
Hana membaringkan badannya ditempat tidur. Saat itu ia sudah berganti pakaian dan sudah siap untuk tidur. Namun, sedari tadi ia mencoba untuk memejamkan matanya tetapi tidak bisa juga tidur. Pikirannya masih bercabang-cabang.
Kejadian hari ini sungguh membuat hati dan pikirannya menjadi lelah. Pertemuan tak terduga dengan Sherly tadi seperti sebuah mimpi buruk baginya yang akhirnya menjadi kenyataan.
Kembali terlintas dipikiran Hana, silih berganti kejadian malam ini yang mampu membuat sikap Andra yang sebelumnya begitu hangat namun kini menjadi dingin.
Tiba-tiba rasa takut muncul semakin dalam di benaknya. Rasa takut akan perubahan sikap lelaki yang sudah mengisi hari-harinya dengan penuh cinta.
Bagaimana jika Andra berubah? Bagaimana jika lelaki itu membatalkan tunangan mereka?
Ahh.. Hana buru-buru menepis pikiran buruk yang sudah bersarang di pikirannya.
'Tidak Hana.. Jangan berpikiran seperti itu.. Andra pasti tidak akan membatalkan tunangan ini.. Tidak akan..' Hana menyakinkan dirinya sendiri didalm hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, namun Hana belum juga tertidur. Padahal rasa kantuk sudah menguasai dirinya, tapi saat ia mencoba memejamkan matanya, bayangan wajah kekecewaan Andra pun seakan menari-nari di pelupuk matanya sehingga membuat dirinya kembali untuk membuka mata.
Sesaat kemudian, Hana meraih Handphonenya yang ada di meja rias. Hana mengecek pesan masuk di Di Whatsaapnya, berharap ada pesan masuk dari Andra. Namun, apa yang ada tidak sesuai harapannya. Sama sekali tidak ada pesan dari Andra.
Hana memberanikan diri untuk mengirim pesan ke Andra. Dengan tangan yang bergetar, Hana mengetik sesuatu disana.
[Andra, sudah tidurkah?]
Hana memencet tombol mengirim. Dan pesan singkat itu pun terkirim. Dengan perasaan was-was Hana menunggu Andra membaca pesan darinya. Namun, lebih dari 10 menit Hana menunggu, pesan dari Hana itupun belum juga berubah menjadi centang biru. Yang artinya pesannya itu belum dibaca oleh Andra.
Apakah Andra sudah tidur? Hana bertanya-tanya didalam hatinya.
Hana kembali meletakkan Handphonenya dimeja. Setelah itu ia mencoba untuk memejamkan matanya lagi, berharap kali ini ia bisa langsung tidur. Namun, baru saja ia memejamkan matanya.. Tiba-tiba saja Hp Hana berdering. Dengan gerakan cepat Hana langsung meraih Hpnya dan tanpa melihat siapa yang nelpon Hana langsung menekan tombol menerima panggilan.
"Hallo, Andra..?" Ucap Hana dengan helaan nafas yang naik turun.
"Ini Asran kak.. Bukan Andra.." Ternyata Asran yang menelpon. Hana lalu menghembuskan nafasnya dengan kesal karena sudah salah menebak.
"Oo.. Maaf kak pikir Andra." Kata Hana.
"Oke, Ngak masalah. Oya, Kak Hana kok belum tidur?" Tanya Asran.
"Ini kak sudah mau tidur, Tapi karena hp berdering tadi makanya kak angkat. Kamu kenapa nelpon?" Tanya Hana.
"Ngak kenapa-napa kak. Asran Ngak bisa tidur aja, terus kepikiran kak Hana.." Jawab Asran dengan jujur.
"Oo.. Ya sudah, Kak mau istirahat. Besok aja kita sambung ngobrolnya ya." Kata Hana ingin mengakhiri hubungan telponnya dengan Asran.
__ADS_1
"Hhmm.. Oke, Tapi sebenarnya kak.."
Tut... tut... tut...
Hana mengakhiri telponannya dengan Asran dan setelah itu langsung mematikan hpnya.
Sungguh sesuatu yang tidak diharapkan. Padahal Hana berharap Andra yang menelponnya, bukan Asran. Hana sama sekali tidak mengharapkan Asran saat ini.
Sesungguhnya Hati Hana memang sudah terpaut kepada Andra sehingga membuat ia merasa takut jika Andra berubah atau bahkan meninggalkannya? Hati Hana berdesir tatkala hal itu terlintas di pikirannya..
***
Keesokan harinya...
Siang itu Andra yang sudah membuat janji dengan Asran, akhirnya bertemu dengan Asran di suatu tempat.
