
Hana masih belum bisa juga menghubungi Andra. Nomor Hpnya sejak tadi malam hingga pagi ini tidak kunjung aktif. Hal ini benar-benar membuat perasaan Hana menjadi galau. Dan kegalauannya pun sampai terbawa-bawa ke Puskesmas.
"Hana, kenapa murung?" Tia yang menyadari akan kegalauan sahabatnya itupun langsung bertanya.
Hana langsung menoleh kearah Tia dengan memasang wajah yang sedih.
"Aku.. dan Andra putus, Tia." Jawab Hana dengan suara pelan karena takut kedengaran dengan Tika yang berada diujung sana dan sedang melayani pasien Kb.
"Ha?? Benaran? Kok Bisa??" Tanya Tia kaget.
"Ssttt... Kecilkan suara kamu Tia." Kata Hana mengingatkan Tia karena suaranya yang terdengar agak kuat.
"Iya... Iya... Maaf Han, Jadi kenapa ? Kok bisa putus?" Kata Tia kini dengan setengah berbisik.
Hana melirik sebentar kearah Tika yang juga sedang melihat kearah Hana dengan tatapan curiga.
"Nantik saja aku ceritakan Tia. Ceritanya panjang, gak memungkinkan ceritanya sekarang." Kata Hana. Tia hanya mengangguk memaklumi kekhawatiran Hana.
Setelah itu, sekitar jam 1 siang semua staf Puskesmas berkumpul di aula untuk menghadiri sebuah rapat. Kebetulan Hana dan Tia datang agak telat keruang rapat tersebut. Dan baru saja Hana melangkah masuk kedalam Aula, tiba-tiba semua mata manusia yang ada diruangan tersebut langsung tertuju ke Hana, melihat Hana dengan tajam, dan ada juga yang langsung berbisik-bisik. Kemudian disusul dengan suara nyaring milik Kak Septi yang memanggil namanya.
"Ha.. Ini dia si Hana..." Teriaknya Kak Septi dengan menunjuk Hana. Hana mengerutkan keningnya tanda bingung, belum lagi melihat gelagat teman-temannya yang berubah jadi lain saat dirinya masuk.
"Kenapa dengan Hana kak?" Tia yang disebelah Hana langsung bertanya karena dia tidak kalah bingung juga dengan apa yang baru ia lihat.
"Kami ada dengar desas-desus kabarnya kamu tidak jadi tunangan dengan Dokter Andra Ya Han??" Kata Kak Septi yang memiliki suara nyaring dan juga besar itu yang otomatis seluruh temannya yang lain juga mendengar perkataan dari Kak Septi.
Hana sungguh kaget mendengar hal itu keluar dari mulut kak Septi. Hana dan Tia lalu saling memandang, Tia tampak mengangkat bahu dan juga menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
__ADS_1
Hana tidak menjawab pertanyaan dari Kak Septi. Dengan sedikit menunduk, Hana berjalan menuju kursi depan dan diikuti juga oleh Tia.
Kak Septi masih nyerocos tak tentu arah, terdengar juga suara sahutan dari teman yang lain. Meskipun Hana membelakangi mereka, namun Hana tahu bahwa dia kini jadi bahan gosip bagi temannya dibelakang.
Hana menatap tajam ke Tia yang ada disampingnya saat ini. Tia yang paham maksud tatapan dari Hana tersebut, langsung mengeluarkan suara.
"Demi Allah Han, aku ngak ada cerita ke siapa-siapa. Kamu kan tahu sendiri dari tadi pagi aku cuman diruangan saja sama kamu. Lagi pula ngak mungkin lah aku ini cerita-cerita ke orang lain. Apalagi cerita ke Kak Septi." Ujar Tia dengan suara yang pelan.
"Iya, Aku tahu.. Bukan kamu. Tapi, aku heran saja. Dari mana kak Septi tahu ya masalah aku sama Andra." Kata Hana. Didalam hatinya pun Hana terus berpikir keras.
Hana merasa seperti ada yang mematai disini. Entah siapa dan apa tujuannya, Hanapun tidak tahu. Yang pasti Hana yakin sepertinya orang itu benar-benar ingin menjatuhkan dirinya, atau bahkan mempermalukannya.
