuk dengan kertas vaksin yang sudah mulai menumpuk untuk diinput. Karena saking fokusnya menginput ditambah lagi keadaan yang bising, Hana tak mendengar notifiksi WA yang masuk ke Hpnya. Dan Sesaat kemudian Hpnya pun berdering. Hana masih tak menyadarinya.

__ADS_1


“kak… Telpon..” Kata Rini menyadarkan Hana yang tengah focus.


Spontan saja Hana mengambil Hpnya dan bersiap untuk mengangkat telpon tersebut. Tapi, betapa kagetnya dia ketika membaca nama siapa yang menelpon dia saat itu, dan ternyta Asran yang menelpon dia. Hana tak jadi mengangkat telpon itu.


“kok ngak diangkat kak?” Tanya Rini bingung ketika Hana malah mendiamkan panggilan masuk tersebut.


“ngak… malas saja nerima telpon disini Rin, pasti kurang jelas suaranya, kan berisik kali ini…” Ucap Hana mencari alasan. Rini hanya mengangguk-angguk lalu meneruskan penginputannya.


Tapi tidak bagi Hana, dengan hati was-was dia membuka WAnya. Bertanya-tanya dalam hati, kenapa tiba-tiba Asran menelponnya?


‘kak, kok ngak bilang-bilang kalau hari ini kak petugas vaksin di Polres??’


Jleb… Hana menelan ludah. Tahu dari mana dia? Hana melihat sekelilingnya dengan sedikit ragu. Apakah Asran ada disekitaran ruangan ini? Tapi sepanjang mata Hana mengitari ruangan tersebut, Hana sama sekali tidak melihat Asran.


‘emang Asran tahu dari mana kakak ada disini?’


Hana membalas WAnya. Padahal dia berharap Asran tidak tahu, tapi kok bisa dia tahu ya? Apakah dia sudah melihat Hana sejak tadi?


‘Jadi memang benar kak ya? Padahal Asran cuman nebak ajalah…’


Dia langsung membalas. Dan jawabannya sungguh membuat Hana merasa lemas. Padahal dia hanya menebak dan Hana langsung saja mengakuinya. Ampun dah jadi ketahuan!!


‘Kak yang mana?’ 


Belum sempat Hana membalas, Dia bertanya lagi.


‘Asran tak bisa mengenali kakak, karena semuanya pakai masker..’


‘Kok di read aja kak?’ Asran terus-terusan bertanya, Hana bingung mau jawab apa.


‘Maaf kak lagi input ne Asran,,’ 


Hana seakan tak sadar dengan apa yang ia ketik. Yang padahal telah mewakili jawaban atas pertanyaan Asran tadi dia dimana?


‘Oo.. kak di meja penginputan berarti ya...'


‘Yang mana satu ka… jilbab hijau atau merah?’


Sesaat Hana tertegun setelah membaca WA terakhir Asran tersebut. Hana yakin pasti dia ada didalam ruangan ini. Karena dia tahu dimeja penginputan ada 2 orang berjilbab Hijau dan merah, dirinya dan Rini. Tapi, kenapa Hana sedari tadi tidak melihatnya. Dimanakah dirinya bersembunyi?


‘Tapi, tak perlu dijawab kak… Asran sudah tau kok kak yang mana…’


Perasaan Hana semakin tak karuan. Dia pun jadi merasa tak enak dengan Rini, karena sejak WA Asran masuk tadi penginputannya pun jadi tertunda. Hana tak membalas WA terakhir dari Asran tersebut. Hana berniat untuk kembali focus ke penginputannya. Akan tetapi, Asran tak berhenti me-WA dirinya.


‘Kenapa bukan kakak yang bagian nyuntik.?’


‘Karena sudah ada bagian tugas masing-masing Asran…’ jawab Hana seadanya. Disela-sela penginputan dia sempatkan menjawab pertanyaan Asran.


‘Tapi bisa kan kalau khusus Asran kakak aja nantik yang nyuntik…??’ 


Hana tak mengindahkan pertanyaan Asran yang terakhir itu karena dia pikir Asran pasti hanya bergurau.

__ADS_1


“Asran Ravendi…” Kak Imel, yang bertugas dimeja 3 memanggil antrian nama selanjutnya yang ada dikertas skrining untuk segera disuntik. Hana yang duduk tak jauh dari meja 3 tempat kak imel langsung menoleh saat nama Asran dipanggil.


Dan detik kemudian akhirnya matanya menangkap sosok Asran yang keluar dari persembunyiannya yaitu dibalik tembok yang ada setelah pintu masuk. Asran berjalan kearah meja 3. Hana memperhatikan langkah tegap dan gagah lelaki berwajah lembut itu tanpa berkedip.


