
Jam pulang Puskesmas sudah lewat, namun Hana masih ada di ruangannya untuk menyelesaikan laporan bulanan yang harus diselesaikannya hari itu juga.
"Han, Aku pulang duluan gak apa-apa kan?" Tanya Tia yang masih belum pulang juga.
"Ya, Gak apa-apa Tia. Kamu duluan aja, Aku masih lama." Kata Hana tanpa melihat kearah Tia yang tengah berberes.
"Diluar mendung Han, sepertinya sebentar lagi hujan turun. Kamu masih lama ya? Entar terkurung hujan pulak.." Kata Tia mengingatkan Hana.
Lalu Hana melirik jam ditangannya.
"Sekitar Setengah jam lagi lah Tia, Ya gak apa-apa kalau hujan pun aku bawa mantel kok.." Jawab Hana.
"Oke. Aku duluan ya Han.." Pamit Tia
"Iya, Hati-hati ya.."
Setelah Tia pergi, Hana melanjutkan pekerjaannya lagi.
Beberapa saat kemudian..
Hana yang sedang fokus mengerjakan laporannya, tiba-tiba di kagetkan dengan suara deringan dari Hpnya.
Hana mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya dan detik kemudian ia melihat sebuah nama yang tertera disana. Lagi dan Lagi.. Ternyata Asran yang menelpon Hana.
Hana membiarkan panggilan tersebut tanpa sedikitpun berniat untuk mengangkat telpon dari Asran.
Sebenarnya Hana belum menemukan cara bagaimana agar Asran bisa jauh dari dia dan tidak lagi menghubungi dirinya. Maka dari itu, untuk sementara biarlah Hana tidak mengangkat telpon darinya.
Beberapa menit kemudian, Asran kembali menelponnya dan kini sampai 10 kali panggilan tidak terjawab, Hana masih belum juga mengangkatnya.
Lalu dengan hati yang dongkol Hana langsung mematikan Hpnya. Tekadnya sudah bulat, Dia harus tegas. Seperti apa yang Andra katakan kepadanya hari itu, Harus tegas dan jangan lemah. Hana mengulang-ulang kalimat itu didalam benaknya.
Beberapa saat kemudian... Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangannya. Hana berdelik.
"Siapa?" Teriak Hana ke orang yang mengetuk pintu ruangannya.
Hening. Tidak ada jawaban. Tapi, Hana yakin masih ada orang dibalik pintu itu.
Hana tidak memperdulikannya dan kembali bekerja.
Tok... Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Pintu kembali diketuknya namun kali ini lebih kencang. Hana yang penasaran langsung berdiri dan berjalan kedepan pintu.
Ceklek..
Hana membuka pintu, Tapi.. Tidak ada siapapun diluar sana.
"Apa orangnya sudah pergi ya?" Gumam Hana. Lalu dengan mengangkat kedua bahunya Hana kembali ke mejanya.
Hana masih bergelut dengan kesibukannya. Sampai akhirnya Beberapa menit kemudian laporan yang ia buat pun selesai.
"Alhamdulillah.. Besok tinggal diantar aja lagi.." Kata Hana dengan wajah yang lelah namun terasa lega karena sudah menyelesaikan laporan tersebut.
Setelah itu, Hana akhirnya bersiap-siap untuk pulang.
Saat Hana sudah sampai diluar dan hendak menuju ke tempat motornya di parkir, Tiba-tiba saja Hana menghentikan langkah kakinya. Ia tersentak saat melihat motornya tidak ada di tempat biasa ia memarkirkan motornya.
"Ya, Allah.. Motor aku kok gak ada ya.." Desis Hana kepada dirinya sendiri.
"Apa ada yang Pindahin ya? Tapi..Lah.. itu dia.." Ucap Hana ketika melihat motornya sudah ada diseberang jalan sana dan tidak jauh juga dari kantin.
Hana yang merasa heran langsung saja bergegas menuju kesebarang jalan tersebut.
Setelah yakin tidak ada, barulah Hana melangkah kan kakinya menuju keseberang jalan.
Namun, saat Hana sudah berada ditengah jalanan yang beraspal tersebut, tiba-tiba...dari arah sebelah kanan muncul sebuah motor yang melaju dengan kencangnya. Hana yang kaget dan tidak menyangka akan kedatangan motor itu, seakan terpana yang membuatnya tidak segera menghindar yang malahan Hana tetap pada posisi berdiri ditengah jalanan tersebut.