"Apa kabar Bang..?" Sapa Asran seraya menjabat hangat tangan Asran. Karena bagaimana pun hubungannya dengan Sherly yang sudah terlampau lama membuat Asran juga dekat dengan keluarganya Sherly, termasuk Andra.
"Alhamdulillah, Sehat.. Kamu sendiri?" Jawab Andra setelah itu menanya balik kabarnya Asran.
"Ya seperti yang abang Lihat.." Kata Asran dengan tersenyum ramah.
"Kamu mau pesan minum? Pesan aja dulu.." Ujar Andra. Asran lalu memanggil pelayan dan memesan minum untuk dirinya.
"Masalah Sherly kan, Bang? Maaf Bang, Andra... Karena aku.. Tidak bisa lagi bersama-sama dengan Sherly.." Kata Asran dengan pelan.
"Kenapa?" Introgasi Andra seraya menatap erat wajah Asran.
"Karena... Aku merasa kami ngak sejalan dan tidak sepemikiran aja lagi, Bang.." Jawab Asran agak terlihat ragu-ragu.
Andra tampak tersenyum sinis mendengar jawaban Asran barusan.
"Alasan Klasik.." Desis Andra.
"Yakin.. Cuman karena itu aja? Apa ada alasan yang lain?" Selidik Andra penuh curiga.
"Karena.. Yang aku dengar dari Sherly, Tidak seperti itu.." Lanjut Andra lagi.
Asran mengangkat kepalanya dan melihat Andra yang masih memandangnya dengan penuh curiga.
"Emang Sherly bilang apa, Bang?" Tanya Asran.
__ADS_1
"Sherly bilang, Kamu tinggalin dia karena wanita lain.. Benar begitu kan?"
Asran tampak mendengus dan kembali mengalihkan pandangannya ke segala arah.
"Dan.. Yang parahnya, Wanita yang membuat kamu meninggalin Sherly adalah.. Hana, Tunangan AKU.. IYA KAN?" Ucap Andra yang sengaja menekankan kata-kata terakhir sehingga terdengar lebih keras ditelinganya Asran.
"Bukan.." Jawab Asran langsung.
"Sherly itu.. Sudah salah paham dengan kak Hana." Ujar Asran.
"Salah Paham?" Andra bertanya dengan menaikkan alisnya.
"Iya.. Dia salah paham. Aku dengan Kak Hana cuman berteman. Tidak lebih dari itu, Tapi Sherly yang telah menuduh kak Hana macam-macam, malah dia bilang kalau Kak Hana wanita penggoda. Padahal sama sekali tidak benar, Kak Hana sekalipun tidak pernah menggoda aku atau siapapun itu..." Jelas Asran seakan membela Hana.
"Jadi, aku memutuskan hubungan dengan Sherly bukan karena Kak Hana, Bang. Itu semua murni karena aku sendiri, Jadi kalo bang Andra mau marah dan menyalahkan, Ya salahkan saja aku.. Karena aku merasa tidak pantas aja lagi untuk Sherly." Lanjut Asran lagi.
"Oo.. Begitu ya..." Kata Andra manggut-manggut, namun demikian ia masih menatap Asran dengan curiga.
"Iya, begitu lah bang.. Jadi, aku harap abang jangan berpikiran yang tidak-tidak terhadap Kak Hana. Dia wanita yang baik bang, dan juga pasti setia tentunya, dia tidak mungkin mengkhianati bang Andra. Aku yakin itu" Kata Asran dengan memuji Hana.
"Hebat kamu ya.. Aku salut.. benar-benar salut.." Kata Andra dengan tersenyum, Tapi.. bukan senyuman biasa, senyuman itu terlihat lain tertangkap oleh Asran.
"Maksudnya, Bang?" Asran bertanya bingung.
"Ya.. Hebat.. Kamu segitunya membela dan memuji Hana, Calon Tunangan aku!" Jawab Andra masih dengan senyuman anehnya.
"Ya karena kak Hana memang wanita yang baik bang.." Kata Asran yang merasa tidak tahu lagi harus menjawab apa.
"Bukan karena dia baik aja kan kamu jadi membela dia seperti ini?" Ujar Andra dengan suara yang lantang. Asran terdiam sambil menundukkan wajahnya.
"Kamu suka juga kan sama dia, Asran? Kamu ada perasaan lebih kan sama Hana?!" Tanya Andra dengan sedikit berteriak.
Asran tersentak. Akhirnya yang ditakutinya terjadi juga. Asran masih diam. Tidak tahu harus menjawab apa. Haruskah dirinya berbohong dan mengatakan tidak memiliki perasaan lebih ke Hana untuk menyelamatkan hubungan Hana dengan Andra? Meskipun didalam hatinya tersimpan harapan lebih untuk bisa bersama dengan wanita yang ia sayangi itu?
.
.
.
Bersambung..
__ADS_1
.