“Silahkan duduk dulu ya…”ucap Kak Imel setelah Asran tiba lalu mempersilahkan duduk dikursi penyuntikan.


“siap..” jawab Asran.


“Oh ya buk, boleh tidak kakak yang disana saja yang menyuntikkan saya…?” Tanya Asran sambil tangannya menunjuk kearah Hana. Spontan Kak Imel menoleh kearah tunjukkan Asran. Hana tersentak kaget. Ternyata pertanyaan Asran tadi bukan hanya guyonan saja. Perasaan Hana menjadi tak karuan, Ditambah lagi pandangan kak Imel penuh Tanya membuat Hana semakin tidak enak hati.


“Memang Kenapa mau disuntik sama kakak itu?” Imel bertanya bingung.


“Ingin saja…”Jawabnya singkat.


“Yasudah… bentar ya…Han… sini…” Kak Imel memanggilnya. Dengan ragu-ragu Hana berdiri dan berjalan kearah kak Imel.


“Ada yang request mau disuntikkan sama kamu ne….” kata kak Imel setelah Hana sampai didekatnya.


“Oohh…” Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Hana. Hana berusaha menguasai dirinya agar bersikap biasa saja dihadapan Asran. Dia tdak boleh terlihat kaku ataupun salah tingkah di depan lelaki yang gayanya mirip dengan adiknya itu.


“Sisingkan lengan bajunya ya…” kata Hana tanpa memandang kedepan, Asran lantas menaikkan lengan bajunya.


“Sikit ya…” ucap Hana Dan detik kemudian sebuah jarum menancap lembut dan pelan ke lengannya Asran.


“Sudah…” ucap Hana lagi setelah selesai dan membuang jarum bekas itu kedalam tempatnya.


“Sudah ya…. Ngak kerasa…” jawab Asran sambil ketawa kecil.


“Pakai perasaan mungkin yang nyuntiknya….” Celetuk kak Imel yang sedari tadi masih memperhatikan Hana. Ada sebuah tanda Tanya besar yang ingin ditanyakan olehnya ke Hana sebenarnya ada hubungan apa Hana dengan polisi muda itu.


“Oke terimakasih ya kak..” ucap Asran dan kemudian beranjak dari kursi penyuntikan tersebut.


Hanapun juga kembali ketempat asalnya semula. Ditempat duduknya, Rini yang juga bingung dengan keadaan barusan langsung menyerbu Hana dengan pertanyaan.


“Kak kenal polisi itu ya? Kok dia mintak disuntikkan dengan kakak?” Tanya Rini.


“Ooh… iya kenal, adik temannya tetangga kakak…”Jawab Hana tanpa berniat untuk menceritakan panjang lebar ke Rini. Setidaknya dia tidak berbohong, Karena memang benar kan Asran adik temannya kak Ria.


“Oohh… ganteng ya kak kelihatannnya, hihihi…”Ucap Rini sambil tertawa kecil sembari matanya melirik penuh arti kearah Asran yang duduk di kursi observasi.


“Iya… sepertinya….” Jawab Hana agak malas-malasan.


“kenalkan ke Rini donk kak..” ujar Rini lagi agak memohon.


“Mana tau jodoh, hahaha…” ucap Rini dengan centil. Hana hanya mengeleng-gelengkan kepalanya karena dia yakin Rini cuman bercanda.


Tapi menurut Hana mana ada lelaki yang akan menolak untuk berkenalan dengan Rini. Karena secara fisik Rini sangatlah cantik, kulit putih bersih, mata bulat dengan bulu mata yang lentik ditambah lagi postur tubuh yang kecil mungil. Kalau disandingkan dengan Asran, Hana Rasa sangat cocok dan serasi.


“Ini kasih kan ke siapa buk kertasnya?” Setelah selesai disuntik, Seorang polisi yang mungkin temannya Asran bertanya ke kak Imel perihal kertas skrining yang dia pegang mau dikasihkan ke siapa. Tapi belum sempat kak Imel menjawab, tiba-tiba saja sebuah suara muncul memberi jawaban.


“Ke meja paling sudut itu Reynal, ke kakak yang manis berjilbab hijau tosca…”jawabnya dengan lantang sambil menunjuk kearah Hana. Lagi-lagi Hana dibuat kaget dengan sikap dan tingkah Asran terhadapnya. Kak Imel dan Rini memandang Hana berbarengan. Rasa penasaran semakin menyelimuti hati mereka. Apalagi Rini yang padahal berharap polisi berwajah tampan itu menunjuk dirinya, tapi malah ke Hana. Bukankah dia lebih muda dan lebih cantik tentunya dari pada Hana? Hana menangkap jelas pancaran tanda protes dari sorot matanya Rini.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2