Kemudian, tiba-tiba saja dari arah belakang Hana mendengar suara seseorang yang berteriak memanggil namanya.
"Kak Hana... Awas..." Ucap orang tersebut yang entah bagaimana dia sudah ada dibelakang Hana lalu menolak Hana agar menjauh dari sana.
Hana terperanjat dan jatuh di seberang jalan karena tolakan yang lumayan kencang dari orang tersebut, saat Hana menoleh ke belakang...
Brrraakkkkk..... Sebuah dentuman keras terdengar. Motor yang kencang itu malah menabrak orang yang barusan saja menolaknya.
Spontan saja Hana berteriak histeris menyaksikan pemandangan yang begitu memilukan. Dan.. Teriakan Hana semakin kencang setelah tahu siapa orang yang telah menolongnya dan kini malah dia yang tertabrak oleh motor itu.
"ASRAN...???" Teriak Hana dan setelah itu berlari menuju kearah Asran yang sudah berlumuran darah.
"Ya..Allah, Asran.. Tolong.. Tolong.." Teriak Hana berusaha mencari pertolongan. Beberapa saat kemudian, 2 orang teman Puskesmas Hana yang kebetulan jaga siang itu langsung datang dan menolong Asran. Mereka membawa Asran ke IGD Puskesmas. Hana mengikuti dari belakang dengan perasaan yang was-was.
"Kenapa dia kak?" Tanya Arman, Perawat IGD yang bertugas siang itu.
__ADS_1
"Tertabrak Motor Man.." Jawab Hana.
"Siapa yang nabrak kak?" Tanya yang lain lagi.
"Ngak tahu kakak, Yang nabrak langsung kabur.." Ucap Hana.
Teman-teman di IGD tersebut langsung memeriksa luka dan lalu membersihkan luka yang ada pada bagian kening dan juga kaki Asran.
Asran yang tadinya pingsan, perlahan-lahan tersadar dan menggerakkan badannya.
"Asran.. Jangan banyak bergerak dulu.." Ucap Hana yang melihat Asran menggeliat kesakitan.
"Kak Hana..." Ucap Asran dengan pelan.
"Iya.. Kamu jangan bergerak dulu ya, teman - teman kakak lagi ngecek luka kamu.. Bagaimana Man?" Tanya Hana ke Arman.
"Dibagian kakinya agak lebar robeknya kak, sepertinya harus dijahit.." Kata Arman.
"Ya udah jahit aja..." Kata Hana mengambil keputusan.
"Asran, kamu tahan ya.. luka robek dikaki kamu lumayan lebar jadi perlu dijahit, tapi nantik dibius dulu kok.. Kamu tenang aja ya.." Ucap Hana berusaha menenangkan Asran.
"Iya Kak.. Lanjut aja.. Aku gak apa-apa kok, Yang penting kak Hana selamat..." Ucap Asran seraya memegang bagian kepalanya. Hana sedikit tersentak mendengar perkataan Asran barusan, padahal saat itu Asran yang cedera, tapi dia malah memikirkan keselamatan Hana.
Setelah mengatakan hal itu, Asran kembali memejamkan matanya. Ia tampak menahan sakit saat Arman menyuntikkan obat bius di bagian kaki Asran yang terluka.
"Itu suntik biusnya Asran, setelah ini nantik dijahit gak akan terasa sakit kok.." Kata Hana seraya memegang bahu Asran.
"Iya, Kak.." Ucap Asran.
"Oya, Kamu kenapa tiba-tiba ada disini sech?" Tanya Hana setelah Arman selesai menyuntikkan obat biusnya. Kemudian Arman memulai untuk menjahit luka di kaki Asran.
"Asran mau ketemu kak Hana. Oya, Kak.. Ada orang yang mau mencelakai kakak. Asran lihat sendiri kak.. Orang itu sengaja mau menabrak kak Hana.." Kata Asran.
"Apa? Ngak mungkin Asran.. Kakak aja yang kurang hati-hati, main nyebrang aja.." Ujar Hana.
"Gak kak.. Asran yakin.. Orang itu sengaja mau menabrak Kak Hana.." Kata Asran dengan keyakinan penuh.
Hana terdiam. Apa benar yang dikatakan Asran tersebut? Orang itu sengaja menabraknya? Tapi, kenapa? Dan siapa orang itu?? Hana bertanya-tanya didalam hatinya..
Bersambung..
__ADS_1