Saat itu, Hana berusaha memekakkan telinganya. Sekuat hati ia cuek. Tidak termakan oleh omongan temannya yang tidak senang dengan dirinya. Hana sungguh tidak peduli dengan tanggapan negatif orang lain saat ini terhadapnya. Karena itu akan membuat dirinya semakin lemah dan tertekan. Hana tidak mau itu. Ia harus bisa memantapkan dirinya untuk kuat menerima segala hal buruk yang mungkin akan menghampirinya.
***
Di Asrama Polisi..
"Tolong apa?" Tanya Reynald tanpa menoleh ke Asran. Ia terlihat fokus dengan game yang ia mainkan.
"Aku mintak tolong kau Cari tau mengenai orang yang mau menabrak kak Hana kemaren. Bisa kan?? Aku sempat catat nomor plat motornya waktu itu, kamu bantu aku menyelidiki orang itu ya.." Kata Asran dengan serius.
"Ha...?" Reynald memberhentikan permainannya sejenak seraya melihat kearah Asran.
"Untuk apa?" Lanjut Reynald dengan bertanya ke Asran.
"Ya.. Aku penasaran saja, kenapa orang itu mau mencelakai kak Hana. Lagi pula itukan termasuk tindakan kriminal, bro. Jadi kita bertanggung jawab untuk menyelidikinya." Kata Asran dengan antusias.
__ADS_1
"Kita..? Ngak salah.." Kata Reynald dengan tersenyum kecut.
"Orang yang bersangkutan saja gak ada bikin laporan untuk menyuruh kita menyelidiki itu. Kenapa kau malah sok-sok peduli." Ujar Reynald dengan ketus.
"Ya jelas peduli Lah Rey, karena kak Hana itu kan.."
"Apaa?? Jangan bilang kalau kau mulai suka dengan tu cewek?" Kata Reynald dengan melototkan matanya. Sedangkan Asran langsung terdiam.
"Kenapa diam ha? Mending kau fokus dengan kesembuhan kaki kau itu saja, Asran. Biar bisa ikut bertanding bulan depan. Untung tandingya diundur bulan depan, kalau tidak.. Entah bagaimana nasib tim kita kalau kau tidak ikut. Kau pun juga bodoh.. Mau aja sok-sok jadi pahlawan menyelamatkan tu cewek. Emang Apa istimewanya cewek itu, sampai kau rela berkorban demi dia itu ha?" Ucap Reynald dengan intonasi yang terdengar geram.
Karena memang Reynald merasa sangat heran dengan perubahan drastis yang terjadi pada teman dekatnya itu semenjak kenal dengan Hana.
Reynald pun merasa menyesal karena dulunya dialah yang memberi tantangan kepada Asran untuk mendekati dan menaklukkan Hana. Tapi, sekarang seakan terbalik. Bukannya Hana yang takluk, namun malah Asran yang seolah-olah tidak bisa jauh dan lepas dari Hana. Sebuah taruhan yang dia buat untuk Asran malah membuat temannya itu seakan terjebak didalam sebuah rasa yang seharusnya tidak bersemayam didalam hatinya Asran.
"Karena Aku peduli dengan kak Hana, Rey. Aku gak mau terjadi sesuatu terhadap Kak Hana. Karena aku yakin, ada orang yang mau berniat jahat dan mau mencelakai dia. Ya sudah kalau kau tidak mau bantu aku, Rey. Tidak apa-apa, Biar aku sendiri saja yang mencari tahu siapa orang itu." Kata Asran akhirnya lalu keluar dari kamar mereka. Reynald melihat kepergian Asran dengan sinis.
Asran keluar dari kamar mereka dengan langkah kaki yang tertatih-tatih.
Sesungguhnya Asran sangat merasa khawatir dengan keselamatan Hana, sedangkan dengan keadaannya saat ini membuat ruang gerak Asran terbatas. Dia saja belum bisa mengendarai motornya saat ini, bagaimana caranya ia bisa memastikan Hana berada dalam keadaan baik. Asran berpikir keras. Apa yang harus diperbuatnya untuk melindungi wanita yang sudah bersemayam dihatinya itu..
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
.
.